
Pak Hilman pun segera memberikan copy surat wasiatnya ke Reigha dan ke Bayu. Kemudian, mereka pun segera membacanya.
“Pak, mari masuk ke ruang kerja saya,” ajak Reigha dan diangguki oleh pak Hilman.
Saat Reigha, Bayu, dan pak Hilman udah berada di ruang kerja, Reigha pun membuka suara.
“Pak, apa ini benar? Ini yang menulis asli papa?” tanya Reigha.
“Iya benar, Pak. Surat aslinya ada di saya,” jawab pak Hilman.
“Maaf, Pak, sepertinya saya gak pantas mendapatkan semua ini,” sambar Bayu.
“Maaf, Pak Bayu, itu yang ada di surat wasiatnya gak ada yang saya kurangi atau saya tambah-tambahi,” balas pak Hilman.
“Gha, maaf ya, Gha. Gue gak pantas mendapatkan semua ini, ini semua hak lo. Semua punya papa dan mama itu milik lo. Jadi tolong, Gha, gue menolak semua itu. Gue selama ini udah dianggap anak dan saudara lo aja udah bersyukur. Kalau warisan buat gue nantinya gue terima, gue gak mau itu akan jadi beban dan buat gue sombong, Gha,” ucap Bayu.
“Baiklah kalau itu mau lo. Pak, pembagian yang untuk Bayu bisa dipindah tangankan, Pak?” tanya Reigha pada pak Hilman.
“Ya, bisa kalau memang pak Bayu menolak, Pak,” jawab pak Hilman.
“Baiklah, karena Bayu menolak, tolong langsung buat pengalihan harta Bayu ke anaknya, yaitu Reza. Dan di buat saja sebelum Reza menikah, perusahaan akan dikelola Bayu,” kata Reigha membuat Bayu kaget.
Bayu yang mendengar pun menitikan air mata, “Gha, lo jadi orang benar-benar baik banget, ngapain lo kasih ke Reza anak gue, Gha,” lirih Bayu.
“Reza juga anak gue, Bay, jadi kalau lo gak mau, gue kasih ke Reza anak gue,” balas Reigha.
Bayu pun memeluk Reigha sambil menitikan air mata.
“Baiklah, Pak. Kalau pak Bayu udah setuju, segera saya urus surat-suratnya dan juga surat kuasanya,” kata pak Hilman.
“Baiklah, Pak. Terima kasih atas kedatangannya,” ucap Reigha.
“Terima kasih ya, Pak Hilman,” imbuh Bayu.
“Sama-sama, Pak Reigha, Pak Bayu ... sekali lagi saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya bapak dan ibu. Kalau begitu, pamit dulu,” ucap pak Hilman berpamitan.
“Iya, Pak, terima kasih sekali lagi. Silakan, Pak,” kata Reigha.
Dan pak Hilman pun keluar dari ruang kerja Reigha dan segera meninggalkan rumah Reigha.
Reigha dan Bayu pun ikut keluar. Saat mereka sampai di luar ruang kerja, Reigha melihat Farhan dan Sinta tampak baru masuk ke dalam rumah sedang melayat, Reigha pun segera mendekat. Bayu juga ikut Reigha menemui Farhan.
Farhan yang melihat kedatangan Reigha dan Bayu pun langsung berdiri. Kemudian berkata, “Pak Reigha, pak Bayu, saya dan istri turut berduka cita ya, Pak. Semoga almarhum pak Harun dan almarhumah ibu di terima amal ibadahnya dan di ampuni segala kesalahannya.”
__ADS_1
“Aamiin,” semua yang ada di ruangan tersebut.
“Silakan duduk kembali, ikut tahlilan juga kan kalian?” tanya Reigha.
“Iya, Pak, rencana kami mau ikut tahlilan juga,” jawab Farhan.
“Sayang!” panggil Reigha pada Shafa.
Kemudian Shafa pun mendekat dan bertanya, “Kenapa, Mas?”
“Ini, Farhan dan istrinya mau melayat,” jawab Reigha.
“Yaudah, Sintia ... lo ikut gue di belakang, di sini tempatnya laki-laki. Ayo, Sin,” ajak Shafa dan diangguki oleh Sintia.
Sintia pun mengikuti langkah Shafa dan bergabung bersama ibu Khalisa, Anna, Zhafira dan Santi. Tak lama kemudian, semua tamu pun udah datang dan acara segera di mulai.
Ayah Reynand memimpin acara tahlilannya. Kurang lebih satu jam acara selesai, semua tamu sebagian udah pulang, sebagian lagi masih mengobrol.
Tak lama dari itu, Anggi, Fathir dan anak-anak datang setelah acara.
“Papa, Papi,” teriaknya sembari berlari masuk ke dalam rumah.
