Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 46 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Trus gimana, Mas?” tanya Shafa sembari mendekat kembali ke sofa.


“Ya ... Mas usir tadi. Tapi, sepertinya dia gak terima. Jadi, kamu mesti hati-hati dan waspada kalau berada di luar rumah, ya,” jawab Reigha.


“Iya, Mas. Makasih atas perhatian kamu dan atas kejujuran kamu, Mas.” Shafa pun mendudukkan diri di sofa dan langsung memeluk Reigha.


Saat ini, tibalah waktu makan malam, Reigha dan Shafa datang paling akhir. Mereka berdua baru tau kalau Papa Harun udah kembali dari luar kota.


“Lho ... Pa, udah pulang? Kok Reigha gak tau pa?” tanya Reigha yang tampak kaget.


“Gha ... Gha, semenjak kamu nikah, kamu tuh jadi betah banget di kamar. Dulu aja, betah banget di ruang kerja, sekarang bahkan tiap hari ngebiarin ruang kerja kosong demi untuk berduaan sama istri kamu!” seru Mama Dhiya.


“Ma, kamu kayak gak pernah muda aja,” balas Papa Harun yang seakan membela Reigha.


“Iya, Pa. Mama tau kalau mereka masih pengantin baru. Tapi, pengantin baru aja ga kayak Reigha gitu deh, Pa.”


“Emangnya Reigha kenapa sih, Ma?” tanya Reigha.


“Kamu tuh udah bucin akut, Gha. Shafa pergi aja, kamu kebingungan nyari. Maunya di kamar terus berduaan,” jawab Mama Dhiya.


“Udah-udah ... makan kok malah berdebat. Papa baru aja datang sore tadi, Gha,” ucap Papa sembari menjawab pertanyaan Reigha yang tertunda karena perdebatan Reigha dengan Mama Dhiya.


Setelah selesai makan malam, Papa Reigha meminta semuanya untuk berkumpul di ruang keluarga.


Shafa tampak duduk di sebelah Reigha, Bayu tepat di depan Reigha. Sementara Papa dan Mama duduk bersebelahan.


“Gimana persiapan pernikahannya?” tanya Papa Harun.


“Hmm ... Mama yang nyiapin semua, Pa,” jawab Reigha.


“Udah beres semua kok, Pa. Bahkan, tadi Mama ke rumah Shafa. Di sana ramai banget, Pa. Banyak tetangga yang bantu, kompak banget deh tetangga-tetangga di sana. Baik-baik lagi,” ucap Mama Dhiya menjawab pertanyaan dari Papa Harun.


“Mama gak tau aja, kalau ada tetangga Shafa tuh ada yang unik banget!” celetuk Bayu.


“Unik Gimana sih, Bay?” tanya Mama Dhiya penasaran.


“Pokoknya unik, Ma. Gak ada di sekitar rumah sini,” jawab Bayu.


Semua melanjutkan obrolannya, Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya mereka segera menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Keesokan harinya, semua udah sibuk dengan urusan masing-masing. Bayu dan Reigha udah berangkat ke kantor karena ada meeting padat hari ini. Mama Dhiya mengajak Shafa membeli sesuatu yang masih kurang.


Mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan. Mereka berjalan sambil mengobrol dengan sesekali diselingi candaan oleh keduanya, hingga mereka tidak kenyadari kalau sejak tadi ada yang mengikuti keduanya.


Ya ... Binar sedang mengikuti Shafa dan berniat yang tidak baik. Binar menunggu waktu yang pas untuk melakukan rencananya. Binar terus menerus mengikuti langkah Shafa dan juga Mama Dhiya sampai mereka masuk ke foodcourt mall. Mereka pun segera memesan makanan. Sembari menunggu pesanan datang, Shafa pun izin ke toilet.

__ADS_1


“Ma, Shafa ke toilet sebentar, ya,” izin Shafa pada Mama Dhiya.


“Oh. Iya, Fa. Jangan lama-lama, ya,” ucap Mama Dhiya yang diangguki oleh Shafa.


Shafa pun keluar dan menuju toilet. Binar yang melihat hal itu, sangat senang karena merasakan mendapat kesempatan untuk menggagalkan pernikahan Reigha.


Binar segera mengikuti langkah Shafa masuk ke dalam toilet wanita. Binar tidak tahu kalau sejak dirinya mengikuti Shafa, ternyata Mama Dhiya melihat Binar yang mengikuti menantunya itu.


Segera pula Mama Dhiya menyusul Shafa agar tidak terjadi sesuatu pada menantunya.


Shafa masih di dalam toilet, sedangkan Binar menunggu di depan pintu.


Tak lama, pintu terbuka dan tampaklah Shafa yang terkejut karena adanya Binar kini dihadapannya.


Shafa berusaha bersikap biasa saja. Melewati Binar begitu saja. Tiba-tiba, lengan Shafa dicekal oleh Binar.


Shafa menoleh dan bertanya, “Mau lo apa?”


“Gue gak rela lo nikah sama Reigha. Gue kasih kesempatan buat lo tinggalin Reigha sekarang juga, atau—”


Ucapan Binar seketika terhenti karena disambar oleh Mama Dhiya.


“Atau apa?” sambar Mama Dhiya membuat Binar terdiam kaget.


“Ta—Tante ... tadi Binar gak sengaja ketemu Shafa di toilet,” dusta Binar.


“Udah. Ayo, Fa. Kita segera pulang, Reigha nyari kamu,” imbuh Mama Dhiya membawa Shafa pergi meninggalkan Binar yang masih mematung di kamar mandi.


