Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 109 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Bayu pun memanggil Afkar, “Bro, satu lagi yang mau ijab qobul. Lo duduk di sini aja.”


“Lho, pengantinnya ada dua?” tanya Afkar mengernyit bingung.


“Iya, sebentar gue panggil,” jawab Bayu segera menuju ke tempat Reigha dan Shafa yang sedang berduaan.


“Gha, Fa, ayo ikut gue sebentar,” ucap Bayu semnari mengulum senyumnya.


“Kemana?” tanya Reigha.


“Udahlah, ayo, ikut gue bentar doang,” jawab Bayu.


Dan mereka pun mengikuti Bayu hingga sampai ke tempat akad nikah. Setelah itu bayu menyuruh Reigha dan Shafa duduk.


“Bro, nih pengantinnya. Udah cepat mulai acaranya,” ucap Bayu tertawa.


“Apaan sih lo, Bay, dari datang sampai sekarang gangguin orang aja,” gerutu Reigha.


“Lah, kalian sih ... udah punya anak gede, tapi suka mojok aja, ya gue suruh Afkar nikahin lagi lah,” balas Bayu tertawa puas.


Reigha pun segera menonyor kepala Bayu. Melihat tingkah mereka berdua Afkar hanya geleng-geleng kepala.


“Kalian itu dari dulu gak berubah ya, senang banget bercanda, dan lo, Bay ... gak hilang tuh usilnya, ada aja tingkah lo buat Reigha kesal,” kata Afkar.


“Gimana ya ... lagian dari dulu sampai anaknya udah gede, nempel terus sama istrinya. Gak ingat dulu waktu mudanya kek mana? Dingin kayak es. Mungkin, sepadan sama kayak di kutub,” balas Bayu.


“Iya, bener. Cewek aja tiap mau dekatin gak berani, saking cueknya sama cewek,” imbuh Afkar.


“Trus ... trus aja semua buka kartu gue,” celetuk Reigha.


Mereka pun tertawa, Shafa dan Anna ikut tersenyum, tak berapa lama Daviandra dan Reza mendekat.


“Papa, Mama, Papi, Mami, Andra dan Reza boleh gak main di depan?” tanya Andra.


“Boleh, Sayang, tapi sebelum pergi kenalan dulu dong itu sama anaknya Om Afkar,” jawab Reigha.


Andra dan Reza pun mendekati anaknya Afkar. Terlebih dahulu Reza bersalaman untuk berkenalan.


“Hai ... kenalin, namaku Reza,” ucap Reza.


“Aku Andra,” lanjut Daviandra dengan cool-nya.


“Halo, Kak Andra, Kak Reza, aku Chayra,” kata Chayra, anaknya Afkar dengan tersenyum manis


“Bro, ternyata anak lo sifatnya sama kayak lo dulu,” celetuk Afkar.


“Iya, sifat seperti itu kok diwarisi,” balas Bayu.


Reigha pun hanya tersenyum menatap Andra.

__ADS_1


“Udah ya, Pa, kami main ke depan,” ucap Reza dan segera pergi bersama Daviandra.


Shafa dan Anna pamit untuk masuk rumah sebentar. Tak lama, Afkar dan Zhafira segera pamit pulang.


“Bro, gue dan keluarga pamit pulang ya. Soalnya masih ada tugas lain nih,” ucap Afkar.


“Oke, Thanks ya, Bro. Kapan-kapan mainlah ke rumah,” balas Reigha.


“Sip, aman itu. Bisa diatur,” ucap Afkar tersenyum.


“Ayo, Chayra, pamit dulu sama Om dan Tante,” titah Zhafira.


“Om, Tante, Chayra pamit dulu, ya. Chayra mau pulang sama Papa dan Mama,” pamit Chayra menyalimi Reigha, Shafa, Bayu, dan Anna bergantian.


Afkar, istri, dan anaknya segera pamit ke semua keluarga Reigha. Setelah itu mereka keluar.


Saat akan masuk ke mobil, Chayra memanggil Andra dan Reza yang tengah asik bermain.


“Da...da... kakak Andra dan kakak Reza,” ucap Chayra melambaikan tangannya dan hanya dapat balasan lambaian tangan dari Reza, sementara Andra hanya cuek memandang kepergian Chayra.


Sore harinya, semua tamu-tamu bergantian pulang. Papa dan Mama pun pamit pulang, disusul kemudian Bayu, karena Bayu melihat Anna yang udah kecapean, maka dia pun ikut pamit.


Tak lama, Dani dan Santi menunggu putrinya, setelah putrinya berganti pakaian lalu mereka juga pamit pulang.


Di perjalanan, Anna mengajak Bayu mampir dulu ke rumah budhe.


“Abang, tadi Anna gak tau kalau budhe udah pulang duluan dari pernikahan Anggi, boleh gak kita mampir sebentar?” tanya Anna.


