Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 127 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Dani pun pamit ke ayah Reynand bersalaman dan membukakan pintu mobil untuk Shafa.


“Kita ke rumah sakit mana ya, Bu?” tanya Dani.


“Kita ke rumah sakit yabg kemarin saat papa sakit aja ya, Dan, kita cari di sana dulu,” jawab Shafa.


“Baik, Bu,” balas Dani.


Mobil pun melaju membelah kegelapan menuju rumah sakit, saat masuk ke halaman rumah sakit, Shafa melihat mobil Bayu.


“Dan, itu mobilnya Bayu, berarti benar mama di bawa ke sini. Kamu parkir dulu, saya tanya ke resepsionis,” ucap Shafa.


“Baik, Bu, nanti kalau udah tau ruangannya ibu kabari saja saya lewat chat whatsapp, nanti saya langsung menyusul,” kata Dani.


“Baiklah, saya turun ya.” Shafa pun segera turun dan langsung bertanya ke resepsionis.


“Maaf, Sus. Mau tanya kalau ruangan ibu Dhiya dimana ya?” tanya Shafa.


“Oh ibu Dhiya yang baru masuk hari ini ya, Bu?” balas perawat tersebut.


“Iya, benar, Sus. Di kamar berapa ya?” tanya Shafa kembali.


“Maaf, Bu. Ibu Dhiya udah meninggal dunia satu jam yang lalu,” jawab perawat tersebut membuat Shafa kaget.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sekarang di mana, Sus? Kalau udah satu jam yang lalu kok tidak segera di antarkan pulang ya?” tanya Shafa.


“Maaf, Bu. Kedua putranya masih butuh waktu untuk menenangkan diri, sekarang jenazah Ibu Dhiya berada di kamar jenazah, begitu pun kedua putranya juga berada di depan kamar jenazah,” balas perawat.


“Terima kasih, Sus, dimana ya letak kamar jenazahnya?”


Perawat pun segera memanggil security untuk mengantarkan Shafa ke kamar jenazah. Saat Shafa akan melangkah mengikuti security, tiba-tiba Dani memanggil.


“Bu, Bu Shafa, apa udah tau dimana ruang rawatnya?” tanya Dani.


“Dan, mama Dhiya udah meninggal satu jam yang lalu. Tolong kabari orang rumah ya untuk mempersiapkan kedatangan jenazah mama Dhiya. Saya akan menemui mas Reigha terlebih dulu. Sepertinya mas Reigha butuh waktu untuk bertemu orang-orang,” jawab Shafa.


“Pulang duluan aja ya, Dan. Nanti saya pulang bareng mas Reigha,” lanjut Shafa.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Baiklah, Bu. Saya pulang aja membantu mempersiapkan semua,” balas Dani.

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih ya.” Shafa pun segera mengikuti security menuju ke kamar jenazah.


Saat sampai di depan ruang jenazah, Shafa melihat Reigha yang tertunduk. Reigha kelihatan sangat kehilangan mama Dhiya.


“Mas,” panggil Shafa mendekat dan langsung memeluk suaminya.


“Sayang, mama udah pergi, kenapa mama ikut ninggalin aku,” ucap Reigha sambil menangis.


“Mas, kenapa kamu gak ngabarin aku kalau mama udah gak ada, kalau kamu memang butuh waktu, aku ngerti, Mas. Kamu yang sabar ya, Mas. Ikhlas,” titah Shafa.


“Sekarang kita urus kepulangan jenazah mama ya, kasihan mama kalau terlalu lama dibiarin sendiri,” lanjut Shafa.


“Bayu, ayo kita pulang. Kasihan Anna nungguin di rumah,” kata Shafa yang beralih menoleh pada Bayu.


“Mas, kamu tunggu sini ya, Shafa panggil perawatnya dulu dan minta bantuan untuk siapin ambulannya,” imbuh Shafa pada Reigha.


Shafa pun segera pergi, dan mengurus semuanya. Setelah semua siap, Shafa kembali menemui Reigha.


“Gimana, Mas, kamu udah lebih tenang? Kalau udah, kita pulang ya,” tanya Shafa.


“Iya, Sayang. Terima kasih, ya,” balas Reigha.


Dan akhirnya Reigha juga Shafa naik mobilnya, sedangkan Bayu ikut ambulan yang membawa jenazah mama Dhiya, mereka pun menuju ke rumahnya.


“Assalamu’alaikum,” salam Dani masuk ke dalam rumah.


