
“Eh, eh, ada apa, Sayang? Tumben sambutannya spesial banget hari ini, hmm?” tanya Reigha yang kaget saat melihat Shafa langsung memeluknya.
“Mas, tau gak. Ayah dan Ibu tadi suka banget sama oleh-olehnya. Makasih banyak ya, Mas,” jawab Shafa dalam pelukan Reigha.
“Sama-sama, Sayang. Kebahagiaan kamu sekarang adalah tujuanku,” balas Reigha mengecup kening Shafa.
Bayu pun berkesempatan meledek Reigha kembali, “Ekhm! Aduh, Sayang, kita jadi obat nyamuk di sini.”
“Lo gak kira-kira ya, peluk cium di depan rumah, udah tau di sini ada yang belum halal,” lanjut Bayu.
“Makannya, cepetan halalin Anna dong!” seru Shafa.
“Bentar lagi, Fa, pokoknya siap-siap lo akan jadi seksi sibuk di acara pernikahanku nanti,” balas Bayu.
“Eh, enak aja. Gak boleh, Ratu hati gue gak boleh kecapean.” Ucapan Reigha mampu membuat Shafa malu hingga Shafa mencubit lengan Reigha.
“Oleh-oleh Bayu ada di kamar, oleh-oleh Anna juga ada di kamar, ya!” seru Shafa memberitahu.
“Iya, Fa. Makasih ya. Fa, tolong bantu gue siapin acara pernikahan ya, Fa,” ucap Anna.
“Pak Reigha, janji deh Shafa gak dibuat terlalu capek,” lanjut Anna.
“Oke, aman kok. Nanti gue dan Mama akan bantu.”
Mereka pun masuk ke rumah, dan segera masuk ke kamar masing-masing untuk bersih-bersih dan bersiap untuk makan malam.
****
Waktu makan malam pun tiba, mereka semua berkumpul di ruang makan.
“Pa, Ma, Bayu minta tolong boleh?” tanya Bayu.
“Minta tolong apa, Bay?” sahut Papa Harun.
“Hmm ... tolong bantuin persiapan pernikahan Bayu, Pa.”
“Ya Allah, Bay, kamu itu anak Mama juga, adiknya Reigha. Jadi, jangan sungkan gitulah,” ucap Mama Dhiya.
“Dan, tanpa kamu suruh, Papa dan Mama pasti yang nyiapin pernikahan kalian,” imbuh Papa Harun.
__ADS_1
“Setelah selesai makan, kita kumpul di ruang keluarga ya,” ucap Papa Harun melanjutkan menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan malam, mereka pun segera ke ruang keluarga. Tetapi, berbeda dengan Papa Harun yang berlalu menuju ke kamar untuk mengambil sesuatu. Kemudian, kembali ke ruang keluarga, duduk di samping Mama Dhiya.
“Maksud Papa ngumpulin kalian di sini. Papa ingin memberikan ini ke Bayu,” ucap Papa Harun sembari menyerahkan map pada Bayu.
Bayu pun segera membuka dan membacanya. Kemudian, Bayu bertanya, “Pa, untuk apa semua ini? Bayu dan Reigha gak mau pisah rumah, biar Bayu tetap di sini saja.”
“Eh, ogah. Gue yang gak mau. Nanti lo gangguin gue terus,” sambar Reigha bercanda.
“Udah-udah ... Papa dan Mama udah memutuskan kalau perusahaan Papa akan digantikan oleh Bayu. Dan, Bayu yang akan tinggal di rumah sebelah rumah ini. Jadi, kalian tetap berdekatan bukan? Sudah jelas ada pintu samping yang menghubungkan dari rumah ini dan rumah sebelah,” ujar Mama Dhiya.
Bayu pun menatap Reigha dengan tatapan serius.
Tentu hal tersebut disadari oleh Reigha.
“Kenapa lo malah natap gue?” tanya Reigha heran dengan Bayu.
“Gha, gue gak pantas nerima ini semua, ini adalah hak lo, Gha,” jawab Bayu yang matanya mulai berkaca-kaca, terharu dengan apa yang keluarga Reigha berikan padanya.
Reigha pun segera menghampiri Bayu, Bayu kini berdiri berhadapan dengan Reigha.
Reigha memegang kedua bahu Bayu dan berkata, “Bay, lo itu adik gue. Jadi, lo juga berhak dapat ini semua.”
“Ekhm! Udah selesai dramanya?” tanya Papa Harun bercanda membuat Reigha dan Bayu tertawa bersamaan begitu juga dengan Papa dan Mama.
“Sekarang, kalian berdua duduk lagi. Gimana persiapan pernikahannya?” tanya Papa Harun menatap Bayu yang sudah kembali duduk.
“Belum ada persiapan apa-apa, Pa. Karena, baru hari ini mulai ada obrolan tentang pernikahan,” jawab Bayu.
Mereka semua pun diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Tak lama, Mama Dhiya kembali mengeluarkan suaranya bertanya pada Bayu dan juga Anna, “Rencananya, pernikahan kalian mau diadakan di mana?”
