
Setelah sampai di depan ruangannya, Reigha menghampiri Puspa, “Puspa, sebelum bacain agenda hari ini, bisa tolong panggilkan HRD dan Farhan yang di marketing?”
“Baik, Pak. Segera saya panggilkan,” balas Puspa.
Setelahnya Reigha segera masuk ke dalam ruangan.
Tak berapa lama, dua orang yang dipanggil pun datang.
Tok...Tok...Tok...
“Masuk!” sahut Reigha.
Mereka berdua masuk ke dalam menghadap Reigha.
“David, tolong buka lowongan pekerjaan untuk 2 orang ya. Asisten Dani dan juga orang yang akan menggantikan Farhan du marketing,” titah Reigha.
“Baik, Pak.”
“Dan kamu, Farhan, mulai hari ini kamu udah gak kerja di marketing lagi,” ucap Reigha membuat Farhan yang sedari tadi mendengar ucapan Reigha ke Pak David masih mematung kaget.
“Ja—jadi, saya dipecat, Pak? Salah saya apa, Pak?” tanya Farhan.
“Siapa bilang kamu saya pecat?”
“Lah tadi bapak yang bilang,” balas Farhan.
“Saya hanya bilang, kamu gak bekerja di bagian marketing lagi, Farhan. Karena, mulai hari ini kamu jadi asisten dari Dani. Segeralah kamu pindah ruangan sekarang juga!” seru Reigha membuat Farhan begitu senang.
“Hah? Bapak gak salah? Apa saya mampu, Pak?”
“Kamu harus buktikan kalau kamu mampu, jaga kepercayaan saya. Dan, kamu pasti gak mau ‘kan buat perusahaan ini rugi,” balas Reigha.
“Baiklah, Pak. Saya akan jaga kepercayaan yang bapak berikan,” ucap Farhan mantap.
“Bagus, mulailah pindah ruangan dan kerjakan tugasmu, kalau ada yang gak ngerti langsung tanyakan ke saya atau Dani nantinya,” titah Reigha.
“Baik, Pak.”
Dan mereka berdua pun keluar dari ruangan dan menyelesaikan tugas masing-masing yang diberikan oleh Reigha. Pak David membuka lowongan pekerjaan dan Farhan mengurus kepindahan ruangannya.
Saat Reigha akan memulai kerjaannya, tiba-tiba perut Reigha lapar. Padahal, dialah yang lebih banyak makan saat di rumah tadi.
“Kok aneh ya? Ini masih pagi tapi kok gue dah lapar lagi,” gerutu Reigha.
Reigha pun segera menelpon Dani, “Halo, Dan, kamu di mana?”
“Maaf, Pak. Saya masih di jalan.”
“Baguslah, pas banget. Tolong belikan saya soto daging satu, soto ayam satu, batagor dan somay satu dan minumannya apa ya? Oh, es teler dan es kelapa muda. Tapi, es kelapa mudanya dikasih irisan jeruk nipis ya, jangan hanya setetes dua tetes aja jeruk nipisnya,” ucap Reigha dan langsung menutup telponnya.
Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di mobil Dani. Dani yang lagi senyum-senyum bahagia karena cintanya diterima, sambil menyetir langsung kaget saat mendengar suara ponselnya.
__ADS_1
“Eh, pak reigha telp knp ya,” ucap Dani mengambil ponselnya.
“Halo, Pak. Maaf, Pak. Saya masih di jalan. Oh, iya pak, segera saya carikan. Iya pak.”
“Untuk siapa Pak Reigha beli makanan sebanyak itu? Mana masih pagi lagi, mana ada yang buka,” kata Dani yang langsung balik arah mencari makanan-makanan yang dipesan Reigha.
“Padahal, biasanya juga pesan online, tumben banget beli makanan nyuruh saya,” ucap Dani yang dibuat pusing pagi-pagi dengan pesanan itu.
Dan Dani pun segera mutar-mutar nyari makanan dan minuman untuk Pak Reigha bahkan warung yang tampak masih tutup pun diminta membuatkan satu porsi untuknya.
Setelah satu jam menghabiskan bensin. Eh, ralat. Setelah satu jam mencari pesanan Reigha, akhirnya Dani mendapatkannya lengkap tak ada yang kurang. Bahkan saat pedagang es kelapa muda kehabisan jeruk nipis karena emang belum beli, langsung Dani mendatangi warung dan membeli satu kilo untuk si pedagang es kelapa muda.
Kemudian, Dani segera meluncur ke kantor dan bergegas masuk ke dalam ruangan Reigha setelah mengetuk pintu.
Nampak Reigha udah lemas tak bertenaga di sofa.
“Duh, kamu kok lama sih, Dan. Udah lemas nih saya,” ucap Reigha saat melihat Dani masuk ke dalam ruangannya.
“Maaf, Pak. Karena masih pagi agak susah nyari makanan yang bapak pesan. Silahkan dimakan, Pak, mana yang mau bapak makan?” tanya Dani sambil memasukkan ke wadahnya.
Dan Reigha segera memakan semua yang dipesan tanpa sisa satu pun. Dani sampai melongo melihat cara makan Reigha yang seperti belum makan 1 minggu.
“Pak, bapak gak sarapan tadi pagi? Atau mbok nah gak masak? Kok bapak kuat makan segini banyak?” tanya Dani heran.
