Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 94 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Oke, Bu, silahkan dorong pelan-pelan dan tetap rileks, ya!” seru Dokter Amanda.


Mendengar dokter kembali menyeru, Shafa pun segera melihat ke bawah dan melihat kalau kepala bayinya udah tergantung.


Dibantu oleh dokter yang menarik pelan-pelan kepala bayinya, Shafa segera menguatkan tenaganya untuk mengejan kembali.


“Eennggghhhhh ... aaaaawwwhh!”


“Terus ... terus, Bu. Jangan diangkat pantatnya. Pak Reigha, tolong usahakan bantu jangan sampai Bu Shafa mengangkat pantatnya, ya.”


“Masss ... Emmphhhh.” Shafa mengatupkan bibirnya agar Shaga tidak sampai berteriak.


Shafa merasa daerah intinya membesar disertai rasa sakit yang tak tertahan. Akhirnya dengan sekali dorongan.


“Eennggghhhhh ... aakkhhh!” di teriakan terakhir, akhirnya bayi laki-laki pun keluar dari dalam perut Shafa.


Suara bayi pun terdengar mengisi ruangan tersebut.


Oek...Oek...Oek...


“Bayi pertama laki-laki ya, Pak,” ucap Dokter Amanda menyerahkan bayi itu pada suster untuk segera dibersihkan.


“Istirahat dulu ya, Bu, sambil menunggu kontraksi berikutnya,” titah Dokter diangguki oleh Shafa.


Dan beberapa menit kemudian, kontraksi datang lagi. Shafa yang udah hampir kehilangan tenaga harus mengejan lagi.


Reigha sampai menitikan air mata merasa tak tega melihat Shafa melalui proses bersalinnya.


Dan saat kontraksi ke dua datang lagi, Shafa segera mengejan.


Dengan setengah tenaga yang tersisa, akhirnya bayi kedua pun lahir juga dengan suara tangis yang lebih nyaring dari sebelumnya.


Oek...Oek...Oek


“Bayi kedua perempuan ya, Pak,” ucap Dokter Amanda juga menyerahkan bayi itu pada suster untuk dibersihkan.


“Terima kasih, Sayang. Kamu hebat,” ucap Reigha mencium seluruh wajah Shafa tanpa malu dilihat oleh dokter Amanda dan juga perawat yang masih di sana.


“Mas, malu loh, itu dilihat dokter dan suster,” ucap Shafa dengan lemah.


“Tenang, kami gak lihat!” celetuk dokter Amanda sambil mengulum senyumnya.


Setelah bayi kedua lahir, dokter Amanda segera mengeluarkan ari-arinya. Saat ari-ari keluar, terjadi kembali pendarahan hingga membuat Shafa tidak sadar.


Reigha pun kaget dan kembali cemas, “Dok, dokter, apa yang terjadi pada istri saya?”


“Sebentar ya, Pak, saya periksa dulu. Silakan bapak tunggu di luar,” balas dokter Amanda yang mengharuskan Reigha meninggalkan istrinya dalam keadaan tak sadarkan diri.


Tanpa menunggu lama dan tak ingin membuang waktu, Reigha pun segera keluar.

__ADS_1


Di tempat lain di rumah Papa Harun, Anna yang panik pun segera menelpon Bayu.


“Assalamu’alaikum, Bang. Abang pulang sekarang ya, Shafa udah mau lahiran, Anna cemas nih, Bang,” ucap Anna.


“Wa’alaikumussalam, Sayang, tenang dulu jangan cemas gitu. Ingat kamu juga lagi hamil. Kamu siap-siap abang segera pulang, nanti kita ke rumah sakit sama-sama,” balas Bayu menenangkan Anna.


“Abang, tolong telpon papa dan mama ya, juga orang tua Shafa,” lirih Anna.


“Iya, Sayang, kamu tenang ya, abang pulang sekarang.” Bayu segera mengakhiri panggilannya dan keluar ruangan untuk segera pulang.


Di jalan, Bayu segera menelpon Papa Harun, “Assalamualaikum, Pa, kapan papa mau pulang? Ini udah lima bulan loh, Pa.”


“Wa’alaikumussalam, Bay, nanti ya. ‘kan Shafa minggu-minggu ini mau lahiran, jadi rencana papa dua hari lagi pulang,” jawab Papa Harun.


“Gak usah nunggu dua hari lagi, Pa, sekarang aja kalau ada penerbangan Papa dan Mama pulang ya, karena Shafa sekarang di rumah sakit, Shafa akan segera melahirkan,” balas Bayu membuat Papa yang di sebrang telpon kaget.


“Apa, Bay, kamu serius? Kok baru ngabari? Yaudah Papa langsung pulang sekarang. Kamu temani Reigha dulu ya, Bay.” Papa segera mengakhiri telponnya. Kemudiam papa segera menghampiri mama dan mengajak bersiap-siap untuk pulang ke Indonesia.


Sedangkan Bayu beralih segera menelpon ayah Reynand, “Assalamu’alaikum, Om. Maaf apa om dan tante bisa sekarang ke rumah sakit? Shafa mau melahirkan, Om.”


“Wa’alaikumussalam, oh iya, Nak Bayu. Baiklah, sekarang juga kami ke rumah sakit.”


Mereka pun mengakhiri panggilannya dan segera menuju ke rumah sakit.


Bayu yang udah sampai di rumah, tanpa masuk Anna sudah keluar terlebih dahulu, “Ayo kita langsung berangkat, Bang.”


Dan tak berapa lama, Bayu dan Anna udah sampai di rumah sakit. Bayu dan Anna langsung menuju ke ruang bersalin. Saat sampai di depan ruangan tampak Reigha sedang menunduk dan kelihatan sedih.


