
Tinggallah sekarang Reigha dan Shafa juga si kembar dalam ruangan. Tak lama terdengar kembali ketukan pintu membuat Reigha segera membuka pintunya.
Reigha kaget karena ternyata yang datang adalah Tante Lucy dan Anaknya.
“Malam, Gha, boleh tante dan anak tante masuk?” tanya tante Lucy dengan senyum yang dibuat seramah mungkin.
“Masuklah, Tante,” balas Reigha.
Mereka berdua pun segera masuk. Mereka mengucapkan selamat pada Shafa dan melihat si kembar yang tengah tertidur. Setelah melihat di kembar, tante Lucy dan Cantika pun duduk di sofa mengajak ngobrol Shafa sambil mencari-cari informasi kapan pulang dan juga tentang si kembar. Reigha yang udah merasa curiga langsung memberi pesan untuk Bayu.
Reigha meminta Bayu menyuruh anak buahnya untuk standbay di rumah sakit. Setelah mendapat jawaban dari Bayu, Reigha pun merasa lega.
Bayu yang mendapat informasi dari Reigha pun segera mengerahkan seluruh anak buahnya untuk berjaga-jaga di setiap lorong rumah sakit dengan pakaian yang tak mengundang kecurigaan.
Para anak buah pun segera berjaga"jaga mulai depan ruangan Shafa sampai depan rumah sakit. Bayu pun standbay di depan rumah sakit dengan mobilnya.
Bayu pun segera memberi kabar pada Reigha kalau semua anak buahnya udah siap berjaga-jaga di rumah sakit.
Di kamar rawat Shafa, tampak tante Lucy dan Cantika hendak pamit udah ingin meninggalkan ruangan.
“Gha, kamu gak ingin keluar beli sesuatu? Karena kalian ‘kan cuma berdua, biar tante tunggu di sini dulu menemani istri kamu,” tanya tante Lucy.
“Enggak, Tante. Reigha lagi gak pengen apa-apa,” jawab Reigha sambil berdiri di dekat box si kembar.
“Baiklah klo gitu, tante dan Cantika pulang dulu ya,” ucap tante Lucy berpamitan.
“Iya, Tante. Silakan. Terima kasih udah menjenguk Shafa,” balas Shafa ramah.
Setelah tante Lucy dan Cantika keluar dari ruang rawat Shafa, Reigha memberi kabar ke Bayu.
“Assalamu’alaikum, Bay. Tante Lucy dan Cantika udah keluar dari ruangan Shafa,” ucap Reigha saat panggilan udah terhubung.
“Wa'alaikumsalam, Gha. Lo harus hati-hati, jaga istri dan anak-anak lo,” balas Bayu dari sebrang telpon.
“Oke, tapi anak buah lo tetap berjaga-jaga ya, dan jangan sampai terkecoh sama hal apapun!” seru Reigha.
“Tenang aja kalau itu. Lo gak perlu khawatir.”
Reigha pun segera mengakhiri telponnya dan mendekat ke Shafa.
“Mas, kok sampai sebegitunya sih? Jangan su’udzon dulu, Mas, siapa tau tante Lucy dan Cantika memang mau jenguk Shafa dan si kembar,” ucap Shafa.
“Itu gak mungkin, Sayang, pasti tante punya niat gak baik. Mas yakin itu,” balas Reigha dengan penuh keyakinan.
Flashback On
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di rumah tante Lucy. Ibu dan anak itu tengah mengobrol.
“Ma, gimana dengan rencana Mama? Kita gak ada pergerakan sama sekali loh, Ma, udah setahun ini,” ucap Cantika sembari menautkan kedua alisnya.
“Tenang aja, Sayang, kita akan cari waktu yang tepat, sebentar lagi waktu yang ditunggu-tunggu akan tiba,” balas tante Lucy.
“Emang apa rencananya, Ma?” tanya Cantika penasaran.
“Mama dengar istri Reigha udah melahirkan, rencananya Mama akan mengambil salah satu bayinya, mama akan pisahkan dari orang tuanya,” jawab tante Lucy.
“Trus rencananya bayi itu akan Mama bawa ke mana? Mau mama rawat?”
“Dihh, gak sudi ya. Mama mau buang bayi itu ke panti asuhan. Biar Reigha ngerasain gimana rasanya dipisahkan dengan orang tercinta,” jawab tante Lucy dengan sinis.
“Trus kapan rencananya, Ma?” tanya Cantika kembali.
“Secepatnya dong. Sore ini mama mau ke rumah sakit dulu, kita awasi Reigha dan istrinya, kamu ikut gak?” jawab tante Lucy seraya bertanya pada anaknya.
Setelah mendengar jawaban Cantika, mereka pun bersiap mau ke rumah sakit. Tak lama mereka bersiap, mereka segera menuju ke rumah sakit.
Mereka pun tiba di rumah sakit dan segera bertanya ke resepsionis di mana kamar Shafa. Setelah di beritahu kamarnya, tante Lucy dan Cantika segera menuju kamar Shafa.
Flashback Off
Dan tak berapa lama, wanita yang ditunggu tersebut masuk ke mobil tante Lucy.
