Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 45 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Lo kenapa?” tanya Reigha santai tak berpaling netranya menatap laptop yang dihadapannya.


“Tante Lucy, Gha. Dia masih berusaha mau ambil berkas perusahaan yang ada di ruangan lo,” jawab Bayu yang napasnya masih belum beraturan.


“Apa? Di rumah gak ada orang ‘kan, Bay,” balas Reigha yang kaget dengan informasi dari Bayu.


Bayu pun menceritakan apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat. Setelah itu, Bayu juga udah menyampaikan pada Reigha kalau dirinya sudah minta tolong pada Mama Dhiya.


Mendengar hal tersebut, Reigha pun segera menghubungi Mama Dhiya. Saat panggilan terhubung ...


“Assalamu’alaikum, Ma. Ruang kerja Reigha udah Mama kunci? Mama dimana sekarang?” tanya Reigha.


“Wa’alaikumussalam, Gha. Udah Mama kunci kok, kuncinya juga udah sama Shafa. Ini Mama lagi di perjalanan mau ke swalayan,” jawab Mama Dhiya.


“Oh gitu ... Oke, Ma. Makasih ya, Ma.”


“Ma, tolong kasih ponselnya ke Vano sebentar,” imbuh Reigha.


Mama Dhiya pun memberikan ponselnya pada Vano.


“Iya, Pak. Ada apa?” tanya Vano yang heran.


“Vano, kamu tolong jaga Mama dan istri saya selama pergi sama kamu. Soalnya, keadaan keluarga saya sedang terancam akan suatu hal. Jadi, saya percayakan Mama dan istri saya. Tolong jaga kepercayaan saya!” seru Reigha pada Vano.


“Baik, Pak.”


“Oke, terima kasih.” Reigha pun menutup panggilannya.


Vano memberikan ponsel pada Mama Dhiya dan kembali menyetir mobil.


Reigha tampak gusar, dirinya berusaha bagaimana agar Binar tak mengusik kehidupan rumah tangganya. Tak hanya itu saja, bahkan dia bingung bagaimana caranya agar tante Lucy dan Cantika tak mengusik berkas perusahaan.


“Udahlah, Gha. Kita kirim aja orang buat jaga keamanan di rumah Shafa, di hotel, dan di rumah. Gimana?” saran Bayu.


“Oke. Tolong lo atur ya, Bay,” ucap Reigha.


Bayu pun segera keluar dari ruangan Reigha kembali ke ruangannya. Mengatur bagaimana keamanan untuk pernikahan Reigha dan keamanan keluarganya.


Sementara di swalayan, Mama Dhiya dan Shafa tampak masuk ke dalam mobil setelah selesai berbelanja bahan masakan.


Saat di perjalanan, Mama Dhiya mengeluarkan suaranya, “Fa, gimana kalau kita ke rumah Ayah kamu. Boleh gak?”


“Serius Mama pengen kesana?” tanya Shafa memastikan.


“Iya, Fa ... Mama ‘kan belum pernah main ke rumah Ayah kamu,” jawab Mama Dhiya.


Mendengar hal tersebut, Shafa tersenyum dan mengangguk paham. Sementara Vano, langsung menghubungi Reigha melalui pesan WhatsApp. Memberi kabar jika Mama dan istri Reigha akan segera diantar oleh Vano ke rumah mertua Reigha.

__ADS_1


Shafa pun menunjukan arah menuju rumah Ayah Reynand pada Vano. Karena, hari ini kebetulan di rumah Ayah Reynand juga lagi sibuk mempersiapkan pernikahan walaupun sederhana. Jadi, jualan Ayah Reynand sedang libur beberapa hari kedepan.


Beberapa menit kemudian, sampailah Mama Dhiya di rumah orang tua Shafa.


“Assalamualaikum,” ucap salam Mama Dhiya saat mereka sudah sampai di depan rumah Ayah Reynand.


Shafa tampak mendekat oada Mama Dhiya dan berkata, “Wa’alaikumussalam, Ma. Ayo kita langsung masuk aja, Ma ... mungkin Ayah dan Ibu di belakang lagi ngobrol sama tetangga yang bantu-bantu masak.”


“Oo gitu ... oke.” Shafa menggandeng Mama Dhiya masuk ke dalam rumah.


“Mama dulu, ya. Shafa panggil Ayah dan Ibu sebentar,” ucap Shafa berpamitan dan segera bergegas pergi mencari keberadaan orang tuanya.


Tak lama, orang tua Shafa datang menghampiri Mama Dhiya yang tengah duduk di ruang tamu.


“Assalamualaikum, Pak, Bu ... maaf saya kemari gak kasih kabar dulu,” kata Mama Dhiya.


“Wa’alaikumussalam, Bu. Gapapa ... kami malah senang ibu mau main ke rumah kami yang seperti ini,” balas Ayah Reynand.


“Emm ... bagaimana persiapan acara anak kita?” tanya Mama Dhiya.


“Alhamdulillah udah siap, Bu. Tinggal pengantinnya aja besok datang kemari,” jawab Ibu Khalisa yang membuat Mama manggut-manggut, paham.


Kini netra Ayah Reynand menatap pada putrinya yang sejak tadi disamping Mama Dhiya sembari memainkan ponselnya dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.


“Kapan kamu ke sini sama Nak Reigha, Fa?” tanya Ayah Reynand.


“Baiklah, setidaknya mereka berdua bisa istirahat semalam dulu di sini,” balas Ayah Reynand.


