
“Mama, Eza lapar,” ucap Reza memerangi perutnya.
“Iya, Nak, ayo kita makan siang bareng-bareng, ajak si kembar makan ya, Nak, mama siapkan dulu makanannya,” kata Shafa diangguki oleh Reza.
“Oke, Mama.” Reza segera berlari ke kamar si kembar untuk mengajak Daviandra dan Daviana makan siang. Si kembar dan Reza pun berlarian menuju ke ruang makan.
“Ayo, jangan lari-lari ya, Sayangnya Oma, stop! Duduk yang rapi,” ucap Mama Dhiya.
“Iya, Oma,” balas mereka kompak.
Shafa yang udah mempersiapkan makan siangnya dan segera duduk.
“Oke, Mama kalian udah duduk tuh. Ayo kita berdoa sama-sama ya,” titah mama Dhiya.
Dan setelah selesai berdoa mereka pun segera makan. Saat mereka akan selesai makan tiba-tiba papa Harun datang.
“Opa!” panggil si kembar dan Reza serempak.
“Iya, Sayang, kalian makan dulu ya, opa ke kamar. Opa agak kurang enak badan,” balas papa Harun.
“Papa kenapa? Papa sakit?” tanya mama Dhiya yang khawatir.
Papa Harun pun merasa gak kuat karena sedang sakit mengabaikan pertanyaan mama Dhiya, hingga mama Dhiya menyusul ke kamar.
“Fa, cucu-cucu oma ... oma ke kamar dulu ya, lihat opa dulu,” ucap mama Dhiya.
Dan setelah mendapat jawaban dari Shafa dan cucu-cucunya, mama Dhiya pun segera menuju ke kamarnya.
Mama Dhiya melihat papa Harun meringkuk di tempat tidur tanpa berganti pakaian.
“Pa, papa,” panggil mama Dhiya mendekat. Mama Dhiya memegang kening suaminya dan ternyata badannya sangat panas.
Mama dhiya langsung panik, kemudian berlari ke dapur hendak mengambil air hangat untuk mengompres. Saat sampai di dapur, mama Dhiya bertemu Shafa.
“Ma, nyari apa?” tanya Shafa.
“Mama nyari yang untuk ngompres, Fa, sama mbok Nah ditaruh mana ya,” jawab mama Dhiya sembari membuka-buka lemari di dapur.
“Ma, mama ke kamar aja dulu, ini Shafa buatin wedang jahe biar papa cepat minum. Nanti Shafa tanya ke mbok Nah,” balas Shafa diangguki oleh mama Dhiya.
“Iya, Fa, makasih ya.”
Shafa pun segera memberitahukan Bayu, karena Bayu saat ini di rumah. Sedangkan Reigha hari ini di kantor lagi meeting.
“Assalamu’alaikum, Bay, kalau bisa tolong ke rumah ya, papa sakit,” ucap Shafa memberitahu.
“Wa’alaikumussalam, Fa. Baiklah gue ke sana sekarang,” balas Bayu segera menutup telponnya.
Shafa pun segera mencari mbok Nah, setelah itu, membawakan air untuk mengompres papa Harun.
__ADS_1
Tok...Tok...Tok...
“Ma, ini air untuk ngompres papa,” kata Shafa dari luar pintu kamar.
Mama Dhiya pun segera membuka pintu kamar, lalu menerimanya. Kemudian berkata, “Makasih ya, Fa.”
Shafa mengangguk dan berlalu pergi menuju ke kamar anak-anak. Sementara pintu tetap terbuka karena Mama Dhiya yang panik langsung menghampiri suaminya.
Saking panasnya badan papa Harun sampai mengigau, mama Dhiya segera mengecek suhu badan papa Harun, setelah beberapa saat termometer pun diambil dan dilihat ternyata suhu badan papa Harun sangatlah tinggi. Mama Dhiya sampai kaget.
“Astagfirullah, Papa, panasnya tinggi banget, kita kerumah sakit ya, Pa,” ucap mama Dhiya khawatir.
Dan tepat saat mama Dhiya akan menelpon Reigha, Bayu datang dan langsung masuk karena pintu kamar mama Dhiya terbuka.
“Assalamu’alaikum, Ma, maaf Bayu langsung masuk. Papa sakit apa, Ma? Tadi Shafa telpon Bayu, Ma,” ucap Bayu saat masuk ke dalam kamar mama.
“Duh, Bay, gimana ini, panasnya tinggi banget. Mama khawatir, Bay,” lirih mama Dhiya khawatir.
“Ayo, Ma, kita bawa ke rumah sakit aja. Bayu siapin mobil dulu,” balas Bayu.
“Iya, Bay, mama siap-siap dulu,” kata mama Dhiya. Bayu pun segera berlari keluar dari kamar mama.
Shafa yang baru keluar dari kamar anak-anak dan hendak ke kamar mama, dia melihat Bayu lari keluar jadi ikut panik dan masuk ke kamar mama Dhiya.
“Ada apa, Ma, Bayu mau ke mana?” tanya Shafa.
