Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 97 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Sayang, kamu Mas bersihkan dulu ya badannya, biar enakan,” ucap Reigha dengan lembut pada Shafa.


“Iya, Mas, tapi itu pintunya di kunci dulu,” balas Shafa.


Reigha segera memberikan baju ganti si kembar pada perawat dan setelah itu mengunci pintu ruang rawat Shafa.


Reigha segera membantu melepaskan baju Shafa, lalu Reigha membantu membersihkan badan Shafa.


Setelah bersih, seketika ada yang mengetuk pintu. Reigha pun memastikan Shafa udah rapi, kemudian pintu di buka, ternyata Mama dan Ibu datang.


“Assalamu’alaikum,” salam Mama dan Ibu serempak.


“Wa’alaikumussalam, Ma, Bu,” balas Reigha dan Shafa.


“Gha, Gha, kamu itu ya, ngapain pintu pakai di tutup segala. Gak sabaran banget kamu itu,” gerutu Mama sembari berjalan masuk mendekat pada Shafa.


“Apa sih, Ma, Reigha baru aja bantu Shafa bersih-bersih badannya. Biar gak lengket.”


“Oh, kirain,” ucap Mama seraya tersenyum.


“Loh, kemana ini si kembar?” tanya Ibu.


“Tadi dibawa perawat, Bu, mau dimandikan,” jawab Shafa membuat Ibu manggut-manggut.


“Fa, gimana kabar kamu, Nak?” tanya Ibu menghampiri Shafa yang masih berbaring di atas brankar.


“Alhamdulillah udah baik, Bu. Ibu kok bisa bareng sama Mama?” tanya Shafa.


“Loh, Ibu kamu ‘kan dari kemarin di rumah, Fa, bantu Mama siapkan kamar buat cucu-cucu kami,” sambar Mama dan diangguki oleh Ibu.


“Dokter udah datang belum, Gha?” tanya Mama.


“Belum, Ma, mungkin bentar lagi,” jawab Reigha.


“Nak Reigha, itu tadi Ibu dan Mama bawakan makanan, makan dulu sana, mumpung si kembar masih dimandikan,” titah Ibu.


“Iya, Bu. Sayang, kamu mau makan lagi?” jawab Reigha seraya bertanya pada Shafa.


“Boleh, Mas, makan di sini aja, kita makan berdua,” balas Shafa.


Reigha pun segera mendekati Shafa dan membuka kotak nasinya. Saat Reigha akan menyuapi, terdengar Ibu berkata, “Nak Reigha, telurnya jangan di kasih Shafa, ya. Shafa pakai daging aja.”


“Iya, Bu, untung ibu cepat bilang,” balas Reigha.


Dan tak lama kemudian perawat yang memandikan si kembar masuk. Oma dan Nenek si kembar udah gak sabar langsung menggendong.


Oma dan Nenek si kembar sampai mengabaikan Reigha dan Shafa.

__ADS_1


“Sayang, kayaknya kita buat satu lagi ya. Biar kita bisa gendong anak kita, lihat itu si kembar udah dikuasai Oma dan Neneknya kata Reigha yang seketika mendapat pukulan kecil dari Shafa.


“Mas ini ... ada-ada aja. Oh iya, Mas, nanti kalau Shafa udah pulang, kita adain aqiqah untuk si kembar, ya,” pinta Shafa.


“Ya itu pastilah, Sayang. Kan itu wujud syukur kita,” balas Reigha dibalas senyuman oleh Shafa.


Tak lama kemudian, Bayu dan Anna datang, “Assalamu’alaikum,” salam mereka serempak.


“Wa’alaikumussalam. Masuk, Bay, Na!” sahut Reigha saat melihat Bayu dan Anna diambang pintu.


“Waduh, kita kalah cepat sama Oma dan Nenek si kembar,” ucap Bayu membuat mereka semua menoleh pada Bayu.


“Emang ngapain kok kalah cepat?” tanya Mama.


“Tadi bayu buru-buru ke sini karena mau gendong keponakan kembar loh, Ma, tapi udah keduluan,” jawab Bayu membuat mereka tertawa.


Setelah mereka asik mengobrol, tak berapa lama dokter pun datang, “Selamat pagi, gimana kabarnya, Bu Shafa?” tanya Dokter Amanda.


“Alhamdulillah, semakin membaik, Dokter.”


“Saya periksa dulu, ya,” balas Dokter seraya tersenyum.


Setelah dokter memeriksa, dokter pun mengatakan kalau kondisi tetap stabil besok udah boleh pulang. Mendengar kabar tersebut semua merasa bahagia.


“Gha, lo gak pulang? Kantor lo siapa yang ngurus?” tanya Bayu.


“Kan ada Dani, Bay,” jawab Reigha dengan entengnya.


“Ya kalau gitu lo aja yang handle.” Reigha berbicara tanpa dosa.


“Lihat tuh, Ma, anak mama seenaknya sendiri ngatur-ngatur orang, Bayu kan juga punya tanggung jawab di kantor Papa,” adu Bayu pada Mama Dhiya.