“Anna mau acara yang sederhana aja, Ma, kalau acaranya di rumah budhe ... gimana, Ma?” tanya Anna.
“Gak bisa gitu, Sayang, tetap kita harus mengundang teman-teman kolega dan saudara. Iya gak, Pa?” balas Mama Dhiya dan menoleh pada Papa Harun meminta pembenaran atas kalimatnya yang baru saja dilontarkan.
“Iya, Ma. Bener itu. Papa gak mau membeda-bedakan kalian. Gimana kalau disamakan seperti pernikahan Reigha saja. Akad nikah di tempat Budhenya Anna, setelah itu resepsi untuk tamu kantor di hotel. Hotelnya bebas mau milih di mana,” ucap Papa Harun membenarkan ucapan Mama Dhiya dan juga memberi saran.
Anna dan juga Bayu pun hanya diam, mangut-mangut, menyetujuinya.
__ADS_1
Mereka semua pun mengobrol bersama mendiskusikan bagaimana baiknya dan bagusnya acara pernikahan Bayu dan Anna.
“Besok Anna diantar Shafa ke butik yang kemarin ya, Fa,” ucap Mama Dhiya.
“Oke, Ma. Emangnya besok Mama gak ikut kita ke butik, Ma?” tanya Shafa.
“Dilihat besok aja ya, Nak. Kalau Mama gak ada urusan mendadak, Mama akan ikut kok,” jawab Mama Dhiya.
Dilanjutkan oleh mereka membahas konsep pernikahan dan juga persiapan lainnya. Melihat semua sibuk mengurus pernikahan Bayu dan Anna dengan begitu senang, membuat Bayu merasa sangat bersyukur diberi keluarga yang baik.
Mungkin, tanpa pertolongan keluarga Reigha, Bayu tak akan menjadi laki-laki yang berpendidikan tinggi, tak akan menjadi orang terpandang seperti saat ini.
Ya, mungkin inilah jalan terbaik untuk Bayu. Bayu dan Anna dipertemukan di rumah sakit, bekerja bersama, hingga akan menikah beberapa hari lagi.
“Ma, Bayu bawa Anna ke taman belakang rumah sebentar, ya,” ucap Bayu meminta izin membawa Anna yang tadinya ditengah-tengah antara Mama dan Shafa.
“Oh iya, jangan lama-lama, Bayu!” seru Mama Dhiya yang langsung diangguki oleh Bayu.
Bayu dan Anna berjalan bersamaan menuju taman belakang rumah. Mereka duduk berdua menatap langit malam yang ditaburi bintang yang berkelap-kelip.
“Sayang, jika memang besok kamu pergi sama Shafa, gapapa kok kamu izin duluan ambil cuti di kantor. Tapi, satu yang harus kamu tau, Ivanka selalu mengawasi aku dan juga kamu. Abang minta tolong, kamu harus selalu jaga diri hingga sampai hati pernikahan kita tiba, ya,” ucap Bayu panjang sembari merangkul Anna.
“Iya, Bang. Anna selalu stay ponsel untuk menghubungi abang, dan Anna akan berusaha selalu waspada,” balas Anna.
Tak lama, keheningan tercipta antara mereka berdua, “Sebelum kita menikah, aku mau menceritakan siapa Ivanka agar tidak ada lagi kesalahan pahalanya saat kita udah berumah tangga nanti.”
“Kenapa, Bang? Ada apa dengan Ivanka? Abang udah lama kenal Ivanka?” tanya Anna bertubi-tubi.
“Ternyata Ivanka adalah teman SMA-ku. Dia sejak dulu cinta sama Abang. Tapi, Abang enggak. Bahkan Abang baru tau tadi pas di restoran. Kami gak ada masa lalu apapun, masa lalu yang terkenang oleh Abang, gak ada,” jawab Bayu jujur pada Anna.
Bayu pun menceritakan pada Anna apa yang terjadi di restoran hingga obrolannya dengan Ivanka pun diceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Setelah mendengar cerita tadi Bayu, Anna tampak lega dan tersenyum.
“Abang, makasih udah mau jujur sama Anna. Sebelum pernikahan kita, ada baiknya kita saling jujur. Kita memulainya dengan kejujuran, semoga sampai rumah tangga nanti, tidak ada yang kita tutup-tutupi satu sama lain,” ucap Anna penuh harap.
“Iya, Sayang. Aamiin.” Bayu pun memeluk Anna.
“Abang sayang sama kamu. Kalau pun ada yang berkata gak baik di belakang abang, tolong jangan dipercaya dulu, ya. Abang yakin, pasti Ivanka akan berbuat yang tidak kita inginkan. Kita harus selalu waspada untuk kenyamanan dan kelancaran acara spesial kita, Sayang,” ucap Bayu ditengah pelukan antara Bayu dan juga Anna.
__ADS_1
Setelah itu, mereka kembali ke ruang keluarga berkumpul membahas pernikahan Bayu dan Anna.
“Na, urusan lo sama Ivanka udah selesai ‘kan?” bisik Shafa saat Anna duduk di sampingnya.