Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 3 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Iya, Sayang. Lah, trus kamu mau ke mana?” tanya Reigha.


“Ya nyiapin sarapanlah, Mas. Udah kesiangan ini,” jawab Shafa.


Reigha pun mengangguk dan segera ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Tak lama kemudian, Reigha udah duduk di meja makan dan Shafa menyiapkan sarapan untuk suaminya.


“Jadi kita Cuma berdua saja ini sarapannya, Mas?” tanya Shafa.


“Ya iya, Sayang, anak-anak ‘kan udah pergi,” jawab Reigha.


“Assalamu’alaikum,” ucap Daviandra masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumussalam, Alhamdulillah, Sayang, ayo sini sarapan bareng!” ajak Shafa.


“Mama kamu tuh, Ndra, dari mulai menikah sampai kalian udah besar. Belum pernah manggil papa sayang. Kalau kalian, tiap hari dipanggil sayang terus,” kata Reigha cemberut.


“Duh ... Papa, papa, udah tua juga masih bucin banget sama mama,” balas Daviana tertawa.


“Heh, jangan ngejek papa, kuwalat kamu nanti. Bisa-bisa nular ke kamu juga nanti,” ucap Reigha.


“Enggaklah, Pa, buktinya sampai sekarang belum ada yang bisa buat Andra jatuh cinta,” kata Daviandra.


“Itu karena kamu mewarisi sifat papa kamu, Ndra. Kalau di luar, kamu itu kaku kayak kanebo kering,” sambar Reza yang tiba-tiba masuk dan bersalaman sama papa Reigha dan mama Shafa.


“Lo itu datang bukannya salam malah ngatain gue kanebo kering,” celetuk Andra.


“Ya kan itu fakta,” sambar Reza tertawa.


“Udah-udah, ayo cepat sarapannya dihabiskan. Katanya mau ikut papa ke kantor,” kata Reigha.


“Nah iya, ini piringnya, Nak. Ayo ikut sarapan,” ajak Shafa.


“Terima kasih, mamaku sayang,” ucap Reza.


“Pa, lihat tuh si Reza, sayang-sayang sama mama,” kata Andra tertawa.


“Kamu daritadi ngejek papa aja ya, Ndra. Apa mau kamu papa doakan bucin kayak papa?” tanya Reigha.


“Enggak, Pa, ampun!” seru Andra dan semuanya tertawa.


“Pa, Ma, Andra ke kamar dulu ya, mau siap-siap. Za, tungguin gue,” ucap Andra dan segera berlari menuju ke kamarnya.


“Za, di kampus atau teman perempuannya gak ada yang tertarik sama Andra?” tanya Reigha pada Reza.


“Gimana mau tertarik, Pa, orang Andra itu kalau di luar senyum aja gak mau,” jawab Reza.


“Trus kalau kamu? Siapa cewek kamu? Kamu kan gak seperti kanebo kering,” sambar Shafa mengulum senyumnya.


“Aku belum mau pacaran, Ma, mau fokus kerja dulu,” balas Reza.

__ADS_1


“Bagus itu, papa setuju!” seru Reigha.


“Kalian ini sama aja. Pa, udah berangkat sana, udah siang,” titah Shafa.


“Iya, Sayang. Za, papa duluan ya,” ucap Reigha.


“Iya, Pa. Hati-hati ya, Pa,” balas Reza.


Shafa pun mengantar Reigha sampai di depan rumah. Setelah Reigha pergi, Shafa kembali masuk ke rumah. Saat di ruang tengah, nampak Daviandra dan Reza udah siap mau berangkat ke kantor.


“MasyaaAllah, putra-putra mama ini ganteng-ganteng banget sih,” ucap Shafa.


“Iya dong, Ma, siapa dulu papanya,” kata Daviandra.


“Papinya juga ganteng,” sambar Reza.


“Iya, bener, kalian berdua ini fotocopynya papa dan papi kalian. Yaudah gih, berangkat nanti kesiangan,” ucap Shafa.


Dan mereka pun berpamitan ke Shafa segera pergi naik motor, karena hari ini Andra dan Reza akan kerja menjadi OB terlebih dahulu, jadi Andra dan Reza berboncengan naik motor.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah berlantai dua seorang gadis cantik udah bersiap untuk pergi ke kampus.


Gadis itu udah memasuki semester lima di universitas terkenal program studi yang di ambil adalah kedokteran. Saat gadis itu hendak menutup pintu kamar, adiknya memanggil.


