Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 22 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Bay ... Bayu!” panggil Reigha saat melihat Bayu meninggalkannya sendirian.


Bayu tampak tersenyum dan berbalik seraya bertanya, “Kenapa, Gha?”


“Iya, gue mau makan,” ucap Reigha.


Bayu pun tak mau Reigha berubah pikiran, langsung mendorong kursi roda Reigha menuju meja makan.


Mama Dhiya kaget saat melihat Reigha yang dibawa oleh Bayu. Sedetik kemudian, Mama tersenyum karena tau kalau Bayu berhasil membujuk Reigha untuk makan. Setidaknya, Reigha dapat minum obat malam ini, karena obat tadi siang tidak diminum oleh Reigha, hanya pagi saja saat bersama Shafa.


“Gha, Mama suapin, ya?” tanya Mama.


“Iya, Ma,” jawab Reigha membuat Mama Dhiya tersenyum dan segera mengambilkan makanan untuk Reigha.


“Jangan banyak-banyak, Ma. Reigha lagi gak selera makan. Ini makan cuma untuk minum obat aja,” ucap Reigha membuat Mama mengangguk paham.


Mama pun menyuapi Reigha sedikit demi sedikit. Kemudian, memberikan obat untuk Reigha. Setelah selesai, Mama Dhiya menyuruh Reigha istirahat.


Bayu menemani Reigha di kamar. Sementara Anna beristirahat di kamar tamu agar dia bisa kembali mencari Shafa keesokan harinya.


****


Ditengah malam ini, Shafa tengah diikat disebuah kursi oleh Rendra. Ucapan Rendra yang katanya tak ingin menyakiti Shafa hanyalah sebuah ucapan belaka. Rendra termasuk laki-laki yang bisanya hanya omong doang.


Shafa meneteskan air matanya, dia sendirian di ruangan ini dengan keadaan yang begitu gelap. Rendra entah pergi kemana, tapi hal itu membuat Shafa lebih tenang. Shafa lebih nyaman dengan kesendiriannya daripada bersama Rendra. Sangking takutnya Shafa, sampai-sampai dirinya tak terasa lapar walau sejak siang dia belum makan.


Pikiran Shafa melayang mengingat Reigha. Bagaimana keadaannya, sudah makan atau belum, obatnya sudah diminum atau belum, pikir Shafa. Yang Shafa bisa saat ini adalah melangitkan keinginan-keinginannya, agar keluar dari tempat ini dan kembali bersama suaminya.


Hingga keesokan harinya, Shafa terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang masuk ke dalam ruangannya.


“Shafa!” seru Rendra.


Shafa yang tau suara Rendra pun langsung kaget dan berusaha bersikap baik-baik saja.

__ADS_1


Rendra pun mendekat pada Shafa, membuka perlahan ikatan yang semalaman mengikat Shafa pada kursi. Kemudian, memberikan sebungkus makanan pada Shafa dan juga sebotol air minum.


Melihat Rendra yang telah membuka ikatan yang membuat Shafa kesulitan bergerak, Shafa pun memberanikan bertanya pada Rendra.


“Ren, setelah makan. Lo mau bawa gue balik ke rumah suami gue ‘kan?” tanya Shafa yang mendapat gelengan dari Rendra.


Rendra tampak keluar meninggalkan Shafa. Tetapi, tak semudah itu Rendra membuat Shafa bebas dari pergerakannya. Ada dua orang suruh Rendra yang menjaga Shafa saat ini dengan tatapan tajamnya itu.


Sementara Bayu dan Anna, kini tengah bersiap untuk bergegas meluncur mencari keberadaan Shafa. Sebelum keduanya berangkat, Bayu terlebih dahulu mengecek GPS dan tepat sekali, Shafa masih berada pada hotel kosong.


“Bang, kita kayaknya harus cek ke rumah sakit dulu deh. Setidaknya kita temui kepala perawat di rumah sakit itu, menanyakan keberadaan Rendra. Gimana?” saran Anna saat keduanya tengah berada di dalam mobil.


“Oh iya. Boleh, lagian Shafa belum pindah nih GPS lokasinya,” balas Bayu.


Bayu pun mulai mengendarai mobil dengan pikirannya hanya teringat dengan ucapan Reigha yang menaruh harapan penuh pada Bayu. Karena, pagi ini Reigha tak bersemangat untuk sembuh. Bahkan, sampai saat ini Reigha masih belum keluar dari kamarnya.


