Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 60 - Menikahi Susterku


__ADS_3

“Iyaa, Ma. Oh iya ... Ma, tadi pas di bandara singapore waktu Shafa dan Mas Reigha mau pulang ke Indonesia, kami ketemu tante Lucy dan anaknya,” balas Shafa bercerita pada Mama Dhiya.


“Mereka mau kemana, Fa?” tanya Mama Dhiya.


“Pulang juga ke Indonesia, Ma. Kami satu pesawat,” jawab Shafa.


“Tapi, gak buat masalah kan?”


“Enggak kok, Ma, cuma menyapa aja tadi,” balas Shafa.


“Ma, Shafa ke kamar dulu ya,” lanjut Shafa berpamitan dan segera menuju kamarnya.


“Iya, Fa. Istirahatlah kamu. Mama mau ke dapur,” ucap Mama Dhiya.


Sementara di kantor, Bayu dan Reigha datang bersamaan. Bayu kaget karena ternyata di belakang mobil Bayu adalah mobil Reigha.


“Gha, lo nyetir sendiri?” tanya Bayu.


“Enggak. Bawa sopirnya Mama tadi. Bay, gue mau ngobrol sama lo bentar,” jawab Reigha.


“Yaudah yuk di ruangan lo aja,” ajak Bayu.


Mereka berdua pun segera ke ruangan Reigha. Sampai di depan ruangan Reigha, tampak Puspa sedang mengobrol bersama Anna.


“Lho ... Pak Reigha udah pulang honeymoon ya, Pak?” tanya Puspa.


“Baru saja. Dan, langsung ke kantor,” jawab Reigha membuat Puspa manggut-manggut.


“Pak, Shafa mana?” tanya Anna sembari melihat ke belakang Reigha.


“Shafa di rumah, Na. Kasihan, capek kalau harus ikut ke kantor,” jawab Reigha.


“Na, Reigha ngajak ngobrol sebentar di ruangannya. Kamu kalau mau nunggu, di sini aja sama Puspa, ya,” ucap Bayu.


“Baik, Bang, Anna di sini aja. Kerjaan Anna juga udah selesai kok,” balas Anna.


Reigha dan Bayu pun masuk ke ruangan Reigha. Mereka berdua duduk berhadapan.


“Bay, kita harus hati-hati. Gue merasa sepertinya tante Lucy punya niat yang gak baik. Gue yakin itu,” ujar Reigha dengan tatapannya yang tampak serius.


“Pasti targetnya tante Lucy lo deh, Gha. Soalnya, sejak dia datang ke rumah tuh yang dituju ruang kerja lo, bukan ruang kerja Papa Harun.” Ucapan Bayu membuat Reigha tampak berpikir.


“Ya ... pokoknya kita jangan sampai lengah.”


Setelah mengobrol masalah tante Lucy, mereka membahas masalah pekerjaan selama Reigha honeymoon. Sampai tak terasa jam pulang kantor pun tiba.


“Ya Allah, Bay ... jadinya, kelamaan ngobrol. Gue pasti sdh di tunggu nih sama istri gue,” ucap Reigha kaget saat melihat arlojinya.


“Yaudah yuk kita pulang aja. Tapi, gue ke ruangan bentar,” balas Bayu.


“Gue duluan aja, Bay. Kasihan Shafa nanti kelamaan nungguin.”

__ADS_1


“Yaudah, lo hati-hati!” seru Bayu.


Tak menunggu lama, Reigha pun segera keluar ruangan langsung menuju ke mobilnya dan segera pulang ke rumah bersama sopir Mama Dhiya.


Reigha pun sampai di rumah, saat masuk rumah, Reigha melihat Shafa udah menunggu di ruang tamu.


“Mas, katanya bentar di kantor. Kok sampai sore?” tanya Shafa sembari berjalan menghampiri Reigha.


“Maaf, Sayang, tadi bahas kerjaan sama Bayu sampai lupa waktu,” jawab Reigha.


“Emm ... yaudah deh, mas bersih-bersih dan langsung sholat dulu gih, Shafa tunggu di ruang makan, ya. Baju Mas udah Shafa siapkan di atas tempat tidur ya, Mas,” ujar Shafa.


“Iya, Sayang. Makasih, ya,” kata Reigha sambil mencium pipi Shafa.


Reigha pun segera masuk kamar, sedangkan Shafa menyiapkan makanan untuk makan malam.


Beberapa menit kemudian, tampaklah Bayu dan Anna bersamaan masuk ke dalam rumah, baru saja pulang dari kantor.


“Hai, Pengantin baru, gimana kabarnya?” sapa Anna.


“Hai juga, Calon pengantin ... alhamdulillah kabar baik. Gimana kabar lo?” balas Shafa sembari bertanya kembali.


“Alhamdulillah baik juga. Oh iya ... karena lo udah pulang, berarti nanti setelah makan malam gue pulang juga, ya.” Anna rasanya tak tega meninggalkan budhe terlalu lama di rumah sendirian.


“Lah, kenapa pulang sih ... ‘kan kita harus mempersiapkan pernikahan lo,” kata Shafa membuat Anna menoleh pada Bayu.


Bayu yang merasa Anna bingung menjalaskan, bayu segera membuka suara menjawab apa yang Shafa katakan.


“Masalah? Masalah apa?” tanya Shafa meminta penjelasan menatap bergantian pada Bayu dan juga Anna.


