Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 103 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Apa, Mas? Pingsan?” Shafa kaget seakan tak percaya dengan cerita dari Reigha.


“Iya, Sayang. Bayu ternyata takut darah,” balas Reigha sambil tertawa.


Saat Reigha hendak menggendong Daviandra, Shafa dengan segera menegur suaminya.


“Mas, kamu belum mandi loh, baru pulang dari rumah sakit juga.”


“Oh iya, Sayang, untung kamu ingatin. Bentar ya, Anak-anak papa, papa mau mandi dulu,” ucap Reigha dan si kembar pun tertawa seolah-olah mengerti apa yang papanya ucapkan.


Reigha segera menuju ke kamar mandi membersihkan badannya setelah itu keluar dari kamar mandi, ternyata Shafa tampak sedang menyiapkan baju ganti untuknya.


“Ini bajunya, Mas. Kamu sholat dulu ya. Setelah itu kalau mau gendong si kembar gapapa,” titah Shafa.


“Makasih, Sayang,” balas Reigha dan segera melaksanakan sholat ashar.


Setelah sholat, Reigha bergegas mendekati si kembar untuk menggendong Daviandra dan Shafa menggendong Daviana, kemudian mereka bersamaan keluar kamar.


Saat sampai di ruang tengah, Papa Harun mengambil Daviandra dari gendongan Reigha.


“Pa, Reigha masih kangen lo sama anak-anak Reigha,” ucap Reigha protes saat Daviandra diambil alih oleh Papa Harun.


“Papa juga kangen sama cucu-cucu papa, Gha,” balas Papa Harun sambil mencium pipi Daviandra.


Reigha pun segera mengambil Daviana dari sang istri.


“Sayang, sini Daviana biar Mas gendong,” ucap Reigha.


“Yaudah, ini Daviana. Shafa buatin minum dulu untuk Papa dan Mas, sekalian nyiapin makan malam, ya,” balas Shafa sembari menyerahkan Daviana pada Reigha.


“Oke, Sayang.”


Shafa pun segera ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makan malam.


Tak lama, Shafa segera ke ruang tengah mengantarkan minuman untuk mertua dan suaminya. Setelah itu, kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama Mbok Nah.


Setelah siap, sambil menunggu waktu makan malam, Shafa kembali ke ruang tengah.


“Mas, Pa, makanannya kan udah siap, Mama dan Bayu dianterin makanan gak, ya?” tanya Shafa.


“Kamu siapin aja, Fa, nanti Papa akan antar sekalian nengokin anaknya Bayu,” jawab Papa.


“Tengokin juga itu Bayu, Pa,” ucap Reigha membuat Papa mengernyit bingung.


“Emang kenapa Bayu kok ditengokin? Bayu ‘kan nungguin istrinya.”


“Yang ada, istrinya itu jagain Bayu, Pa,” celetuk Reigha dengan tawanya.


“Maksud kamu apa, Gha? Gak ngerti Papa,” tanya Papa.


“Bayu tadi waktu nungguin Anna pingsan, Pa. Bayu ternyata takut darah,” jawab Reigha.


“Bay, bay, gak berubah juga. Kirain waktu kecil aja takutnya, ternyata udah beristri pun masih takut darah,” balas Papa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah mengobrol, mereka pun segera makan malam karena Papa akan ke rumah sakit.


Saat udah selesai makan malam, Shafa baru ingat kalau budhe belum dikasih tau.


“Mas, Shafa baru ingat, kita ngabarin budhe lo, gimana ini?” tanya Shafa pada Reigha.

__ADS_1


“Tadi waktu Mas nungguin Anna di luar sama Mama, Mama udah telpon budhe kok, Sayang. Kamu tenang aja,” jawab Reigha.


“Alhamdulillah kalau gitu. Takut aja budhe kelupaan, Mas,” balas Shafa.


“Gha, Fa, papa ke rumah sakit dulu ya, kasian nanti mama keburu lapar,” ucap Papa.


“Eh, iya, Pa. Bentar ya, Pa ... Shafa ambilkan makanan untuk mama dan Bayu.” Shafa langsung menuju ke dapur dan mengambilkan makanan yang udah disiapkan Mbok Nah untuk Mama dan juga Bayu.


“Ini makanannya, Pa, salam buat Mama dan Anna ya, Pa,” ucap Shafa.


“Iya, Fa. Gha, papa berangkat dulu.”


“Hati-hati, Pa,” balas Reigha.


Papa pun segera meluncur ke rumah sakit. Sementara Reigha segera mengajak Shafa ke kamar untuk bermain bersama si kembar.


“Sayang, sini Daviana biar sama Mas,” ucap Reigha menggendong Daviana dibawanya ke atas ranjang.


Sementara Daviandra tengah tidur pulas di gendongan Shafa saat ini.


****


Papa tampak sampai di rumah sakit, papa segera menuju ke ruang rawat Anna.


“Assalamu’alaikum,” ucap Papa membuka pintu ruang rawat Anna.


“Wa’alaikumussalam ... loh, papa kok kesini?” balas Mama seraya bertanya.


“Iya, papa antar makanan nih untuk makan malam. Loh, Budhe, selamat ya budhe cucunya udah lahir,” kata Papa yang baru menyadari adanya budhe di dalam ruangan.