Sesampainya keduanya di rumah sakit, Anna dan Bayu pun segera mencari dimana keberadaan suster Ratna yang ternyata tengah berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ada problem di rumahnya hingga membuat suster Ratna terlambat hari ini. Dengan keterpaksaan, Bayu dan Anna pun menunggu suster Ratna.


“Emm ... begini, Sus. Saya mau tanya, Rendra dimana, ya?” tanya Anna.


“Rendra sudah lama resign dari rumah sakit ini. Katanya, mau ada bisnis baru,” jawab suster Ratna.


“Hah?! Resign? Tapi, kemarin dia kesini loh, Sus,” balas Anna kaget.


“Kemarin dia mengurus berkas-berkasnya yang tertinggal.”


“Sekarang suster tau gak dia dimana?” tanya Bayu.


“Wah, kalau soal itu ... kami tidak ikut campur lagi, Pak,” jawab suster Ratna.


Anna dan Bayu pun berterima kasih dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit. Bayu kembali melajukan mobilnya menuju tempat dimana GPS Shafa berada.


“Bang, gue gak habis pikir. Itu tempat jauh banget. Ngapain dah Rendra bawa jauh-jauh. Apasih maunya dia!” seru Anna dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


“Ya ... manalah gue tau. Coba lo telpon dia,” ucap Bayu mendapat pukulan dari Anna.


“Tau gue males hubungan sama dia lagi, malah lo suruh gue telpon dia!” protes Anna pada Bayu.


Bayu dan Anna pun kini dalam perjalanan menuju hotel kosong tersebut. Dengan perasaan khawatir, karena jauhnya jarak menuju ke sana dengan melewati hutan yang cukup sepi.


****


Sore ini, Bayu dan Anna telah sampai di depan gerbang hotel kosong yang cukup besar hingga membuat Anna bergidik ngeri melihatnya.


“Bang, lo lihat keadaan di sini ‘kan? Ini gak semudah yang gue bayangin. Lo sekarang harus hubungi polisi buat bantu kita, Bang!” seru Anna membuat Bayu melajukan mobilnya kembali. Setidaknya, dua atau tiga meter jarak dari gerbang hotel tersebut.


Bayu pun menghubungi polisi dan meminta beberapa orang dari tim polisi untuk membantunya dalam hal ini. Syukurlah teman Bayu ada yang dari kepolisian, setidaknya dapat mempercepat konfirmasi dari pihak kepolisian.


“Gue dan tim segera meluncur!” seru Andara, polisi teman Bayu.


“Tapi, gue minta lo pakai mobil biasa. Jangan pakai mobil polisi, ya. Karena, bisa buat dia kabur,” ucap Bayu yang membuat Andara paham.


Bayu dan Anna menunggu polisi tiba hanya di dalam mobil saja tanpa berani keluar.


Sementara Shafa yang berada di dalam, kini tak kuasa menahan air matanya saat mendengar Rendra akan membawanya besok pagi ke luar negeri. Rendra kini semakin gila terhadap Shafa. Tak main-main keinginannya membawa Shafa bersamanya hingga ke luar negeri.


“Kita ke bandara besok pagi. Pesawat kita sekitar pukul 11.00 lo harus ikut gue, Fa!” seru Rendra membuat Shafa semakin takut untuk pergi jauh dari Reigha.


Malam pun tiba disertai tibanya mobil tim polisi tepat terparkir di depan mobil Bayu. Mereka pun berkomunikasi hanya bisa lewat ponsel, tidak bertemu langsung.


Bayu kembali memastikan, mengecek GPS Shafa dan ternyata memang masih di dalam hotel kosong tersebut.


Bayu dan Andara mencoba masuk ke dalam hotel saat tengah malam. Cukup banyak pintu di hotel tersebut hingga membuat Bayu dan Andara kesusahan menemukan Shafa.


Bayu dan Anna dengan tekatnya, tak ingin pulang malam ini, hanya untuk mencari Shafa. Anna ditemani polisi wanita di dalam mobil Bayu sembari menunggu Andara dan Bayu yang mencari informasi di dalam hotel kosong tersebut.


“Ya, kalian harus mempersiapkan semuanya untuk besok. Segera gue bawa dia pergi jauh dari sini. Kalian harus siap untuk ikut bersama ku mengawasi Shafa!” seru seseorang yang membuat Bayu dan Andara saling tatap.

__ADS_1


__ADS_2