
“Sebenarnya ke mana Daviana pergi?” tanya Calvin yang tampak kebingungan.
Saat Calvin akan memutar arah mobilnya, dari depan tampak Daviandra masuk ke halaman rumah. Calvin pun segera turun dari mobilnya dan hendak bersalaman dengan Daviandra.
Saat udah dekat, tiba-tiba Daviandra menonjok perut Calvin dan dengan marah Daviandra trus memukul Calvin sampai Calvin mengeluarkan darah dari mulutnya.
“Lo apain adik gue? Jawab!” teriak Daviandra yang udah terbawa oleh emosi.
“Maaf, Dra ... gue minta maaf,” ucap Calvin.
Reigha yang mendengar ada keributan pun segera keluar. Dan melihat anak juga menantunya yang berkelahi.
“Hei hei ... kalian ada apa ribut-ribut di depan rumah gini? Gak malu sama tetangga apa?” tanya Reigha.
“Kalian berdua ayo masuk!” seru Bayu.
Mereka pun segera masuk disusul oleh Reigha, Bayu, Shafa dan juga Anna.
“Sekarang kalian duduk, mami ambilkan kotak obat dulu,” kata Anna.
“Iya kalian duduk, mama ambilkan minum,” imbuh Shafa setelahnya.
Reigha, Bayu, Daviandra dan Calvin pun segera duduk tak lama kemudian Shafa dan Anna pun datang. Shafa memberikan minum pada Calvin dan Daviandra sedangkan Anna mengobati Calvin.
Setelah selesai, Reigha pun mulai membuka percakapannya, “Sekarang kalian cerita ada apa sebenarnya? Kalian ini saudara. Andra, Calvin itu suami dari adik kamu, kenapa kamu pukul dia?”
“Coba tanya aja sama dia, Pa. Tanyakan, ke mana adikku pergi sekarang ini,” balas Daviandra.
“Adik kamu? Siapa yang kamu maksud?” tanya Shafa.
“Naima, Ma, coba tanyakan apa dia tau kemana Naima pergi,” jawab Daviandra.
“Kemana Naima, Nak? Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Shafa menoleh pada Calvin.
“Maafkan Calvin, Pa, Ma ... sebenarnya Calvin ke sini karena mencari Daviana,” jawab Calvin.
“Mencari? Berarti Naima pergi dari rumah? Kalian bertengkar?” tanya Anna khawatir.
“Maafkan Calvin, Mi, kami bertengkar ... trus Daviana pergi dari rumah,” balas Calvin sembari menunduk.
“Trus ke mana sekarang Naima, Pa?” tanya Shafa menoleh pada suaminya dan tampak begitu khawatir.
“Mama jangan khawatir, Naima aman kok, Ma. Tapi, Andra gak akan memberitahukan di mana Naima sama manusia gak tau diri itu,” jawab Daviandra.
“Andra, kenapa kamu dari tadi marah-marah? Coba jelaskan!” seru Reigha.
“Gue atau lo yang jelasin ini di depan mereka semua?” tanya Daviandra pada Calvin.
Calvin yang ditunjuk pun diam aja.
__ADS_1
“Baik, kalau lo diam, berarti gue yang akan cerita,” kata Daviandra.
“Jadi begini, Pa ...”
Flashback On
Di tengah jalan saat perjalanan pulang,Daviandra seperti melihat mobil Daviana. Daviandra pun segera mengejar karena merasa kalau Daviana sedang tidak baik-baik saja.
Karena gak mungkin Daviana tidak mengenali mobil Daviandra. Daviandra trus mengejar dan sampailah Daviana di sebuah hotel.
Daviana segera masuk dan check-in. Setelah mendapatkan kamarnya, Daviana pun segera menuju ke kamar tersebut.
Daviandra trus mengikuti Daviana sampai tibalah Daviandra di depan kamar tempat Daviana menginap. Daviandra segera mengetuk pintu dan terbukalah pintunya, Daviana muncul dengan muka sebab.
“Nai, kamu kenapa?” tanya Daviandra.
“Mas, mas ngapain di sini?” balas Daviana bertanya pada Daviandra.
Daviandra pun segera masuk dan memeluk Daviana. Kemudian kembali bertanya, “Kenapa? Apa yang terjadi? Ceritakanlah.”
Daviana pun menceritakan semua apa yang terjadi di rumah tangganya selama satu tahun ini. Setelah mendengar penjelasan semua dari Daviana, Daviandra pun sangat marah dan segera meninggalkan kamar Daviana.
Sebelum meninggalkan kamar, Daviandra pun berbalik dan bicara dengan Daviana.
“Nai, kamu tetap di sini sampai aku kembali, ingat jangan kemana-mana. Aku akan selesaikan semua,” kata Daviandra.
