Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 8- S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Loh ... Jasmin, masuk pagi juga kuliahnya?” tanya Reza.


Ya, perempuan itu adalah Jasmin anak dari Dani dan Santi.


“Iya, Kak. Tapi, ternyata dosennya gak datang. Jadi aku nunggu di kantin aja,” jawab Jasmin.


“Owh, yaudah. Gabung sini aja,” balas Reza.


“Beneran boleh, Kak? Nanti takutnya ada yang marah. Ngomong-ngomong ... kakak kok di sini?” tanya Jasmin.


“Kami sekarang kuliah lagi di sini, lanjut S2. Ya, tapi mulainya satu jam lagi. Jasmin, kok kamu bilang ada yang marah? Emang siapa?” tanya Reza.


“Kakak berdua ini gak peka jadi cowok,” jawab Jasmin membuat Daviandra mengernyit.


“Kakak berdua ini gak peka jadi cowok,” jawab Jasmin membuat Daviandra mengernyit bingung.


“Gak peka gimana? Kan emang kami gak punya pasangan,” balas Daviandra dengan santainya.


“Kakak itu peka dikitlah, ada yang suka sama kakak loh,” kata Jasmin yang ditujukan ke Daviandra.


“Udah, gak usah sebar gosip. Kami pergi dulu ya,” ucap Daviandra.


“Kakak menghindar ya?” tanya Jasmin sembari tertawa.


“Buka menghindar. ‘kan bentar lagi kelas kakak mulai, kakak harus sampai sana cepat, takut terlambat. Assalamu’alaikum,” jawab Daviandra segera melangkahkan kakinya keluar dari kantin.


“Wa’alaikumussalam,” balas Jasmin menatap punggung Daviandra yang udah menjauh.


“Jasmin, hati-hati di kantin sendirian ya. Kalau ada apa-apa, telpon kami. Oke?” titah Reza.


“Oke, Kak,” balas Jasmin.


‘Ya Allah, apa bisa Kak Andra jadi milikku?’ batin Jasmin.


Reza pun menyusul langkah Daviandra pergi setelah membayar makanan mereka juga makanan Jasmin.


Setelah menyamai langkah Daviandra, mereka berdua berjalan melewati kelasnya Chayra.


Chayra gak sengaja melihatnya. Tapi, tidak dengan Daviandra dan juga Reza.


Daviandra dan Reza, kini udah sampai di kelas. Mereka pun langsung masuk dan duduk bersebelahan. Saat udah duduk, ada gadis di depan mereka berdua yang tadinya duduk tenang pun langsung menoleh ke belakang.


“Boleh kenalan gak? Kenalkan, aku Saskia,” kata Saskia memperkenalkan dirinya.


“Aku Reza. Dan ini saudaraku, Daviandra,” balas Reza tapi tidak dengan Daviandra yang diam tanpa ekspresi apapun.


“Saudara lo kok diam aja, Za?” tanya Saskia.


“Memang gitu saudara gue,” jawab Reza dengan santainya.


Dan tak lama kemudian, dosen pun datang dan dimulailah materi mata kuliahnya. Tak lama kemudian, selesai materi hari ini dosen pun segera meninggalkan kelas.

__ADS_1


Mereka pun segera keluar dari kelasnya. Saat Daviandra dan Reza keluar kelas, tiba-tiba Saskia menggandeng Daviandra.


“Gue bareng kalian, ya,” kata Saskia sambil menggandeng Daviandra.


Daviandra segera berhenti, kemudian berseru,”Lepaskan tangan lo dari tangan gue!”


Saskia kaget dengan Daviandra yang menyeru padanya.


“Maaf, gue cuma mau bareng keluar sampai halaman depan aja kok,” kata Saskia.


“Tapi gak harus gandeng tangan gue, paham,” ucap ketus Daviandra.


“Maaf, tapi gue cuma mau akrab aja sama kalian,” lirih Saskia.


“Akrab gak harus seperti tadi,” balas Daviandra tanpa melirik sedikit pun pada Saskia.


“Eh, udah-udah ... ayo kita pulang. Kita mau ke kantor ‘kan,” kata Reza yang pada akhir kalimatnya, berbisik ke Daviandra.


Dan akhirnya mereka bertiga pun segera keluar menuju halaman kampus, saat melewati depan kelas Chayra, Chayra langsung menoleh, dan Chayra melihat kalau di sebelah Daviandra ada cewek. Chayra pun merasa sakit hati.


‘Ya Allah, segera hapus rasa ini ... sakit rasanya,’ batin Chayra yang gak terasa meneteskan air mata.


DIra yg melihat pun terkejut dan bertanya, “Chay, lo kenapa? Kok nangis?”


“Ehhh ... gapapa. Kelilipan barusan,” jawab Chayra.


‘Kelilipan? Perasaan gak ada angin,’ batin Dira dan mereka pun tetap fokus ke materi. Tak lama kemudian, dosen pun pergi karena materi hari ini udah selesai. Dan mereka pun semua keluar.


“Eh, Ra, maaf ya ... tiba-tiba gue gak enak badan nih. Gimana kalau lain kali aja?” balas Chayra.


