
“Tunggu, bebasin gue!” seru Binar.
Seruan Binar tak direspon oleh siapapun, bahkan Bayu malah melambaikan tangannya hingga membuat Shafa mengulum senyumnya.
Melihat Binar sudah dibawa, Reigha dan Shafa serta Papa Harun, Bayu, dan Farhan mendekat pada Andara.
“Andara, makasih ya. Sekali lagi lo udah bantuin keluarga gue,” kata Bayu mengulurkan tangannya pada Andara.
“Udah tugas gue, Bay.” Andara pun menerima uluran tangan Bayu dan keduanya pun berjabatan tangan.
“Terima kasih, sudah kedua kalinya anda menyelamatkan saya untuk kembali pada suami dan keluarga saya,” ucap Shafa mengembangkan senyumnya.
“Terima kasih, terima kasih banyak!” imbuh Reigha.
“Iya, sama-sama. Lain kali jangan sampai diculik untuk ketiga kalinya, ya!” seru Andara membuat semuanya tertawa.
Setelah itu, Andara pergi meninggalkan semuanya di pelabuhan untuk kembali ke kantor. Untung saja sejak menunggu Shafa du pelabuhan, Reigha sudah menyuruh Vano mengambil mobil Reigha yang ditinggalkan oleh Farhan di hotel blue star.
Kini Farhan segera mengemudikan mobil Reigha, semua pun masuk ke dalam mobil dan kembali pulang.
Di perjalanan, Reigha membuka suaranya, “Farhan, terimakasih banyak, kamu udah membantu menyelamatkan Shafa.”
“Iya, sama-sama, Pak. Bapak dan Shafa sudah membantu banyak untuk saya dan keluarga,” jawab Farhan.
“Mama dan Anna pasti mengkhawatirkan kita di rumah. Ini sudah larut malam, kita belum juga kembali pulang,” ucap Papa Harun.
Farhan pun melajukan mobilnya melintasi jalan raya menuju rumah kediaman Papa Harun.
Tiba-tiba, Bayu mendapatkan telpon dari Andara.
“Ya ... halo.”
“Bay, Pak Reigha mana?” tanya Andara.
Bayu segera mengulurkan tangannya memberikan ponsel Bayu pada Reigha.
“Gha, Andara mau ngomong,” ucap Bayu.
“Bay, tolong lo speaker aja. Ini Shafa lagi tidur soalnya, tangan gue buat nahan kepala Shafa,” balas Reigha.
Bayu pun segera menyalakan speaker hingga satu mobil pun mendengar apa yang akan Bayu ucapkan.
“Pak Reigha, ini kebetulan orang kantor mengenal Binar. Syukurlah masih dibawah saya, dan dia meminta bukti jika Binar yang melakukan kejahatan ini. Apa bapak bisa mengirimkan bukti? Soalnya, saya gak ada bukti apapun karena berjaga di aula,” ucap Andara membuat Reigha berpikir bingung karena dirinya pun tak ada bukti.
Tak lama, Farhan mengeluarkan suaranya, “Saya ada buktinya, Pak. Sejak wanita itu di parkiran hingga membakar hotel dan juga membawa Shafa. Semua kejadian itu ada saya rekam di ponsel saya.”
Bayu dan Reigha saling tatap dan melemparkan senyuman.
__ADS_1
“Kirimkan ke saya, Han!” perintah Reigha.
Farhan segera menepikan mobilnya dan mengirimkan semua video pada Reigha. Kemudian, Bayu mengambil ponsel Reigha dan mengirimkan video tersebut ke ponsel Bayu untuk dikirimkan ke Andara.
“Baik, terima kasih. Kalau begini akan cepat prosesnya,” ucap Andara segera menutup telponnya.
Setelah itu, Reigha tampak berpikir, “Jadi, yang membakar hotel itu si Binar,” ucap Reigha lirih.
“Se-nekat itu dia buat dapetin lo!” sambar Bayu.
“Besok kamu serahkan rekaman video itu dan berikan pada pemilik hotel katakan kalau wanita itu sudah berada pada genggaman polisi!” ucap Papa Harun yang sangat geram pada kelakuan Binar.
“Iya, Pa. Besok Reigha pergi sama Bayu dan Farhan untuk rapat bersama pemilik hotel.”
Setelah sampai di rumah, ternyata Mama dan Anna belum tidur. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul 01.55 WIB. Reigha tampak mengangkat Shafa menuju kamar. Menurunkan Shafa ke kasur dan berlalu pergi ke ruang tamu.
“Anna, tolong lo bersihkan make up di wajah Shafa,” ucap Reigha.
“Baik, Pak,” balas Anna bergegas masuk ke dalam kamar Shafa membersihkan make up.
Ternyata, Shafa terbangun karena wajahnya dipegang oleh Anna.
“Eh, kenapa, Na?” tanya Shafa.
“Akhirnya lo selamat!” seru Anna memeluk erat Shafa.
Shafa membersihkan make up dibantu oleh Anna. Kemudian, berganti pakaian.