“Hey, anak-anaknya Papa udah pulang. Langsung ke belakang dulu temui mama, mami, dan nenek ya, Nak,” titah Reigha.
“Masih banyak tamu, Nak. Baik-baik sama nenek di belakang, ya,” ucap Bayu.
“Iya, Papi. Kami mau ke belakang dulu ya,” kata Daviana dan diangguki oleh Bayu.
Mereka bertiga segera berlari menuju ke tempat di mana nenek, mama dan maminya berada.
“Bang, maaf ya kami terlambat,” ucap Fathir saat telah berada tepat di hadapan Reigha.
“Iya gapapa. Gimana, si kembar berulah?” tanya Reigha.
“Nggak, Bang, Reza dan si kembar baik kok. Tadi itu mereka tidurnya pulas banget jadinya Anggi gak tega mau banguninnya,” jawab Anggi.
“Yaudah, masuk, Gi, temui kakak dan ibu di dalam,” titah Bayu.
Fathir pun ikut bergabung bersama Reigha, Bayu, juga ayah Reynand. Dan mereka mengobrol sampai gak terasa waktu udah hampir tengah malam. Akhirnya mereka pun satu persatu pamit pulang.
Ayah Reynand dan ibu Khalisa yang beberapa hari ini gak pulang pun malam ini pamit pulang bareng Fathir dan Anggi.
Kini di rumah, tinggal Reigha, Shafa dan si kembar juga mbok Nah. Sementara Bayu, Anna dan Reza juga pulang ke rumahnya. Mereka segera beristirahat karena beberapa hari ini mereka semua kurang istirahat dan sangat kecapean.
__ADS_1
Tak terasa udah tiga bulan kepergian papa Harun dan mama Dhiya. Kini mereka pun udah terbiasa hidup tanpa kehadiran papa dan mama, walau sesekali mereka merasa rindu dan kesepian tanpa ada canda tawa papa Harun dan mama Dhiya. Tapi, mereka udah bisa menikmati hidup dengan tersenyum dan bercanda bersama anak-anak.
Di rumah Bayu, dari pagi Anna merasakan perutnya sakit. Bayu yang udah mulai panik karena Bayu takut darah pun segera lewat pintu samping menemui Shafa.
“Assalamu’alaikum, Fa, tolongin Anna. Sepertinya Anna mau lahiran,” kata Bayu yang tampak panik.
“Wa'alaikumsalam. Bay, kalau mau lahiran ya di bawa ke rumah sakit, ngapain malah lari ke sini manggil istri gue,” balas Reigha yang masih duduk di meja makan.
“Gha, lo kan tau gue takut darah. Tolonglah, gue pinjam istri lo sebentar ya. Biar Shafa nemenin Anna ke rumah sakit,” pinta Bayu.
“Gak, gak boleh. Shafa harus nemenin gue makan,” ucap Reigha.
“Gha, lo pelit amat sih. Kakak Reigha-ku, boleh gak kalau kakak Shafa mengantarkan adik iparnya ke rumah sakit?” tanya Bayu memelas.
Reigha pun tertawa. Kemudian berkata, “Udah-udah sana. Malah gak jadi makan gue nanti. Siapin dulu baju ganti dan baju lahirannya, Bay, gue dan Shafa bentar lagi ke sana.”
“Makasih, Gha, kakak yang baik,” kata Bayu sembari memberi cubitan kecil pada pipi Reigha dan langsung berlari.
Shafa yang melihat pun tertawa.
“Kalian itu, Mas ... lucu banget kalau udah bersama,” celetuk Shafa.
“Yaudah, mas makan dulu, ya. Shafa mau lihat anak-anak bentar,” lanjut Shafa.
“Cepat ya, Sayang,” balas Reigha diangguki oleh Shafa.
Saat Shafa udah sampai di kamar si kembar, dia melihat anak-anaknya yang udah rapi.
“Ayo ke ruang makan, Nak. Papa udah nunggu di sana,” ajak Shafa segera menggandeng anak-anak menuju ruang makan.
“Kembar, ayo segera makan. Kalian dan Reza diantar om Bobby dan om Vano, ya. Papa dan mama mau ke rumah sakit ngantar mami yang mau melahirkan. Kalian nurut sama om Bobby ya, Sayang,” titah Shafa pada si kembar.
“Iya, Ma, jadi adik mau keluar ya, Ma?” tanya Daviana dengan antusias.
“Iya, Sayang. Do'ain mami dan dedek sehat, ya,” ucap Reigha.
“Aamiin,” balas si kembar dan Shafa serempak.
Tak lama mereka selesai sarapan, setelah berpamitan ke Shafa dan Reigha, kembar pun masuk ke mobil.
“Bobby, sini sebentar,” panggil Reigha.
“Iya, Pak, ada apa?” tanya Bobby.
__ADS_1