“Bay, tolonglah, nanti kalau Shafa udah di rumah, gue akan kerja lagi, gue ‘kan cuti gak lama,” ucap Reigha.


“Gak lama kata lo? Sepuluh hari lo bilang gak lama, kalau lo bukan CEO-nya udah gue pecat lo!” seru Bayu membuat Reigha dan yang lainnya tertawa.


“Mas, kamu pulang aja ya, kerja dulu. Kasihan loh Bayu kalau harus handle dua perusahaan,” titah Shafa.


“Tapi, Sayang, nanti kamu sama siapa?” balas Reigha membuat Mama Dhiya mendekat dan segera menggetok kepala Reigha.


“Kamu itu gak lihat kita-kita ini ya, kita kesini ini mau gantikan kamu, sekarang pulang aja masuk kerja!” perintah Mama tak terbantahkan.


Reigha pun dengan berat hati meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan sama istrinya. Reigha segera keluar dan langsung menuju kantor.


Setibanya di kantor, semua karyawan memandang Reihha dengan takjub. Karena, baru kali ini seorang Reigha ke kantor menggunakan baju non formal. Reigha hanya memakai kaos dan bercelana jeans.


Reigha tak merasa diperhatikan, Reigha langsung menuju ke lift dan segera masuk keruanganannya untuk membersihkan badan dan memakai pakaian formal. Setelah Reigha siap segera dia memanggil Puspa lewat telpon.

__ADS_1


“Puspa, segera masuk bacakan jadwal saya hari ini,” ucap Reigha lewat telpon.


“Baik, Pak.” Puspa segera menutup telponnya dan segera masuk ke ruangan Reigha.


Setelah membacakan jadwal Reigha hari ini Reigha di berikan kerjaan oleh Puspa yang udah menumpuk.


“Apa-apaan ini, Puspa? Ngapain berkas sampai segini banyak kamu kasih ke saya?” tanya Reigha seraya mengernyit bingung.


“Ini berkas yang harus bapak pelajari dan tanda tangani, Pak. Karena bapak ‘kan lama gak masuk,” jawab Puspa.


“Tapi kenapa sampai sebanyak ini, Puspa. Gak bisa apa ini dibagi besok lagi? Saya harus segera ke rumah sakit,” balas Reigha.


“Maaf, Pak, ini berkasnya semua sudah ditunggu, Pak. Jadi harus diselesaikan sekarang.”


“Baiklah, kalau gitu kamu keluar sekarang dan jangan ganggu saya!” seru Reigha.


Puspa segera keluar dan Reigha pun mengunci pintunya. Reigha ingin segera menyelesaikan semua pekerjaannya, Reigha udah merasa rindu pada Shafa dan si kembar.


Tak terasa waktu udah sore dan kerjaan Reigha masih seperempat lagi. Reigha segera memanggil Puspa lewat telpon.


Setelah membuka kuncinya ruangan, Puspa segera masuk dan bertanya, “Iya, Pak, ada apa?”


“Ini kerjaan tinggal beberapa , saya kerjakan besok pagi, ya. Saya harus segera ke rumah sakit,” ucap Reigha.


“Baik, Pak,” balas Puspa sambil merapikan ruang kerja Reigha.


Reigha segera keluar kantor dan menuju ke rumah sakit, tak lupa Reigha membelikan buah untuk Shafa.


“Assalamu’alaikum,” salam Reigha masuk ke dalam ruangan.


“Wa’alaikumussalam, Mas, kok udah ke sini lagi? Gak istirahat dulu di rumah?” tanya Shafa.


“Aduh, ke kantor bentar aja rasanya udah kangen banget, jadi males mau ke rumah,” jawab Reigha.


“Halah, Mas, kamu itu gombal aja,” balas Shafa.


“Bilang aja emang kamu gak bisa jauh dari istri kamu, Gha, Gha,” celetuk Mama Dhiya sembari tertawa.


“Loh beneran, Sayang, kamu gak ngerasain sih. Mama juga, gak ngerasain gimana jadi suami,” gerutu Reigha semua pun hanya tertawa menanggapi Reigha.


“Yaudah kalau gitu, kamu udah datang Mama sama Ibu kamu mau pulang, kasihan Anna mau istirahat,” ucap Mama berpamitan.


Anna pun berdiri dari sofa dan mendekat pada box bayi, mengecup singkat si kembar kemudian berpamitan pada Reigha dan Shafa.


“Ibu dan Mama pamit ya, Nak,” ucap Ibu Khalisa ikut berpamitan.


“Hati-hati ya, Ma, Bu, Na,” balas Shafa sembari tersenyum.

__ADS_1


Tinggallah sekarang Reigha dan Shafa juga si kembar dalam ruangan. Tak lama terdengar kembali ketukan pintu membuat Reigha segera membuka pintunya.


Reigha kaget karena ternyata yang datang adalah Tante Lucy dan Anaknya.


__ADS_2