Setelah lama mengobrol, Mama Dhiya pun diajak makan bersama. Kemudian, Mama Dhiya ikut membantu persiapan pernikahan Reigha dan Shafa di rumah Ayah Reynand. Sementara Shafa, tengah mandi. Jadi, tidak ikut membantu saat ini.


“Berapa kira-kira tamu undangan untuk besok, Bu?” tanya Mama Dhiya yang berada di samping Ibu Khalisa.


“Gak banyak, Bu. Ya ... hanya tetangga sekitar saja,” jawab Ibu Khalisa.


“Iya, Bu. Yang penting para tetangga semua tau kalau Shafa udah menikah,” imbuh Ayah Harun.


Obrolan mereka terjeda karna ponsel Mama Dhiya berbunyi.


“Sebentar, Pak, Bu. Ini Reigha telpon. Pasti menanyakan istrinya!” celetuk Mama Dhiya membuat mereka tertawa kecil.


“Hallo, Gha. Ada apa sih?” tanya Mama Dhiya.


“Hallo, Ma. Kok Mama belum pulang? Shafa juga Reigha telpon gak diangkat,” balas Reigha dengan nada khawatir.


“Tenang, Gha. Mama dan Shafa masih di rumah mertua kamu, Shafa lagi mandi. Bentar lagi kami pulang, ya,” ucap Mama Dhiya hingga membuat Reigha yang mendengarnya pun menghela napas lega.


“Oh ... syukurlah. Yaudah kalau gitu. Salam, ya Ma ... buat ayah & ibu,” ucap Reigha.

__ADS_1


“Iya, Gha. Nanti Mama sampaikan,” balas Mama Dhiya yang mengakhiri telponnya.


Saat telpon diakhiri oleh Mama Dhiya, bersamaan pula dengan Shafa yang tampak baru saja keluar dari kamarnya.


“Ma, ayo kita pulang. Udah sore nih, Ma,” ucap Shafa mendekat pada Mama Dhiya.


“Iya, Fa. Suami kamu juga udah nyariin kamu tuh. Heran Mama sekarang sama Reigha. Gak bisa tuh jauh dari kamu,” ujar Mama Dhiya sembari menggelengkan kecil kepalanya.


Shafa pun tersenyum dan berkata, “Mama bisa aja.”


Lalu, mereka berdua pun pamit pada Ayah Reynand dan Ibu Khalisa, “Pak, Bu, saya pamit pulang dulu, ya. Maaf hanya bisa bantu sedikit tadi, semoga acara besok lancar dan sukses.”


“Aamiin, semoga resepsinya nanti juga sukses, ya, Bu,” balas Ibu Khalisa.


“Aamiin,” ucapnya bersamaan.


Shafa menyalimi kedua orang tuanya, kemudian keduanya pun segera naik mobil dan bergegas pergi meninggalkan rumah Ayah Reynand.


Sebelum Ayah dan Ibu Shafa masuk ke dalam rumah, keluarlah Bu Sinta dengan segala kejulit-annya.


“Aduh-aduh ... gimana ya perasaannya setelah besannya pulang? Minder gak, Bu? Secara, ya ... mobil dia aja mengkilat pasti rumahnya juga bagus, mewah juga. Sedangkan Ibu, emm ... di samping rumah aja roda 3, itu pun gerobak nasi goreng!” serunya merendahkan kedua orang tua Shafa.


“Astaghfirullah,” ucap Ibu Khalisa yang langsung bergegas masuk ke dalam rumah diikuti oleh Ayah Reynand. Keduanya, tak sedikitpun membalas apapun yang diucapkan oleh Bu Sinta.


****


Sesampainya di rumah kediaman Papa Harun, Mama dan Shafa tampak masuk bersamaan. Asisten rumah tangga, langsung mengambil barang-barang yang dari swalayan dan dibawa langsung ke dapur.


Mama Dhiya langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Shafa membantu asisten rumah tangga sebentar, kemudian berlalu menuju kamar.


Saat Shafa masuk kamar, ternyata Reigha udah menunggu di sofa.


“Mas, udah lama pulangnya?” tanya Shafa yang mendekat pada sofa kamar.


“Ya .. lumayanlah, Sayang,” jawab Reigha.


Shafa menyendiri pada bahu Reigha sembari berkata, “Mas, persiapan di rumah Ayah alhamdulillah sudah aman dan lancar dibantu oleh tetangga dan saudara yang beberapa udah datang. Trus, kita ke sana jam berapa, Mas?”


“Hmm ... besok Mas masuk kerja dulu, ya. Beberapa meeting besok diadakan. Karena, lusa ‘kan Mas udah libur untuk pernikahan kita,” balas Reigha membuat Shafa manggut-manggut.


“Oh ... iya, Shafa ngerti kok, Mas.” Shafa pun berlalu pergi meletakkan barang yang dibawanya dari swalayan seperti minyak, parfum Reigha, dan lainnya.


Reigha hanya melihat Shafa yang berlalu lalang dihadapannya pun kini membuka suaranya, “Sayang, tadi pagi Binar datang ke kantor.”


Shafa yang membelakangi Reigha sedikit tersenyum karena Reigha mau jujur padanya, walau Anna tadi sempat memberitahukan pada Shafa.


“Trus gimana, Mas?” tanya Shafa sembari mendekat kembali ke sofa.

__ADS_1


__ADS_2