Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 18 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Saya akan buktikan. Kalau saya akan menjadi pimpinan perusahaan ini!” seru Andre saat berada di lobby kantor.


Bayu tak mengejar keduanya. Bayu malah memilih mengambil ponselnya menghubungi Shafa.


“Hallo, Suster Shafa ... tolong bawa Anna ke kamar Reigha dan kunci pintu. Karena, Andre dan Gavin menuju ke rumah!” seru Bayu kemudian mematikan panggilannya.


Bergegas pula Bayu berganti menghubungi Papa Harun. Saat panggilan terhubung, Bayu berkata, “Om, Pak Andre mau datang ke rumah membuat keributan. Om tolong jaga tante, saya segera pulang. Om, dia akan minta kekuasaan Reigha.”


Setelah Bayu memberi kabar pada Papa Harun dan juga Suster Shafa, Bayu segera membawa laptop dan juga flashdisk yang berisi salinan bukti setiap kedatangan Andre bertemu dengan Gavin dan juga bukti Gavin yang selalu melakukan kejahatan pada Reigha.


Setelah semua siap untuk dibawa, Bayu membawa salah satu satpam kantor yang dapat diajak kerja sama olehnya. Bayu membawanya untuk menjadi sopir. Sementara Bayu di dalam perjalanan menyiapkan surat pemecatan pada Gavin.


“Pak Tono, tolong nanti kalau sekiranya kondisi semakin memburuk, langsung hubungi polisi. Saya minta tolong Pak Tono bantu mengontrol dan segera sigap hubungi pihak polisi, ya!” seru Bayu saat dirinya telah selesai membereskan surat yang dibuatnya.


Saat sampai di rumah, Bayu melihat Andre dan Gavin yang telah berada di ruang tamu seraya berteriak memanggil nama Papa Harun.


“Harun!”


“Harun, keluar!”


Papa Harun pun tampak menuruni tangga mendekat pada Andre.


“Kenapa berteriak?” tanya Papa Harun santai.


“Duduklah!” lanjut Papa Harun.


Andre tersenyum sinis. Kemudian, mendekat pada Papa Harun, “Anakmu gak bisa memimpin perusahaan. Sebagai CEO, masa gak malu sama karyawan yang lagi semangatnya kerja, eh CEO-nya malah santai di rumah.”


“Mana dia si anak cacat itu!” seru Andre membuat Papa Harun marah.


“Jaga ucapanmu, Andre!” teriak Papa Harun.


“Pak Andre, bukannya ini semua rencana Pak Andre?” tanya Bayu yang tiba-tiba datang di belakang Andre.


“Apa maksud mu?” tanya Andre.


Bayu pun membuka laptopnya, memutarkan video rekaman CCTV saat Andre yang selalu bertemu dengan Gavin sebelum kejadian kecelakaan Reigha.


“Dasar bocah! Hanya rekaman itu saja kau mengira aku yang merencanakan ini?” tanya Andre dengan amarahnya.

__ADS_1


“Tunggulah sampai rekaman berikutnya, Pak Andre!” balas Bayu membuat Andre bungkam.


Saat video-video rekaman itu diputar, Bayu pun mengeluarkan suaranya kembali.


“Tadi rekaman Pak Andre bertemu dengan Gavin. Yang ini rekaman Gavin yang sedang bertengkar dengan Binar di ruang kerja Reigha. Gak lama, Gavin mulai mengotak-atik mobil Reigha. Yang ini rekaman Pak Andre yang mulai berani masuk lobby kantor.” Bayu pun memberikan penjelasan dari setiap video rekaman yang diutarakan hingga kejadian tadi saat Andre membuat ruangan CEO sangat berantakan.


Papa Harun menghela napasnya kasar.


“Kau dan kau ... duduk dan jelaskan padaku!” seru Papa Harun menunjuk pada Andre dan Gavin yang tampak bungkam ketika melihat bukti rekaman CCTV.


“Aku hanya menginginkan jabatan CEO perusahaan itu!” ucap Andre dengan mata tajamnya yang tak kunjung berpindah selalu menatap pada Bayu.


“Ma-maaf, Pak ... saya hanya cemburu melihat Binar yang semakin dekat dengan Pak Reigha. Kebetulan juga, pas itu Pak Andre menawarkan sejumlah uang kalau saya mau bantu Pak Andre merebut jabatan CEO itu. Setelah mendengar ucapan Binar yang membuat saya kesal, saya pun melampiaskan pada mobil Pak Reigha sampai kecelakaan,” ucap Gavin menjelaskan.


Papa Harun berdiri dan mendekat pada Gavin. Satu pukulan melayang dan terkena pada wajah kirinya.


