Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 59 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Nah, itu sayang, itu pas di badan kamu,” kata Reigha menunjuk ke salah satu pakaian dalam berwarna merah maroon.


“Hah! Pakaian apa itu, Mas? Malu ah Shafa pakainya,” balas Shafa.


“Sayang, kita beli itu, ya, nanti pakainya kalau cuma di kamar sama Mas aja,” ucap Reigha tampak memohon pada Shafa.


“Tapi, pakaiannya menerawang gitu, Mas. Malu Shafa pakainya,” balas Shafa lirih.


“Ayolah, Sayang ... kali ini aja, ya?” ucap Reigha dan tanpa persetujuan Shafa pun Reigha segera memanggil pelayan untuk memilihkan beberapa helai lingerie dengan warna yang berbeda. Shafa pun hanya menunduk karna malu.


“Udah, Sayang ... yuk kita cari untuk Anggi,” kata Reigha sambil menggandeng Shafa keluar toko segera.


Setelah berkeliling mencari oleh-oleh untuk Anggi, akhirnya pilihan jatuh ke headset merk yang terkenal dan tentu sudah terjamin kualitasnya.


Setelah mendapatkan barang-barang yang dicari, mereka pun segera pulang kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, mereka kecapekan, setelah sholat mereka langsung tertidur.


Keesokan harinya, Reigha berniat mengajak Shafa ke taman merlion.


“Sayang, ayo sini sarapan. Kita hari ini mau ke mana?” ajak Shafa seraya bertanya pada Reigha.


Reigha mendekat pada Shafa. Memeluk istrinya dan mengecup singkat pipi Shafa. Kemudian, Reigha duduk siap untuk sarapan pagi.


Tak lama, Reigha pun menjawab, “Hmm ... kita ke taman merlion ya, Sayang, kamu pasti pengen lihat icon-nya negara Singapore ‘kan.”


“Iya, Mas. Shafa pengen kesana,” ucap Shafa dengan begitu senangnya.


Mereka pun segera menyelesaikan sarapannya dan bergegas meninggalkan hotel menuju tujuan mereka ke taman merlion.


Saat sampai di lokasi, Shafa sungguh dibuat takjub dengan pemandangan di sekitar taman merlion. Shafa tak ketinggalan ber-selfie ria juga mengajak Reigha berfoto mengabadikan momen mereka berdua.


“Mas, bagus banget di sini, ya!” seru Shafa sangat senang.


Reigha hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


“Sayang,, jangan jauh-jauh!” seru Reigha memperingati Shafa bak anak kecil.


“Iya, Mas ... Shafa gak jauh kok,” balas Shafa.


Setelah dari taman merlion mereka menuju ke Singapore River Safari Amazone / Singapore Zoo.


Di sana, Shafa terlihat sangat senang, Reigha yang melihat sangat puas karena bisa buat istrinya gembira. Setelah puas mereka sekarang ke Singapore Flyer.


Setelah membeli tiket mereka pun segera masuk dan sambil menunggu Shafa tidak lepas dari kameranya. Dia begitu takjub dengan semua pemandangan di Singapore.


“Gimana, Sayang, kamu puas dengan honeymoon ini? Karena, besok kita harus pulang ke Indonesia,” ucap Reigha.


“Yahh, gak terasa kita udah satu minggu ya, Mas, dah mau pulang aja. Shafa pengennya masih di sini dulu, Mas,” balas Shafa memcurutkan bibirnya.


“Jangan dong, Sayang, kasian Bayu kalau kita lama-lama disini. Bayu kan juga mau nikah sayang,” ucap Reigha membuat Shafa manggut-manggut, paham.


“Yuk kita pulang, Sayang. Kita harus packing karena besuk pulangnya sangat pagi,” ajak Reigha.

__ADS_1


Shafa pun menurut, dan mereka segera menuju ke hotel untuk packing. Setelah selesai, mereka pun beristirahat karna besuk pagi-pagi harus udah berada di bandara.


Pagi harinya, mereka pun sdh menuju ke bandara untuk kembali pulang ke Indonesia, wajah keduanya terlihat begitu bahagia. Setelah check-in, mereka pun duduk di ruang tunggu. Dan gak sengaj, di ruang tunggu mereka bertemu tante Lucy dan anaknya — Cantika.


Ibu dan anak itu segera menghampiri Reigha, “Hey, ponakan tante, gak nyangka ya kita ketemu di sini.”


Reigha pun hanya diam saja, “Ponakan sayang, kamu ternyata di Singapura. Kok gak ngabarin tante, tau kamu di sini pasti tante ajak tinggal di rumah tante,” imbuh tante Lucy.


“Definisi makin tambah umur makin ganteng. Lo makin ganteng aja, Kak. Apa kabar, Kak?” ucap Cantika duduk mepet dengan Reigha.


Mereka sama sekali tidak melihat pada Shafa, sementara Shafa hanya diam melihat tingkah ibu dan anak itu, begitu pula dengan Reigha sama sekali tidak menanggapi ibu dan anak itu. Reigha terus menggenggam tangan Shafa.


“Ish, kok diam aja sih, gue nanya loh sama kak Reigha!” seru Cantika.


Reigha pun segera mengajak Shafa pindah tempat duduk, “Ayo, Sayang, kita pindah sebelah sana.”


Shafa pun mengangguk, sementara tante Lucy menatap sinis.