“Rencana Anna mau ngajak budhe tinggal bareng, Bang, budhe kan udah semakin tua. Takut kalau tiba-tiba sakit gak ada yang tau. Boleh gak, Bang?” jawab Anna.


“Boleh dong, Sayang, abang setuju, lagian dulu ‘kan kamu yang dirawat budhe, gantian dong ... sekarang giliran kamu ngerawat budhe,” balas Bayu sembari tersenyum.


Mereka pun segera menuju ke rumah budhe. Hingga sesampainya di rumah budhe, pintu rumah tertutup.


“Loh, kok tutup? Sepi lagi. Apa belum pulang ya, Bang?” ucap Anna sembari turun dari mobil.


“Coba aja kita ketuk pintunya, siapa tau budhe di dalam, Sayang,” balas Bayu.


Dan saat mau mengetuk pintu, ada tetangga budhe yang datang dan berkata, “Syukurlah kamu datang, Ba, budhe kamu tadi di bawa ke rumah sakit.”


“Loh, kenapa, Bu? Budhe saya sakit apa?” tanya Anna yang mulai khawatir.


“Udah beberapa hari ini sebenarnya budhe kamu sakit, tapi gak mau ngasih tau kamu, tadi aja sebenarnya pengen gak datang di acara nikahan , tapi takutnya akan buat kamu kepikiran,” jawab tetangga budhe.


“Ya Allah, Budhe ... Bang, tolong antar Anna ke rumah sakit, ya,” pinta Anna langsung menangis.


“Sayang, ayo kita ke rumah sakit. Tapi, kita ke rumah papa dulu ya, kita titipkan Reza di sana. Kasihan tuh lihat, dia tidur ... lagian gak boleh ‘kan bawa anak ke rumah sakit,” ucap Bayu.


Anna pun setuju, dan setelah bilang terima kasih ke tetangga budhe, Anna pun segera masuk mobil bersama Bayu. Mereka pun langsung menuju ke rumah Papa Harun.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Papa, Bayu meminta Anna untuk tetap di mobil. Bayu segera menggendong Reza yang tidur dan segera masuk lalu menidurkan di kamarnya dulu pernah ditempatinya. Setelah itu Bayu menuju kamarnya Papa.


Tok...Tok...Tok...


Tak lama, Mama Dhiya tampak membukakan pintu dan keluar kamar.


“Lho, Bay, ada apa?” tanya Mama.


“Ma, boleh Bayu titip Reza sebentar? Bayu dan Anna mau ke rumah sakit, budhe masuk rumah sakit, Ma,” jawab Bayu.


“Loh, bukannya tadi Mama ketemu budhe, pas di tempat mertua Reigha,” balas Mama.


“Iya, Ma, sepulang dari tempat nikahan Anggi tadi,” ucap Bayu.


“Oh, yaudah ... pergilah, Nak. Reza mana?” tanya Mama.


“Di kamar Bayu, Ma, lagi tidur.”


“Yaudah, pergilah. Reza biar sama Mama,” balas Mama.


Bayu pun segera pamit dan mencium punggung tangan Mama. Lalu segera keluar rumah mendekat pada mobil, kemudian Bayu masuk mobil dan menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Bayu dan Anna segera menanyakan ruang rawat budhe, ternyata budhe masuk ICU.


Saat sampai di ruang ICU, Bayu dan Anna bertemu dengan dokter.


“Maaf, Dokter, apa dokter menangani pasien yg bernama Lasmini?” tanya Anna.


“Iya, Bu. Benar, anda siapa?” balas dokter sembari bertanya kembali.


“Saya keponakan Ibu Lasmini,” jawab Anna.


“Oh ... begini, Bu, ibu Lasmini belum sadar, tekanan darahnya naik, sepertinya pasien belum pernah mengobati hipertensinya,” ucap dokter menjelaskan.


“Lalu gimana sekarang dokter?” tanya Bayu.


“Masih belum sadarkan diri, Pak, tapi kami udah menanganinya semoga segera sadar. Saya permisi,” jawab dokter dan berlalu meninggalkan Anna juga Bayu.


“Bang,” lirih Anna memeluk Bayu.


“Kamu tenang ya, Sayang, insyaaAllah budhe gapapa, kita duduk sambil berdoa semoga budhe cepat sadar,” titah Bayu diangguki oleh Anna.


Saat mereka duduk berdua secara kebetulan Ivanka yang di sana melihat Bayu dan bertanya, “Bayu ... kok di sini?”


Bayu segera menoleh dan setelah tau siapa yang bertanlangBayu pun langsung mengedarkan pandangannya, sangat malas untuk menanggapi wanita itu.


“Bukan urusan lo,” ucap ketus Bayu.


“Na, siapa yang sakit?” tanya Ivanka beralih pada Anna.

__ADS_1


“Orang tua saya. Ibu Ivanka kok ada di sini?” jawab Anna sembari bertanya kembali.


__ADS_2