
“Gimana, Fa? Reigha udah bangun?” tanya Ibu Khalisa.
“Udah, Bu. Mas Reigha udah mandi juga. Tuh lagi di ruang tamu ngobrol sama Ayah,” jawab Shafa.
Setelah Shafa selesai membuatkan teh hangat, Shafa mengantarkan dua gelas teh tersebut di atas meja tepat di hadapan Ayah dan juga Reigha. Kemudian, Shafa kembali ke dapur.
Beberapa menit kemudian, rendang pun sudah siap dihidangkan. Shafa dan Ibu mempersiapkan sarapan, semuanya pun telah berkumpul di meja makan kecuali Anggi.
“Dimana Anggi?” tanya Ayah.
“Lagi belajar di kamar, Yah. Bentar, Shafa panggilkan dulu,” jawab Shafa berlalu pergi menuju kamar Anggi.
Tok...Tok...Tok...
“Gi, ayo sarapan. Udah siap tuh!” teriak Shafa membuat Anggi pun keluar dari kamarnya.
“Kenapa, Kak?” tanya Anggi.
“Yuk sarapan dulu, nanti lanjut belajarnya,” jawab Shafa sembari mengajak adiknya sarapan bersama.
“Yok barengan ke depan, Kak,” balas Anggi yang diangguki oleh Shafa.
Setelah semua berkumpul di meja makan, Shafa mengambilkan makanan untuk Reigha, semua makan dengan lahap.
“Ternyata masakan ibu enak, ya!” seru Reigha.
“Makasih, Nak. Itu tadi masaknya dibantu istri kamu,” balas Ibu Khalisa sembari tersenyum.
****
“Kalian jadi pulang jam berapa?” tanya Ibu Khalisa saat mencuci piring di dapur bersama Shafa.
“Nunggu kabar dari Bayu, Bu,” jawab Shafa sembari membantu Ibu membersihkan dapur.
Setelah selesai semuanya, Ibu membantu Ayah untuk membuat bumbu jualan nanti sore. Sementara Shafa berlalu ke kamar melihat Reigha yang tengah sibuk chat dengan Bayu membahas tentang pekerjaan lewat ponsel Shafa.
“Mas, ayo minum obat dulu,” ucap Shafa membawakan obat dan air putih untuk Reigha.
Reigha pun minum obat. Kemudian berkata, “Fa, kita kayaknya pulang besok. Karena, Bayu ada kerjaan yang gak bisa ditinggalkan.”
“Ooo iya, Mas. Kemarin juga Shafa udah telpon Mama kok buat izin menginap di sini,” jawab Shafa.
Tak lama, Reigha pun ketiduran. Shafa keluar dari kamar untuk membantu Ayah dan Ibu membuat bumbu.
__ADS_1
Satu jam kemudian, Shafa mulai berpikiran sesuatu, “Bu, Shafa pengen rambutan deh,” rengek Shafa saat setelah mempersiapkan semuanya bersama Ayah dan Ibu.
“Belakang rumah ‘kan ada,” balas Ibu Khalisa.
Shafa yang tak sabar pun langsung berlalu pergi, berlari menuju belakang rumah untuk memanjat pohon rambutan. Siapa sangka, ternyata dibalik anggunnya suster cantik itu, jika memiliki tingkah yang bar-bar.
“Bu, kamu itu gimana nyuruh Shafa ke belakang rumah. Kayak gak tau aja dia bisa langsung manjat kalau udah lihat rambutan merah-merah diatas pohon,” ucap Ayah Reynand.
“Duh, Ayah ... dia udah punya suami. Masa masih aja manjat, gak mungkin dong, Yah,” balas Ibu Khalisa berpikir positif pada Shafa.
Ayah dan Ibu pun mencoba melihat ke belakang rumah. Dan benar saja dugaan Ayah, ternyata Shafa tengah asik menjatuhkan rambutan dari atas pohon, sesekali Shafa membuka dan memakannya langsung di atas pohon tersebut.
“Astaghfirullah, Shafa. Turun, Nak!” seru Ibu Khalisa.
“Shafa, kamu itu udah punya suami masih suka aja manjat pohon. Turun sini!” seru Ayah Reynand mengimbuhi.
Anggi yang mendengar keributan di belakang rumah pun langsung bergegas menghampiri dan kaget saat melihat kelakuan kakaknya yang tak ada perubahan setelah menikah. Masih saja hobi manjat pohon, tapi tak bisa turun dari pohon.
“Kak, bagi dong!” seru Anggi dari bawah pohon.
“Ambil aja,” jawab Shafa.
Anggi membawa masuk beberapa buah rambutan untuk dimakan di dalam rumah.
“Gi, mana kakak kamu?” tanya Reigha.