“Awas aja kalian ya, tunggu pembalasanku,” gumam tante Lucy menatap kepergian Reigha membawa istrinya.


“Ayo, Ma. Sudah ada panggilan untuk kita!” seru Cantika. Ibu dan Anak itu segera bergegas masuk ke dalam pesawat.


Ternyata mereka satu pesawat menuju Indonesia. Kurang lebih dua jam pesawat mendarat sempurna di bandara Jakarta.


Reigha segera menelepon Bayu, “Halo, Bay, gue udah sampai jakarta nih. Lo sampai mana?” tanya Reigh sambil menuju ke tempat bagasi.


“Halo, Gha, gue udah di depan nunggu loe,” balas Bayu.


“Hah, serius? Wah, bakalan ada masalah apa nih, Gha? Pasti tante Lucy punya rencana jahat nih,” balas Bayu.


“Itu pasti, Bay. Lo harus hati-hati, ya!” seru Reigha.


“Lo juga, yaudah cepat keluar gue dah nunggu lama nih.”


“Bentar, masih nunggu bagasi.” Reigha pun segera mengakhiri telponnya.


Setelah mendapatkan kopernya, Reigha dan Shafa keluar menuju penjemputan, Bayu udah nampak dengan melambaikan tangannya. Reigha segera menggandeng Shafa mendekat pada tempat dimana Bayu berdiri.


Setelahnya, mereka masuk mobil dan segera meninggalkan bandara.


Di tempat tante Lucy, tante Lucy nampak mencari-cari seseorang yg menjemputnya.


“Silakan, Nyonya,” kata sopir tante Lucy.


Mereka berdua pun pulang ke rumah mereka. Di dalam mobil, tante Lucy menelepon seseorang.


“Gimana? Rencana kita udah siap? Gue mau lo lakukan rencana itu secepatnya!” tanya tante Lucy diakhiri dengan seruan dan raut wajah yang tak dapat diartikan.


“Emang Mama mau rencanain apa, Ma?” tanya Cantika penasaran.


“Nanti kamu juga tau, Sayang.” Dan, mereka pun sampai di rumahnya.

__ADS_1


Sementara di rumah papa harun, mobil Bayu pun memasuki rumah Papa Harun, Mama Dhiya yang udah nunggu Reigha dan Shafa di halaman rumah pun langsung berdiri menghampiri anak menantunya itu.


“Assalamu’alaikum, Ma,” ucap Shafa menyalimi Mama Dhiya disusul oleh Reigha.


“Wa’alaikumussalam, Sayang-sayangnya Mama. Akhirnya sampai rumah lagi,” ucap Mama Dhiya berhambur memeluk menantu kesayangannya yang beberapa hari tak dilihat olehnya.


“Gimana bulan madunya?” tanya Mama Dhiya membuat Reigha dan Shafa pun hanya saling tatap.


Bayu yang tiba-tiba nenyambar menjawab apa yang Mama Dhiya tanyakan, “Pasti serulah, Ma, sudah bobol gawang. Tinggal nunggu kabar baiknya nih.”


Mereka semua tertawa sambil masuk ke dalam rumah.


“Papa belum pulang, Ma?” tanya Reigha.


“Kemarin baru pulang, Gha, sekarang lagi di kantor,” jawab Mama Dhiya.


“Ma, Bayu ke kantor, ya,” pamit Bayu menyalimi Mama Dhiya.


“Gha, gue kembali ke kantor ya, gak tega ninggalin kantor lama-lama,” pamit Bayu pada Reigha.


“Emm ... gak tega ninggalin kantor atau gak tega ninggalin Anna?” gurau Shafa membuat Bayu salah tingkah.


“Lo tau aja, Fa.” Bayu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Oh iya, Bay, udah sampai mana persiapan pernikahannya?” tanya Shafa.


“Belum sama sekali, Fa. Anna lagi banyak pikiran,” jawab Bayu.


“Yaudah, gue cabut dulu, ya.” Bayu pamit dan segera pergi ke kantor meninggalkan rumah Papa Harun.


Reigha, Mama Dhiya, dan Shafa duduk di ruang tamu.


“Sayang, Mas ke kantor sebentar, ya?” pamit Reigha.


“Mas, emangnya gak capek?” tanya Shafa.


“Cuma sebentar, paling 2 jam aja,” balas Reigha.


“Baiklah, Mas. Hati-hati, ya!” seru Shafa menyalimi tangan Reigha.


“Gha, Gha, kamu itu gila kerjanya gak berkurang, ingat kamu dah punya istri,” ucap Mama Dhiya.


“Bentar aja kok, Ma. Ada yang mau dibahas sama Bayu. Penting. Assalamu’alaikum.” Reigha segera berlari kecil dan membawa sopir Mama yang mengantarkan dirinya menuju kantor.


“Wa’alaikumussalam,” balas Mama Dhiya bersamaan dengan Shafa.


Reigha pun berangkat ke kantor tanpa berganti baju, Reigha hanya memakai baju santai. Namun, tak mengurangi kadar ketampanannya.


“Fa, kalo capek istirahat dulu ya, bersih-bersih dulu biar seger,” kata Mama Dhiya.


“Iyaa, Ma. Oh iya ... Ma, tadi pas di bandara singapore waktu Shafa dan Mas Reigha mau pulang ke Indonesia, kami ketemu tante Lucy dan anaknya,” balas Shafa bercerita pada Mama Dhiya.

__ADS_1


__ADS_2