Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 12 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Reigha merangkul Shafa dengan tangan kirinya seraya berkata, “Kamu tenang. Suster Anna akan aman bersama Bayu.”


“Kamu tau, sekarang aku sedang gusar. Karena, Andre datang kembali di kehidupan aku setelah sekian lama menghilang,” ucap Reigha sembari merangkul Shafa.


“Kenapa? Siapa Andre?” tanya Shafa.


“Andre itu pamanku,” jawab Reigha membuat Shafa mengangguk paham.


“Aku ngerasa paman Andre yang menyuruh Gavin untuk membuat rem mobil kamu blong deh,” ucap Shafa.


“Aku juga ngerasa gitu, Sayang,” balas Reigha membuat Shafa kaget.


“Sa-sayang?” tanya Shafa memastikan dengan jelas, karena mungkin saja telinga Shafa yang salah dengar.


“Iya, emang salah? ‘Kan kamu istri aku sendiri,” jawab Reigha dengan santainya.


“Tapi, ‘kan kita hanya suami istri kontrak aja, Mas,” balas Shafa menundukkan kepala.


“Sayang, bagiku gak ada ceritanya nikah kontrak. Suatu saat nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan mengulang kembali akad nikah kita.”


“Kenapa?” tanya Shafa bingung.


“Akad nikah kita kemarin, Mama berniat kita hanya nikah kontrak, dan juga bukan aku yang melakukan ijab qabulnya. Aku berpikir, aku akan mengulang akad saat aku sembuh,” jawab Reigha.


“Kenapa kamu mau menyempurnakan akad nikah kita? Emangnya kamu cinta sama aku, Mas?”


“Sejak di rumah sakit, awalnya aku nyaman sama kamu, cuma sama kamu. Trus udah lama-lama sampai berbulan-bulan di rumah sakit, aku mulai cinta sama kamu. Aku kira, cuma nyaman aja, ternyata kenyamanan itu membuat aku cinta sama kamu,” ucap Reigha.


“Trus pas Papa nyuruh nikah, yaudah aku ngerasa hal itu adalah yang terbaik buat aku, kamu ada di sisi aku,” lanjut ucapan Reigha membuat Shafa malu.


“Mas, maaf ... sampai saat ini aku belum mencintai kamu, karena memang saat kita di rumah sakit itu aku hanya menganggap kamu sebagai pasien aku aja, Mas. Tapi, kamu tenang aja, aku akan berusaha untuk mencintai suamiku ini. Dan belajar mencintai itu butuh proses, Mas, tolong bersabarlah sebentar, ya,” balas Shafa seraya menunduk takut jika Reigha marah padanya.


Reigha menarik dagu Shafa dengan tangan kirinya sembari berkata, “Aku yang memulai mencintaimu, kini aku akan menunggu kamu belajar untuk mencintaiku.”


Shafa tersenyum dan mengangguk senang, Reigha pun menariknya dalam pelukan.


“Mas, Anna kok belum ngabarin, ya?” ucap lirih Shafa dalam pelukan Reigha.


Belum sempat Reigha merespon ucapan Shafa, ponsel Shafa pun tiba-tiba berdering. Dengan cepat Shafa menggapai ponselnya dan menerima panggilan.


“Hallo, Fa. Aku baru aja selesai nih,” ucap Anna dari sebrang panggilan.


“Oke, aku kabari Bayu dulu, ya,” balas Shafa. Kemudian, mengakhiri panggilannya.


Shafa mencari kontak Bayu dan mengirimkan pesan. Ternyata Bayu stay menunggu kabar dari Shafa. Bayu pun membalas dan segera menuju pintu keluar rumah sakit.


Di rumah sakit, Anna tampak berdiri di depan pintu keluar rumah sakit dan melihat mobil Bayu mendekat.

__ADS_1


Anna pun berjalan lebih dekat pada mobil Bayu, kemudian dia masuk ke dalam.


“Suster Anna baik-baik aja ‘kan?” tanya Bayu saat Anna telah masuk ke dalam mobil.


“Jalankan aja dulu mobilnya, nanti saya ceritakan,” jawab Anna membuat Bayu melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Saat di perjalanan, Anna membuka suaranya, “Saya udah resign dari rumah sakit. Dan, ini semua karena Rendra.”


“Kalau lagi berdua, jangan terlalu formal gapapa kok,” ucap Bayu.


“Panggil gue Bayu,” lanjut ucapan Bayu seraya melemparkan senyumannya pada Anna.


“Gak bisa gitu, ‘kan Pak Bayu lebih tua dari saya,” balas Anna.


“Setua-tuanya gue, belum pantes jugalah dipanggil bapak!” seru Bayu membuat Anna tertawa.


“Oke, panggil gue Abang aja,” lanjut Bayu membuat Anna mengangguk.


