Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 11 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Saat sampai di rumah, Daviandra bertemu dengan Bayu dan Anna di halaman rumah Reigha.


“Loh ... kalian kok udah pulang?” tanya Bayu.


“Iya, Pi. Andra lagi gak enak badan katanya,” jawab Reza.


“Astagfirullah, Nak ... kamu sakit apa? Ayo mami periksa dulu. Cepat kita masuk biar mami periksa,” kata Anna yang khawatir.


“Gak usah, Mi, sepertinya buat istirahat juga sembuh,” ucap Daviandra.


“Gak. Gak ada, ayo cepat mami periksa,” balas Anna yang segera menggandeng Daviandra masuk ke dalam rumah rumah.


“Fa, Shafa. Lo di mana? Ini Andra sakit, Fa!” teriak Anna.


Tanpa menunggu lama, Shafa pun langsung ke ruang tamu, “Kamu kenapa, Nak? Tadi pagi sepertinya baik-baik aja.”


“Gapapa, Ma, Andra baik-baik aja,” kata Daviandra.


Anna pun yang tadi ke kamar lamanya ambil stetoskop udah kembali datang dan segera memeriksa.


“Sebentar, Fa, biar aku periksa,” ucap Anna. Dan tak lama setelah memeriksa, Anna pun tampak heran sembari mengerutkan keningnya.


“Loh, gapapa kok, Fa. Tapi, Andra kok kelihatan lemes ya,” kata Anna.


“Udah-udah, biar aku bawa ke kamar aja. Kalian tunggu di sini, ya!” seru Shafa segera membantu Daviandra berjalan memapahnya menuju ke kamar.


Dan mereka pun menunggu di ruang tengah, sedangkan Shafa mengajak Daviandra ke kamar.


“Mau duduk atau rebahan, Nak?” tanya Shafa pada Daviandra saat sampai di kamar Daviandra.


“Andra rebahan aja, Ma, badan rasanya lemes banget,” jawab Daviandra.


Setelah membantu Daviandra rebahan, Shafa pun segera duduk di dekat anaknya.


“Sayang, sekarang ceritakan apa yang terjadi? Jangan bohong sama mama,” kata Shafa.


“Gak ada kok, Ma, Andra mungkin kecapean aja,” balas Daviandra yang berusaha tetap tersenyum pada mamanya.


“Mau mama bilang ke papa kamu yang sebenarnya, Nak? Mama tau tanpa kamu kasih tau. Hanya aja, mama ingin kamu terbuka sama mama. Pasti ini masalah kepergian Chayra ‘kan,” ucap Shafa membuat Daviandra kaget.


“Ma, kok Chayra sih, Ma. Gak ada hubungannya,” kata Daviandra tampak gugup.


“Baiklah, kalau memang bukan masalah kepergian Chayra. Mama akan telpon papa sekarang juga,” ucap Shafa.


“Ma ... mama, jangan ya, Ma. Iya-iya Andra akan jujur sama mama,” kata Daviandra.

__ADS_1


“Iya, Ma, ini tentang kepergian Chayra. Setelah Chayra pergi, Andra baru menyadari kalau Andra ternyata cinta sama Chayra,” lanjut perkataan Daviandra.


“Tapi kenapa gak kamu ungkapin sebelum dia pergi, Nak?” tanya Shafa.


“Andra gak mau menghalangi cita-citanya, Ma. Andra mau dia lulus kuliah di luar negeri dan jadi dokter hebat nantinya,” jawab Daviandra.


“Walaupun itu akan membuat kamu menderita? Yang kamu tau, ini baru awal, kita gak tau bagaimana beberapa bulan bahkan beberapa tahun kedepan, Nak,” balas Shafa.


“Iya, Ma. Karena Andra gak mau karena cinta Andra jadi mengorbankan cita-cita Chayra. Kalau jodoh ‘kan gak ke mana, Ma. Oh iya, Ma, tolong rahasiakan ke siapapun ya, Ma, termasuk papa. ‘Kan papa sahabatnya om Afkar, Ma,” kata Daviandra.


“Iya, Sayang, kamu tenang aja. Tapi, kalau itu udah jadi keputusan kamu, kamu harus kuat menjalani hari-hari mulai sekarang tanpa Chayra,” ucap Shafa.


“InsyaaAllah Andra kuat, Ma,” kata Daviandra memeluk mamanya.


“Loh, kok malah saling pelukan. Gimana? Udah enakan?” tanya Anna yang tiba-tiba berada tepat di dalam kamar Daviandra.


“Kok lo ikutan ke sini, Na?” tanya Shafa tampak heran.


“Gue khawatir sama anak gue, Fa. Gimana, Andra?” balas Anna yang menjawab kemudian kembali bertanya.


“Udah kok, Mi, Andra cuma mau tidur sebentar nanti sore pasti sembuh,” kata Daviandra.


“Ya udah kalau gitu kamu istirahat, biar kami keluar!” seru Bayu.


Dan mereka pun akhirnya keluar meninggalkan Daviandra sendiri di kamar.


“Gak usah, Bay, biar saja mas Reigha tetap di kantor,” jawab Shafa.


