
Sampai di luar kamar, Anna celingukan tampak mencari seseorang.
“Loh, Fa ... abang pulang ya?” tanya Anna.
“Bayu sedang membantu mas Reigha menyiapkan keperluan kami, Na,” jawab Shafa.
“Owh, yaudah gue pulang dulu sebentar ya ... tolong bilang ke abang,” balas Anna.
“Iya, Na ... takut banget lo kalau Bayu hilang ya,” kata Shafa dan ditanggai dengan senyuman oleh Anna.
Anna pun segera meninggalkan rumah Reigha, Anna segera memasak untuk makan malam dan menunggu kepulangan putrinya.
Sambil menunggu, Anna mendengar ada telpon masuk.
Drrtttt...Drrttt...Drrtt...
“Eh, Reza telpon,” lirih Anna segera menerima panggilan.
“Assalamu’alaikum, Nak,” kata Anna.
“Wa’alaikumussalam, Mi ... mami apa kabar?” tanya Reza.
“Alhamdulillah baik ... tumben telpon anak mami nih, mau pulang, Sayang?” jawab Anna yang bertanya kembali.
“InsyaaAllah, Mi ... liburan minggu depan Reza pulang. Mami mau nitip apa? Sekalian tolong tanyakan ke mama, Almeera, Vilia dan Nai juga, Ma,” kata Reza.
“Nanti mami tanyakan ke Vilia dan Almeera, kalau Shafa dan Nai dia mau pergi untuk waktu yang mungkin lama, mungkin kamu pulang gak ketemu sama mereka, Nak,” ucap Anna.
“Pergi ke mana, Mi? Kok lama? Sama suami Nai juga?” tanya Reza.
Anna pun menceritakan semuanya ke Reza, Reza yang mendengar pun jadi sedih dan khawatir.
“Ma, kapan mereka berangkat?” tanya Reza setelahnya.
“Kalau gak salah, besok pagi mereka berangkat, Nak ... Kamu telpon aja sendiri ke papa, kalau mama sepertinya belum bisa ditelpon karena Nai hanya mau ditemani sama mama dan mami,” jawab Anna.
“Yaudah ya, Ma, Reza mau nelpon papa dulu. Assalamu’alaikum, Mami,” kata Reza.
Dan tanpa mendengar balasan salam dari Anna, Reza udah menutup telponnya.
“Anak ini, mamimya belum selesai ngomong udah main tutup aja,” gerutu Anna.
Sementara itu di tempat Reza, setelah dia mendengar berita itu, Reza langsung khawatir.
“Aduh gimana ini, kalau gue pulang ... waktunya gak akan cukup kalau mereka berangkat pagi,” monolog Reza.
“Coba gue telpon papa aja, siapa tau papa kasih jalan,” kata Reza.
“Nai ... kamu harus sembuh ya. Aku akan ganti kesedihanmu dengan kebahagiaan yang berlimpah,” lanjut Reza dan segera menelpon Reigha.
Drrttt....Drrtttt...Drrtttt...
“Assalamu’alaikum, Pa ... apa kabar?” tanya Reza.
“Wa’alaikumussalam, Za ... ada apa nih? Pasti udah dengar kabar Naima ya?” balas Reigha.
__ADS_1
“I—iya, Pa ... gimana, Pa? Mama dan Nai mau ke mana?” tanya Reza kembali.
“Tenang aja, Za ... Nai mau ke tempat kamu kok. Kamu bisa ‘kan bantu Nai hilangin traumanya,” jawab Reigha.
“Syukurlah, Pa ... tadi rencananya Reza akan pulang. Tapi ... kalau mama dan Nai ke sini, Reza akan jemput di bandara. Yaa dan pastinya Reza akan bantu, Pa,” ucap Reza.
“Iya, Nak ... besok jam berapa berangkatnya papa kabari. Papi kamu dan om Dani lagi mengurus semuanya,” kata Reigha.
“Iya, Pa ... papa gak perlu khawatir ya, Pa. Reza pastikan setelah ini papa akan hanya melihat Nai tertawa, Reza pastikan itu,” ucap Reza.
“Iya, Nak, papa percaya sama kamu,” balas Reigha.
Setelah percakapan terakhir dan memberi salam, mereka pun mengakhiri telponnya.
Setelah menelpon Reigha, Reza jadi lebih bersemangat karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Daviana.
“Nai, aku gak akan lagi melepaskan kamu, aku akan memperjuangkan kamu,” kata Reza.
Sementara di rumah Reigha, Nai masih tertidur. Shafa keluar dari kamar Daviana menemui suaminya.
“Mas, nanti kamu sesekali nengokin kami ya, aku juga butuh kamu, Mas,” kata Shafa.