“Sarapanlah, Dan. Kalau gak masak, pasti Mama atau istri saya masak. Saya aja gak tau kenapa bisa lapar. Sejak kemarin mudah lapar dan pengennya yang aneh-aneh,” jawab Reigha yang ternyata lebih heran pada dirinya sendiri.
“Oh ... apa jangan-jangan Bu Shafa yang hamil dan bapak yang ngidam,” balas Dani.
“Berarti saya dikerjain anak-anak bapak nih pagi-pagi,” ucap Dani yang membuat Reigha tertawa.
“Yaudah, sekarang udah kenyang, mari kita kerja!” seru Reigha.
Setelah makan Reigha pun segera bekerja kembali, “Dan, tolong kamu ke ruangan kamu, di sana ada Farhan yang saya utusan menjadi asisten kamu. Kamu lihat gimana cara kerjanya. Ajari yang dia gak ngerti.”
“Baik, Pak. Nanti kalau bapak ngidam lagi panggil saya ya, Pak,” ucap Dani berlalu pergi.
Di rumah, tampak Anna sedang di temani Shafa di taman belakang rumah.
“Fa, lo hamil ‘kan?” tanya Anna membuat Shafa menoleh.
“Iyalah, Na. Trus kenapa perut gue buncit gini? Cacingan?”
“Tapi kalau lo hamil, kok makan lo biasa aja? Lo gak ngerasa eneg atau mual” tanya Anna kembali.
“Alhamdulillah enggak, Na. Karena, yang ngerasain itu semua Mas Reigha,” jawab Shafa sambil mengulum senyumnya.
“Hah? Pantesan gue lihat lo aman sentosa. Ya Allah, Fa, pasti itu menyiksa Kak Reigha. Padahal, tanggung jawabnya terhadap perusahaan masih berat tambah ngerasain gejala orang hamil,” balas Anna tersenyum dan menggeleng kecil.
“Lah, mau gimana lagi? Itu ‘kan udah takdir. Aku malah gak tau kenapa semua Mas Reigha yang ngerasain, Na.” Shafa mengelus perutnya yang tampak buncit itu.
“Oh iya, gimana setelah minum jahe tadi, Na? Dah bisa makan?” lanjut Shafa bertanya pada Anna.
__ADS_1
“Asal gak nasi, bisa masuk, Fa. Tapi, kalau nasi belum mau,” jawab Anna.
“Sabar ya, Na, biasanya trimester awal aja kok itu.”
“Ya harus, Fa, walaupun seperti ini tapi aku sangat bahagia kok. Kan ini memang yang ditunggu-tunggu,” balas Anna.
“Yaudah masuk yuk, bentar lagi suami-suami kita datang. Lo ke kamar aja, gue mau bantu Mama siapin makan malam.”
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam. Anna ke kamar sementara Shafa ke dapur.
Tak berapa lama, para pria pun datang. Setelah masuk kamar untuk membersihkan diri, mereka berkumpul di ruang makan.
Tapi tidak dengan Reigha yang sejak tadi belum keluar kamar.
“Kemana Reigha, Fa?” tanya Mama Dhiya.
“Lah iya, Ma. Bentar coba Shafa cek dulu ke kamar,” jawab Shafa berlalu pergi ke kamarnya.
Saat di kamar, dia melihat Reigha yang malas-malasan di atas ranjang.
“Mas, semua udah nunggu di ruang makan tuh. Kok gak buruan keluar sih?” tanya Shafa.
“Mas males banget tau, Sayang. Padahal Mas laper banget,” jawab Reigha dengan lemas.
“Nah, karena laper. Ayo ke ruang makan, Mas,” balas Shafa menarik lengan Reigha.
Reigha dan Shafa pun duduk di ruang makan. Shafa langsung mengambilkan makanan untuk Reigha yang udah lapar duluan.
“Bay, Anna masih belum bisa ngumpul untuk makan bersama?” tanya Mama.
“Belum, Ma, masih belum bisa makan nasi,” jawab Bayu.
“Ma, orang hamil emang seperti itu ya, Ma? Bayu kasian sama Anna,” ucap Bayu.
“Enggak juga, Bay. Ada yang malahan nafsu makannya dua kali lipat. Mudah lapar gitu,” sambar Papa.
“Papa tau darimana? Papa ‘kan gak pernah hamil,” celetuk Mama.
“Anak kamu itu, Ma. Tadi ngrepotin Dani, bukannya di suruh kerja tapi malah di suruh keliling cari makanan yang macam-macam,” balas Papa sontak membuat Reigha yang asik makan tersedak.
Uhuk...Uhuk...
“Kenapa, Mas? Pelan-pelan dong. Ini minumnya,” ucap Shafa memberikan segelas air minum.
“Makasih, Sayang.”
“Hah, Dani ngadu ke Papa?” tanya Reigha.
“Enggak ngadu, Gha. Jadi pas papa mau ngadain meeting tentang pergantian jabatan Papa ke Bayu, Dani tuh Papa suruh datang sebentar. Tapi, ternyata Dani lagi nyariin kamu makanan,” ucap Papa Harun menceritakan.
“Mas, jadi mas di kantor sampai makan banyak? Emang makan apa?” tanya Shafa yang penasaran.
__ADS_1