
Sore harinya, Papa dan reigha pulang dari kantor. Bayu dipanggil Reigha ke ruang kerjanya.
“Kenapa sih, Gha, kayaknya penting banget,” ucap Bayu saat udah duduk tepat di depan Reigha.
“Bay, lo udah tau dari Mama masalah Cantika?” tanya Reigha membuat Bayu mengernyit bingung.
“Cantika, kenapa dia? Mama gak cerita apa-apa sih ke gue,” jawab Bayu.
Reigha pun segera menceritakan tentang Cantika ke Bayu sampai selesai.
“Gimana menurut lo?” tanya Reigha setelah selesai bercerita.
“Kalau menurut gue, jangan sampai dibebasin, Gha ... Om Andre dan Tante Lucy sangat berbahaya. Mending lo buat Cantika sibuk aja. Lo bisa kuliahin dia ke luar negeri. Pasti itu akan membuat dia sedikit melupakan permasalahan orang tuanya,” jawab Bayu memberi saran.
“Iya bener. Itu juga tadi yang gue pikirkan. Tapi, siapa yang akan bujuk Cantika, Bay?” balas Reigha tampak berpikir.
“Nanti biar Mama kalian aja yang bujuk Cantika,” sahut Papa yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Reigha.
“Eh, Pa ... sejak kapan papa di sini?” tanya Reigha.
“Udah dari tadi pas kamu ceritain tentang Cantika, Gha. Kamu bersih-bersih dulu sana, sekalian bawa si kembar ke ruang tengah Papa mau ke ruang tengah soalnya. Kangen Papa belum ketemu si kembar,” balas Papa.
“Iya, Pa. Bay, gue mandi dulu ya,” ucap Reigha.
“Iya, lagian lo baru pulang sdh ngajak ngobrol bukan nemuin istri dulu,” celetuk Bayu.
Reigha pun segera keluar menuju kamarnya. Sementara Papa dan Bayu segera ke ruang tengah.
Di kamar, Reigha segera masuk dan melihat Shafa sedang memberi asi untuk si kembar.
“Mas, pelan-pelan tutup pintunya, si kembar baru bobok!” seru Shafa yang tau Reigha baru saja masuk kamar.
“Iya, Sayang. Mas mandi dulu ya,” balas Reigha dan diangguki oleh Shafa.
Setelah selesai memberi asi, Shafa segera menaruh bantal di tepi-tepi ranjang. Kemudian, Shafa menyiapkan baju ganti untuk Reigha.
Reigha keluar dengan memakai handuk dan segera menuju ke si kembar.
“Mas, kebiasaan keluar kamar mandi gak pakai baju,” ucap Shafa.
“Buru-buru, Sayang, udah kangen sama si kembar. Oh iya, Sayang, tuh Papa kangen sama si kembar dan meminta mengantar ke ruang tengah,” balas Reigha sembari memberitahu pada istinya.
“Iya, Mas, Shafa antar. Mas sholat dulu baru nyusul ya,” titah Shafa.
“Sayang, kamu setelah antar si kembar, kesini sebentar ya, Mas butuh bantuanmu,” ucap Reigha dan diangguki oleh Shafa.
“Oh ... oke. Yaudah kalau gitu Shafa keluar dulu,” balas Shafa segera menaruh si kembar di stroler dan mengantarkan ke Papa.
“Pa, katanya Papa nyari si kembar,” ucap Shafa yang baru aja sampai di ruang tengah.
“Iya, Nak, sini biar Papa jaga,” balas Papa sembari mengangkat Daviandra dari stroler kemudian digendongnya.
__ADS_1
“Yah, mau gendong Daviandra keduluan opanya, Daviana masih tidur,” gerutu Bayu.
“Reza mana, Bay?” tanya Shafa.
“Masih di kamar sama Anna, lagi tidur,” jawab Bayu.
“Nanti aja kamu pas Daviana bangun, gendong aja,” balas Papa tersenyum.
“Iya deh, Pa. Demi Opanya anak-anak apa yang engga,” celetuk Bayu membuat Papa dan Shafa tertawa bersamaan.
“Mama mana, Pa?” tanya Shafa.
“Belum pulang, Nak. Reigha belum selesai mandi?” jawab Papa sembari bertanya kembali.
“Udah, Pa. Sekarang lagi sholat. Sebentar Shafa ke kamar dulu,” balas Shafa langsung segera menuju kamar.
“Mas, dicari papa tuh,” ucap Shafa saat baru saja masuk ke dalam kamar dan ternyata reigha lagi tengkurep di ranjang.
“Kamu kenapa, Mas?” tanya Shafa.
“Sayang, Mas masuk angin nih. Bisa tolong pijitin punggung, Mas gak?” balas Reigha.
“Sebentar Shafa kunci dulu pintu kamarnya, gak enak kalau tiba-tiba ada yang masuk,” ucap Shafa segera menuju pintu dan mengunci pintunya.
Kemudian Shafa berjalan mendekat ke nakas untuk mencari minyak gosok. Setelah dapat, Shafa menuju ke ranjang hendak memijat Reigha.
Saat Shafa sudah naik di punggung Reigha, dengan segera Reigha berbalik dan ternyata hanya memakai boxer saja.