“Pasti dong, Sayang, mana bisa aku jauh-jauh lama dari kamu,” ucap Reigha.
“Kita sama-sama menghadapi masalah ini ya, Sayang, semoga Nai cepat sembuh dan ceria lagi,” kata Reigha.
“Aamiin ... iya, Mas,” balas Shafa sembari tersenyum.
“Oh iya, Mas ... aku belum masak untuk makan malam,” ucap Shafa.
“Gapapa, Mas ... kamu kan gak suka makanan beli,” ucap Shafa.
“Sesekali gapapa, Sayang,” kata Reigha.
“Baiklah, Mas ... terima kasih ya, Mas,” ucap Shafa memeluk Reigha.
“Ehm...ehmm,” dehem Anna.
“Udah-udah pelukannya, ini gue antar makan malam untuk kita, nanti kita makan malam di sini aja bareng,” ucap Anna.
“Wahhh ... makasih ya, Na, kamu tau aja kalau aku belum masak,” lirih Shafa.
“Ya tau lah ... gak mungkin kamu bisa masak, Fa. Nai butuh kamu di sampingnya,” ucap Anna.
“Kak, abang ke mana?” tanya Anna pada Reigha.
“Dia lagi sama Dani ngurus kepergian Shafa dan Naima,” jawab Reigha.
“Owh, iya, Kak.” Anna pun berjalan ke dapur menyiapkan makan malamnya.
Saat Shafa akan ke dapur, terdengar Nai kembali histeris. Shafa segera berlari menuju ke kamar Daviana.
“Iya, Nak ... mama di sini, Sayang, mama tadi nyiapin makan malam kok gak pergi,” ucap Shafa.
“Ma, mama ... Nai takut, Ma,” lirih Daviana.
__ADS_1
“Jangan takut, Sayang, di sini aman. Mama akan terus ada di dekat Nai,” kata Shafa sambil memeluk Nai.
Tak lama kemudian ... Anna datang membawakan makan malam untuk Daviana.
“Nak, ini mami bawakan makan malam, mau mami suapin atau mama yang nyuapin?” tanya Anna.
“Nai makan sendiri aja, Mi,” jawab Daviana.
Saat Anna memberikan piring ke Daviana, Anna melihat kalau tangan Daviana gemeteran.
“Fa, kamu suapin aja Naima, lihat itu tangannya gemetar,” ucap Anna.
“Sini, Nak, biar mama suapin,” ucap Shafa.
Shafa pun menyuapi Daviana, sedang Anna duduk di dekat Daviana. Setelah selesai makan, Anna memberikan obat dan setelah meminumnya tak lama kemudian Daviana pun tertidur.
Setelah Daviana tidur, Shafa dan Anna segera keluar dan mereka pun segera makan malam bersama.
Saat makan malam, Vilia yang tidak bertemu kakaknya pun bertanya.
“Ma, Pa, dari pagi kok Vilia gak ketemu kak Nai?” tanya Vilia.
“Kakak kamu lagi sakit, Nak, lagi tidur di kamar,” jawab Reigha.
“Owh ... pantes, Vilia gak lihat dari pagi, maaf semua ... Vilia ke kamar dulu ya ada tugas,” balas Vilia.
Dan setelah mendapat anggukan dari semua, Vilia pun pergi ke kamarnya.
Setelah Vilia pergi, mereka pun berpindah di ruang keluarga.
“Bay, gimana? sdh siap semua?” tanya Reigha.
“Udah, Gha, besok jam sepuluh pagi, Shafa dan Nai berangkat. Untuk tempat tinggal pun udah gue pilihkan di tempat yang nyaman dan gak terlalu ramai,” jawab Bayu.
“Thanks ya, Bay,” balas Reigha.
“Lo itu kayak sama siapa aja,” ucap Bayu.
“Na, selama gue pergi, titip bantu mas Reigha jaga anak-anak ya, mas Reigha pasti akan sibuk di kantor,” kata Shafa.
“Tenang aja, Fa, gue dan abang selama lo pergi, akan pindah di sini kok sementara waktu,” ucap Anna.
“Alhamdulillah ... makasih ya, Na,” balas Shafa.
“Pa, nanti Andra sesekali boleh kan main ke sana?” tanya Daviandra.
“Nanti kita bergantian nengokin mama dan Nai,” jawab Reigha.
“Yaudah kalau gitu kita istirahat ya, hari ini sangat menguras tenaga dan pikiran,” ucap Reigha.
Dan setelah mengiyakan, mereka pun segera beristirahat.
Sesampainya di kamar, Daviandra pun dapat telpon dari Reza.
Drrrttt...Drrttt...Drrtttt...
__ADS_1