“Nanti aja gue jelasin, sekarang gue bersih-bersih dulu. Bentar lagi waktunya makan malam,” balas Bayu.


“Oh ... yaudah, kalian ke kamar sana bersih-bersih. Setelah itu langsung ke meja makan, ya,” ujar Shafa yang diangguki oleh Bayu dan Anna bersamaan.


Kedua-nya pun menuju ke kamar masing-masing.


Shafa yang udah selesai menyiapkan makanan, segera ia langsung ke kamar memanggil suaminya yang tak kunjung keluar kamar sejak tadi.


“Mas, yuk makan malam dulu, semua udah siap loh!” seru Shafa saat melihat Reigha yang asik dengan ponselnya diatas sofa kamar.


Reigha meletakkan ponselnya di sofa segera menatap pada Shafa sembari berkata, “Bentar, Sayang. Kamu ke sini bentar, tolongin Mas.”


Shafa pun melangkah menuju tempat Reigha, “Kenapa, Mas?”


Tanpa mengucapkan apapun, Reigha langsung menarik Shafa dalam pangkuannya dan memeluk erat seraya berkata, “Mas kangen banget sama kamu, Sayang. Tetaplah seperti ini dulu sebentar.”


Hingga beberapa menit kemudian, terdengar suara Mama Dhiya dati luar kamar memanggil, “Gha, Fa, ayo makan malam dulu, Papa udah nunggu tuh.”


“Iya, sebentar, Ma!” seru Shafa dari dalam kamar.


“Udah ya, Mas. Yuk keluar,” ajak Shafa yang diangguki oleh Reigha.

__ADS_1


Di meja makan, ternyata udah ada Papa Harun, Anna dan juga Bayu mereka pun sedang bersiap makan malam bersama.


Mama Dhiya yang tadi ada di depan Shafa kini sudah langsung duduk disamping Papa Harun.


Reigha dan Shafa duduk dan segera bersiap mengambil makanan masing-masing.


Setelah makan malam, para perempuan membersihkan meja makan serta mencuci piring, sementara yang laki-laki di ruang tengah sedang mengobrol.


“Gha, gimana honeymoonnya? Sukses?” tanya Papa Harun.


“Alhamdulillah lancar, Pa. Tinggal nunggu kabar baiknya,” jawab Reigha disertai tertawa kecil.


“Trus, kapan kamu mulai kerja?”


“Tadi Reigha udah ke kantor, Pa. Besok udah mulai kerja,” balas Reigha.


“Oh iya ... Gha, kamu bisa gak gantiin Papa bulan depan ke perusahaan kita di Surabaya? Ya ... cuma ngecek aja, katanya ada kendala sedikit. Gak lama kok, paling lama satu minggu,” ucap Papa Harun bertanya pada Reigha.


“Biar Bayu aja, Pa. Reigha biar stanbay di kantor sini saja. Gimana?”


“Bayu kan mau nikah, emang gapapa ditinggal?” tanya Papa Harun menatap Reigha dan Bayu bergantian.


“Belum kok, Pa, Bayu masih mau nyelesaikan masalah dulu,” balas Bayu membuat Papa Harun dan Reigha menatap Bayu dengan tatapan serius.


“Emang ada masalah apa, Bay?”


“Itu, si Ivanka. Dia ngancam Anna dan nyuruh Anna ninggalin gue,” jawab Bayu seadanya.


“Lah, terus ... apa yang lo lakuin dari kemarin?” Reigha menatap heran pada Bayu. Pasalnya, Bayu sudah mengatakan selama Reigha honeymoon dia akan mempersiapkan pernikahannya, tapi kini nihil. Belum ada persiapan apapun yang terlihat.


“Sejauh ini gue belum ngapa-ngapain, gue ‘kan masih handle kerjaan lo. Hehehe,” balas Bayu sembari tertawa kecil.


“Yaudah, gue kan udah pulang. Segera selesaikan masalah ini!” seru Reigha.


“Pa, biar Reigha aja yg ke Surabaya. Kapan waktunya Papa kabari. Biarkan Bayu menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu,” lanjut Reigha berkata pada Papa Harun.


“Terima kasih ya, Nak. Dan, rencananya ... Papa akan selesaikan kerjaan papa. Setelah itu, apa mau pensiun.”


“Kenapa, Pa? Papa sakit?” tanya Bayu.


“Enggak kok, Bay. Papa dan Mama rencananya setelah Papa pensiun mau jalan-jalan keluar negeri sambil nunggu kabar baik dari kalian berdua, Papa pengen cepet nimang cucu,” jawab Papa Harun membuat Reigha dan Bayu saling tatap.


“Kalau itu papa do'ain aja. Nanti gmn perusahaan Papa?” tanya Papa Harun.


“Nanti biar di handle Bayu saja. Kamh kan udah bisa kerja sendiri. Nanti tinggal cari asisten baru barengan sama Bayu cari asisten juga,” jawab Papa Harun membuat Reigha dan Bayu manggut-manggut, paham.1


“Baiklah, Pa. Apapun keputusan Papa. Kami ngikut aja. Iya ‘kan, Bay?” ucap Reigha menoleh pada Bayu yang langsung diangguki oleh Bayu.


Di tempat lain, di dapur lebih tepatnya ternyata pada perempuan bersih-bersih sambil mengobrol, “Fa, Na, kemungkinan bulan depan Papa dan Mama mau ke luar negeri jangka waktu yang lama.”


“Ada acara apa, Ma?” tanya Shafa.

__ADS_1


__ADS_2