Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 52 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Sesampainya di rumah Papa Harun, para wanita masih ngerumpi di ruang tamu. Sesekali diselingi tawaan yang terdengar.


Reigha, Bayu, dan Papa Harun pun tampak masuk ke dalam rumah dan ikut duduk ngobrol bersama di ruang tamu.


“Jadi, gimana nih ... Binar udah di penjara. Apa sekarang rencana kamu, Gha?” tanya Papa Harun.


“Iya nih. Kalian jadi bulan madu kemana?” tanya Mama Dhiya.


Reigha pun langsung melihat Shafa yang berada di samping Mama Dhiya.


“Gimana, Sayang. Kita jadi pergi kemana?” tanya Reigha.


“Apa gak sebaiknya kita fokus ke Bayu dan Anna dulu, Mas. Gimana kalau kita segera merencanakan lamaran Bayu dan Anna?” balas Shafa membuat Bayu dan Anna saling tatap. Kemudian, tampak Anna menganggukkan kepala seakan memberikan kode pada Bayu untuk berbicara.


Bayu dan Anna pun saling pandang, lalu Anna pun mengangguk seakan menyuruh bayu berbicara.


“Kita lamarannya setelah lo dan Shafa honeymoon,” ucap Bayu dengan mantap.


“Lah, emangnya gapapa?” tanya Reigha memastikan.


“Ya ... gapapalah, Gha. Lagian ini udah keputusan kamu berdua. Iya ‘kan, Sayang?” balas Bayu sembari menoleh pada Anna yang tampak mengangguk membenarkan.


“Iya, benar yang dikatakan Abang. Ini udah menjadi keputusan kita berdua. Kami akan lamaran setelah kalian pulang honeymoon. Jadi, Pak Reigha dan Shafa honeymoon dulu aja. Masalah kantor biar dihandle sama Om Harun & dan Abang,” balas Anna.


Netra Reigha pun mengurung tatapan Shafa seakan meminta jawaban, “Gimana sayang?”


“Shafa terserah Mas aja,” jawab Shafa.


Reigha yang telah mendengar jawaban dari Shafa pun mengangguk sembari melemparkan senyumnya pada Shafa. Kemudian, Reigha kembali mengeluarkan suaranya bertanya pada Shafa, “Tapi, Sayang ... kita mau ke mana?”


“Eh, kalian tenang aja, udah papa siapkan,” ucap Papa Harun segera berlalu pergi menuju ke kamarnya. Tak lama, Papa kembali.


“Ini tiket untuk kalian honeymoon,” imbuh Papa Harun mengulurkan tangannya memberikan amplop putih berisi tiket honeymoon untuk Reigha dan juga Shafa.


Reigha langsung saja menerima dan membuka amplop tersebut. Kemudian, dia terperangah dan ingin protes pada sang Papa.


“Hah! Kok ke Singapore, Pa?” protes Reigha membuat Papa Harun mengernyit heran.


“Emang kenapa sih, Gha?” tanya Papa Harun.


“Terlalu dekatlah, Pa. Ke Jepang atau Amerika gitu,” jawab Reigha.


Shafa melihat Reigha protes pada Papa Harun pun mulai membuka suara, “Mas, udahlah. Hargai pemberian Papa. Lagian, Shafa ‘kan takut naik pesawat. Jadi jangan lama-lama di pesawat, ya, Mas.”


“Baiklah, Sayang.”

__ADS_1


Papa dan Mama saling tatap saat melihat Reigha luluh begitu saja dengan Shafa. Tak ada yang bisa membuat Reigha berpaling dari keinginannya, tapi kali ini dia rela honeymoon di tempat yang dekat baginya demi sang istri.


“Makasih, Pa!” seru Shafa yang diikuti oleh Reigha yang mengucap terima kasih juga pada Papa Harun.


“Gha, nanti pulang honeymoon harus udah dapat kabar baik, ya. Mama akan selalu do’akan. Tapi, mana bisa hanya dengan do’a. Kamu juga harus berusaha, ya,” tutur Mama Dhiya membuat Reigha dan Shafa saling tatap sembari tersenyum kecil mendengar penuturan Mama Dhiya.


“Oh ... kalau itu pasti, Ma. Pokoknya beres!” seru Reigha membuat Shafa malu dihadapan mertuanya.


Andai saja Reigha berada di samping Shafa, pasti sudah Shafa cubit saat ini.


“Gha, ingat. Lo gak boleh lama-lama honeymoon. Cukup satu minggu aja,” ucap Bayu seketika mendapat tatapan tajam dari Reigha.


“Heh! Lo sok-sok ngatur. Emangnya siapa yang punya perusahaan.”


“Ya iya .... lo yang punya perusahaan. Tapi, lo pikirin gue jugalah. Masa lo seneng-seneng, gue yang mumet kelamaan ngurusin perusahaan!” celetuk Bayu cemberut.


“Ntar gantian, lo honeymoon gue yang ngurus perusahaan,” balas Reigha membuat Bayu kembali mengembangkan senyumnya.


Mereka semua pun tertawa melihat kelakuan Reigha dan Bayu.


“Eh, udah siang ini. Ayo semua makan siang!” seru Mama Dhiya.


Mereka pun semua bergegas ke ruang makan. Di ruang makan mereka sesekali ngobrol santai.