“Gha, kok lo di luar, lo gak nemenin Shafa lahiran di dalam?” tanya Bayu.


Reigha yang melihat Bayu datang langsung memeluk Bayu, “Bay, alhamdulilah anak gue udah lahir. Tapi ... Shafa, Bay, dia setelah melahirkan pingsan dan sampai sekarang dokter yang meriksa belum keluar.”


“Gha, lo harus tenang ya, berdo’a semoga Shafa gapapa,” balas Bayu.


Tak lama, datanglah Ayah Reynand dan Ibu Khalisa dengan tergesa-gesa mendekati Reigha, Bayu dan juga Anna yang berada di sana.


“Nak Reigha, gimana keadaan Shafa dan cucu-cucu kami?” tanya Ayah Reynand.


“Shafa masih di dalam, Yah. Kalau anak-anak kami udah lahir. Alhamdulillah sepasang Yah, Bu,” jawab Reigha sesekali menyeka air matanya yang sempat menetes.


“Alhamdulillah,” balas Ibu Khalisa bersamaan dengan salah satu suster keluar dari ruangan.


“Maaf, Pak Reigha, apa ada anggota keluarga yang golongan darahnya B+? Bu Shafa membutuhkan darah 5 kantong sedangkan stok di rumah sakit ini tinggal 2,” ucap suster.


Mendengar ucapan suster, Ibu Khalisa segera berkata, “Yah, Ayah coba telpon Anggi, suruh segera ke rumah sakit , golongan darah mereka sama.”


“Iya, Bu, sebentar Ayah telpon.” Ayah tampak merogoh ponselnya dan segera menelpon Anggi untuk menyuruhnya segera ke rumah sakit.


“Selain Anggi siapa ya, Yah yang golongan darahnya B+?” tanya Reigha yang mulai kebingungan dan cemas pada istrinya.

__ADS_1


“Ayah juga B+, Nak Reigha nanti ayah juga InsyaaAllah bisa kok,” jawab Ayah.


“Berarti tinggal satu lagi. Bay, coba lo telpon Dani suruh umumin siapa yang golongan darah B+ suruh ke Rumah sakit segera,” ucap Reigha.


“Oke, Gha, gue telpon Dani bentar,” balas Bayu. Tanpa menunggu lama langsung menelpon Dani.


Setelah memberitahu Dani, Bayu pun segera mendudukkan diri di dekat Reigha.


Dokter keluar dan memanggil Reigha untuk menyuruhnya menyuruhnya masuk.


“Begini, Pak Reigha, kondisi istri bapak selamat. Tapi, masih belum sadarkan diri. Kondisi masih sangat lemah dan perlu pengawasan intensif dari dokter. Detak jantungnya melemah saluran oksigennya juga turun, hemoglobinnya pun berkurang, menyebabkan istri anda kehilangan banyak darah. Kami mengharuskan memindahkan Bu Shafa ke ruang ICU. Selanjutnya, kita akan mengadakan transfusi darah terlebih dahulu. Mohon di siapkan calon pendonor darahnya ya, Pak,” ucap Dokter Amanda menjelaskan.


“Dan, untuk dua bayi anda udah kami pindahkan di ruang bayi. Sebaiknya Pak Reigha ke ruang bayi dulu untuk mengadzankannya,” lanjut Dokter.


“Iya, Dokter. Saya mohon tolong sembuhkan Shafa lakukan yang paling terbaik, untuk pendonor akan segera datang,” balas Reigha.


“Saya akan ke ruangan bayi sekarang,” lanjut Reigha segera keluar dan menuju ke ruangan bayi untuk mengadzan kedua bayinya.


Semua pun ikut ke ruang bayi untuk melihat si kembar. Mereka melihat dari balik kaca si kembar yang imut, lucu dan menggemaskan.


Setelahnya, Reigha pun kembali keluar. Mereka kini menuju ke ruangan ICU.


Tak berapa lama, Anggi datang dan kemudian Dani juga santi yang bersamaan datang.


“Ayah, Ibu, di mana Kak Shafa?” tanya Anggi cemas.


“Kakakmu masih di dalam ruangan dan butuh darah B+. Kami bersedia mendonorkan untuk Shafa, Nak?” balas Ibu Khalisa.


“Anggi bersedia, Bu.”


“Pak Reigha, saya udah mengumumkan di kantor Pak Reigha juga di kantor Pak Bayu. Apa udah ada yang datang, Pak?” tanya Dani yang telah berdiri di hadapan Reigha dan juga Bayu. Sementara Santi duduk di samping Anna.


“Belum, Dan. Mungkin bentar lagi,” jawab Reigha.


Dan tak berapa lama tampak seorang laki-laki datang menghampiri mereka.


“Maaf, Pak, saya Fathir Muzakki pegawai di kantor bapak, golongan darah saya B+, Pak,” ucap Fathir.


“Baiklah, terima kasih ya, udah mau bersedia mendonorkan darah. Tunggulah sebentar,” balas Reigha diangguki oleh Fathir.


Reigha pun segera memanggil perawat yang menangani Shafa.


“Maaf, Sus, itu calon pendonor darah istri saya udah siap,” ucap Reigha.


“Baiklah, Pak, silakan calon pendonor melakukan pemeriksaan dulu. Mari ikut saya,” titah perawat segera berjalan duluan.


Kemudian Anggi, Ayah Reynand, dan Fathir segera mengikuti perawat. Dani juga Santi hendak ikut melangkah. Namun, terhenti karena di panggil oleh Bayu.


“Dan, kamu mau ke mana?” tanya Bayu.

__ADS_1


__ADS_2