
“Alhamdulillah udah lengkap ya, Bu. Sekarang ikuti aba-aba saya ya, kalau saya bilang ngeden, ngeden ya, Bu,” titah dokter.
“Oke, tarik napas. Buang perlahan,” lanjut dokter membuat Anna mengatur nafas untuk mulai mengejan.
“Dalam hitungan ke tiga, silakan ngeden ya, Bu ... satu, dua, tiga, ngeden, Bu!” seru dokter.
Aarghhhh...Ughhhhhhh...Ughhhhhhhh
Anna kehabisan napas dan mengatur napasnya kembali.
“Ayo sekali lagi, Bu!” Dokter kembali menyeru. Anna pun kembali mengejan sekuat tenaga.
Ughhhhhhhh ...
“Ayo, Bu, terus ... kepalanya udah kelihatan,” titah Dokter.
“Ayo, Sayang ... kamu kuat. Semangat, Sayang, i love you,” ucap Bayu memberi semangat sambil penasaran bayu melihat jalan lahir bayiny. Namun, ketika melihat kepala bayi yang baru terlihat ujungnya, mata bayu terbelalak.
Karena melihat darah bercucuran dari sana, seketika pikirannya kosong dan mematung.
Dokter tidak sadar kalau suami Anna di sampingnya. Dokter pun mengambil gunting karena kepala bayi tidak mau keluar, maka dokter pun menggunting jalan lahirnya.
Kresss ...
Saat Bayu melihat dokter menggunting jalan lahirnya sang bayi, seketika refleks Bayu langsung mengaduh.
“Aduh, aduhh.” Seketika kesadaran Bayu menghilang hingga membuatnya jatuh pingsan.
Brukkk
Melihat suami dari pasien pingsan, akhirnya perawat meminta tolong temannya untuk bantu mengurus Bayu. Sedangkan perawat yang lain fokus ke bayinya yang udah lahir.
Oek...Oek...Oek...
Suara tangisan bayu pun membuat Anna lega, rasa sakit yang beberapa saat lalu terasa hilang berganti kebahagiaan.
“Selamat ya, Bu. Bayinya laki-laki dan sempurna,” ucap dokter.
“Alhamdulillah ... terima kasih, Dokter,” balas Anna.
Dokter pun segera mengambil bayi yang udah dibersihkan oleh perawat dan memberikan ke Anna.
Anna terharu menerima anaknya, Anna gak menyangka kalau bisa melahirkan bayi yang tampan. Anna pun baru ingat dengan suaminya.
“Oh iya, Dokter, suami saya mana ya?” tanya Anna.
Anna tadi gak sadar kalau suaminya pingsan, karena dia fokus pada kelahiran anaknya.
“Suami ibu ada di IGD, tadi dibawa oleh perawat karena suami ibu pingsan,” jawab dokter sambil tersenyum.
“Hah? Pingsan, Dokter?” tanya Anna memastikan.
“Iya, Bu,” balas dokter.
‘Abang, abang, gayanya aja udah kayak jagoan ternyata lihat istrinya lahiran aja pingsan,’ batin Anna.
Dokter pun segera menjahit bagian inti Anna yang sobek, dan membersihkannya. Setelah bersih Mama pun di suruh masuk.
Tak lama kemudian Mama tampak masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
“Anna, selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu udah menjadi ibu,” ucap Mama tersenyum.
“Iya, Ma ... alhamdulillah,” balas Anna.
“Permisi, Bu, pasien akan saya bawa ke ruang rawat. Mohon suaminya mengurus kamarnya, ya,” titah perawat tersebut.
“Iya, Sus. Tapi, gimana ya, Ma, abang kan belum sadar,” ucap Anna menatap pada Mamanya dengan raut wajah bingung.
“Maksud kamu belum sadar gimana, Na?” tanya Mama mengerutkan keningnya.
“Tadi waktu nemenin Anna lahiran, abang pingsan, Ma,” jawab Anna.
“Ya Allah, anak itu ... gayanya slengean, ternyata nyalinya ciut,” balas Mama.
“Yaudah, mama minta tolong Reigha aja. Sebentar ya, Na,” lanjut Mama bergegas keluar dari ruangan.
Saat Mama keluar, Reigha pun segera mendekati Mama dan bertanya, “Gimana, Ma?”
“Gha, Mama minta tolong. Tolong ya kamh urusin kepindahan Anna ke ruang rawat. Sekarang ya, Gha!” seru Mama.
“Emang Bayu kemana, Ma? Kan harusnya dia yang repot,” balas Reigha bertanya pada Mama.
“Adik kamu pingsan, sekarang dia di IGD,” jawab Mama.
“Apa, Ma? Bayu pingsan?” tanya Reigha disertai dengan tawanya.
“Iya, dan sampai sekarang belum sadar. Udah sana kamu urus dulu,” jawab Mama.
“Iya, Ma,” balas reigha sambil pergi dan masih dengan tertawa.
Setelah mengurus kepindahan Anna, Reigha segera menuju ke IGD. Sesampainya di IGD, Reigha bergegas menuju ke brankar Bayu.
“Iya. Silakan, Pak,” balas perawat tersebut berlalu pergi.
“Hey, Bay, bangun! Enak kali lo ya, malah tidur kayak gini. Bangun cepet!” seru Reigha sambil menepuk-nepuk bahu Bayu.
