Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 43 - Menikahi susterku


__ADS_3

Bayu menatap serius pada Anna, “Gimana, Na?”


“Maaf, Bang. Aku salah mengartikan siapa Delia sebenarnya,” ucap Anna merasa bersalah.


Bayu hanya tersenyum dan kembali memegang tangan Anna. Mereka ber-empat pun melanjutkan makannya.


Dua jam kemudian, mereka pulang. Terlebih dahulu mereka mengantarkan Anna.


Saat di perjalanan, Bayu mulai banyak bercerita.


“Gha, lo kalau di kantor bisa gak jangan terlalu serius?” tanya Bayu.


“Gimana?” balas Reigha yang bingung.


“Tadi pas gue anter Delia ke ruang kerjanya, dia cerita kalau lo galak banget,” ucap Bayu.


“Masa sih Mas Reigha galak di kantor?” tanya Shafa yang penasaran.


“Iya, Fa. Bahkan, di resepsionis itu aja pada cerita kalau suami lo lewat gak berani natap karena tatapannya serem,” imbuh Anna membuat Shafa tertawa.


“Benar gitu, Mas?” tanya Shafa.


“Gak salah dong, Sayang. Karena, tatapan aku yang lembut dan meneduhkan ini hanya untuk kamu,” jawab Reigha.


“Halah, ucapan cowok hanya sekedar ucapan, Fa. Jangan percaya!” seru Bayu.


“Lah, kamu ‘kan cowok, Bang,” ucap Anna membuat mereka ber-empat tertawa bersama.


Setibanya di rumah Budhe, Shafa mengeluarkan suaranya, “Na, kami gak turun, ya. Mau langsung pulang, sampaikan salam kami buat Budhe.”


“Iya. Gapapa kok, Fa, lagian udah malam juga.” Anna pun membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


Ternyata Bayu tiba-tiba turun berlari kecil mendekat pada Anna. Bayu berdiri berhadapan dengan Anna.


“Na, terima kasih kamu udah mau menerima perasaan aku. Sebentar lagi, aku akan melamar kamu. Tapi, aku mau kamu bersabar sampai selesainya acara pernikahan Reigha dan Shafa. Aku segera melamar kamu,” ucap Bayu dengan penuh keseriusan.


Anna pun mengangguk paham dan mengembangkan senyumnya yang tampak begitu manis.


Keduanya saling pandang, hingga mereka dikagetkan oleh suara klakson mobil dari Reigha.


“Bay, lo mau gue tinggal?” teriak Reigha dari dalam mobil.


“Masa kami cuma jadi obat nyamuk aja. Ayo pulang!” imbuh Reigha.


“Iya-iya. Ganggu aja!” sewot Bayu yang merasa terganggu.


Sebelum Bayu melangkah masuk ke dalam mobil dia berkata, “Na, besok aku jemput kamu, ya.”


“Iya, Bang,” jawab Anna mengangguk mengiyakan.


Mereka pun akhirnya meninggalkan halaman rumah Budhe Anna menuju ke rumah kediaman Papa Harun.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, mereka pun melangkah ke kamar mereka masing-masing.


Reigha merangkul istrinya berjalan menuju kamar.


Pada pagi harinya, semuanya tengah berkumpul di meja makan, kecuali Papa Harun yang masih di luar kota.


Reigha mulai menanyakan persiapan pernikahannya pada Mama Dhiya, “Ma, gimana persiapan pernikahannya?”


“Alhamdulillah lancar, Gha. Hari ini Mama mau ke hotel tempat kita melaksanakan resepsinya,” jawab Mama Dhiya.


“Ma, resepsinya di hotel apa namanya?” tanya Reigha yang penasaran.


“Di hotel blue star, Gha,” jawab Mama Dhiya.


Reigha tampak manggut-manggut. Sedetik kemudian, kembali bertanya, “Kalau akadnya, Ma?”


“Gini, Nak ... akad nikah dan resepsi pernikahan di rumah Shafa. Trus, di hari berikutnya resepsi di hotel blue star,” jawab Mama menjelaskan.


“Oke, Ma. Reigha nurut aja apapun itu keputusan yang udah Mama buat,” ucap Reigha membuat Mama Dhiya tersenyum senang.


Setelah selesai sarapan, mereka berkumpul di ruang tamu. Mama Dhiya dan Bayu tampak duduk di sofa, sementara Reigha tengah berdiri dipakaikan dasi oleh Shafa.


“Shafa, nanti kamu mau ikut Mama, mau gak?” tanya Mama Dhiya.


“Kemana, Ma?” balas Shafa bertanya ditengah-tengah aktivitasnya memakaikan dari Reigha.


“Kita ke hotel melihat persiapannya udah sampai mana,” jawab Mama Dhiya.


“Boleh dong, Sayang. Biar kamu gak bosen di rumah aja,” jawab Reigha memberikan izin kepada Shafa.


“Makasih, Mas!” seru Shafa memeluk Reigha.


Shafa pun duduk di samping Mama Dhiya sembari berkata, “Iya, Ma. Shafa ikut Mama hari ini.”


