
“Jadi gimana? Pembahasannya lancar?” tanya Reza.
“Lancar, mereka tunangan seminggu lagi dan pernikahannya sebulan setelah tunangan,” jawab mama Shafa membuat Reza kaget bak disambar petir kala itu.
Reza terdiam sebentar kemudian seakan bertanya mengulangi sepenggal ucapan mama Shafa, “Sebulan lagi pernikahan, Ma?”
“Iya, Za ... kok kamu kaget gitu, Nak?” tanya Shafa.
“Eh, gapapa kok, Ma ... cuma sebenarnya ada yang mau Reza omongin ke semuanya,” jawab Reza.
“Ada apa, Za, kok kayaknya serius?” tanya Reigha setelahnya.
“Ini tentang perusahaan yang di luar negeri, Pa ... kata Papi sedang mengalami penurunan. Rencananya, Reza akan menghandle perusahaan yang di sana,” balas Reza.
“Oh ... iya, Za. Tapi, emangnya gapapa kamu berada di sana sendirian?” ucap Reigha kembali bertanya.
“Ya gapapalah, Pa, sekalian Reza mau lanjut kuliah di sana,” kata Reza.
“Oke ... kalau gitu papa dukung kamu. Kapan rencana kamu berangkat? Setelah pernikahan Naima ‘kan, Za?” tanya Reigha.
“Nggak, Pa. Reza berangkat tiga hari lagi,” jawab Reza.
“Apa? Nggak. Mami gak setuju, itu terlalu cepat, Za,” protes Anna.
“Iya, mama juga gak setuju, masa kita mau ada acara pernikahan semua keluarga kumpul, tapi kamunya gak datang,” imbuh Shafa.
“Mi, Ma, acara masih satu bulan lagi. Kan besok pas acara, Reza bisa pulang. Lagian ... kan perjalanan naik pesawat bisa ditempuh 8 jam,” kata Reza.
“Tapi kenapa mendadak sih, Za?” tanya Bayu.
‘Kamu pasti menghindar dari pernikahan Daviana kan, Za,’ kata Reigha dalam hati.
“Nggak mendadak kok, Pi, kan Reza udah tanya masalah itu dari bulan kemarin,” jawab Reza.
“Hmm ... baiklah. Kalau udah yakin dengan keputusan kamu, papi setuju,” balas Bayu.
“Iya, Papa juga setuju. Selagi kamu mampu membereskan masalah di sana, papa akan setuju apapun keputusan terbaik kamu,” imbuh Reigha.
“Yaudah kalau papi kamu udah setuju mami mau ngomong apa lagi,” pasrah Anna.
“Tapi, saat Naima nikah, mama minta kamu pulang ya, Sayang, pinta Shafa.
“InsyaaAllah, Ma,” balas Reza.
“Za, pokoknya nikahan gue, lo harus pulang ya. Gue gak terima penolakan!” seru Daviana.
__ADS_1
“Iya, Nai. Tapi, kalau gue gak datang gimana?” balas Reza bercanda.
“Gue gak jadi nikah kalau lo gak datang,” ucap Daviana.
“Wahhh, kalau gitu ... gue gak datang aja,” kata Reza sambil tertawa.
Reigha semakin yakin kalau Reza pergi untuk mencoba melupakan Daviana.
“Za , kok gitu ngomongnya,” lirih mami Anna.
“Nggak kok, Mi, Reza cuma bercanda aja,” kata Reza.
“Za, nanti setelah acara ... gue nyusul lo ya,” ucap Daviandra.
“Gak, nggak bisa. Kalau Andra harus selesaikan kuliahnya di sini, setelah itu pegang perusahaan papa, papa mau pensiun,” sambar Reigha.
“Papa nih, masih muda juga udah mau pensiun aja,” gerutu Daviandra.
“Papa mau menghabiskan waktu papa sama mama, mama selama ini papa tinggal di rumah terus dengan kesibukan papa, jadi papa akan menghabiskan waktu sama mama,” kata Reigha.
“Ihhh, papa so sweet banget sih ... jadi pengen punya suami seperti papa,” celetuk Almeera.
“Heleh ... kamu ini, Al, masih kecil sok-sokan ngomongin suami,” kata Daviandra.
Dan yang lainnya pun tertawa.
“Za, papi besok akan siapkan semuanya, kamu persiapkan aja dulu baju-baju kamu. Jadi, nanti setelah siap semua bisa berangkat, papi yang antar,” ucap Bayu.
