
“Selamat pagi, Pak Bayu. Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ucap Ivanka menyapa.
Melihat kedatangan Ivanka membuat Anna pun segera membisikkan sesuatu pada Shafa.
“Lihat itu, Fa ... benar ‘kan yang gue bilang, kalau Ivanka itu ada perasaan sama Abang. Pasti dia suka deh,” bisik Anna tepat di telinga Shafa.
“Hmm ... kita lihat aja dulu, gimana reaksi Bayu. Lo tenang aja,” balas Shafa berbisik dan diangguki oleh Anna.
Bayu pun menjawab tanpa melihat ke Ivanka, “Oh, iya.”
“Mau ke mana kalau boleh saya tau, Pak?” tanya Ivanka pada Bayu.
Shafa segera menyambar, “Kalau Bayu, dia mau pulang ke rumah. Kami berdua mau honeymoon ke Singapore. Dan, tentunya sebentar lagi Bayu dan calon istrinya ini juga pasti akan menyusul,” ucap Shafa menekan kata calon istri pada Ivanka.
“Iya ‘kan, Bay?” tanya Shafa menoleh pada Bayu yang hanya diam saja tanpa menoleh pada Ivanka.
“Iya, Fa. Pasti gue juga akan honeymoon ke sana,” balas Bayu membuat Ivanka mengernyit heran pada wanita yang menyambar pertanyaan yang harusnya dijawab oleh Bayu.
“Maaf, anda siapa, ya?” tanya Ivanka menaikkan alis matanya sebelah.
“Bu Ivanka, ini adalah istri dari Pak Reigha Zavier Abqari, M. B. A selaku CEO perusahaan Trengginas Jaya Abadi. Tak mungkin jika Bu Ivanka tidak mengenali Pak Reigha,” ucap Anna menjelaskan pada Ivanka.
“Oh, istri Pak Reigha?” beo Ivanka sembari matanya menatap intens pada Shafa dari atas hingga bawah.
“Kok bisa mau sama wanita ini, Pak Reigha?” tanya Ivanka pada Reigha.
“Bu Ivanka, lebih baik tidak terlalu mengurusi urusan Pak Reigha jika anda tidak mau kerja sama kita diputuskan begitu saja,” balas Anna membuat Ivanka diam.
“Yaudah ... yuk, Sayang. Kita harus segera pulang, sebentar lagi Reigha dan Shafa masuk pesawat,” ucap Bayu mengajak Anna pulang.
“Gha, gue pulang, ya. Selamat honeymoon semoga pulang udah bawa kabar baik!” seru Bayu.
“Eh, Pak Bayu. Gimana kalau kita saraoan bersama?” ucap Ivanka memberi tawaran.
“Okelah, Bayu. Makasih udah antarin gue. Gue masuk dulu,” kata Reigha.
“Na, ingat pesanku tadi, ya!” seru Shafa.
“Oke, Bestie. Selamat honeymoon, ya!” teriak Anna sembari melambaikan tangannya pada Shafa yang sudah mulai melangkah pergi digandeng oleh Reigha.
“Yuk, Sayang.” Bayu memegang erat tangan Anna berjalan menuju parkiran.
Ivanka yang di cuekin pun geram, “Awas kamu ya, Bay. Gue gak akan nyerah. Suatu saat nanti, lo pasti ngemis-ngemis cinta padaku,” ucap Ivanka lirih tak didengar oleh siapapun.
Tepat pukul 08.00 WIB, pesawat yang di tumpangi Reigha dan Shafa take off menempuh perjalanan satu jam lima puluh menit.
__ADS_1
Di dalam pesawat, Shafa tidak henti-hentintanya berdo'a, ini pengalaman pertama bagi Shafa. Shafa tidak melepaskan tangan Reigha sama sekali.
“Tenang, Sayang. Kamu tidur aja kalau takut. Sambil berdoa, ya,” ucap Reigha menenangkan istrinya.
Sedangkan Reigha mengusap-usap tangan Shafa membuatnya nyaman.
Perjalanan di pesawat jadi tidak terasa karna mereka disajikan makanan dan karena kebetulan tadi mereka belum sempat sarapan jadinya mereka menikmati makanannya. Sampai akhirnya terdengar kalau ada pengumuman sepuluh menit lagi pesawat akan mendarat di Singapore Changi Airport.
Saat mendarat, tangan Shafa memegang erat tangan Reigha karena Shafa masih takut. Ya, walaupun tidak setakut waktu berangkat tadi.
Sesampainya di bandara, mereka pun menunggu bagasi setelah itu mereka bersamaan menuju hotel yang udah disiapkan oleh Papa Harun.
Mereka udah sampai di hotel Grand Hyatt Singapore, Reigha pun segera check-in lalu mereka pun di antar ke kamar yang udah disiapkan. Setelah kamar di buka, mereka segera masuk.
Shafa menatap kagum pada kamar yang dia masuki saat ini, “Mas, kamarnya bagus banget, luas, lengkap ada mini kitchen, dan ruang kerja di sudut ruangan,” ucap Shafa memuji kamar hotel tersebut.
“Gimana, Sayang, kamu suka?” tanya Reigha.
“Alhamdulillah, suka banget, Mas!” seru Shafa tak henti-henti mengagumi kamar hotel.
