Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 74 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Kok itu ada dua kantong ya, Dok? Apa berarti menantu saya hamil anak kembar?” tanya Mama Dhiya.


Reigha yang masih belum paham pun bertanya, “Apanya yang dua sih, Ma?”


“Itu lho, Gha, itu kan ada yang bulat-bulat dua ‘kan? Itu calon anak kalian. Anak kalian kembar, Sayang,” jawab Mama Dhiya memeluk Shafa.


Reigha langsung sujud syukur dan memeluk shafa juga.


“Selamat ya, Pak, Bu, usia kandungan istri bapak empat minggu, ibu harus hati-hari karena usia kandungan masih muda, rentan akan keguguran. Dan, saya sarankan ibu Shafa tidak melakukan hal yang berat juga tidak terlalu kecapean,” ucap dokter Amanda pada Shafa.


“Pak Reigha, bapak harus ekstra menjaga ibu Shafa ya, Pak. Jangan sampai kecapean,” lanjut dokter Amanda.


“Baik, Dokter, itu artinya istri saya juga tidak boleh naik pesawat ya, Dok?” tanya Reigha.


“Iya. Benar, Pak. Untuk saat ini belum boleh,” jawab dokter Amanda.


“Ada lagi yang mau di tanyakan, Pak, Bu?” lanjut dokter bertanya.


“Hmm ... dokter, apa masih boleh melakukan hubungan suami istri?” tanya Reigha ragu-ragu.


Mendengar suaminya bertanya masalah itu, membuat Shafa langsung menunduk malu. Sementara Mama Dhiya menahan tawa mendengar pertanyaan anaknya.


Reigha yang dulunya cuek dan gak banyak bicara, semenjak menikah bersama Shafa jadi reigha yang ceria dan sangat berbeda dari Reigha yang dulu.


“Pertanyaan itu yang dari tadi saya tunggu-tunggu, Pak,” balas dokter Amanda.


“Saya sarankan untuk sementara tidak melakukan hubungan suami istri dulu ya, Pak. Karena, itu bisa menyebabkan kontraksi. Tapi, nanti jika usia kandungan Bu Shafa udah menginjak tiga bulan, udah boleh melakukan hubungan suami istri. Tapi, saya sarankan untuk nanti di keluarkan di luar,” pesan dokter Amanda menjawab pertanyaan Reigha.


“Hah? Apa, Dokter? Tiga bulan? Kok lama banget sih, Dok?” ucap Reigha terkejut.


“Mas, malu ah. Udah, ya,” ucap Shafa lirih mencubit perut Reigha.


“Nak, udahlah kemarin aja nikah udah satu tahun gak ngapa-ngapain aja kuat. Sekarang cuma tiga bulan udah gak tahan,” titah Mama Dhiya.


“Hmm ... baiklah, demi cucu Mama, Reigha kuat-kuatin deh,” balas Reigha lemas.


“Tapi, kalau gak kuat gimana ya, Dok, bisa pusing nanti kepala saya,” lanjut Reigha yang ternyata masih belum puas dengan membahas hal tersebut.


“Halah, Gha, main solo ‘kan bisa, sabun di kamar mandi banyak.” Mama Dhiya tertawa melihat anaknya yang merengut bak anak kecil yang tidak dikasih permen.


“Benar apa yang dikatakan Mama anda, Pak. Tapi, kalau memang benar-benar udah tidak tahan bisa melakukan dengan sangat hati-hati dan jangan di keluarkan di dalam,” ucap Dokter Amanda berhasil membuat Reigha langsung bersemangat dan kembali ceria.


“Oke. Baiklah, ini resep vitamin untuk memperkuat janin dan mencegah jika terjadi mual. Dan silakan datang kembali kontrol pada bulan depan. Untuk obatnya silahkan di tebus di apotek rumah sakit,” lanjut dokter yang diangguki oleh Reigha dan juga Shafa.

__ADS_1


“Terima kasih, Dokter,” balas Reigha.


“Kami pamit ya, Dokter. Terima kasih,” imbuh Mama Dhiya berpamitan pada dokter Amanda.


Tanpa banyak bicara, Reigha segera mengangkat Shafa dan menurunkannya di kursi roda dengan hati-hati. Setelah itu mereka keluar dan langsung menuju ke apotek.


Setelah menerima obatnya, mereka pun segera pulang.


Sesampainya di rumah, Papa Harun ternyata udah berada di rumah, mengetahui kalau reigha, Mama Dhiya dan Shafa udah di depan, Papa Harun pun segera keluar rumah.


“Ma, menantu kita sakit apa?” tanya Papa Harun yang sudah mengetahuinya dari Mbok Nah.


“Biar masuk dulu, Pa. Kok Papa tumben banget udah pulang?” jawab Mama Dhiya seraya bertanya kembali.


“Papa ‘kan mau antar Reigha ke bandara, Ma,” balas Papa Harun.


Saat sudah di ruang tamu, netra Papa Harun menangkap menantunya yang tengah digendong oleh Reigha pun kembali bertanya, “Ma, sebenernya menantu kita sakit apa? Kok sampai harus di gendong gitu?”


“Duduk dulu, Pa. Mama kasih tau sekarang,” titah Mama Dhiya.


Setelah papa harun duduk Mama Dhiya segera mengatakan sesuatu.


