Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 10 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Assalamualaikum, Bro, gimana? Jadi putri lo kuliah di luar negeri?” tanya Reigha sambil sesekali memperhatikan Daviandra.


“Wa’alaikumussalam. Jadi, Bro, ini kami udah bersiap akan pergi ke bandara,” jawab Afkar.


“Oh, jadi ini mau jalan ke bandara?” tanya kembali Reigha.


Dan mendengar itu, Daviandra langsung menghentikan sarapannya.


“Iya, Bro, kami mau mampir dulu ke kampus Chayra untuk mengurus kepindahannya,” balas Afkar.


“Baiklah, hati-hati ya, Bro. Kabari kalau ada apa-apa,” kata Reigha.


Dan setelah Afkar berkata, telpon pun ditutup.


Setelah Reigha menutup telponnya, Daviandra tiba-tiba pamit mau berangkat kuliah, “Pa, Ma, Andra berangkat ke kampus ya.”


“Loh, Nak, gak nunggu Reza dulu? Dan katanya mau ngantar Vilia ke sekolah dulu,” kata Reigha.


“Andra baru ingat kalau ada tugas pagi ini, Pa, jadi harus cepat ke kampus. Vilia biar diantar Reza aja ya, Pa. Dek, kamu nanti diantar bang Reza ya, abang ada urusan,” ucap Daviandra.


“Oke deh, Bang. Semoga lancar urusannya,” kata Vilia.


“Udah ... kamu bareng kakak aja, Dek, ayo biar kakak antar,” titah Daviana.


“Oke, Kak. Aku juga sudah selesai kok sarapannya. Pa, Ma, kami berangkat ya. Assalamu’alaikum,” kata mereka serempak.


“Iya, Nak. Hati-hati semua ya!” seru Shafa.


Dan mereka pun menuju mobil masing-masing, kecuali Vilia masuk ke mobil Daviana.


Setelah kepergian anak-anaknya, Reigha pun mendekat pada istrinya dan mengobrol.


“Kamu benar, Sayang, Andra ada rasa sama Chayra, setelah mendengar kalau mereka akan pergi, anak kita langsung panik dan langsung gak selera makan,” kata Reigha.


“Nah ... gitulah, Mas. Akhirnya ya, peka juga sama anak,” celetuk Shafa.


“Assalamu’alaikum, Pa, Ma ... kok Reza ditinggal sarapannya,” salam Reza masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumussalam ... Mama kira kamu sarapan di rumah Mami, Nak. Yaudah sarapan gih. Mama temenin,” titah Shafa.


“Tumben Andra belum turun, Pa?” tanya Reza.


“Saudara kamu itu udah berangkat ke kampus, Za,” jawab Reigha.


“Hah, kok ...” lirih Reza sambil lihat jam.

__ADS_1


“Ini masih pagi lo, Pa, ngapain pagi-pagi si Andra di kampus?” lanjut Reza.


“Saudara kamu itu katanya lagi ada tugas dan lupa belum ngerjain,” balas Shafa.


“Owh, tapi perasaan gak ada tugas deh, Ma. Yaudahlah, nanti aja Reza tanyakan,” kata Reza sambil makan.


Tak lama kemudian, Reigha pamit ke kantor, dan Reza ke kampus. Tinggallah Shafa sendiri di rumah.


Di kampus, Daviandra tengah menunggu Chayra yang sedari tadi belum datang juga. Sampai dia di kagetkan oleh Saskia.


“Andra, ngapain sendirian di sini? Reza mana?” tanya Saskia.


“Reza belum datang,” jawab Daviandra cuek.


“Oh ... gue duduk di sini, ya,” kata Saskia.


“Terserah,” balas Daviandra.


Dan tak lama kemudian, Chayra dan papa Afkar terlihat memasuki halaman kampus.


Daviandra pura-pura membaca buku saat Chayra melihatnya.


Dari jauh, Daviandra terus mengawasi Chayra, saat Afkar dan Chayra masuk ke ruang rektor Daviandra segera menulis surat dan di selipkan di tempat duduk mobil bagian tengah. Setelah menyelipkan suratnya, Daviandra segera ke kelasnya yang di atas.


Daviandra melihat dari atas Chayra keluar dari ruang rektor dan segera masuk ke mobilnya.


Di jalan, Chayra melihat ada amplop, Chayra pun segera membukanya.


Dear Chayra,


Selamat jalan ... semoga di tempat kamu yang baru kamu selalu bahagia.


Chay, semangat ya belajarnya semoga ketika kamu kembali, kita bisa ketemu lagi.