Shafa dan Mama Dhiya langsung bergegas pulang dan melupakan makanan yang sudah dipesan.


Binar sangat marah karna rencananya gagal, Binar semakin nekat ingin menggagalkan pernikahan Reigha.


Sore harinya, Reigha pulang dari kantor tampak kelelahan karena seharian melakukan beberapa meeting. Reigha bergegas masuk kamar dan segera mandi.


Setelah selesai mandi, Reigha kelihatan segar dan langsung mencari istrinya yang ternyata berada di taman belakang rumah, sedang melamun. Reigha mengernyit bingung dan segera menghampirinya.


“Sayang, Mas cari kemana-mana, gak taunya di sini. Kamu kenapa? Mau nikah kok malah ngelamun?” tanya Reigha mendudukkan diri di samping Shafa.


“Shafa gapapa kok, Mas,” jawab Shafa menutupi kejadian hari ini.


“Jangan bohong. Kamu kenapa?” paksa Reigha agar Shafa mau jujur padanya.


“Emm ... tadi waktu nemenin Mama belanja, Shafa ketemu Binar,” jawab Shafa membuat Reigha kaget.


“Trus, apa yang dia lakuin ke kamu?” tanya Reigha khawatir.

__ADS_1


“Gak ada sih, Mas. Lebih tepatnya, belum sampai ngelakuin sesuatu. Karena Mama keburu datang,” balas Shafa membuat Reigha bernapas lega.


“Alhamdulillah kalau kamu gapapa. Soalnya, Mas khawatir kalau kamu selalu diganggu Binar.”


“Yaudah ... yuk siap-siap ke rumah Ayah,” imbuh Reigha sembari mengelus kepala Shafa yang terlapisi oleh hijab.


“Emm ... iya, Mas,” balas Shafa dengan nada lemas.


“Kok gak semangat gitu sih, Sayang?” tanya Reigha menangkup dagu Shafa dengan kedua tangannya.


“Mas, Binar kira-kira mau lakuin apa ya tadi sama Shafa? Soalnya, tadi Binar ngancam nyuruh Shafa ninggalin Mas,” jawab Shafa lirih.


“Udah ... gak usah dipikirin, Sayang. Mas akan menjaga kamu lebih ekstra lagi,” ucap Reigha menenangkan Shafa.


Shafa mengangguk paham dan mengembangkan senyumnya. Reigha menarik Shafa dalam pelukannya.


Mereka pun segera menuju ke kamar dan bersiap-siap pergi ke rumah Ayah Reynand. Setelah selesai dengan persiapannya, mereka lalu keluar hendak berpamitan sama Mama Dhiya dan Papa Harun.


“Ma, Pa, Reigha dan Shafa ke rumah Ayah Reynand, ya,” ucap Reigha berpamitan pada kedua orang tuanya yang tengah duduk mengobrol di ruang keluarga.


“Iya, Gha. Hati-hati!” seru Papa Harun.


“Gha, kamu harus waspada. Jaga menantu Mama baik-baik. Sepertinya, Binar punya rencana yang gak baik sama Shafa,” imbuh Mama Dhiya berkata pada Reigha.


“Iya, Ma. Reigha akan jagain Shafa baik-baik dan terima kasih tadi Mama udah ngelindungi Shafa, ya,” balas Reigha tersenyum haru.


Papa Harun merangkul istrinya. Reigha pun menggandeng tangan Shafa. Sementara Mama seakan teringat sesuatu dan bertanya pada Reigha.


“Anak Mama satu lagi mana, Gha? Katanya mau ikut,” ucap Mama Dhiya bertanya pada Reigha.


“Tadi Bayu belum siap meeting, Ma. Biar nanti aja nyusul bareng Anna,” jawab Reigha membuat Mama Dhiya manggut-manggut.


Setelah berpamitan, Reigha dan Shafa pun menyalimi Papa Harun dan Mama Dhiya dan bergegas berjalan menuju depan rumah karena Farhan sudah menunggu keduanya sejak tadi. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Farhan pun melajukan mobilnya menuju rumah Ayah Reynand.


Saat di perjalanan, Shafa bertanya pada Farhan, “Gimana kehamilan Sintia, Han?”


“Alhamdulillah baik-baik aja, Fa,” jawab Farhan.


Mereka bertiga pun mengobrol selama di perjalanan hingga sampai di rumah Ayah Reynand. Reigha sampai kaget karena rumah Ayah Reynand sudah ramai. Tepat di depan rumah udah terpasang tenda dan dekorasi pengantin. Banyaknya tetangga yang saling berdatangan.


Benar-benar ini baru pertama kali Reigha melihatnya. Kerukunan dan kekompakan jelas terlihat dan tidak pernah ditemui di dunianya Reigha yang tinggal di kota.


Reigha dan Shafa turun dari mobil dan bertemu dengan Bu Sinta yang selalu kepo mobil siapa yang datang.


“Shafa, bersyukur banget ya ... suaminya udah sembuh, pantesan mau dipamerkan ke warga makannya buat acara pernikahan lagi ‘kan!” celetuk Bu Sinta.

__ADS_1


Warga yang melihat hal tersebut hanya merotasikan bola matanya malas sembari berbisik-bisik membahas Bu Sinta yang selalu julit tak tau tempat.


Sintia yang mendengarnya pun langsung keluar dan berkata, “Jangan gitu dong, Bu. Gimana pun ‘kan Shafa tuh yang mempekerjakan suami aku.”


__ADS_2