“Za, kamu pasti tau kan apa yg terjadi tadi di kampus? Kenapa dengan saudara kamu?” tanya Bayu yang beralih pada Reza.


“Gak ada, Papi. Tadi di kampus dia baik-baik aja,” jawab Reza.


“Za, kamu gak usah menutupi. Ayo jawab jujur,” balas Bayu.


“Udah-udah, Daviandra udah besar, biarkan saja dulu. Nanti kalau masih tetap seperti ini, baru kita tanyakan langsung ke anaknya,” ucap Shafa menengahi.


“Ya udah, Reza ke kantor aja ya. Assalamualaikum, Papi, Mami, Mama,” kata Reza yang bersalaman langsung dengan Bayu, Anna dan Shafa.


Reza pun segera keluar karena gak mau diinterogasi oleh kedua orang tuanya dan Shafa. Reza pun segera menuju ke kantor Reigha.


Di tempat lain, Afkar dan Chayra udah sampai di tujuan. Afkar segera menuju ke alamat yang dikirimkan Reigha. Setelah sampai dan mengurus semuanya lalu mereka segera ke Kampus untuk mendaftarkan Chayra.


Setelah selesai urusannya, mereka makan karena mereka udah merasakan lapar. Setelah sore hari, mereka kembali ke rumah yg akan di tempati lalu setelah sampai, Afkar pun segera menelpon Zhafira.


“Assalamu’alaikum, Mama,” kata Afkar mengawali.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam, Pa, kok baru telpon sih, Pa?” tanya Zhafira.


“Maaf, Ma tadi langsung ngurus kepindahan Chayra ini udah selesai urusan kepindahannya. Tinggal besok Chayra mulai masuk kuliah,” jawab Afkar.


“Owh gitu, mana sekarang Chayra, Pa?” tanya Zhafira.


“Bentar papa panggilkan, dari tadi di kamar tapi gak keluar-keluar, Ma,” balas Afkar.


Afkar pun sambil menelpon berdiri menuju ke kamar Chayra, karena pintunya sedikit terbuka, Afkar pun hendak masuk. Tapi, dia urungkan niatnya karena melihat putrinya yang tampak tengah menangis. Afkar pun segera menjauh dan berpamitan ke istrinya terlebih dahulu.


“Sayang, papa tutup sebentar, ya. Perut papa tiba-tiba sakit, Chayra pun masih di kamar mandi,” ucap Afkar.


“Oh ... oke, Pa. Nanti telpon lagi ya, Pa. Assalamu’alaikum, Pa,” kata Zhafira.


“Iya, Mama. Wa’alaikumussalam,” balas Afkar yang kemudian menutup telponnya. Kemudian, Afkar pun segera masuk ke kamar Chayra.


“Sayang, kamu kenapa? Lagi mikirin apa?” tanya Afkar berjalan mendekat dan megusap kepala Chayra yang masih terlapisi hijab itu.


“Eh, papa ... ada apa, Pa? Maaf tadi Chayra gak dengar papa ketuk pintu,” jawab Chayra.


“Kamu kenapa, Nak, apa yang kamu pikirkan?” tanya Afkar kembali.


“Nggak ada apa-aoa kok, Pa, Chay baik-baik aja,” balas Chayra.


“Udah, sekarang coba cerita ke papa, kamu kenapa? Papa akan mendengarkan kamu tanpa menyela ucapan kamu,” kata Afkar.


“Ehmmm, maaf sebelumnya, Pa. Sebenarnya Chayra kuliah di sini ini karena menghindari seseorang,” ucap Chayra.


“Maksudnya?” tanya Afkar.


“Chayra jatuh cinta sama seseorang, Pa, tapi sepertinya laki-laki itu gak suka sama Chayra. Dia terlalu cuek kalau sama Chayra, Pa,” jawab Chayra.


“Kamu kenapa harus menghindar sejauh ini, Nak? Kan bisa cm pindah universitas,” ucap Afkar.


“Enggak, Pa, kalau masih sekitaran Jakarta pasti masih bisa ketemu. Chayra ingin melupakannya,” balas Chayra.


“Apa boleh papa tau siapa laki-laki itu?” tanya Afkar.


“Gak usahlah, Pa. Udah gak penting kok, lagian dia sekarang udah sama cewek yang sekelas sama dia,” jawab Chayra tersenyum miris.


“Ya udah kalau itu memang udah menjadi keputusan kamu, kamu harus tanggung jawab dengan keputusan yang telah kamu buat sendiri. Selesaikanlah pendidikan kamu di sini. Lupakan dia, kalau jodoh pasti bertemu lagi,” titah Afkar.


“Iya, Pa. Terima kasih ya, Pa. Papa udah mau mengerti Chayra,” balas Chayra berhambur memeluk papanya.


“Tapi, Nak, kamu di sini sendiri ya, jaga diri kamu. Besok papa harus pulang ke Indonesia,” ucap Afkar.

__ADS_1


“Iya, Pa. InsyaaAllah Chayra akan baik-baik saja,” kata Chayra.


Dan saat mereka di kamar ada suara orang mengetuk pintu ....


__ADS_2