“Tuh abang lihat sendiri aja di belakang rumah. Ayah dan Ibu juga lagi disana ngebujuk Kak Shafa,” jawab Anggi yang sengaja tidak memberi tahu kalau Shafa tengah memanjat pohon.
Reigha berjalan pelan menuju belakang rumah diikuti oleh Anggi yang tak ingin ketinggalan momen saat kakaknya malu dilihat oleh suaminya. Sesampainya di belakang, Reigha bertanya pada kedua mertuanya, “Yah, Bu, dimana Shafa?”
“Tuh, Gha ... kamu lihat deh kelakuan istrimu,” ucap Ibu Khalisa menunjuk Shafa dia atas pohon yang belum menyadari kehadiran Reigha.
Reigha mengulum senyumnya. Kemudian, “Ekhm!” dehem Reigha membuat Shafa menoleh ke bawah.
“Mas,” lirih Shafa kaget hingga membuat Shafa tidak punya keseimbangan dan terjatuh dari pohon.
“Kak!” seru Anggi berlari menghampiri Shafa.
Anggi pun membantu Shafa untuk bangkit. Shafa mendekat pada Reigha, sementara Anggi memunguti rambutan-rambutan yang sudah banyak berjatuhan di bawah.
Di sisi lain Shafa malu karena ketahuan manjat oleh suaminya. Tapi, di sisi lain, Shafa kesakitan karena jatuh dari pohon.
“Kamu ini, dibilangin jangan suka manjat. Masih aja,” ucap Ibu Khalisa.
__ADS_1
“Anak Ayah, udah punya suami masih juga gak ingat dengan kebiasaannya dari dulu suka manjat pohon,” imbuh Ayah sembari tersenyum.
“Kamu ada yang luka gak?” tanya Reigha yang khawatir saat Shafa terjatuh dari pohon.
“Luka, Mas,” jawab Shafa membuat Reigha mengernyit bingung.
“Terluka nih, masa aku yang manjat sampai jatuh. Dia yang makan tuh di bawah pohon,” ucap Shafa sembari menunjuk Anggi dengan adiknya makan rambutan di bawah pohon.
Reigha mencubit pipi Shafa dan menariknya dalam pelukan Reigha sembari berkata, “Lain kali jangan manjat lagi, ya.”
“Tapi, udah kebiasaan jadi terbiasa,” balas Shafa dalam pelukan Reigha membuat Ayah dan Ibu geleng-geleng melihat tingkah anaknya yang manja pada suaminya.
Ayah Reynand dan Ibu Khalisa pun masuk ke dalam rumah diikuti oleh Reigha dan Shafa. Tapi, tak lama Shafa berlari menuju pohon kembali.
Reigha mengira Shafa akan memanjat pohon kembali, ternyata Shafa memungut beberapa rambutan dibawa masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Anggi yang masih asik menikmati rambutan dibawah pohon.
Sesampainya di ruang tamu, Reigha duduk dihadapan Ayah dan Ibu. Shafa pun ikut duduk disamping Reigha sembari memakan buah rambutan.
“Anggi gak ikut masuk?” tanya Ibu Khalisa.
“Masih dibawah pohon, Bu,” jawab Shafa yang masih asik makan rambutan.
Cukup lama Reigha mengobrol bersama kedua orang tua Reigha, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seseorang. Ibu Khalisa bergegas membukakan pintu, ternyata ada Sintia.
“Bu, Shafa ada di rumah?” tanya Sintia.
“Ada itu,” jawab Ibu Khalisa sembari menunjuk Shafa yang tengah duduk disamping suaminya.
Sintia dipersilakan masuk oleh Ibu Khalisa. Sintia pun membuka suaranya, “Fa, gue mau curhat.”
Shafa yang mendengarnya pun langsung bergegas mencuci tangan dan kembali ke ruang tamu seraya berkata, “Yuk ikut ke kamar.”
Keduanya berjalan menuju kamar Shafa. Sintia duduk berhadapan dengan Shafa dengan wajahnya yang ditekuk, sedih.
“Ada masalah apa, Tia?” tanya Shafa.
“Fa, suami gue selalu dimarahin karena gak dapat kerjaan, selama ini dia kerja serabutan. Trus tadi, suami gue keluar rumah buat cari kerjaan, makannya gue kabur ke sini. Karena, emak gue ngomel mulu di rumah,” ucap Sintia bercerita.
“Yaudah, lo tenang aja. Lo catat nomor telpon gue. Kalau suami lo belum dapat kerjaan, lo hubungi nomor gue. Ntar ada lowongan gue kabari deh,” balas Shafa.
“Iya, Fa. Makasih,” ucap Sintia sembari tersenyum.
Shafa dan Sintia pun bercerita panjang hingga kembali terdengar pula suara Bu Sinta berteriak di rumahnya.
__ADS_1
“Sintia! Sintia!” teriak Bu Sinta mencari anaknya.