
“Diamlah, Sayang. Jangan menolak, dosa tau, kalau g cepat tersalurkan nanti Abang pusing gak konsen meetingnya.”
“Ah, itu mah alasan aja. Abang, Anna kan mau cerita. Tadi tuh, Bang, An—”
Belum selesai ngomong bibir Anna pun sudah ditutup oleh Bayu pakai mulutnya hingga pergulatan siang pun terjadi di kantor.
Sampai akhirnya, Anna tertidur kelelahan.
Bayu segera mandi setelah itu menutupi badan Anna pakai selimut. Lalu menutup pintu, Bayu meletakkan catatan kecil di samping Anna tidur, “SAYANG, ABANG MEETING SEBENTAR DI LANTAI 3, KAMU TUNGGU DI SINI SAJA KALAU UDAH BANGUN.”
Setelah kembali rapi, Bayu pun keluar ruangan dengan wajah berseri-seri. Kemudian, Bayu segera masuk ke ruang meeting.
Di ruangan meeting, semua menatap Bayu yang hari ini kelihatan lebih segar dan bersemangat.
“Eh, lihat itu. Pak Bayu sepertinya sangat bahagia hari ini, ada apa ya?” tanya salah sayu karyawan yang saling berbisik pada teman sebelahnya.
“Halah, mungkin pak Bayu menang lotre,” jawab karyawan satunya ngasal.
“Heh, gimana sih lo itu. Pak Bayu itu udah kaya, ngapain main lotre. Mungkin karena istrinya tadi datang ke kantor,” ucap karyawan satunya lagi dan begitulah bisik-bisik karyawan kantor yang menggibahin Bayu.
Sampai acara meeting selesai dan berjalan sangat lancar, karena mood Bayu sangat baik hari ini.
Tepat jam makan siang, Bayu masuk ke ruangannya. Bayu langsung mencari istrinya. Ternyata istrinya masih tidur. Bayu pun segera mencium Anna kembali.
“Sayang, bangun yuk. Kita keluar makan siang,” ucap Bayu membangunkan Anna.
“Males, Abang. Anna masih ngantuk. Kita makan di sini aja ya, Bang,” balas Anna dengan mata terpejam.
“Baiklah, kamu mau makan apa? Biar Abang pesan online aja,” tanya Bayu.
“Terserah Abang aja, Anna lagi males makan,” kata Anna sambil menutup selimutnya dan kembali tidur melanjutkan mimpinya.
Bayu yang melihat istrinya, hanya geleng-geleng kepala. Kemudian, keluar untuk melanjutkan kerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian, nampak OB mengantar makanan ke ruangan Bayu.
Tok...Tok...Tok...
“Masuk!” sahut Bayu.
OB masuk dengan membawa tentengan.
“Pak, tadi ada kurir antar makanan katanya atas nama Pak Bayu,” ucap OB tersebut.
“Oh, iya. Terima kasih,” balas Bayu.
“Kalau begitu, saya pamit, Pak.” OB itu melangkah keluar dari ruangan Bayu.
Setelah OB keluar ruangan, Bayu segera membangunkan Anna.
__ADS_1
“Sayang, bangun yuk. Kita makan siang dulu. Mau makan di sini atau di sofa depan, Sayang?” ajak Bayu seraya bertanya pada Anna.
Anna tetap g mau bangun, dia merasa badannya sangat lemas.
“Sayang, makanannya Abang bawa sini aja ya. Kamu pucat, Sayang. Setelah ini kita pulang,” titah Bayu.
“Anna lagi males makan, nanti aja makannya ya, Bang,” ucap Anna lirih.
“Jangan dong, Sayang, nanti malah masuk angin,” balas Bayu sembari memegang tangan Anna.
“Ayolah, kalau gak mau bangun, Abang buka baju skrng ya!” seru Bayu mengancam.
“Abang ih, Anna ngantuk banget loh.” Anna ngambek dan langsung masuk kamar mandi takut kalau bayu akan minta haknya lagi.
Di kamar mandi, Anna yang sudah selesai mandi tapi Anna tiba-tiba pusing, akhirnya Anna pingsan di kamar mandi.
Bayu yang mendengar ada sesuatu jatuh bergegas menuju kamar mandi, untungnya pintu kamar mandinya tidak di kunci oleh Anna.
“Ya Allah, Sayang, kamu kenapa? Bayu segera menggendong Anna dan meletakkan di ranjang.
Bayu segera mengelap badan Anna dan memakaikan baju dengan tergesa-gesa. Lalu, Bayu membawa Anna keluar ruangan menuju lobby kantor.
Saat di luar ruangan, dia bertemu dengan Puspa.
“Puspa, tolong telpon security untuk menyiapkan mobil saya di depan,” ucap Bayu sambil menggendong Anna.
“Baik, Pak. Itu Bu Anna kenapa?” tanya Puspa.
Bayu segera memasuki lift, Puspa dengan segera menelepon security.
“Halo, tolong siapkan mobil Pak Bayu di depan. Istri Pak Bayu pingsan,” ucap Puspa saat panggilan terhubung dengan security kantor.
Sesampainya di lobby, untung saja mobil udah siap. Kalau tidak, bisa saja Bayu akan memarahi security.
Para karyawan melihat pemandangan Bayu yang menggendong Anna dengan raut wajah khawatirnya Bayu.
