
“Oh ... baiklah. Maaf, Bu Anna kalau boleh saya tau. Kalian mau ngajak anak saya ke mana? Dan, Bu Anna mau ngapain anak saya?” tanya Pak Rudi sebelum melepaskan putrinya pergi ke luar rumah.
“Saya gak akan ngapa-ngapain anak pak Rudi, saya hanya ingin menjadi temannya dan mengalihkan perhatian Santi ke Kak Reigha. Kasihan istrinya, gara-gara Kak Reigha gak ada kabar, sampai dirawat di rumah sakit selama ini, Pak,” jawab Anna.
“Oh ... iya, Bu. Saya minta maaf atas kejadian ini,” balas pak Rudi.
Santi keluar udah siap dengan dirinya untuk pergi bersama Anna dan juga Dani. Mereka bertiga pun masuk mobil dan segera meninggalkan rumah itu.
Di rumah sakit, Mama Dhiya dan Papa Harun udah pulang, tinggal mereka berdua saja di rumah sakit.
“Mas, Mas Reigha kenapa? Dari datang tadi gak ngelepasin tangan Shafa?” tanya Shafa yang heran dengan suaminya.
“Gapapa kok, Sayang. Mas minta maaf ya ... Mas udah ninggalin kamu sangat lama,” balas Reigha sambil menitikan air mata.
“Iya, Mas. Walau pun Shafa kesal banget sama Mas, tapi Shafa udah gapapa kok sekarang. ‘Kan Mas juga udah di sini. Mas gak akan pergi lagi ‘kan?”
“Enggak, Sayang, Mas akan menemani kamu di sini sampai kamu sembuh,” jawab Reigha.
“Sekarang istirahat ya, Mas akan nungguin kamu,” lanjut Reigha lagi sambil mengusap perut Shafa.
Shafa pun segera tertidur dengan tangan Reigha yang masih setia menggenggam.
Di rumah, Mama, Papa, dan Bayu sedang berkumpul. Bayu menceritakan apa yang sedang terjadi sama sejak di Surabaya hingga saat ini.
“Jadi gitu, Ma, Pa,” ucap Bayu setelah menyelesaikan ceritanya.
“Ya Allah, kasianlah Reigha dan Shafa, baru saja mereka mendapat kabar baik kehamilan Shafa. Sekarang, harus menghadapi masalah seperti ini,” lirih Mama Dhiya.
“Trus, gimana selanjutnya, Bay?” tanya Papa Harun.
“Sementara ini Bayu menyuruh Anna untuk mengalihkan perhatian Santi ke Reigha, Pa,” jawab Bayu.
“Apa itu tidak membahayakan Anna, Bay?” tanya Mama Dhiya.
“Iya, Bay, masalahnya kita ini berhadapan sama wanita depresi,” imbuh Papa Harun.
“Itulah, Pa. Reigha aja sampai gak bisa berbuat apa-apa karena salah sedikit saja, wanita itu bisa nekat dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” lanjut Mama Dhiya.
“Anna di sana dijaga sama Dani kok, Ma, Pa. Istri Bayu di sana gak sendiri,” balas Bayu yang membuat Mama dan Papa serempak manggut-manggut.
****
Seminggu setelah kepulangan Reigha, kesehatan Shafa dan calon bayinya membaik, dan selama Shafa dirawat di rumah sakit sampai sekarang udah di rumah Reigha sebagai suaminya tidak pernah meninggalkan Shafa, bahkan untuk kerjaan Reigha bawa ke rumah, untuk menembus kesalahannya pada Shafa dan anak-anaknya.
Selama seminggu pula, Reigha tidak pernah melihat atau menjenguk bagaimana keadaan Santi, di Jakarta dia selalu bersama Shafa di rumah sakit. Tidak memikirkan wanita depresi itu.
Siang itu, Reigha sedang merebahkan diri di samping Shafa yang tengah tidur. Tiba-tiba Shafa terbangun dan melihat Reigha.
“Kenapa bangun, hmm?” tanya Reigha.
“Gapapa kok, Mas. Oh iya, Mas, kamu gak ke kantor? Kan Shafa udah di rumah,” jawab Shafa seraya bertanya pada Reigha.
__ADS_1
“Enggak, Sayang. Mas maunya nemenin kamu dan anak-anak aja.”
“Sayang, kamu di sini dulu, ya. Mas pengen keluar cari sesuatu,” lanjut Reigha yang ternyata sejak tadi menahan keinginannya.
“Mau cari apasih, Mas?” tanya Shafa.
“Mas mau ke rumah tetangga sebelah, mau minta mangga. Mas lagi pengen mangga muda, Sayang,” jawab Reigha.
“Hah? Asam loh, Mas. Yakin?” balas Shafa menatap heran pada suaminya itu.
“Yakin, Sayang.” Reigha segera turun dari kasur dan melangkah keluar kamar.
“Mas!” panggil Shafa.
“Shafa ikut dong, Mas. Mau keluar juga, bosan di kamar,” lanjut Shafa.
Tanpa menunggu lama, Reigha mengangkat tubuh Shafa. Menggendong istrinya keluar kamar dan didudukkan di sofa ruang tamu.
Kemudian, Reigha melangkah menuju dapur ternyata ada Mama dan Mbok Nah di sana.