“Makasih ya, Pi. Kalau gitu Reza pamit ke apartemen sekarang, ya. Assalamu’alaikum,” kata Reza berpamitan.
“Iya, Nak. Kamu hati-hati ya, Za!” seru mami Anna.
“Wa’alaikumussalam,” balas mereka semua serempak setelahnya.
Dan setelah Reza pergi, mereka pun semua kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Tiga hari kemudian, Reza udah bersiap untuk pergi dan sesuai rencana, Bayu yang mengantarkan. Dan, pagi ini semua berkumpul di rumah Reigha untuk sarapan. Setelah itu, Reza dan Bayu pergi ke bandara.
Setelah mereka selesai sarapan seperti biasa Almeera dan Vilia diantar oleh Daviandra ke sekolah.
“Za, jaga diri baik-baik. Jangan lupa selalu kabari gue ya, gue antar adik-adik kita dulu,” kata Daviandra memeluk Reza.
“Oke, Dra. Lo juga ya, jaga diri baik-baik,” balas Reza.
“Gue kehilangan partner kerja dan partner penyamaran gue,” celetuk Daviandra.
__ADS_1
“Yaa lo baik-baik aja dengan penyamaran lo, trus satu lagi, lo jangan mudah kasihan sama orang apalagi mau disuruh-suruh yang bukan pekerjaan lo,” kata Reza pada Daviandra.
“Lo tuh, gue gak gitu. Jangan lo ingat-ingat lagi yang udah terjadi dulu,” ucap Daviandra.
“Udahlah, gue pergi dulu, gue harus ngantar dua anak sekolah ini,” lanjut ucapan Daviandra.
“Iya, Andra. Gue titip adek-adek gue ya. Tolong dijagain,” balas Bayu.
“Adek lo, adek gue juga. Pasti gue jaga. Vilia, Almeera, kak Andra tunggu di mobil ya!” seru Daviandra berlalu pergi duluan untuk memanasi mobil.
Almeera mendekat pada Reza lalu memeluknya erat, kemudian berkata, “Bang, Almeera sayang abang, jangan lama-lama ya perginya.”
“Iya, Dek, jaga diri jaga kesehatan ... abang titip papi dan mami ya,” ucap Reza dan Almeera pun mengangguk.
“Bang, siapa nanti yang merhatiin Vilia kalau abang pergi. Abang gak usah pergi ya,” kata Vilia yang juga memeluk Reza sambil menangis.
“Kan masih ada kak Andra, kak Naima dan kak Almeera, Sayang. Abang janji akan sering video call sama kalian berdua, oke?” balas Reza.
“Oke, Abang!” seru Vilia dan Almeera serempak kemudian mereka pun pergi ke sekolah.
Daviana pun maju dan tanpa menunggu lama pun langsung memeluk Reza.
“Za, lo beneran pulang ‘kan pas nikahan gue nanti? Lo harus pulang ya, Za,” kata Daviana yang tiba-tiba menangis.
Reza yang tiba-tiba dipeluk Daviana pun langsung berdebar-debar sampai gak bisa berkata-kata.
“Za, kok lo diam aja. Pokoknya lo harus pulang, ya,” ucap Daviana yang masih memeluk Reza.
“I—iya, Nai ... InsyaaAllah ya. Lo jaga diri, jaga kesehatan baik-baik ya sama calon suami lo. Gue sayang sama lo,” balas Reza.
“Iya, Za, tapi lo harus pulang ya. Gue juga sayang sama lo,” kata Daviana.
“Udah-udah ... jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Gue berangkat ya,” ucap Reza sembari mengusap air mata Daviana.
Dan setelah itu, Reza berpamitan sama semua keluarganya lalu Reza dan Bayu pun meninggalkan rumah Reigha.
Di mobil, Reza tampak melamun dan Bayu pun memperhatikannya.
“Kamu kenapa, Za?” tanya Bayu.
“Gapapa pi, agak berat aja jauh dari keluarga,” jawab Reza asal.
‘Daviana sayang sama aku, tapi semua terlambat karena aku yang lama gak memberi tanda kalau aku sayang melebihi sayangku pada siapa pun,’ kata Reza dalam hati.
“Makanya, Za, kalo suka itu diomongin jangan hanya di pendam, akhirnya kamu menyesalkan karena udah terlambat,” kata Bayu hingga membuat Reza kaget dan menoleh pada papinya.
__ADS_1
“Maksud papi apa?” tanya Reza.