
“Serius, Gha? Kok lo tau?” tanya Bayu.
“Waktu gue di Singapore, Anna telpon sama Shafa. Tak nunggu lama, gue langsung nyuruh orang selidiki Ivanka,” jawab Reigha.
“Tapi, siapa ya teman gue satu SMA yang namanya Ivanka, setau gue gak ada yang namanya Ivanka.” Bayu tampak mengingat-ingat kembali.
“Bay, siapapun dia lo harus cepat selesaikan masalah ini. Ingat, bulan depan, Papa dan Mama pergi. Jadi, lo harus segera selesaikan secepatnya!” seru Reigha.
Bayu menopang kepalanya dengan kedua tangannya, “Menurut lo, gue harus ngapain?” tanya Bayu.
“Gini aja, proyek kerja sama kita kan lo yang nangani. Sekarang lo serahkan ke gue aja, kalau dia nolak, berarti dia kerja sama ke kita ada maksud dan tujuan tertentu,” jawab Reigha memberi saran.
“Oh ... oke. Boleh juga. Kalau gitu, lo suruh Puspa telpon sekretaris Ivanka aja, minta pertemuan sama Ivanka,” ucap Bayu.
“Hmm ... oke, no problem,” balas Reigha.
Reigha pun segera menelepon Puspa untuk mengatur pertemuan dengan Ivanka dari PT. MAKMUR SENTOSA. Setelah menelepon, Reigha pun kembali mengobrol sama bayu.
“Masalah Ivanka udah, tinggal nunggu puspa kasih kabar aja. Sekarang, masalah tante Lucy,” ujar Reigha.
“Gha, sebenarnya dia nyari apa sih di ruangan kerja lo?” tanya Bayu.
“Gue curiga dia nyari dokumen perusahaan ini. Pasti mau dipindah tangan sama tante Lucy,” jawab Reigha menduga.
“Bahaya tuh. Tapi, dia gak bisa berbuat apa-apa. Ruang kerja udah gue kunci sebelum Cantika masuk.”
“Iya, Bay. Tapi, tetap, kita jangan sampai lengah!” seru Reigha.
Suara ketukan pun terdengar, Puspa segera membuka pintunya setelah mendapat sahutan dari Reigha.
“Pak Reigha, Ibu Ivanka bisa bertemu waktu makan siang pada siang ini,” ucap Puspa memberitahu.
“Baiklah, udah ditentukan di restoran mana?” balas Reigha bertanya pada Puspa.
“Di Restoran Garden Gemilang, Pak.”
“Oh ... baik, terima kasih.” Melihat Reigha yang tak ada pertanyaan lagi, Puspa pun kembali pada meja kerjanya.
“Bay, gimana lo ... udah siap?”
“Udah, Gha. Kita pergi berdua kan?” tanya Bayu memastikan.
“Iyalah pasti. Lo dan gue aja, Anna suruh jagain ruangan lo dan ruangan gue,” jawab Reigha.
“Baiklah, gue ke ruangan bentar ya, nemuin Anna,” ujar Bayu sebelum berangkat bersama Reigha.
__ADS_1
“Oke, gue tunggu di bawah.”
Bayu pun segera ke meja kerja Anna, memberitahu Anna kalau mau ketemuan sama Ivanka bersama Reigha. Dan, meminta tolong pada Anna menjaga ruangan Reigha dan juga ruangannya dibantu oleh Puspa nantinya. Bayu berjaga saja, jika tiba-tiba tante Lucy ke kantor.
Setelah memberitahu Anna, Bayu pun segera menyusul Reigha ke bawah.
Di tempat lain, tante Lucy bertanya pada Cantika, “Gimana tadi, Sayang ... kamu udah dapatkan dokumennya?” tanya tante Lucy.
“Belum, Ma. Tadi istri Reigha menghalangi dan Bayu juga tiba-tiba pulang ke rumah langsung kunci semua ruangan. Sebel tau, Ma!” seru Cantika.
“Sial, ngapain deh itu si Bayu tiba-tiba pulang,” balas tante Lucy.
“Ma, gimana kalau kita langsung ke kantornya aja?” ucap Cantika memberi saran.
“Gak bisa, kita udah gak bisa masuk dengan bebas di sana,” balas tante Lucy.
“Yaudah, makan siang aja dulu, nanti kita pikirkan lagi,” lanjut tante Lucy yang diangguki oleh Cantika.
Sementara di tempat lain, Shafa dan juga Mama Dhiya udah sampai di kedai nasi goreng Ayah Reynand.
Mama Dhiya dan Shafa segera turun dari mobil dan langsung menemui kedua orang tua Shafa.
Ibu Khalisa yang tau ada besannya datang, langsung menghampiri.
“Wah wah ... alhamdulillah ada besan datang tuh, Yah,” ucap Ibu Khalisa menyalami Mama Dhiya.
“Alhamdulillah baik, Bu,” jawab Ibu Khalisa.
“Maaf nih, kalau tiba-tiba kesini gak ngabari dulu,” ucap Mama Dhiya.
“Gapapa, Bu. Mari sini duduk dulu saya buatkan teh, ya,” balas Ibu Khalisa tampak begitu senang melihat anak dan besannya yang datang.