“Kesakitan yang kau alami, belum sebanding dengan yang anakku alami. Kenapa hanya karena Binar kau menjadikan anakku korban? Kau siapanya Binar, Hah?!”


“Saya mantannya Binar, Pak. Maafkan saya, Pak.” Gavin menyatukan kedua tangannya memohon pada Papa Harun.


“Jawab! Kenapa kau juga mengganggu menantuku?” tanya Papa Harun kembali.


Papa Harun tak kuat lagi dengan emosinya. Papa Harun duduk untuk meredakannya sebentar.


Andre pun kembali berulah, dia mencari di setiap kamar. Mencari keberadaan Reigha, hingga menemukan kamar yang terkunci.


“Reigha, keluar kau!” seru Andre menggedor kamar yang Reigha tempati.


Sementara di dalam kamar, Reigha dengan tenang, duduk di atas kursi roda diam saja tanpa bertindak apapun hanya ingin melindungi sang istri dari Andre.


Berbeda dengan Shafa yang mengumpulkan keberaniannya dan keluar kamar tanpa seizin Reigha.


“Siapa kau?” tanya Andre.


“Oh. Pasti kau istri Reigha. Cantik juga rupanya, hmm ... mana suamimu?” lanjut Andre bertanya pada Shafa.


“Jangan sentuh menantuku!” seru Mama Dhiya yang tiba-tiba datang dan berdiri dihadapan Shafa.


“Ibu negara telah tiba!” ucap Andre dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


Andre pun tak ingin berurusan dengan Dhiya. Andre kembali duduk di sofa ingin berbicara serius pada Harun.


“Harun, kau harus memilih salah satu diantara dua pilihan. Kau serahkan jabatan CEO atau kau serahkan nyawa padaku. Terserah nyawa kau, nyawa istri atau menantu,” ucap Andre.


“Jika kau memang gila jabatan sampai membawa nyawa dalam hal ini. Ambilah jabatan itu!” seru Harun dengan serius.


“Gak bisa gitu dong, Om!” protes Bayu.


“Kenapa kau selalu ikut campur!” teriak Andre kembali.


Andre mengeluarkan pisau yang telah dia persiapkan sejak tadi. Andre dengan amarahnya pun mendekat pada Bayu seraya berkata, “Kau tau akibat melawanku? Bahkan abangku sendiri aja gak berani. Kau mau berani melawanku?”


“Lepaskan pisau itu. Ikut kami!” suara polisi pun menggelegar dalam rumah Papa Harun.


Andre tak semudah itu menjatuhkan pisau yang masih ada digenggamannya. Andre mengarahkan pisau itu pada tangan Bayu. Setidaknya harus ada darah yang keluar dengan hasil karya dirinya, pikir Andre.


Anna dengan sigap mengarahkan tangannya tepat di depan tangan Bayu. Dan dengan cepat pula pisau itu menyayat tangan Anna hingga darah menetes pada lantai ruang tamu.


Polisi pun langsung menarik tangan Andre untuk dibawa ke kantor polisi, sementara Gavin, ditahan oleh Bayu di rumah Papa Harun hingga masalah ini benar-benar selesai.


Shafa dan Mama Dhiya yang tadinya saling menguatkan, berpelukan. Kini, melepas pelukannya dan segera menolong Anna.


Mama Dhiya memangku kepala Anna yang tampak lemas, dan Shafa pun bergegas mengambil obat-obatan.


Shafa mengobati Anna dengan telaten, menghentikan pendarahan kemudian membersihkan luka dan memberikan perban.


“Lo kenapa nekat, Na?” tanya Bayu yang kesal dengan Anna dengan mengorbankan dirinya sendiri.


“Gue cuma gak mau lo terluka, Bang!” seru Anna dalam keadaan yang tampak lemah.


“Udah, Anna biar istirahat dulu. Untungnya pendarahan gak keluar banyak,” ucap Shafa.


Shafa pun membawa Reigha untuk ikut berkumpul di ruang tamu yang ada Papa, ada Mama yang sedang memangku kepala Anna, ada Bayu, ada Gavin juga yang akan segera diintrogasi.


“Masalah mu dengan Binar, cukup Binar dan dirimu yang menyelesaikan. Jangan orang lain pula yang menjadi korban. Dan satu lagi, kalau butuh uang, bisa bertemu saya. Jangan dengan cara yang haram seperti itu!” seru Papa Harun pada Gavin.


Gavin tampak mengangguk. Kemudian, Gavin berkata dengan lirih, “ Saya minta maaf ... ini semua karena saya. Saya tidak akan mengulangi lagi, saya berjanji!”


“Tentu tidak terulang. Karena anda akan dipecat!” seru Bayu seraya menatap pada Gavin yang tampak kaget mendengar ucapan Bayu.

__ADS_1


__ADS_2