Reigha mendudukkan Shafa di samping Mama Dhiya dengan super hati-hati.


“Pa, sebentar lagi rumah ini akan ramai suara anak kecil. Shafa ... Shafa hamil, Pa,” kata Mama Dhiya dengan antusias.


“Bukan cucu, Pa, tapi cucu-cucu,” ucap Mama Dhiya membenarkan ucapan Papa.


“Maksud mama cucu-cucu apa? Anna hamil juga? Tapi, baru beberapa hari lalu mereka menikah, Ma. Secepat itu?” tanya Papa Harun heran.


“Bukan Anna, Pa. Tapi Shafa. Shafa hamil anak kembar, Pa,” jawab Mama Dhiya memeluk Papa begitu senangnya.


“Papa Harun sampai terkejut mendengarnya. Selamat ya, Gha, Fa, kalian akan menjadi orang tua. Dijaga ya, Gha. Jangan sampai Shafa kecapean!” seru Papa Harun.


“Iya, Pa. Papa dan Mama akan jadi kakek dan nenek. Panggilan baru tuh, Pa, Ma,” ucap Reigha.


Shafa yang melihat mertuanya juga suaminya begitu gembira, dia malah menitikkan air mata terharu.


“Alhamdulillah, oleh-oleh dari Singapura double!” celetuk Mama Dhiya membuat semuanya tertawa.


“Nak, tolong jaga cucu-cucu Papa, ya,” ujar Papa Harun pada Shafa.


“Iya, Pa. Sebaik mungkin, Shafa akan menjaga cucu-cucu Papa dan Mama,” balas Shafa membuat senyuman terukir di wajah mertuanya.

__ADS_1


Begitu juga Reigha yang tak henti-henti mengelus-elus perut Shafa yang masih tampak rata.


“Terus gimana ini, Gha, jadi berangkat?” tanya Papa Harun.


“Gimana, Sayang? Apa Mas batalkan aja ke Surabayanya, ya?” tanya Reigha.


“Jangan, Mas, kasian nanti. Mas ‘kan udah ditunggu-tunggu untuk bantu selesaikan masalah di sana,” jawab Shafa.


“Tapi, kamu gimana, Sayang? Mas gak tega ninggalin kamu,” kata Reigha.


“Mas, ‘kan di sini ada Mama dan Papa. Shafa gapapa kok, Mas berangkat aja,” balas Shafa.


Dengan berat hati akhirnya Reigha pun memutuskan untuk berangkat ke Surabaya.


“Gha, kamu di temani Dani, ya, Papa udah telpon. Tadi Dani langsung ke bandara. Papa tunggu di luar, Gha!” seru Papa Harun segera berjalan keluar rumah.


“Iya, Pa. Sayang, kamu baik-baik di rumah, ya. Jangan banyak aktivitas, kalau mau apa-apa bilang ke Mama atau Mbok Nah ya. Mas usahakan secepatnya pulang,” ucap panjang Reigha sambil mengecup kening Shafa.


Kemudian, Reigha berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut Shafa, “Sayang, Papa pergi dulu ya, baik-baik di perut Mama.” Reigha mencium perut Shafa dan mengelusnya sebentar.


“Udah, Gha, di tunggu papa itu lho, Mama pastikan Mama akan jaga Shafa dan Shafa gak kecapean,” kata Mama Dhiya.


“Baiklah. Reigha berangkat ya, Ma,” pamit Reigha segera menyalimi tangan Mama Dhiya.


“Assalamu’alaikum,” salam Reigha segera keluar dan pergi diantar oleh Papa Harun ke bandara.


“Wa’alaikumussalam,” balas Mama Dhiya dan Shafa serempak.


“Ma, boleh gak Shafa telpon Ayah dan Ibu menyampaikan kabar baik ini?” tanya Shafa meminta izin pada Mama Dhiya.


“Ya pasti boleh dong, Fa. Tapi nanti ya, setelah kamu rebahan di kamar. Ayo mama bantu, Nak,” jawab Mama Dhiya sambil membantu Shafa berjalan ke kamar untuk beristirahat.


Setelah membantu menantunya berbaring, Mama Dhiya pun pamit keluar untuk ganti baju sebentar.


Shafa segera menelepon Ayah Reynand dan Ibu Khalisa.


“Assalamualaikum, Ayah, gimana kabarnya?” tanya Shafa saat panggilan sudah terhubung.


“Alhamdulillah baik, Nak, kamu dan suami kamu apa kabar?” jawab Ayah Reynand seraya bertanya kembali pada Shafa.


“Alhamdulillah Shafa dan Mas Reigha baik-baik aja, Ayah. Sekarang Mas Reigha lagi di Surabaya ngurusin kantor cadangan yang ada masalah.”


“Lho, kok kamu gak ikut, Fa? Biasanya Nak Reigha gak bisa jauh-jauh dari kamu,” tanya Ibu Khalisa.

__ADS_1


“Iya, Bu. Sebenarnya tadi harusnya pergi sama Shafa. Tapi, Shafa baru aja pulang dari rumah sakit,” jawab Shafa.


“Lho, kamu sakit apa, Nak? Kok malah di tinggal sama suami kamu?” tanya Ibu Khalisa cemas.


__ADS_2