“Wa'alaikumsalam. Dani, kok Shafa gak ikut?” tanya ayah Reynand.


“Iya, Yah. Bu Shafa gak ikut, beliau menemani pak Reigha dan pak Bayu,” jawab Dani.


Ayah Reynand melihat Dani yang sedang bingung.


“Kenapa, Dan? Ada apa? Kamu kok seperti orang bingung?” tanya Ayah Reynand.


“I—ini, Yah, saya tadi kembali pulang ingin mengabarkan kalau mama Dhiya ... mama Dhiya ... meninggal dunia,” jawab Dani.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” kata mereka serempak.


“Mama,” lirih Anna menangis.

__ADS_1


“Ya Allah, terimalah amal baik ibu Dhiya dan ampunilah segala kesalahannya,” kata ibu Khalisa yang kemudian diaamiinkan oleh mereka semua.


“Sudah-sudah, sekarang mari kita siapkan kedatangan jenazah ibu Dhiya,” ucap ayah Reynand.


“Fathir, kamu tolong kabari ke masjid juga ke RT kalau ibu Dhiya meninggal dunia,” titah ayah Reynand pada menantunya.


“Baik, Yah. Fathir pergi dulu,” ucap Fathir.


Dan saat mereka bersiap-siap, Afkar keluar dari kamar tamu dan melihat waktu wajah sedih pun bertanya, “Ada apa ini, Yah?” tanya Afkar pada ayah Reynand.


“Itu, Nak Afkar, mamanya Reigha meninggal dunia,” jawab ayah Reynand.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,” kata Afkar dan segera ikut membantu mempersiapkan kedatangan jenazah mama Dhiya.


Anna segera mengabari ketua BSK untuk mempersiapkan semua keperluan dari mulai memandikan sampai dikebumikan.


Afkar dan juga Dani tak lupa ke kamar tamu untuk memberitahu istrinya kalau mamanya Reigha meninggal dunia.


Setelah Fathir memberitahukan kabar meninggalnya mama Dhiya, remaja masjid dan semua warga berbondong-bondong datang ikut membantu mempersiapkan segala kebutuhan untuk memandikan, mengkafani, juga menguburkan.


Tak lama kemudian terdengar bunyi sirine ambulan yang menandakan jenazah mama Dhiya akan tiba. Semua keluarga pun serentak keluar dan ingin menyambut kedatangan jenazah mama Dhiya.


Saat ambulan datang, Bayu langsung keluar dengan mata merah menandakan kalau habis menangis, sedangkan di belakang ambulan Reigha dan Shafa yang kelihatan tegar juga ikut turun.


Reigha dan Bayu pun membantu menurunkan jenazah mamanya. Setelah meletakkan jenazah mama Dhiya, Reigha dan Bayu berhambur memeluk ayah Reynand.


“Kalian yang sabar, ikhlaskan jangan dipersulit jalannya mama kalian ya,” titah ayah Reynand.


“Iya, Yah. InsyaaAllah kami ikhlas,” kata Reigha dan diangguki Bayu.


Reigha dan Bayu segera duduk di dekat jenazah mama Dhiya dan membacakan yasin. Shafa dan Anna pun menyusul di sampingnya. Dan setelah Reigha dan Bayu selesai, para pelayat pun bergantian mendoakan.


Udah tengah malam tapi pelayat semakin ramai. Reigha dan Bayu pun akhirnya ke ruang kerjanya untuk bicara masalah memberi kabar tentang kematian ini ke Andre dan tante Lucy apa tidak.


Akhirnya Reigha pun menelpon kepolisian untuk mengabarkannya. Dan polisi pun memberikan izin untuk Andre dan tante Lucy datang ke pemakamannya besok jam sembilan.


Setelah menutup telponnya, mereka kembali ke depan untuk menemui para pelayat.


Shafa dan Anna juga di sibuk untuk acara tahlilan tiga harinya papa Harun dan tahlilannya mama Dhiya. Sedangkan ibu Khalisa membantu mbok Nah menyiapkan minuman hangat untuk para pelayat.

__ADS_1


Menjelang subuh, jenazah mama Dhiya pun dimandikan dan dikafani, setelah sholat subuh semua pelayat udah bisa menyolatinya.


Dan tepat jam 08.30 jenazah mama Dhiya pun diantar ke pemakaman tepat di samping makam papa Harun, saat tiba di pemakaman mereka pun di kejutkan dengan ....


__ADS_2