Mobil bayu segera melaju menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Bayu segera menuju ke IGD segera di periksa dokter. Bayu yang cemas pun segera menelepon Mama.
“Assalamualaikum, Ma ... Mama di mana?” tanya Bayu.
“Wa’alaikumsalam, Nak. Mama perjalanan pulang habis belanja, ada apa?” balas Mama Dhiya.
“Ma, Anna pingsan. Mama bisa ke sini temani bayu,” lirih Bayu khawatir.
“Anna pingsan? Kok bisa? Di rumah sakit mana? Biar Mama langsung kesana,” balas Mama Dhiya yang ikut khawatir.
Setelah Bayu shareloc, Mama Dhiya pun segera menyuruh Vano ke rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Mama Dhiya segera menghubungi Papa Harun untuk ke rumah sakit, Bayu melarang Mama memberitahukan kabar Anna ke Shafa dan Reigha. Karena, Bayu menceritakan kalau saat ini Reigha dan Shafa butuh waktu untuk menyelesaikan masalahnya.
Papa Harun pun segera keluar kantor menuju rumah sakit, di jalan papa Harun menelpon Dani.
“Halo, Dan,hari ini apa yang terjadi? Kenapa Anna pulang dari rumah wanita itu langsung pingsan? Anna sekarang di rumah sakit, Dan,” ucap Papa Harun bertanya pada Dani.
“Apa, Pak? Bu Anna pingsan? Tadi Bu Anna pulang dari rumah Santi baik-baik saja, Pak. Malah pas mau saya antar pulang, Bu Anna menolak dan pesan taksi online,” jawab Dani jujur.
Setelah selesai ngobrol mereka pun menutup telponnya.
“Ada apa, Mas? Anna kenapa?” tanya Santi yang mendengar klo Anna pingsan
“Itu, San. Bu Anna pulang dari sini tadi, katanya pingsan,” jawab Dani.
“Hah? Kok bisa? Tadi ‘kan baik-baik aja. Ayo kita ke rumah sakit, Mas, Santi khawatir sama Anna,” ucap Santi.
“Tapi, emangnya gapapa kamu, San? Aku takut, nanti semua orang menyalahkan kamu, gimana?” balas Dani.
“Gapapa, Mas. Santi sekalian mau minta maaf, Santi ikhlas kalau akan menerima apa pun yang mereka lakukan ke Santi nanti. Tolong terus di samping Santi ya, Mas,” ujar Santi.
“Baiklah kalau itu mau kamu, yang kuat ya. Karena, aku yakin kalau Bu Anna belum sempat cerita kalau kita udah pacaran. Jadi, nanti pasti mereka menganggapnya kalau kamu mau ketemu pak Reigha.”
“Iya, Mas. Santi pasti kuat dan akan menghadapi ini semua dengan sabar dan ikhlas,” balas Santi seraya tersenyum memberi keyakinan penuh pada Dani kalau Santi akan baik-baik saja.
Mereka pun segera menuju ke rumah sakit. Di perjalanan, Santi terus saja memikirkan Anna dan bergumam, ‘Ada apa dengan kamu, Anna. Kamu kenapa.’
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju IGD, dari kejauhan Dani dan Santi melihat Bayu menangis dan memeluk Mama Dhiya.
“Mas, itu adiknya pak Reigha kok menangis? Apa yg terjadi ya, Mas? Ayo kita mendekat saja,” ucap Santi berjalan mendekat pada Bayu.
Dani dengan setianya selalu ada di sisi Santi tanpa meninggalkannya sendiri. Apalagi saat ini yang akan bertemu dengan orang tua Reigha.
Saat mereka berdua mendekat, Mama Dhiya yang melihat wanita itu pun langsung pasang badan, “Eh eh, mau ngapain kamu ke sini? Jangan buat keributan di sini. Anna masih di periksa. Apa yang kamu lakukan ke Anna?” tanya Mama Dhiya dengan ketus.
Papa Harun segera mendekat sebelum istrinya itu emosi, “Ma, jangan seperti ini. Kita lagi nunggu Anna diperiksa. Tolong tenang dulu.”
“Gimana bisa tenang sih, Pa. Sejak ada wanita ini, anak-anak kita jadi kena masalah terus. Reigha belum selesai masalahnya, tambah Bayu pula sekarang. Menantu-menantu kita jadi sasarannya, Pa!” seru Mama Dhiya menatap geram pada Santi.
Santi yang ditatap hanya diam saja dan menunduk merasa bersalah. Dani yang melihatnya begitu tidak tega pada Santi.
Kemudian, seorang perawat keluar memanggil keluarga Anna, Bayu pun segera mendekat.
“Saya suaminya, Sus. Gimana? Istri saya apa sudah sadar?” tanya Bayu.
“Silakan masuk, Pak, istri bapak sudah sadar. Dokter menunggu bapak di dalam,” jawab perawat.
Bayu pun segera masuk menemui dokter dan istrinya yang di dalam ruang IGD.
“Sayang,” panggil Bayu mendekat pada Anna dan mengecup singkat dahi Anna.
__ADS_1
“Dok, bagaimana keadaan istri saya? Istri saya kenapa?” tanya Bayu khawatir.
“Maaf, Pak. Jadi begini, istri bapak ... ”