Shafa pun kemudian membuka jendela hotel, Shafa benar-benar dibuat takjub dengan pemandangan yang sangat indah. Sampai tak sadar ada tangan yg tiba-tiba melingkar di perutnya. Reigha memeluk Shafa dari belakang.
“Sayang, kamu gak capek? Mau mandi dulu?” tanya Reigha.
“Mas aja mandi dulu, Shafa masih menikmati pemandangan yang terlalu indah untuk ditinggalkan ini, Mas,” jawab Shafa.
“Ayo kita mandi bareng, Sayang!” seru Reigha.
“Mas, Shafa gak mau. Shafa malu!” teriak Shafa sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tapi terlambat, mereka udah sampai di kamar mandi. Reigha memasukkan Shafa ke dalam bathup dan Reigha pun ikut masuk juga ke dalamnya. Mereka mandi dengan masih berpakaian lengkap.
“Mas, keluarlah dulu, aku malu,” mohon Shafa dengan tatapan malunya.
“Ngapain malu sih, Sayang, kan kita gak ngapa-ngapain. Cuma mandi aja ‘kan,” balas Reigha.
“Mas, tolong keluar dulu, please,” kata Shafa dengan muka mengiba.
Akhirnya, Reigha pun keluar, dia menunggu Shafa mandi sambil membuka-buka ponselnya memberi kabar pada Mama Dhiya, Papa Harun, dan Bayu. Tak lupa Reigha memberi kabar pada Ayah Reynand dan Ibu Khalisa kalau mereka berdua sedang honeymoon.
Sementara di kamar mandi, Shafa segera mandi. Tetapi, setelah selesai Shafa mandi, ternyata lupa membawa bawa baju ganti. Shafa pun kebingungan.
“Gara-gara Mas Reigha langsung gendong tadi, jadinya lupa bawa baju deh,” lirih Shafa merutuki dirinya sendiri.
“Aduh, gimana ini aku keluarnya?” lanjut Shafa kebingungan.
__ADS_1
Shafa pun membuka pintu kamar mandi dia melihat Reigha ada di dalam atau sedang keluar. Netra Shafa menelusuri dan melihat Reigha sedang memainkan ponselnya.
‘Buh, Mas Reigha di kamar pula, apa aku minta tolong aja, ya. Emm ... tapi, aku malu kalau ****** ***** di pegang Mas Reigha,’ batin Shafa sembari menggigit ujung kukunya.
“Ah, aku minta tolong aja bawa kopernya ke sini,” imbuh Shafa seraya tersenyum karena telah menemukan ide.
“Mas ... Mas Reigha, bisa tolong bawakan kopernya ke sini?” teriak Shafa dari dalam kamar mandi.
Reigha pun hanya melirik dan menjawab, “Ambil aja sendiri, Sayang. Mas lagi sibuk nih,” ucapnya sambil tersenyum.
Shafa pun segera keluar sambil merengut, dia tau pasti itu hanyalah keisengan Reigha aja. Shafa pun segera memakai kimononya dan segera keluar menuju kopernya.
Melihat Shafa keluar dari kamar mandi membuat Reigha mulai mendekati istri cantiknya itu.
Saat Shafa sedang fokus mencari baju gantinya tiba-tiba Reigha udah memeluk Shafa dari belakang. Shafa pun dibuat kaget oleh suaminya sendiri.
“Astaghfirullah, Mas. Buat kaget aja,” kata Shafa.
“Kamu cari apa, Sayang?” tanya Reigha.
“Emm ... ini lagi cari baju tidur Shafa, sekalian siapin baju tidur untuk Mas juga,” jawab Shafa.
“Ngapain siapin baju tidur sih, Sayang? Malam ini kita harus usaha keras untuk buatin pesanan Mama ‘kan?” balas Reigha sontak membuat pipi Shafa bersemu merah.
“Mas, jangan ngomongin gitu ah,” ucap Shafa sambil malu-malu.
“Yaudah, kamu mau ganti baju di sini atau di kamar mandi, Sayang? Mas mau mandi nih,” kata Reigha.
“Ya ... di kamar mandi lah, Mas. Bentar, ya. Gak lama kok.” Shafa langsung berlari ke kamar mandi.
Reigha yang melihat pun menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa gemas dengan tingkah Shafa. Sambil menunggu Shafa ganti baju, Reigha memesan makanan dan minta di antar di kamarnya.
Shafa tampak udah keluar dari kamar mandi dan Reigha pun segera masuk kamar mandi karena bajunya tadi udah basah.
Tapi, sebelum Reigha melangkah masuk ke kamar mandi, dia yang berpakaian dengan Shafa langsung mengecup singkat pipi kanan Shafa. Kemudian, Reigha berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Reigha berteriak dari dalam, “Sayang, nanti kalau ada yang ketuk pintu buka aja, ya. Mas tadi pesan makanan.”
“Iya, Mas,” jawab Shafa sambil mengeringkan rambutnya.
Tak lama, Reigha pun keluar dari kamar mandi menggunakan kimon, sambil mengeringkan rambutnya.
Shafa langsung menunduk saat melihat kimono Reigha terbuka di bagian dadanya, Shafa pun salah tingkah. Saat ini Shafa benar-benar gugup.
Reigha pun segera mengambil baju gantinya dan segera melepas kimononya di hadapan Shafa.
__ADS_1
“Eh, eh, kok di lepas di sini? Gak ganti baju di kamar mandi aja, Mas?” tanya Shafa panik.