“Iya, Pak, selamat juga ... nambah lagi cucunya, laki-laki lagi,” sahut budhe seraya tersenyum.


“Mama ajak budhe dan Bayu makan dulu, nanti setelah makan kita pulang,” titah Papa.


“Loh, kok pulang sih, Pa ... Mama ‘kan nungguin Anna,” protes Mama.


“Udah, biar saya aja nanti yang jaga Anna, ibu pulang dulu. Pasti ibu capek ‘kan jaga Anna dari tadi,” balas budhe.


“Beneran budhe, gapapa kalau saya pulang dulu?” tanya Mama memastikan.


“Ya gapapa toh ... udah, gak perlu khawatir,” jawab Budhe.


“Bay, gimana keadaan kamu?” tanya Papa.


“Kok papa nanya keadaan Bayu? Kan yang melahirkan Anna, Pa,” bakas Bayu.


“Iya emang Anna yang lahiran, tapi kamu ‘kan pingsan.”


“Hmm ... pasti Papa ini diceritain Reigha kan, emang dasar Reigha tukang ngadu!” seru Bayu yang membuat semua tertawa.


Mereka pun segera makan malam. Setelah itu, mama dan papa pamit pulang.


“Na, Mama pulang dulu ya, besok pagi Mama kesini lagi gantian sama budhe,” ucap Mama berpamitan.


“Iya, Ma ... Mama istirahat ya, Ma, maaf ngrepotin Mama.”


“Kok ngrepotin sih, Na ... ya nggak lah, ‘kan kamu juga anak Mama,” balas Mama melempar senyuman pada Anna.


“Papa dan Mama pulang ya, Bay, jagain istri dan anak kamu, jangan pingsan lagi!” seru Papa meledek Bayu.

__ADS_1


“Papa kok jadi ikut-ikutan Reigha sih, Pa,” balas bayu sambil mengusap tengkuknya.


“Pa, Ma, hati-hati ya di jalan, udah malam,” lanjut Bayu.


“Iya, Bay ... budhe, saya dan suami saya pulang dulu ya, Assalamu’alaikum.” Mama dan Papa bersamaan keluar ruangan tak lupa menutup pintunya Dan bergegas segera keluar dari rumah sakit.


Saat Mama dan Papa keluar dari rumah sakit, mobil pun berjalan membelah jalanan yang tampak gelap.


Seketika Mama melihat Cantika yang hendak menyebrang dan Mama meminta Papa untuk menghentikan mobilnya.


Mama segera keluar mobil dan memanggil Cantika.


“Cantika ... Cantika,” panggil Mama.


Cantika pun berhenti dan menoleh, “Eh, Tante, ada apa?”


Mama memandangi Cantika yang kurus dan gak terawat.


“Kamu mau kemana Cantika?” tanya Mama.


“Apa tante masih peduli sama Cantika?” balas Cantika.


“Kenapa ngomong seperti itu, Cantika, tante pasti peduli sama kamu.”


“Kalau tante peduli, setidaknya tante bantu bebasin orang tua Cantika dong, Tan. Cantika sekarang hidup sendirian,” ucap Cantika lirih.


“Kalau masalah itu, tante gak bisa bantu, tante harus omongin ke anak tante dulu. Selain itu, kamu mau tante bantu apa? Bilang sama tante,” balas Mama.


“Cantika gak butuh apa-apa selain orang tua Cantika, perhatikan melangkah pergi meninggalkan Mama Dhiya.


Mama terdiam, Mama merasa kasian sama Cantika. Papa yang melihat Mama terdiam segera menghampirinya.


“Ma, ayo ... ini udah malam, kita pulang!” seru Papa sembari menarik lembut lengan Mama.


Mama pun menurut dan segera masuk mobil, saat di dalam mobil Mama terus memikirkan Cantika.


Papa yang mengetahui pun segera bertanya, “Kenapa, Ma? Masih mikirin Cantika?”


“Pa, bisa gak ya, kalau kita bebasin aja Andre dan Lucy?” balas Mama bertanya lirih pada Papa.


“Mama gak salah ngomong, Ma? Andre udah menyebabkan Reigha kecelakaan, dan Lucy akan menculik cucu laki-laki kita dan sampai mengakibatkan Bayu terluka. Mama mau bebasin gitu aja?” tanya Papa.


“Gimana ya, Pa. Mama cuma kasian sama Cantika yang hidup sendirian, Pa,” jawab Mama.


“Jangan Cuma memikirkan Cantika, Ma. Pikirin juga nasib anak dan cucu kita kalau mereka kita bebaskan. Kita gak akan bisa tenang kalau mereka bebas, pikirkan itu, Ma,” balas Papa.


Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai rumah.


Karena rumah sepi, Papa dan Mama langsung masuk kamar untuk istirahat.


Keesokan paginya, Mama udah bersiap untuk ke rumah sakit. Tapi sebelum itu, Mama mau melihat si kembar dulu. Mama menuju ke kamar Reigha.


Tok...Tok...Tok...


“Gha, Fa, buka pintunya!” seru Mama dari luar kamar.


Tak lama kemudian, Reigha membuka pintunya.


“Ma, pagi-pagi udah gedor-gedor pintu, ada apa sih, Ma?” tanya Reigha.

__ADS_1


__ADS_2