“Oke. Bang, kenapa lo mau direpotkan sama gue?” tanya Anna yang penasaran.


“Ya ... gak papa ‘kan?” jawab Bayu tanpa alasan.


Netra Bayu menangkap luka pada tangan Anna. Bayu semakin yakin Anna tidak baik-baik saja.


“Anna, jangan sembunyikan apapun selagi gue bisa bantu lo, jujur ke gue kenapa tangan lo luka?” tanya Bayu.


“I-ini karena Rendra. Dia selalu ingin melukai gue,” jawab Anna membuat Bayu geram.


Bayu semakin mempercepat laju mobil tak lagi mengucapkan sepatah kata pun.


“Bang, lo kenapa?” tanya Anna. Namun, tak ada jawaban dari Bayu.


Anna tak lagi bertanya. Tak ada obrolan apapun dari keduanya.


Hingga kini, Bayu telah sampai di rumah kediaman Papa Harun dengan selamat. Bayu turun dari mobil terlebih dahulu, dia pun membukakan mobil untuk Anna.


Setelah Anna turun, Bayu menutup kembali pintu mobil dan bergegas masuk meninggalkan Anna.


Anna yang tak mau tersesat di rumah itu pun langsung mengikuti langkah Bayu. Rumah tampak sepi, hanya terlihat para pekerja yang tengah sibuk diluar rumah dan juga di dapur.


Hingga kini Anna sampai di depan pintu sebuah ruangan. Anna ingin bertanya, tapi dia mengurungkan niatnya. Karena, Anna tau pasti Bayu tak akan menjawab apapun.


Bayu tampak mengetuk pintu, hingga pintu terbuka menampilkan sosok sahabatnya, Shafa.


“Fa!” seru Anna memeluk erat Shafa.


Shafa pun menerima pelukan Anna. Shafa merasa Anna tengah butuh pelukan darinya karena masalah yang Anna hadapi pasti begitu berat.

__ADS_1


Bayu telah masuk terlebih dahulu ke dalam kamar. Kemudian, Shafa pun mengajak Anna masuk ke dalam kamar.


“Fa, lo yakin suami lo gak marah?” tanya Anna.


“Santai. Gapapa kok,” jawab Shafa seraya tersenyum senang.


Bayu tampak duduk di sofa. Sementara Shafa membantu Reigha untuk pindah ke kursi roda.


“Na, ayo duduk di sofa!” ajak Shafa sembari mendorong kursi roda suaminya.


Anna pun duduk disamping Bayu dengan jarak 5 jengkal.


“Na, lo baik-baik aja ‘kan?” tanya Shafa.


“Baik kok. Lo gak perlu khawatir,” jawab Anna yang selalu menampilkan senyum palsunya agar terlihat baik-baik saja.


“Jangan percaya padanya sebelum melihat luka di tangannya,” ucap Bayu membuat netra Shafa beralih menatap tangan Anna.


“Astaghfirullah ... ini kenapa, Na?” tanya Shafa.


Anna yang ditanya hanya menunduk sedih. Tak sanggup rasanya Anna menceritakan pada sahabatnya.


“Suster Shafa, izinkan saya menikahi Anna!” seru Bayu membuat Shafa, Reigha, dan juga Anna kaget.


“Bang, lo apaan sih? Kita tuh baru kenal. Gak mungkin gue mau langsung nikah sama lo!” seru Anna.


“Setidaknya gue bisa jagain lo!” seru Bayu.


“Kalau emang mau jaga, gak harus nikah juga ‘kan?” tanya Anna.


“Gue mau lo aman, Na!” balas Bayu dengan tatapannya yang tulus pada Anna. Namun, Anna belum menyadari ketulusan Bayu padanya.


Anna tiba-tiba berdiri dan melangkahkan kaki keluar dari kamar.


“Lo jangan pergi, Na. Rendra bisa ada dimana-mana!” seru Bayu.


“Rendra bisa aja membunuh gue. Tapi lo, mau nikahin gue,” balas Anna kesal.


“Lo ngomong apasih, Na!” Bayu kini ikutan berdiri, emosi.


“Kalian kalau mau ribut, diluar aja deh. Mas Reigha lagi sakit, malah disuruh lihat kalian ribut di sini,” ucap Shafa ditengah keributan mereka.


“Kalaupun kalian berdua mau nikah, aku gak akan setuju. Karena, melihat kalian yang saling marah seperti ini, hanya mementingkan ego masing-masing. Jika api bertemu api, siapa yang akan jadi airnya? Tolong, jika ada masalah diselesaikan bersama dengan cara yang baik,” lanjut ucapan Shafa.


Shafa pun mendekat pada Anna. Menarik Anna hingga duduk kembali di sofa.


“Rendra kenapa, Na?” tanya Shafa.

__ADS_1


__ADS_2