“Iya, Ma, nanti Shafa sampaikan. Biar Shafa bantu ya, Ma,” balas Shafa diangguki oleh mama Dhiya.
Shafa pun membantu menyiapkan baju ganti untuk mama dan papa selama di rumah sakit. Setelah semua siap, Bayu langsung meminta bantuan Vano untuk membantu membawa papa Harun ke mobil. Setelah masuk mobil, Bayu dan Mama Dhiya pun ikut masuk juga lalu mobil melaju ke arah rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Bayu memanggil perawat untuk membantu membawa papa Harun ke IGD. Setelah sampai, mama Dhiya dan Bayu menunggu papa Harun di periksa.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dan mengatakan kalau papa harun terkena DBD dan harus rawat inap.
Bayu pun segera mengurus kepindahan ruangannya. Lalu, papa Harun segera dipindahkan ke ruang rawat inap.
Sore harinya, saat sampai di rumah, Reigha langsung masuk kamar. Dan segera membersihkan badannya. Sementara Shafa yang tau Reigha pulang, segera keluar dari kamar si kembar menuju ke kamarnya menyiapkan baju Reigha.
Shafa kembali ke kamar si kembar dan berkata pada Anna yang udah sedari tadi menemani Shafa menjaga anak-anak.
“Na, titip anak-anak dulu, ya. Gue mau ke dapur,” ucap Shafa.
“Iya, Fa,” balas Anna.
Setelah rapi, Reigha segera mencari istrinya. Ternyata Shafa sedang berada di dapur tengah menyiapkan makanan untuk dibawa ke rumah sakit.
“Sayang, kok nasinya ditaruh kotak nasi?” tanya Reigha.
“Iya, Mas, kamu segera ke rumah sakit ya. Makan malam di rumah sakit aja,” jawab Shafa membuat Reigha mengernyit bingung.
__ADS_1
“Rumah sakit? Emang siapa yang sakit? Anna ‘kan udah di rumah, Sayang,” balas Reigha.
“Papa masuk rumah sakit, Mas, tadi siang dibawa sama Bayu,” kata Shafa membuat Reigha kaget.
“Ya Allah, kok gak ngabarin daritadi sih, Sayang,” lirih Reigha.
“Mana HP kamu, Mas, coba Shafa pinjam,” ucap Shafa.
Reigha pun memberikannya.
“Coba lihat, Mas, ada berapa panggilan tak terjawab. Ada chat gak dari Shafa,” tanya Shafa sembari menunjukan kalau ada telpon juga chat whatsapp dari Shafa.
“Maaf ya, Sayang, mas tadi gak buka HP setelah meeting. Dan sampai rumah juga gak buka HP,” jawab Reigha.
“Iya, gapapa, Mas. Udah gih cepetan ke rumah sakit, Shafa dari tadi nunggu kabar dari Bayu tapi belum ngabarin,” balas Shafa.
“Yaudah, Mas berangkat dulu ya, Sayang,” ucap Reigha mengecup singkat kening Shafa.
“Hati ya, Mas, sampai rumah sakit langsung kabari Shafa!” seru Shafa.
Dan setelah Shafa menyerahkan kotak nasinya, Reigha pun segera pergi meninggalkan rumah papa Harun.
Setelah sampai rumah sakit, Reigha segera menelpon Bayu untuk menanyakan ruangan papa Harun, setelah sampai di ruang rawat papa Harun, Reigha langsung masuk dan mendekati papa Harun yang terbaring di atas brankar.
“Pa, maafin Reigha, ya, tadi Reigha gak buka HP. Jadi, waktu Shafa ngasih kabar, Reigha gak tau, Pa,” lirih Reigha menyesal.
“Gapapa, Gha, papa gapapa kok,” balas papa Harun lemas.
“Ma, papa sakit apa?” tanya Reigha.
“Kata dokter sakit DBD, Gha, semoga trombositnya gak turun,” jawab mama Dhiya.
“Aamiin,” kata Reigha dan Bayu serempak.
“Ma, Reigha keluar sebentar telpon Shafa ya, Shafa dari tadi cemas karena belum ada yang ngabari,” ucap Reigha.
“Ya Allah, Gha, mama sampai lupa gak ngabari Shafa. Yaudah kamu kabari dulu aja,” kata mama Dhiya.
Reigha pun segera keluar dan menelpon Shafa, setelah selesai memberi kabar Shafa, Reigha kembali ke ruang rawat papa Harun.
“Bay, lebih baik lo pulang aja ya, temani Anna. Kasihan Anna baru sembuh udah lo tinggal-tinggal,” ucap Reigha.
“Okelah, gue pulang dulu. Lo hari ini temani mama, besok ganti gue yang temani mama,” kata Bayu yang diangguki oleh Reigha.
“Ya udah, pulang sana! Hati-hati, ya. Lo di rumah papa aja, biar bisa sekalian jaga Shafa dan anak-anak,” titah Reigha.
“Iya, Gha. Bisa diatur,” balas Bayu.
Dan saat Bayu hendak keluar ruangan, tiba-tiba papa Harun ....
__ADS_1