“Kak, tolong anterin sekalian ke sekolah ya,” kata sang adik.


“Ehmmm, baiklah masih ada waktu, ayo kita sarapan dulu!” seru gadis itu.


“Selamat pagi, Pa, Ma,” kata mereka serempak.


“Selamat pagi, Sayang, ayo segera sarapan,” ajak Zhafira.


“Iya, Ma,” kata mereka lagi.


“Chayra, gimana kuliahnya?” tanya Afkar.


Ya gadis itu adalah Chayra Nadhifa Muwaffaq anak pertama dari Afkar, bapak penghulu sahabatnya Reigha.


“Alhamdulillah lancar, Pa,” kata Chayra.


“Dek, ayo cepetan. Nanti kakak terlambat,” ucap Chayra.


“Iya, Kak,” balas Adrian Pradipta Muwaffaq anak kedua Afkar.


Setelah mereka sarapan, Afkar pun pamit berangkat dulu, tak lama kemudian kedua anaknya pun pamit berangkat sekolah dan kuliah. Tinggallah sekarang Zhafira sendiri di rumah.


Saat semua pergi, Zhafira memulai kerjaannya, Zhafira membuka butik di rumahnya, dan alhamdulillah udah banyak juga pelanggan.


Setelah melahirkan anak keduanya, Zhafira memulai kursus menjahit dan setelah lulus Zhafira membuka butik hingga sekarang.


Di kantor, Daviandra dan Reza udah sampai di kantor, Daviandra dan Reza yang memakai penyamaran agar tidak dikenali oleh karyawan kantor lainnya pun segera menuju HRD.

__ADS_1


Tok...Tok...Tok...


“Masuk!” sahut bagian HRD.


Andra dan reza pun masuk.


“Oh, silakan masuk! Mas Andra dan mas Reza mari mari silakan duduk,” ucap Pak Samsul.


“Udah gak perlu lama-lama, Pak, silahkan bapak antar aja kami ke kepala OB dan ingat jaga rahasia ini. Yang tau hanya anda, papa, papi dan om dani,” kata Daviandra.


“Baiklah, Mas, saya mengerti. Mari saya antar,” ajak pak Samsul.


Dan mereka pun keluar menuju ke ruangan khusus OB.


“Bu Maya!” panggil pak Samsul kepala OB.


“Ini ada karyawan baru, ajari mereka dan perlakuan dengan baik. Ini rekomendasi langsung dari pak Reigha dan pak Bayu,” kata pak Samsul.


“Baiklah, Pak, saya mengerti,” kata Bu Maya.


“Baiklah kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya dulu. Mari,” ucap pak Samsul.


“Iya, Pak, terima kasih banyak,” balas Reza.


Setelah pak Samsul pergi, bu Maya pun segera menghampiri Andra dan Reza.


“Emangnya, kalian siapanya pak Reigha dan pak Bayu?” tanya bu Maya sinis.


“Kami ini anak tukang kebunnya beliau, Bu,” jawab Andra.


“Oh ... hanya anak tukang kebun ternyata,” kata bu Maya memandang remeh.


“Ayo saya tunjukan dimana tempat kalian bekerja,” lanjut bu Maya.


Mereka pun dibawa ke kamar mandi karyawan yang sangat kotor.


“Nah, kalian berdua bersihkan tempat ini sekarang!” perintah bu Maya.


“Hanya kami berdua? Yang benar aja, sampai sore pun gak akan selesai ini,” protes Reza.


“Hust, udah-udah ... ini kan hari pertama kita kerja, jangan mengeluh, terima aja apapun pekerjaan kita,” kata Daviandra.


“Tapi ini kan,” lirih Reza yang tiba-tiba dipotong pembicaraannya sama bu Maya.


“Kalau kamu gak mau, kamu boleh keluar dari kerjaan ini, kalau kamu gak kenal sama pak Reigha dan pak Bayu, gak mungkin kamu bisa kerja di kantor sebesar ini,” kata bu Maya.


“Maafkan saudara saya, Bu, kami akan kerjakan sekarang,” balas Daviandra.


“Oke, setelah selesai, kamu baru boleh istirahat, saya mau ke ruangan saya dulu,” ucap bu Maya.


Saat bu Maya berbalik, bu Maya melihat Dani sedang memperhatikannya.

__ADS_1


“Oh, jadi seperti ini cara kamu mengajari anak baru?” tanya Dani.


__ADS_2