Mama pun mengembangkan senyumnya, “Iya, Nak. Setelah Reigha dan Bayu pergi, kita siap-siap.”


Mama Dhiya beralih menatap Bayu yang sejak tadi diam saja, “Bay, kamu kok diam aja?” tanya Mama Dhiya.


Bayu yang ditanya oleh Mama Dhiya hanya diam saja tanpa merespon apapun. Reigha pun menyentuh bahu Bayu membuatnya kaget.


“Bay, lo ditanya Mama tuh,” ucap Reigha membuat Bayu menoleh dan bertanya kembali pada Mama Dhiya.


“Kenapa, Tan?” tanya Bayu membuat Mama Dhiya mengulangi kembali pertanyaannya.


“Oh ... Bayu lagi mikirin kapan Bayu melamar Anna, Tan,” jawab Bayu.


“Untuk itu, kamu tenang aja. Setelah pernikahan Reigha, nanti Mama lamarin Anna,” ucap Mama membuat Bayu kembali bersemangat.


“Bay, kapan kamu mau kembali memanggil kami dengan sebutan Mama dan Papa?” imbuh Mama Dhiya bertanya pada Bayu dengan tatapan nanar.


Ya, sejak usia Bayu tujuh belas tahun. Bayu sudah mengetahui jika dia bukan anak kandung dari Papa Harun dan Mama Dhiya, sejak itu pula Bayu merubah panggilan Papa Mama menjadi Om Tante.

__ADS_1


Melihat Bayu hanya diam saja, Mama Dhiya pun bertanya kembali, “Kamu belum siap, ya, Nak?”


“Hmm ... Ba—bayu ... Bayu udah siap kok, Ma,” jawab Bayu membuat Mama Dhiya mengembangkan senyumnya.


“Ingat, jangan panggil Tante lagi, ya,” ucap Mama yang diangguki Bayu sembari membalas senyuman dari Mama Dhiya.


Reigha dan Shafa yang melihat hal itu pun tersenyum haru.


“Hmm ... yaudah kalau gitu, Bayu berangkat duluan, ya, Ma. Bayu mau jemput Anna dulu soalnya,” ucap Bayu berpamitan dan menyalimi Mama Dhiya.


“Yaudah ... hati-hati, ya, Nak.” Mama Dhiya pun mengelus bahu Bayu dan merapikan jas Bayu sebelum berangkat kerja.


Setelah Bayu pergi, tak lama Reigha pun pamit berangkat ke kantor.


“Yaudah, Ma. Reigha berangkat dulu,” ucap Reigha yang diangguki oleh Mama Dhiya.


Reigha menyalimi Mama Dhiya dan bertanya, “Reigha gak dirapikan jasnya, Ma?”


“Halah ... kamu udah rapi gini kok, kam udah terjamin kerapiannya kalau sama Shafa,” balas Mama Dhiya membuat Reigha tampak tersenyum manis.


“Yaudah berangkat sana. Hati-hati, ya!” seru Mama Dhiya yang diangguki oleh Reigha.


Shafa pun mengantar Reigha ke depan rumah. Reigha merangkul pinggang Shafa berjalan bersamaan menuju mobil yang telah terparkir di depan rumah.


“Sayang, Mas berangkat, ya!” seru Reigha yang tangannya langsung ditarik oleh Shafa.


Shafa pun mencium tangan Reigha, sementara Reigha mencium kening Shafa.


“Hati-hati, Mas,” ucap Shafa melemparkan senyuman tatkala Reigha sudah berada di dalam mobil.


“Farhan, hati-hati bawa mobilnya, ya!” seru Shafa.


“Siap, Fa!” teriak Farhan membalas seruan Shafa dari dalam mobil.


Mobil Reigha pun melaju menuju ke kantor meninggalkan rumah. Melihat mobil Reigha telah hilang dari pandangan Shafa, segera Shafa masuk ke dalam rumah dan bersiap untuk pergi bersama Mama Dhiya.


“Ma, Shafa ke kamar, ya,” ucap Shafa.


“Iya, Mama juga mau siap-siap nih,” balas Mama.


Keduanya pun masuk kamar masing-masing mempersiapkan diri untuk pergi bersama pagi ini.


Sementara di kantor, Reigha tampak baru saja turun dari mobilnya. Reigha langsung berjalan memasuki lobby menuju lift yang mengantarkannya ke ruangan.


Reigha langsung masuk ke ruangannya, melihat CEO sudah tiba di ruangan, Puspa segera masuk untuk membacakan agenda hari ini.


“Bagaimana, Pak?” tanya Puspa setelah membacakan agenda hari ini.


“Oke, sudah jelas. Terima kasih,” jawab Reigha.


Selesai membacakan agenda hari ini, Puspa segera keluar dari ruangan Reigha. Namun, saat Puspa sampai di luar ruangan, dia bertemu dengan Binar yang memaksa untuk masuk ke ruangan CEO.

__ADS_1


“Heh, Reigha ada di ruangan?” tanya Binar dengan judesnya.


__ADS_2