Setelah makan, Bayu, Anna dan Papa Harun, serta Reigha kembali ke kantor. Sementara, Shafa dan Mama Dhiya langsung menuju kamar Shafa packing barang untuk keberangkatan honeymoon besok pagi.


“Ma, nanti mama mau di bawakan Shafa apa?” tanya Shafa pada mertuanya.


“Mama mau menantu cantik Mama ini bawakan cucu yang lucu buat mama,” jawab Mama Dhiya membuat Shafa langsung tersenyum malu.


“Kalau itu, insyaaAllah, Ma. Shafa minta do’anya, ya, Ma.”


“Mama pasti selalu mendoakan kebahagiaan kalian dan semoga Mama di kasih cucu yang banyak,” balas Mama Dhiya sambil tertawa kecil.


Setelah mereka lama melakukan packing barang, Mama kembali mengamati dua koper yang saat ini telah terisi baju dan juga barang lainnya di dalam koper tersebut.


“Fa, kira-kira ini ada yang kurang gak, ya?” tanya Mama Dhiya tak beralih menatap kedua koper dihadapannya.


“Sepertinya udah cukup, Ma. Makasih, Ma. Mama udah bantu Shafa packing,” balas Shafa membuat Mama Dhiya tersenyum senang. Tak sabar rasanya bagi Mama Dhiya untuk menimang cucunya kelak.


“Iya ... sama-sama, Sayang. Yaudah, Mama keluar dulu, ya. Kamu istirahat aja sebelum besok perjalanan honeymoon, dipersiapkan diri kamu, ya,” ucap Mama Dhiya.


“Iya, Ma,” Shafa mengangguk, paham.


Mama Dhiya pun segera keluar langsung ke kamarnya untuk istirahat juga.

__ADS_1


Sementara di kantor, Bayu sedang di ruangan Reigha.


“Gha, untuk masalah Binar udah beres, dia udah dapat hukuman atas apa yang udah dia perbuat. Lo gak pengen nengok dia?” ucap Bayu yang diakhiri oleh pertanyaan yang dilontarkannya pada Reigha.


“Lo gila ya ... nyuruh gue nemuin wanita itu, untuk apa?” tanya Reigha sembari mengernyit heran menatap Bayu dihadapannya.


“Ya ... paling gak, lo bisa lihat keadaannya. Soalnya, kemarin tuh kata Andara, dia sepertinya stres berat. Teriak-teriak manggil lo, trus ketawa,” ucap Bayu menceritakan apa yang Andara ceritakan padanya.


“Ogah gue, Bay. Gue gak mau ketemu dengan wanita itu lagi,” balas Reigha yang memang tak ingin lagi berurusan dengan Binar demi menjaga perasaan Shafa sebagai istrinya.


“Gha, gue dah harus segera meeting. Udah ditunggu nih,” ucap Bayu sembari melihat schedule-nya.


“Oh ... oke. Lo meeting di mana?” tanya Reigha.


“Gue ada janji meeting sama PT. Makmur Sentosa untuk membahas kerja sama kita,” jawab Bayu membuat Reigha manggut-manggut.


“Oke. Hati-hati, ya!” seru Reigha.


Bayu pun mengangguk lalu keluar menuju ke ruangannya.


Reigha yang juga ada jadwal meeting hari ini pun langsung keluar bersama Puspa menuju ruang meeting.


Di ruangan Bayu, Bayu langsung menyiapkan berkas yang akan di bawa lalu menelepon Anna.


“Sayang, siap-siap, ya ... kita mau pergi meeting bersama PT. MAKMUR SENTOSA,” ucap Bayu pada ponselnya.


“Baik, Bang. Anna siap-siap sekarang,” balas Anna di sebrang telpon.


“Iya, Sayang.” Bayu pun segera menutup telponnya dan bergegas menuju ruangan Anna menghampiri asistennya sekaligus calon istrinya.


Beberapa menit kemudian, Bayu dan Anna pun berangkat menuju tempat meetingnya.


Sesampai di tempat yang di tentukan, ternyata yang di tunggu belum datang. Akhirnya, Bayu menyuruh Anna memesan makanan duluan.


Lima belas menit kemudian, anak dari CEO PT. MAKMUR SENTOSA pun tiba.


“Selamat siang, Pak Bayu. Maaf saya terlambat,” ucap Ivanka.


Bayu pun langsung berdiri dan bersalaman. Bayu terkejut karena yang datang pada meeting hari ini adalah perempuan anak dari Bapak Santoso Wibisono yang tak lain adalah CEO PT. MAKMUR SENTOSA.


“Maaf, Pak Bayu. Papa saya hari ini berhalangan hadir. Jadi, saya yang menggantikannya,” imbuh Ivanka setelah bersalaman dengan Bayu dan juga Anna yang disebelah Bayu.


“Baik, gak masalah,” kata Bayu datar.


“Oh iya ... perkenalkan ini Anna asisten saya sekaligus calon istri saya,” lanjut bayu memperkenalkan Anna yang sejak tadi setia berdiri disampingnya.

__ADS_1


Anna dan Ivanka pun saling melempar senyum, tetapi, Ivanka menatap Anna dengan sinis.


“Oh, calon istri Pak Bayu, ya?” beo Ivanka sembari memandang Anna dari atas hingga bawah dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


__ADS_2