“Siapa ya yang ngasih surat ini? Kok dari kemarin ada aja yang ngirim tapi tanpa nama,” lirih Chayra sembari memandangi amplop tersebut.


Chayra pun sampai di bandara, Afkar dan Chayra pun segera check-in dan tak lama kemudian pesawat pun berangkat ke tujuan.


“Selamat tinggal, Indonesia ... selamat tinggal, Kak Andrea. Semoga kakak bahagia dengan pilihan kakak,” lirih Chayra.


“Nak, kenapa? Sepertinya ada yang kamu pikirkan?” tanya Afkar pada putrinya.


“Gak ada, Pa, hanya mikirin mama sama Adrian aja. Masih sedih gak ya, Pa?” dusta Chayra yang berusaha menutupi guratan sedih karena meninggalkan Indonesia dan segala kenangannya juga.


“Sedih pastilah, Sayang, tapi nanti juga terbiasa setelah beberapa hari,” kata Afkar.

__ADS_1


“Iya, Pa,” balas Chayra yang bersandar di bahu papanya.


Sementara di kampus, setelah Chayra pergi, Daviandra terus melamun sampai-sampai Reza duduk di sebelahnya pun tapi gak merasa.


“Dra, lo knp? Coba cerita ke gue, jangan di pendam sendiri,” kata Reza.


“Gue gapapa,” balas Daviandra.


“Dra, kita ini saudara dan kita dari kecil selalu sama-sama. Gue tau lo sedang ada masalah, ceritalah ke gue, gue janji gak akan kasih tau ke siapapun. Walaupun itu papa dan mama atau papi dan mami, gak akan gue kasih tau,” ucap Reza.


“Gue pegang omongan lo, ayo kita pergi dari sini. Di sini takutnya ada yang nguping!” seru Daviandra.


“Trus gimana kelas kita?” tanya Reza.


“Masih satu jam lagi, kita gak akan lama. Lo mau gak? Kalau gak mau yaudah,” jawab Daviandra.


“Oke-oke ... ayo terserah loe mau kemana, gue ngikut,” balas Reza.


Dan mereka pun masuk ke mobil lalu mobil pun segera melaju.


“Za, gue merasa kehilangan sama seseorang, apa itu bisa disebut gue cinta sama dia?” tanya Daviandra sembari menyetir.


“Hah? Serius? Lo jatuh cinta, sama siapa?” tanya Reza yang kaget wanita mana yang berhasil membuat kulkas sepuluh pintu ini meleleh.


“Jawab dulu pertanyaan gue!” seru Daviandra.


“Kalau lo merasa rindu dan ketika dia pergi lo merasa kehilangan, berarti loe sedang jatuh cinta,” jawab Reza.


“Tapi sama siapa?” lanjut Reza bertanya.


“Nanti lo juga tau,” jawab Daviandra ngasal.


“Andra, saran gue ... kalau udah merasa cinta sama tu cewek, cepat lo ungkapkan sebelum terlambat nanti nangis lo,” kata Reza.


“Iya, Za. Thanks ya lo udah mau dengerin ceritanya gue,” ucap Daviandra.


“Gak masalah, Bro, kita 'kan saudara," balas Reza.


“Ayo kita kembali ke kampus, bentar lagi mata kuliahnya mulai,” lanjut Reza dan diangguki oleh Daviandra.


Tak lama mereka pun sampai di kampus dan segera menuju ke kelasnya. Kemudian, setelah dosen tiba, pelajaran pun segera dimulai. Namun, Daviandra sama sekali tidak bersemangat untuk belajar. Dan setelah pelajaran selesai, Daviandra pun izin pulang ke rumah.


“Dra, lo gue antar ya. Lo dari tadi melamun aja. Gak tega gue kalau lo pulang sendiri,” kata Reza.


“Makasih ya, Za,” ucap Daviandra dan diangguki oleh Reza.

__ADS_1


Saskia yang mendengar Reza hendak mengantar, dia pun ingin ikut mengantar tapi ditolak mentah-mentah oleh Daviandra.


Reza yang gak tega pun mengantarkan Daviandra ke rumah. Selama di perjalanan, Reza memberikan usul untuk menceritakan masalah ini ke papa Reigha. Tapi, Daviandra menolak, karena Daviandra ingin Chayra menyelesaikan pendidikannya dulu. Jadi, Daviandra harus kuat berpisah sementara sama Chayra. Saat sampai di rumah, Daviandra bertemu dengan ....


__ADS_2