Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 25 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ...


“Nak, kamu udah siap? Ehh ... MasyaaAllah, kamu cantik banget. Mami sampai pangling loh,” ucap Anna.


“Ah, mami bisa aja. InsyaaAllah udah siap nih, Mi, mas Calvin apa udah datang, Mi?” tanya Daviana.


“Belum, Sayang, sebentar lagi mungkin. Kamu mau di sini aja atau keluar?” balas Anna kembali bertanya.


“Nai di kamar dulu aja ya, Mi, nanti kalau udah mulai acaranya, baru keluar. Reza udah datang apa belum, Mi?” kata Daviana.


“Hmm ... belum, Sayang, HP-nya juga belum bisa dihubungi,” balas Anna.


“Owh ... iya, Mi, mungkin masih belum landing ya pesawatnya, Mi,” ucap Daviana.


“Mungkin iya, Nak, yaudah mami keluar dulu, ya. Nanti kalau calon suami kamu udah datang, mami panggil kamu. Oke, Sayang?” kata Anna.


“Oke, Mami. Nai sambil nyoba terus telpon Reza,” ucap Daviana.


Anna pun segera keluar dan membantu menghidangkan kudapan untuk tamu.


Sementara di ruang kerja, tampak Reigha dan Bayu tengah mengobrol.


“Gimana ini, Bay, tadi kata Shafa ... Naima nanyain Reza,” kata Reigha.


“Kenapa nanyain Reza, Gha?” tanya Bayu.


“Dia mau di acara lamaran ini, Reza ikut menghadiri, Bay. Gimana?” balas Reigha bertanya kembali.


“Jadi gini, Gha ... kita bilang aja ke Naima kalau Reza lagi ada ujian. Gimana lagi kan, Reza belum sanggup ngelihat Naima bersanding sama laki-laki lain,” kata Bayu.


“Gue bingung ini, Bay,” lirih Reigha.


“Udahlah, itu pikir nanti lagi. Kasihan tamu-tamu dianggurin tuh di depan,” celetuk Bayu.


Selang tiga puluh menit, rombongan keluarga wijaya datang. Suasana rumah jadi tambah ramai setelah semua duduk, Anna pun memanggil Daviana.


“Eh, Na, mau ke mana?” tanya Shafa.


“Manggil Kak Nai, Fa. Aku atau kamu yang manggil?” balas Anna sembari bertanya kembali. Mana tau jika Shafa yang ingin langsung memanggil putrinya.


“Kita aja yang manggil yuk!” seru Shafa.


Anna dan Shafa pun bergegas menuju kamar Daviana. Anna merasa kalau Shafa masih kelihatan sedih. Lalu, Anna pun berhenti dan bertanya ke Shafa.


“Tunggu deh, Fa, kamu kenapa? Harusnya ini hari bahagia kamu karena putri kamu akan nikah tapi kamu sepertinya gak bahagia. Kenapa?” tanya Anna menghentikan langkah Shafa yang sedikit lagi sampai di pintu kamar Daviana.

__ADS_1


Shafa pun memeluk Anna, kemudian berkata, “Gimana aku mau bahagia, Na, kalau anakku satunya lagi bersedih karena acara ini.”


“Maksud kamu? Siapa yang bersedih? Dan kenapa harus sedih?” tanya Anna yang tampak bingung.


Saat Shafa mau berkata, Daviana keluar dari kamarnya. Shafa pun segera menghampiri.


“Loh ... Ma, Mi, kok berdiri di situ? Mas Calvin dan keluarganya udah datang apa belum?” tanya Daviana.


“Udah, Nak, ini kami mau membawa kamu nemuin calon suami kamu,” jawab Anna.


“Yaudah, ayo kita kesana!” ajak Daviana sembari tersenyum.


Shafa pun hanya bisa mengangguk dan mengikuti Daviana dan Anna di belakang. Sesampainya di ruang tamu, Daviana mengamati orang satu-persatu. Namun, tak juga ia menjumpai sosok yang dicarinya.


Setelah mereka duduk, Daviana bertanya ke Shafa sambil berbisik, “Ma, Reza kok belum datang ya, Ma.”


“Mungkin masih di jalan, Nak,” jawab Shafa sambil menahan tangis.


“Ma, tolong tanyakan ke papa atau papi atau tolong mama bilang ke om Bobby untuk jemput Reza ke bandara dong, Ma,” bisik Daviana kembali.


“Iya, Nak, nanti mama bilang ke papa kamu. Udah-udah, ke sana dulu di dekat calon suami kamu,” titah Shafa. Dan Daviana pun segera mendekat ke Calvin untuk duduk di sebelahnya.