“Ya, Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu dengan baju kerja sebagai suster serta pin nama dada dengan tulisan : Mona.
“Suster, saya minta kamu menculik bayi yang ada di kamar VVIP, bisa?” tanya tante Lucy.
“Kamar VVIP, berarti itu bayinya Pak Reigha? Kenapa saya harus menculiknya, Bu?” balas Mona bertanya.
“Iya, Sus. Jangan banyak bertanya, dan ini imbalan kamu, kalau kamu berhasil akan saya tambah,” jawab tante Lucy menyerahkan amplop coklat yang berisikan uang.
“Baiklah, Bu. Besok pagi akan saya laksanakan, nanti bayinya di bawa kemana?” tanya Mona.
“Besok pagi saya tunggu di luar, jadi kamu tinggal bawa keluar aja,” jawab tante Lucy yang diangguki oleh Mona.
“Baiklah, Bu, saya permisi.” Mona pun pergi meninggalkan mobil tante Lucy sembari melihat kanan kiri agar tidak ada yang curiga.
Bayu dari kejauhan melihat mobil tante Lucy juga perawat yang baru saja keluar dari mobil tersebut membuat Bayu semakin curiga.
“Pasti ada rencana yang gak baik nih. Gue harus kabarin Reigha,” ucap Bayu segera memberi kabar ke Reigha dan memberi informasi tentang perawat tersebut.
Karena waktu udah malam, bayu pun pergi meninggalkan rumah sakit setelah mobil tante Lucy pergi terlebih dahulu. Sedangkan anak buah bayu masih berjaga-jaga di rumah sakit.
__ADS_1
Pagi harinya, seperti biasa Shafa di bantu Reigha untuk bersih-bersih badannya sedangkan si kembar dibawa perawat untuk dimandikan.
Shafa udah tampak bersih dan sambil menunggu si kembar di bawa kembali ke ruang rawatnya.
“Sayang, jangan lupa sarapan dulu!” seru Reigha.
Kali ini Shafa sarapan tanpa di suapi oleh Reigha, karena Reigha pagi ini sibuk menyelesaikan kerjaan yang kemarin belum diselesaikan olehnya.
“Sayang, kamu udah selesai sarpannya? Mas pergi tanpa menunggu Mama datang ya, karena Mas mau nyelesaikan kerjaan biar nanti bisa ikut jemput kamu dan si kembar,” ucap Reigha.
“Iya, Mas. gapapa kok, tapi ini si kembar mana, ya? Kok belum diantar,” jawab Shafa tetap melirik pintu ruangannya.
“Tunggu sebentar, Sayang, kan gantian sama bayi-bayi yang lain,” balas Reigha.
“Yaudah, Mas pamit ya.” Reigha segera mencium kening Shafa dan pergi meninggalkan ruangan rawat Shafa.
Tak lama kemudian, bayi kembar Shafa di antar ke ruangan, “Permisi, Bu, si kembar udah wangi, mau ditaruh di box atau mau di kasih asi dulu?”
“Sini, Sus, biar sama saya aja,” jawab Shafa.
Perawat pun segera menaruh si kembar di kanan dan kiri Shafa. Kemudian, perawat pergi meninggalkan ruangan Shafa.
Shafa segera memberi asi ke si kembar bergantian, setelah kenyang, si kembar langsung tidur.
Di tempat lain, Reigha udah tiba di kantor segera meminta Puspa menyiapkan berkas yang kemarin belum ditanda tangani, setelah Puspa memberikan berkasnya, Reigha segera menyelesaikan agar bisa secepatnya kembali ke rumah sakit, karena sejak tadi perasaan Reigha tidak tenang.
Kurang lebih satu jam akhirnya selesai berkas yang di tanda tangan.i oleh Reigha. Kemudian, Reigha segera menelpon Puspa.
Melihat Puspa masuk ke dalam ruangan, Reigha berkata, “Puspa, saya udah selesaikan berkasnya, hari ini kalau ada meeting resechedul dulu karena istri dan anak-anak saya akan pulang. Saya harus segera ke rumah sakit.”
“Baik, Pak.”
Reigha langsung bersiap keluar dari kantor menuju rumah sakit. Sesampainya di depan rumah sakit, Reigha sengaja gak langsung masuk, karena melihat mobil tante Lucy ada di rumah sakit, Reigha segera menelpon polisi.
Di kamar Shafa, si kembar yang tengah tidur pulas, tiba-tiba ada perawat datang menghampiri Shafa.
“Permisi, Bu, mau izin bayinya saya bawa ya untuk imunisasi karena hari ini Bu Shafa akan pulang,” ucap Mona.
“Oh, tapi biasanya dokter langsung kesini ya, ini kok tumben dokternya yang menyuruh perawat?” balas Shafa bertanya pada Mona.
“Dokter lagi banyak pasien yang juga mau imunisasi, jadi si kembar saya yang bawa ke sana,” jawab Mona.
“Baiklah, silakan.”
“Saya bawanya gantian ya, Bu, saya bawa baby boy dulu,” ucap Mona lagi, dan disetujui oleh Shafa.
__ADS_1