Tak berapa lama bayu pun bangun, “Gha, ngapain lo di sini?” tanya Bayu.
“Lah, menurut lo emang ini di mana? Dicari anak dan istri lo tuh,” jawab Reigha membuat Bayu kaget.
“Anak? Anak gue udah lahir, Gha?” tanya Bayu kembali.
“Udah, Bay, sekarang udah di ruang rawat. Lo itu gimanalah, Bay, punya anak buah, lagaknya sok-sok.an kuat, ternyata nemenin istri melahirkan pingsan,” celetuk Reigha meledek Bayu.
“Terus aja, Gha. Terus ledekin aja gue, lo gak tau sih, Gha, gimana rasanya tadi waktu gue nemenin Anna lahiran,” balas Bayu.
“Lah, emang lo lupa ya? Istri gue juga baru lahiran.” Reigha menabok pundak Bayu.
“Udah-udah, ayo buruan bangun, gak usah manja. Anak lo nunggu diadzani tuh,” kata Reigha segera membuat Bayu bangun dari brankar.
Bayu pun segera bangun dan segera menuju ruang rawat bersama Reigha. Mereka berdua masuk ke ruang rawat bersama.
Bayu masuk dengan menundukan kepala, Bayu malu dan segera mendekat ke Anna.
“Sayang, kamu gapapa ‘kan? Abang minta maaf ya,” ucap Bayu.
“Ya gapapa, Bang. Emangnya Anna kenapa?” tanya Anna.
“Abang gak tega sayang, kamu kesakitan seperti tadi, lalu pas anak kita kepalanya kelihatan, darah mengucur deras. Dan tiba-tiba aja abang pusing dan pingsan,” jawab Bayu menjelaskan apa yang dirasakan olehnya tadi.
__ADS_1
“Abang, kalau takut darah gak usah maksain nemenin lahiran, Bang,” ucap Anna.
“Yaudah, sekarang adzani tuh anak kamu. Belum kamu tengokin lo, Bay,” titah Mama.
Bayu pun segera ke box bayi, dan langsung menggendong anaknya. Setelah itu mengadzani bayinya.
Setelah selesai, Bayu segera meletakkan kembali anaknya ke box bayi.
“Bay, udah lo siapin belum namanya? Jangan bilang kalau lo belum siapin nama keponakam gue,” ucap Reigha.
“Tenang aja, Gha, kalau itu udah gue siapin,” balas Bayu.
“Namanya adalah Alfahreza Arfan Pratama,” lanjut Bayu memberitahukan nama anak laki-lakinya itu.
“Keren namanya. Panggilannya Reza, ya,” balas Mama diangguki oleh Anna dan Bayu bersamaan.
Reigha segera menghampiri anak Bayu yang masih dalam box, dan kemudian menggendongnya.
“Hai, Reza, selamat datang di dunia ya, Nak. Semoga jadi anak soleh,” ucap Reigha.
“Aamiin,” balas mereka serempak.
Tak lama kemudian, Reigha pamit karena mengingat Shafa di rumah sendiri menjaga si kembar. Dan Reigha ingin cepat memberitahukan ke Shafa tentang kelahiran Reza.
Reigha pun segera keluar dari rumah sakit dan menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, Papa ternyata udah di rumah. Papa berada di ruang tengah.
“Assalamualaikum, Pa. Loh, Papa udah pulang?”
“Wa'alaikumsalam, Gha. Udah dari tadi papa pulang, gimana Anna udah melahirkan?” balas Papa bertanya pada Reigha.
“Udah, Pa, anaknya laki-laki, Pa,” jawab Reigha.
“Alhamdulillah, akhirnya tambah lagi cucu Papa yang akan meneruskan perusahaan Papa,” ucap Papa dengan senyumnya.
“Pa, masih lama itu ... ini aja baru lahir. Udah mikirin penerus, Pa,” kata Reigha.
“Pa, Reigha ke kamar dulu ya. Mau bersih-bersih sebentar,” lanjut Reigha diangguki oleh Papa.
Reigha segera menuju ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Reigha melihat si kembar yang udah mulai tengkurap.
“Hai sayang-sayangnya, Papa. Saudara kalian udah lahir loh,” ucap Reigha mendekat pada si kembar.
Shafa yang baru keluar dari kamar mandi segera mendekati Reigha dan bertanya, “Gimana Anna, Mas?”
“Alhamdulillah udah melahirkan, Sayang, anaknya laki-laki,” jawab Reigha.
“Alhamdulillah ... siapa namanya, Mas?”
“Nama panjangnya sih Mas lupa, Sayang, cuma tadi panggilnya Reza,” balas Reigha memberitahu.
“Mas, Mas, belum juga sehari udah lupa, padahal itu keponakan Mas loh,” celetuk Shafa.
“Soalnya tadi Mas tuh lagi keingat terus sama tingkahnya Bayu, Sayang,” ucap Reigha kembali tertawa mengingat Bayu.
“Emang Bayu kenapa?” tanya Shafa penasaran.
“Tadi itu waktu nemenin Anna melahirkan, eh dianya malah dibawa ke IGD karena pingsan,” jawab Reigha tertawa.
“Apa, Mas? Pingsan?” Shafa kaget seakan tak percaya dengan cerita dari Reigha.
__ADS_1