Setelah semua berkumpul acara pun segera di mulai, setelah melalui beberapa kata sambutan tibalah acara lamaran dimulai.


Sementara di luar negeri, Reza yang mengingat hari ini adalah lamaran antara Daviana dengan Calvin pun lebih memilih untuk diam dan menyibukkan diri. Reza sengaja mematikan nomernya agar tidak melihat Daviana yang berusaha menghubunginya.


“Kenapa, Nak, ada apa?” tanya Reigha.


“Tunggu sebentar ya, Pa, aku nunggu Reza dulu,” jawab Daviana.


“Nak, dengarkan papi, Reza baru saja memberi pesan kalau Reza gak bisa datang karena ada ujian di kampusnya. Papi di minta menyampaikan permintaan maafnya ke kamu,” ucap Bayu.


“Yah ... gitu ya, Pi, kenapa gak WA langsung aja, kenapa lewat papi,” ucap Daviana yang cemberut.


Pak hartawan pun segera menginterupsi, “Gimana, Pak, mau dilanjut atau dijeda sebentar?”


“Sayang, ayo segera tukar cincin, keburu malam,” titah Reigha.


Dan dengan berat hati, Daviana pun nemasangkan cincin ke jari manis Calvin begitu pun Calvin memasangkan cincin di jari manis Daviana.


Acara lamaran pun berjalan lancar. Dan sesuai kesepakatan pernikahan diadakan satu bulan lagi.


Setelah acara selesai dan setelah beramah tamah dan memberikan konsumsi, semua tamu-tamu pun satu persatu pamit untuk pulang.


Keluarga hartawan pun pamit ke seluruh keluarga besar Reigha. Calvin juga berpamitan sama Daviana juga keluarganya. Setelah semua pulang, Daviana pun segera masuk ke kamarnya.

__ADS_1


“Nai, kamu gak mau duduk-duduk dulu, Nak?” tanya nenek Khalisa.


“Nai mau istirahat, Nek,” jawab Daviana yang segera berlalu pergi meninggalkan keluarganya.


“Kenapa itu Daviana, Fa, lamaran kok sepertinya gak bahagia?” tanya nenek Khalisa.


“Iyaloh, Kak. Gak biasanya Nai gitu, dia pasti selalu kumpul dulu sama kita,” imbuh Anggi.


“Nai pengen di acara lamarannya, Reza datang, tapi ternyata Reza ada ujian dan gak bisa diundur,” jawab Shafa.


“Kamu ke kamarnya lah, beri pengertian putri kamu,” titah nenek Khalisa.


“Iya, Bu,” balas Shafa sembari mengangguk.


Shafa pun menuju ke kamar Daviana dan disusul oleh Reigha.


“Sayang,” panggil Reigha.


“Iya, Mas?” Shafa menoleh ke belakang dan Reigha pun berjalan mendekat.


“Ayo ke kamar sebentar. Kita jangan ke kamar Naima dulu,” kata Reigha.


Reigha pun merangkul Shafa dan mereka berjalan beriringan menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar ...


“Kenapa sih, Mas?” tanya Shafa.


“Sayang, kita harus gimana untuk ngasih pengertian ke Naima? Di sana, Reza anak kita pun lagi sedih. Di sini, Naima yang harusnya di acaranya sendiri dia merasakan kebahagiaan, dia juga sedih,” lirih Reigha.


“Aku pun bingung, Mas. Sebenarnya aku juga gak tau harus gimana,” balas Shafa.


“Mas, aku kepikiran Reza. Kalau dia di sana lagi sedih, siapa yang ngehibur, ya,” lanjut Shafa dengan raut wajah yang khawatir.


“Ya ... sejujurnya aku gak tau dia di sana udah ada teman atau belum. Semoga ada teman yang mau menghibur dia,” ucap Reigha dan di-aamiinkan oleh istrinya.


“Yaudah, Mas. Ayo kita ke kamar Naima, ntar ditanyain ibu,” kata Shafa.


“Coba kamu pikirkan dulu, kamu udah tau mau ngasih pengertian gimana ke putri kita, Sayang?” tanya Reigha.


“InsyaaAllah udah, Mas. Ayo ke kamar Naima, Mas,” ajak Shafa dan diangguki oleh Reigha.


Mereka berdua pun berjalan mendekat ke kamar Daviana.


Tok ... Tok ... Tok ...

__ADS_1


“Kak, boleh papa dan mama masuk?” teriak Shafa dari luar kamar.


__ADS_2