“Mas, tengkurap dong, katanya minta dipijat,” ucap Shafa.
Satu jam kemudian, mereka baru selesai mandi dan keluar dari kamar.
Bayu yang ternyata masih di ruang tengah dan melihat mereka berdua dalam keadaan rambut basah pun segera menggoda.
“Gha ... Gha, anak-anak dititipin opanya ternyata lagi lembur buat adik si kembar,” ledek Bayu yang tengah menggendong Daviana.
Shafa yang malu lalu menuju dapur dan menyiapkan makan malam.
Tak berapa lama, Mama akhirnya pulang dengan membawa beberapa paper bag.
“Ma, bawa apa itu?” tanya Papa.
“Emm ... itu, Pa, beliin baju untuk cucu-cucu kita. Ini untuk si kembar dan yang ini untuk Reza,” jawab Mama.
“Makasih ya, Ma, bayi baru lahir udah dibelikan baju sebanyak ini,” ucap Bayu.
“Tadi malah Mama pikir kurang, Bay, habisnya bajunya lucu-lucu,” balas Mama sambil tersenyum.
“Trus kenapa gak beli yang banyak, satu toko kalo perlu,” celetuk Papa yang heran dengan kebiasaan Mama Dhiya sejak dulu sampai sekarang suka kalap.
“Ya gak gitu juga, Pa, kan gapapa dong belikan beberapa baju untuk cucu-cucu kita,” balas Mama.
__ADS_1
“Iya-iya, Mama gak pernah salah kok,” ucap Papa mengakhiri berdebatnya.
“Gha, Shafa mana?” tanya Mama.
“Lagi ke dapur, Ma, siapin makan malam,” jawab Reigha.
“Nah, itu dia, Ma. Bentar lagi Mama juga akan punya cucu lagi!” seru Bayu sembari mengulum senyumnya.
“Oh iya, Bay ... siapa yang hamil?” tanya Mama.
“Tuh tadi si kembar dititipkan ke Opanya, dan mereka nyicil buat kuping, Ma,” jawab Bayu membuat Mama dan Papa tertawa.
“Ngeledek terus lo, Bay, rasain lo kan sekarang lagi puasa!” seru Reigha membuat Bayu mencurutkan bibirnya.
“Fa, ini si kembar tidur, ayo kita makan malam dulu,” ucap Mama karena tau kalau Shaga malu dengan ucapan Bayu tadi.
Mereka pun segera makan malam, setelah makan malam, Bayu ke kamar untuk menyuapi Anna.
Tepat setelah mereka semua sholat isya, tampak Papa dan Mama tengah duduk di ruang tengah.
“Fa, ayo kumpul di sini, ajak juga si kembar,” ucap Mama saat melihat Shafa melewati ruang tengah.
“Iya, Ma. Sebentar ya,” balas Shafa segera menuju ke kamar. Namun, belum sempat masuk kamar, Bayu bertanya pada Shafa, “Fa, mana Reigha?”
“Di dalam, ini mau dipanggil,” jawab Shafa membuat Bayu bertanya kembali.
“Emang mau kemana kok dipanggil?” tanya Bayu kembali.
“Mama dan Papa lagi kumpul di ruang tengah. Ayo ajak Anna dan Reza kesana juga. Udah jarang loh kita kumpul bareng gini,” balas Anna dan diangguki oleh Bayu.
Setelah Bayu pergi, Shafa segera masuk kamar, “Mas, ayo kita ke ruang tengah. Kumpul sama Papa dan Mama.”
“Gak di kamar aja, Sayang?” tanya Reigha.
“Ayolah, Mas ... Papa dan Mama mau kumpul sama anak cucu loh,” jawab Shafa.
Shafa dan Reigha pun segera keluar kamar membawa si kembar. Ternyata di ruang tengah udah ada Anna dan Bayu di sana.
Papa tengah menggendong Reza. Melihat Shafa datang, Mama bergegas mengambil Daviandra. Tak hanya itu saja, Bayu yang tak mau kalah bergegas mengambil Daviana dari gendongan Reigha, “Gue apa dong?” protes Reigha.
“Udah lo diam di situ aja!” seru Bayu dengan tawanya.
“Sayang, kayaknya benar kita harus buat satu lagi,” bisik Reigha yang mendapat cubitan kecil dari Shafa.
“Alhamdulillah akhirnya kita bisa kumpul bersama kayak gini, dulu hanya ada anak mantu, sekarang ditambah cucu-cucu yang lucu ini,” ucap Mama membuat Papa manggut-manggut.
“Gak terasa kita udah tua ya, Ma, buktinya udah ada cucu,” balas Papa .
“Selama ini masih ngerasa muda, Pa?” tanya Mama sambil tertawa kecil.
“Iya, Ma. Masih muda loh Papa ini,” jawab Papa dengan percaya dirinya.
__ADS_1
“Tuh, Nak, Opa kamu masih muda katanya,” celetuk Mama sembari mengajak omong Daviandra.
Papa dan Mama pun menghabiskan waktu bersama untuk mengobrol dan bercanda bersama anak, mantu, dan cucu-cucunya.