“Ma, Mbok, titip Shafa bentar, ya. Shafa ada di ruang tamu,” ucap Reigha.
“Iya, Gha. Tapi kamu mau ke mana?” tanya Mama Dhiya yang ternyata Reigha sudah pergi menghilang dari pandangannya.
Mama dan Mbok Nah langsung menuju ruang tamu menemani Shafa.
“Fa, Reigha ke mana?” tanya Mama Dhiya setelah duduk di samping Shafa.
Tak lama, Reigha membawa lima buah mangga di tangannya.
“Ma, Papa mana, Ma?” tanya Reigha.
“Di ruang kerja, Gha,” jawab Mama Dhiya.
Reigha segera mengambil pisau dan dibawanya ke ruang tamu. Kemudian Reigha berlari kecil menuju ruang kerja Papa.
“Pa, Papa tolongin Reigha bentar dong, Pa,” ujar Reigha membuat Papa Harun mau tidak mau langsung keluar ruangan dan mengikuti langkah Reigha yang membawanya ke ruang tamu.
“Ngapain sih, Gha?” tanya Papa Harun.
“Pa, Reigha pengen makan mangga muda,” jawab Reigha.
“Trus kenapa, Gha? Apa hubungannya sama Papa?” balas Papa Harun bertanya pada Papa Harun.
“Reigha pengennya Papa yang kupasin mangga ini, Pa,” jawab Reigha membuat Mama Dhiya tertawa.
“Hahaha, kamu kayak orang ngidam aja deh, Gha. Ayo, Pa. Turutin anak manja Papa tuh, Pa,” ucap Mama Dhiya.
“Gha, kan di sini ada Mama, Shafa, dan Mbok Nah. Kenapa harus Papa?” tanya Papa Harun.
“Pa, tapi Reigha maunya Papa yang kupasin, Pa,” balas Reigha.
__ADS_1
Papa Harun segera mengambil pisau dan mengupas mangga, kemudian meletakkannya di atas piring yang udah disediakan Reigha.
Melihat hal tersebut, Reigha segera duduk di samping Shafa dan mulai melihat satu per satu mangga yang udah dipotong oleh Papa Harun.
Hanya beberapa suapan, belum habis satu mangga, kemudian Reigha kembali mengeluarkan suara, “Pa, Reigha udah.”
“Satu aja gak habis. Kenapa kamu bawa lima mangga ke rumah, Gha?” tanya Mama Dhiya.
“Gapapa, Ma. Buat stok.” Reigha segera memasukkan mangga-mangga itu ke dalam kulkas. Kemudian Reigha merogoh kantongnya mengambil ponsel.
“Bay, tolong pulang sekarang, Bay!” seru Reigha.
Semua masih berkumpul di ruang tamu, melihat sikap aneh Reigha yang meminta mangga muda dan meminta Papanya yang mengupasnya.
Tak lama, yang ditunggu pun tiba. Bayu masuk ke dalam rumah dan melihat semua berkumpul di ruang tamu.
“Kenapa lo nyuruh gue balik, Gha? Gue lagi ada kerjaan. Bentar lagi gue ada meeting, Gha,” ucap Bayu.
“Gue mau lihat lo habiskan mangga di piring ini, Bay,” jawab Reigha membuat Bayu kaget sekaligus kesal.
“Cuma makan mangga, Gha? Gue ada meeting penting, Gha. Ya Allah. Kan bisa nanti, Gha!” seru Bayu tak habis pikir dengan Reigha.
“Gue maunya lihatin lo makan mangga ini sekarang Bay,” balas Reigha membuat semua tertawa serempak.
Bayu pun bergegas mendekati piring yang berisi mangga dan mengambil satu potongan mangga.
“Heh, asam banget!” celetuk Bayu bergegas lari ke dapur mengambil air minum.
“Lo mau nyiksa gue, Gha?” tanya Bayu.
“Gak, Bay. Gue mau lihat lo makan ini doang,” jawab Reigha.
“Sampai habis baru lo boleh ke kantor,” lanjut Reigha.
“Mas, kasihan tau Bayu. Kan mau meeting, Mas,” titah Shafa membuat Bayu sedikit lega.
“Gak bisa, Sayang. Ayo makan buruan, Bay,” balas Reigha kembali membuat Bayu kesal.
Bayu pun segera makan satu suap minum satu gelas, dan seterusnya hingga habis dan membuat perut Bayu kembung kebanyakan minum.
“Makasih makan siangnya, Gha. Gue harus ke kantor sekarang. Awas lo nanti ya, Gha!” seru Bayu segera berlari keluar rumah agar Reigha tak menyuruhnya yang aneh-aneh lagi.
Setelah Bayu pergi, Reigha merasa heran dengan dirinya sendiri dan bertanya pada Shafa.
“Sayang, kamu gak pengen sesuatu kayak orang ngidam gitu?” tanya Reigha.
“Gak tuh, Mas. Shafa gak pengen sesuatu. Kenapa, Mas?” balas Shafa.
“Kayaknya, Mas lagi pengen ... ”
Sebelum Reigha melanjutkan ucapannya, Mama Papa dan juga Mbok Nah segera pergi dari ruang tamu, tidak mau terkena sasaran dengan keinginan aneh dari Reigha.
__ADS_1