“Gak usah repot-repot, Bu, saya tadi kesini mau nemenin menantu saya ini,” kata Mama Dhiya.
“Ada apa, Fa. Kenapa sampai merepotkan Mama mertua kamu?” tanya Ibu Khalisa pada Shafa.
“Saya yang pengen ikut, Bu. Di rumah sepi, jadinya ikut Shafa aja sekalian jalan-jalan,” sambar Mama Dhiya.
“Ini oleh-oleh untuk Ayah, Ibu, dan Anggi. Nanti dibuka aja di rumah ya, Bu,” ujar Shafa.
“Walah walah, pakai belikan oleh-oleh pula. Makasih ya.”
Tak lama, Ayah Reynand pun datang membawakan 2 piring nasi goreng dan 2 gelas teh hangat.
“Ayo dinikmati dulu. Nanti dilanjut lagi ngobrolnya,” ucap Ayah Reynand sembari meletakkan piring dan gelas di hadapan Shafa dan Mama Dhiya.
__ADS_1
“Wah, kebetulan banget Shafa udah lapar,” celetuk Shafa.
“Yaudah, dimakan dulu. Bu, kami tinggal ke belakang dulu, ya,” balas Ayah Reynand segera pergi meninggalkan Besan dan anaknya untuk menyantap hidangan.
Mama Dhiya dan Shafa segera menyantap nasi goreng yang dibuat oleh Ayah Reynand.
Sementara di restoran, Reigha dan Bayu tampak memasuki restoran bersama dan menunggu kedatangan Ivanka.
Setelah menunggu beberapa menit, yang ditunggu pun tiba. Ivanka duduk tepat di depan Bayu menatap heran dengan Reigha yang kali ini ikut bersama Bayu.
“Kenapa mengajak bertemu siang ini, Pak Bayu?” tanya Ivanka.
“Saya mau menyampaikan kalau proyek kerja sama kontrak yang saya tangani akan dialihkan pada Pak Reigha. Soalnya, saya harus mulai mengurusi pernikahan saya,” jawab Bayu menjelaskan.
“Loh, gak bisa gitu dong. Kalau dari awal ditangani sama Pak Bayu, sampai akhir juga harus sama Pak Bayu dong,” balas Ivanka meninggikan suaranya.
“Maaf, tapi saya memang harus mengurusi pernikahan saya. Dan, untuk proyek kerja ini saya alihkan pada Pak Reigha,” jelas Bayu membuat Ivanka kesal.
“Yaudah, kalau memang mau dialihkan dan bukan Pak Bayu yang menangani proyek ini. Lebih baik saya batalkan saja kerja samanya,” ucap Ivanka tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
“Baik kalau memang begitu. Tapi, Bu Ivanka yang menanggung kerugian pembatalan kerja sama secara sepihak ini,” sambar Reigha.
“Tapi, ini ‘kan kesalahan dari perusahaan Trengginas Jaya Abadi. Jadi, harusnya kalian yang menanggung kerugiannya,” balas Ivanka tak mau kalah.
“Kami hanya mengalihkan, bukan berarti kami melakukan kesalahan. Kecuali, kami mengalihkan dan meninggalkan proyek kerja sama begitu saja. Yang melakukan kesalahan adalah Bu Ivanka sendiri karena langsung memutuskan kerja sama ini,” ucap Bayu.
“Oh Pak Bayu ... seperti ini rupanya sistem kerja di perusahaan Trengginas Jaya Abadi, ya? Yang menerima proyek kerja sama dan ditengah jalan dialihkan pada orang lain?”
“Ralat, bukan orang lain. Tapi, Pak Reigha pimpinan perusahaan Trengginas Jaya Abadi. Tidak ada salahnya jika saya alihkan pada yang lebih paham masalah proyek ini, ‘kan?” sambar Bayu.
“Sudahlah. Langsung pada intinya saja. Kerja sama ini lanjut atau tidak? Karena saya tidak punya banyak waktu!” seru Reigha.
“Saya hanya mau proyek kerja sama ini ditangani oleh Pak Bayu. Jika bukan Pak Bayu, saya memutuskan kerja sama ini,” ucap Ivanka jelas.
“Baik, karena proyek kerja sama ini dialihkan pada saya, berarti dibatalkan oleh Bu Ivanka sendiri. Kami tunggu tanggung jawab kerugian pemutusan kerja samanya, ya.”
“Oh, ya. Untuk menghubungi saya, boleh melalui sekretaris saya yang menghubungi perusahaan anda tadi. Terima kasih,” ucap Reigha segera meninggalkan restoran disusul oleh Bayu.
“Pak Bayu!” panggil Ivanka yang tak ditanggapi oleh Bayu.
Ivanka pun berusaha mengejar Bayu hingga sampai di parkiran restoran.
“Pak Bayu!” panggil Ivanka kembali.
“Ada apa lagi, Bu Ivanka?” tanya Bayu.
__ADS_1
“Bolehkah saya meminta waktu Pak Bayu untuk makan bersama siang ini?” ucap Ivanka menawarkan membuat Bayu merotasikan bola matanya malas.