Daviana pun mengangguk dan memeluk kakak-nya. Setelah Daviandra pergi, Daviana pun kembali menutup pintunya.
Brakkkk
Reigha yg mendengar cerita dari Daviandra, seketika menggebrak meja. Reigha sangat marah saat ini bahkan sampai menarik kerah baju Calvin.
“Dari awal papa udah bilang sama kamu, sekali aja kamu sakiti putriku tamat riwayat kamu,” kata Reigha menggeretakkan giginya.
“Pa, sabar ya jangan seperti ini, sebaiknya kita temui putri kita terlebih dulu,” kata Shafa.
“Bay, lo tau kan apa yang harus lo lakuin sama keluarga wijaya,” kata Reigha.
“Iya, Gha. Gue tau dan akan gue lakukan sekarang juga, gue akan hubungi Dani,” balas Bayu.
“Pa, Calvin minta maaf ... Calvin mengaku bersalah,” kata Calvin.
“Tapi kata-kata itu sama sekali tidak diharapkan!” bentak Reigha.
“Ndra, di mana adik kamu? Kasih tau papa lewat WA ya, papa dan mama pergi dulu,” ucap Reigha.
“Iya, Pa, nanti segera Andra kasih tau,” jawab Daviandra.
“Na, titip anak-anak ya,” ucap Shafa.
__ADS_1
“Iya, Fa, kamu jagain Naima ya, salam dari aku dan papinya,” balas Anna.
Tak lama kemudian, Reigha dan Shafa pun pergi meninggalkan rumahnya menuju ke tempat Daviana.
“Pi, kita apakan anak ini?” tanya Daviandra menoleh pada papinya.
“Biarin aja dia pulang, Dra, kita akan balas sakit hati adik kamu dengan cara lain,” jawab Bayu.
“Lo keluar dari rumah ini, cepat atau mau gue tendang loe,” kata Daviandra.
Calvin pun tanpa pamit langsung lari keluar.
Setelah Calvin pergi, Bayu segera masuk ke ruang kerja Reigha, sedangkan Anna menyiapkan makan malamnya. Sementara Daviandra masuk ke kamar untuk membersihkan badannya.
Di tempat lain, Reigha yang udah di kirimin alamat Daviana berada pun segera menuju ke sebuah hotel tempat Daviana menginap. Reigha dan Shafa segera menuju ke kamarnya.
Tak lama kemudian, kamar yang dicari pun udah ketemu. Reigha segera mengetuk pintunya. Tak lama kemudian, Daviana pun membukakan pintunya.
“Papa, mama ...” lirih Daviana segera memeluk orang tuanya bergantian.
“Sayang, kenapa kamu gak pulang ke rumah?” tanya Shafa.
“Iya, Nak, kenapa gak pernah cerita ke mama dan papa,” imbuh Reigha setelahnya.
“Ma’afkan Naima, Pa, Ma ... Nai hanya gak mau menambah beban pikiran papa dan mama,” jawab Daviana.
“Ayo masuk, Pa, Ma ... kita ngobrol di dalam aja,” kata Daviana setelahnya.
Mereka pun masuk ke kamar bersamaan. Kemudian mereka pun mengobrol serius walau pun udah mendengar dari Daviandra, tapi Reigha dan Shafa ingin juga mendengar langsung dari Daviana.
Setelah selesai bercerita, Reigha pun bertanya, “Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Nak? Papa akan mendukung kamu.”
“Naima akan mendaftarkan gugatan cerai, Pa,” jawab Daviana.
“Baiklah, kalau gitu papa akan menghubungi pengacara keluarga kita,” balas Reigha.
“Sekarang kamu pulang ya, Nak, sama mama dan papa,” titah Shafa.
“Ma, Pa ... boleh gak kalau malam ini Naima di sini dulu? Nai butuh waktu sendiri,” kata Daviana.
“Baiklah, Nak ... apapun itu, kamu tetap semangat ya, Sayang!” ucap Shafa memeluk erat putrinya.
“Iya, Ma ... makasih ya, Ma.”
“Baiklah, Nak, kalau gitu papa dan mama pulang dulu ya, kamu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa telpon papa,” kata Reigha.
“Iya ... papa gak usah khawatir,” balas Daviana.
“Baiklah, Sayang, mama dan papa pergi ya. Assalamu’alaikum,” ucap Shafa berpamitan.
__ADS_1
“Iya, Ma ... Wa’alaikumussalam,” balas Daviana mencium punggung tangan papa dan mamanya.
Di tempat lain di rumah Wijaya. Calvin tampak sampai rumah dan segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang takut jika papanya akan marah padanya dan melampiaskan semua ini pada Nadia, kekasihnya.