Farhan sudah pulang sejak tadi karena ditunggu Sintia di rumah. Besok pagi Farhan kembali ke rumah Reigha untuk dibawa ke restoran hotel Volga menjadi saksi atas kejahatan Binar.
“Sayang, kok bangun?” tanya Reigha.
“Nyari kamu, Mas,” jawab Shafa duduk disamping Reigha.
“Udah, sekarang kita semua tidur. Jangan sampai besok kurang tidur jadi sakit pula,” ucap Papa Harun yang diangguki oleh semuanya.
“Na, kamu tidur di sini aja. Kalau pulang sekarang, udah kedalaman banget ini,” ucap Mama Dhiya.
“Iya, Tante,” balas Anna.
Semua pun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Keesokan paginya, Semua sudah siap di meja makan untuk segera sarapan.
“Mas mau kemana kok udah rapi? Bukannya Mas masih cuti?” tanya Shafa.
“Mas dan Bayu mau ke hotel volga, kamu di rumah dijaga Mama dan Anna. Soalnya, Papa ada kerjaan juga hari ini,” jawab Reigha.
__ADS_1
“Nanti gue ceritain kok, Fa. Kejadian yang lo gak tau selama lo pergi,” ucap Anna membuat Shafa manggut-manggut, paham.
Semua pun segera makan sarapan yang sudah disiapkan.
****
“Sayang, Mas pergi, ya!” seru Reigha mengulurkan tangannya pada Shafa.
Shafa pun mencium tangan Reigha, kemudian Reigha mengecup dahi istrinya.
Reigha pun segera pergi bersama Bayu dan juga Farhan menggunakan mobil Reigha menuju hotel Volga.
Shafa segera masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang keluarga bersama Mama Dhiya dan Anna.
“Fa, pas kebakaran, lo kan kemarin diculik ya ... nah, setelah itu hotel udah hangus kebakar belum ditemukan apa penyebabnya. Akhirnya, semua saudara yang menghadiri acara kemarin, dialihkan ke hotel volga yang katanya pemilik hotelnya itu sama dengan blue star. Mungkin, sekarang semuanya udah pulang karena menginap satu malam aja, Fa,” ucap Anna mulai menceritakan.
“Gue dan Tante Dhiya langsung ke rumah untuk nungguin lo dibawa kembali. Gue mau nanya, siapa yang nyulik lo?” imbuh Anna bertanya pada Shafa.
“Binar,” jawab Shafa.
Mama Dhiya kaget menoleh langsung pada Shafa, “Kok bisa sih? Padahal kita udah bilang ke penjaga kalau wanita ini tidak boleh sekalipun menginjakkan kaki di hotel. Bisa-bisanya Binar itu!”
Shafa mendekat pada Mama Dhiya, memeluk Mama Dhiya sembari berkata, “Ma, tenang ya, Ma ... Binar sekarang udah di kantor polisi kok. Dia udah diamankan di sana.”
“Baguslah, setidaknya dia tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga anak Mama,” balas Mama Dhiya yang diangguki oleh Shafa dan Anna bersamaan.
“Ma, kenapa kok Mas Reigha dan Bayu bawa Farhan ke hotel volga?” tanya Shafa heran.
“Setau Mama, Papa kemarin cerita kalau Farhan adalah satu-satunya saksi kejahatan Binar. Dari Binar membakar hotel blue star, hingga Binar yang menculik kamu,” jawab Mama Dhiya membuat Shafa terperangah kaget.
“Bakar hotel, Ma?” tanya Shafa memastikan.
“Iya. Sampai segitunya dia terobsesi pada suami kamu, Fa,” balas Mama Dhiya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara di hotel, kini semua sudah berkumpul. Reigha juga sudah memberikan video bukti Binar membakar hotel tersebut dan juga saksi mata.
Reigha tak lupa membawa uang se-koper untuk memberikannya pada pemilik hotel setidaknya Reigha membantu sedikit untuk pembangunan ulang hotel blue star.
“Pak, tak perlu, Pak!” seru Pak Alvaro selaku pemilik hotel blue star dan hotel volga.
“Sudah, saya ikhlas,” ucap Reigha.
Kemudian semuanya kembali ke parkiran, Reigha memberikan seamplop uang untuk Farhan karena tanpa Farhan mungkin Reigha tak akan lagi bertemu dengan Shafa.
“Pak, gaji yang bapak berikan untuk saya udah sangat lebih untuk membantu saya sekeluarga,” ucap Farhan menolak amplop dari Reigha karena Farhan ikhlas membantu Shafa.
“Ini hanya ucapan terima kasih saya dan Shafa. Tolong diterima, kalau ditolak, saya kecewa!” seru Reigha.
__ADS_1
Farhan dengan berat hati menerima amplop dari Reigha dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Setelah itu, Farhan melajukan mobilnya menuju rumah Papa Harun. Reigha dan Bayu kembali ke rumah dengan senyum bahagia.