“Owh, oke gak masalah. Lo hati-hati, ya. Sampai ketemu besok,” kata Dira dan diangguki oleh Chayra.


Dan Chayra pun melambaikan tangannya lalu segera menuju ke parkiran dan segera meninggalkan kampus.


Sementara Daviandra yang gak sengaja mendengar kalau Chayra sakit pun tiba-tiba cemas.


“Za, gue pergi dulu ya. Gue naik ojek online aja,” kata Daviandra.


“Yaudah, emang lo mau kemana?” tanya Reza.


“Bentar, gue baru ingat kalau ada sesuatu yang penting. Nanti aja kita ketemu di kantor ya, Za,” jawab Daviandra sambil mengetik aplikasi ojol di ponselnya.


“Hati-hati ya, Bro, gue jalan dulu,” kata Reza dan segera pergi menuju ke kantor.


Tak lama kemudian, ojol yang dipesan Daviandra sudah datang, dan tanpa menunggu lama, Daviandra segera naik dan menyusul mobil Chayra.


Daviandra bingung karena mobil Chayra bukan ke arah rumahnya tapi Daviandra terus mengikuti Chayra. Sampai pada akhirnya, Chayra berhenti di tepi laut. Daviandra pun ikut berhenti dan mengawasi dari jauh. Chayra keluar mobil dan ternyata Chayra menangis sejadi-jadinya.


Dari kejauhan, Daviandra melihat kalau Chayra menangis dan sambil menulis sesuatu di pasir. Daviandra pun pelan-pelan mendekat dan berhenti di balik tembok.


Chayra menulis nama Daviandra. Dan itu terlihat jelas terlihat oleh Daviandra.

__ADS_1


‘Loh, Chayra kok nulis nama gue,’ batin Daviandra.


“Ya Allah ... tolong hapus rasa ini di hatiku. Sepertinya kak Andra gak suka sama Chayra. Tolong buat Chayra bisa melupakannya,” kata Chayra yang tentu dapat Daviandra dengar tanpa sepengetahuan Chayra.


‘Apa gue gak salah dengar? Chayra suka sama gue?’ batin Daviandra bertanya-tanya.


Dan Daviandra segera sembunyi saat Chayra menelpon, ternyata Chayra menelpon papanya.


“Assalamu’alaikum, Pa,” kata Chayra mengawali.


“Wa'alaikumsalam, Nak. Ada apa tumben telpon papa siang-siang?” tanya Afkar.


“Pa, bisa gak papa uruskan kepindahan Chayra? Chayra mau kuliah di luar negeri aja, Pa,” jawab Chayra.


“Kamu serius, Nak? Kenapa kok mendadak?” tanya Afkar kembali.


“Gapapa, Pa. Chay jenuh aja, pengen suasana baru aja. Ya, Pa ... kalau bisa secepatnya,” balas Chayra.


“Yaudah. Nanti saja dibahas di rumah ya, Nak, kita tanya ke mama dulu. Oke? Assalamu’alaikum,” ucap Afkar.


“Oke, Pa. Wa’alaikumussalam,” balas Chayra dan kembali menyimpan ponselnya.


“Pokoknya gue harus pindah kuliah, agar gue bisa melupakan kak Andra,” kata Chayra.


Dan semua itu didengar langsung oleh Daviandra. Daviandra tiba-tiba sedih saat tau kalau Chayra mau pergi ke luar negeri. Tapi, Daviandra belum menyadari tentang perasaannya sendiri.


Setelah agak tenang, Chayra pun segera masuk mobil dan meninggalkan tempat itu, Daviandra segera ke ojol yang masih menunggunya dan meminta mengikuti lagi mobil Chayra.


Saat Daviandra yakin kalau itu Arah rumah Chayra, Daviandra pun segera berbalik arah menuju ke kantor Reigha, Papanya.


Saat melewati toko buka “Azuhra Florist” Daviandra pun minta berhenti sebentar dan segera masuk untuk memesan bunga tulip warna putih yang Daviandra tau, itu kesukaan Chayra. Kemudian, Daviandra meminta diantar bunga tersebut ke alamat rumah Chayra.


Setelah itu, Daviandra segera menuju ke kantor Reigha, dan segera berganti pakaian dengan seragam OB.


“Dra, lo darimana? Gue nungguin lo dari tadi,” tanya Reza.


“Udahlah, yang penting gue kan udah di sini,” jawab Daviandra tampak murung.


“Lo ada masalah ya, Bro? Kok muka lo kayak gak bersemangat?” tanya Reza kembali.


“Gak ada. Gue gapapa. Yaudah yuk, kita kerja,” elak Daviandra.


Sedangkan di rumah kediaman Afkar, Chayra yang baru sampai itu kaget saat ada yang mengantar bunga.


“Cari siapa ya, Bang?” tanya Chayra pada kurir yang mengantar.


“Cari mbak Chayra. Apa ada, Mbak?” tanya kurir tersebut.


“Saya Chayra, Pak, ada perlu apa?” tanya Chayra kembali.


“Ini ada kiriman bunga untuk anda, Mbak,” balas kurir tersebut.

__ADS_1


“Dari siapa, ya?” tanya Chayra memutar-mutarkan buket bunga yang dipegangnya.


__ADS_2