
“Kak, kak, jangan pergi. Baiklah, aku akan ikuti kemauan kakak,” balas Binar menghentikan langkah Alex.
“Baiklah, kalau gitu segera tanda tangani dan setelah bebas kamu ikut kakak. Ingat, catat baik-baik. Jangan lagi pernah ganggu keluarga Reigha,” pesan Alex.
Binar bergegas menandatangani dan Reigha pun segera mencabut laporannya. Setelah itu, Reigha, Shafa dan Bayu pamit pulang, kebebasan Binar akan segera diurus oleh pengacara Reigha.
Keluar dari kantor kepolisian, telah tiba waktunya si kembar dan Reza pulang sekolah.
“Mas, kita jemput anak-anak sekalian ya, udah waktunya pulang,” ucap Shafa.
“Baiklah, Sayang. Bay, langsung ke sekolah anak-anak, ya,” pinta Reigha.
“Oke,” kata Bayu singkat.
Di mobil, Shafa mendapat telpon dari Anggi, “Assalamu’alaikum, Kak, jal jinaego issnayo?”
“Wa’alaikumussalam, kalau ngomong bahasa korea jangan ke kakak deh, Gi,” protes Shafa.
“Heheh, bercanda atuh, Kakak. Gimana kabarnya, Kak?” tanya Anggi.
“Alhamdulillah baik, kamu gimana?” balas Shafa bertanya.
“Alhamdulillah baik juga, Kak. Besok Anggi dan suami udah pulang, Kak,” jawab Anggi sembari memberitahu.
“Loh, kok cepat honeymoonnya? Yaudah kalau gitu, besok kakak jemput,” kata Shafa.
“Okay, Terima kasih, Kak. Assalamu’alaikum.”
“Oke, Wa’alaikumsalam,” balas Shafa menutup telponnya.
“Mas, besok Anggi pulang, kita jemput ke bandara ya, Mas,” pinta Shafa.
“Iya, Sayang, gak terasa ya. Ternyata udah selesai honeymoonnya. Oh iya, Sayang, kemarin ayah gimana sewaktu kamu antar kuncinya?” balas Reigha sembari bertanya.
“Ayah belum buka warung, Mas, kan kemarin mau buka ternyata budhe meninggal, katanya sih besuk mulai buka,” ucap Shafa.
“Hmm ... berarti hari ini harusnya ayah bersih-bersih warung, Sayang, gimana kalau setelah jemput anak-anak kita ke sana?” tanya Reigha.
“Boleh juga itu, gue ikut ya,” sambar Bayu.
“Ya kalau lo gak ikut, kita pakai mobil siapa? Masa kita kerumah ayah jalan kaki,” celetuk Reigha membuat mereka pun tertawa.
Saat mereka udah sampai di sekolahan anak-anak. Shafa tampak keluar mobil dan menghampiri tiga anak itu.
Anak-anak bergegas masuk mobil. Setelah itu, pun segera ke arah rumah ayah Reynand.
“Pi, kita mau kemana? Ini bukan arah rumah kita,” kata Reza.
“Anak-anak, kita mampir ke rumah kakek dulu ya,” titah Shafa.
“Horeeeee!” seru si kembar dan Reza tampak senang.
Saat mobil berhenti di rumah ayah Reynand, ternyata ayah Reynand udah bersiap akan berangkat ke kedainya.
“Loh, kok ke sini?” tanya ayah Reynand.
“Kami sengaja kesini akan bantu ayah dan ibu beres-beres,” jawab Shafa.
“Yah, kok bawa barangnya banyak banget?” tanya Reigha.
__ADS_1
“Iya, Nak, kan ayah dan ibu mulai hari ini tinggal di warung, besok Anggi dan suaminya udah datang,” jawab ayah Reynand.
“Baiklah, kalau gitu, barangnya biar Reigha dan Bayu yang masukan ke mobil, ayah dan ibu silakan langsung masuk mobil aja,” titah Reigha.
“Terima kasih ya, Nak,” ucap ibu Khalisa.
Dan setelah barang-barang masuk ke mobil semua, mereka pun segera meluncur ke kedai ayah Reynand.
“Ayah beneran gapapa tinggal di sana?” tanya Bayu sembari menyetir.
“Ya, gapapalah, Nak, kita kan berdua saja. Jadi, tidur di manapun bisa,” jawab ayah Reynand.
“Kalau gak nyaman nanti ayah sakit loh,” kata Bayu lagi.
“Ayah udah biasa tidur sembarangan, Nak, dulu waktu ayah masih keliling, kalau ngantuk duduk sebentar di pos trus tidur,” balas ayah Reynand.
Dan cerita itu membuat Shafa menitikan air matanya, “Terima kasih ya, Ayah, udah kerja keras buat sekolahnya Shafa.”
“Iya, Nak, itu udah tugas ayah dan ibu. Jangan menangis, sekarang kamu udah bahagia kan? Suami kamu sangat menyayangimu,” ucap Ibu Khalisa.
“Iya, Bu, alhamdulillah. Jodoh Shafa adalah suami idaman,” kata Shafa menoleh pada Reigha.
Bayu yang mendengar langsung ketawa, “Belum, Fa, mungkin bentar lagi pasti bosan,” celetuk Bayu menggoda Reigha.
Reigha pun menonyor kepala Bayu, “Sembarangan kalau ngomong.”
Sesampainya di kedai, ayah dan ibu sangat terkejut karena kedainya baru di renovasi.
“MasyaaAllah, pasti ini kerjaannya nak Reigha,” tebak ayah Reynand.
“Maafin Reigha, Yah. Reigha hanya gak tega kalau ayah dan ibu tidurnya gak nyaman,” balas Reigha.
“Gak perlu berterimakasih, Yah, ini udah jadi tugas anak ke orang tuanya,” balas Reigha tersenyum.
“Yaudah, yuk kita masuk,” ajak ibu Khalisa.
“Pa, ini kedainya kakek baru ya? Nai suka deh,” ucap Daviana.
“Iya, Sayang, kedai kakek baru diperbaiki, Kamu suka ya. Kalau Andra dan Eza gimana, suka?” balas Reigha bertanya pada anak-anaknya.
“Suka, Pa, besok kalau libur sekolah kami nginap di sini ya,” pinta Reza.
“Boleh banget, Sayang,” balas Ibu Khalisa.
Kedai yg bru direnovasi Reigha sekalian juga diisi lengkap oleh Reigha. Ayah Reynand yang melihat hasil renovasi dibuat sangat takjub. Dalam waktu singkat bangunan sudah selesai di renovasi.
“Bu, bagaimana kalau besuk kita jangan buka dulu, kita adakan acara syukuran kedai baru kita,” saran ayah Reynand.
“Ibu setuju, Yah, kita undang tetangga sekitar dan anak yatim saja ya,” balas ibu Khalisa.
“Iya, Bu. Ayah setuju.”
“Baiklah kalau gitu, besok Shafa kesini pagi untuk bantu-bantu ibu,” ucap Shafa.
Reigha mendekat pada Shafa dan berkata, “Sayang, kamu lupa ya, besok kan kita jemput pengantin baru.”
“Astagfirullah, Shafa lupa, Mas.”
“Udah, Nak, gapapa besok ibu pesan aja makanannya. Biar gak kerepotan,” ucap ibu Khalisa.
__ADS_1
“Iya, Bu, biar ibu juga gak capek,” imbuh Shafa.
“Bu, ini untuk acara besok,” kata Reigha memberikan amplop.
“Nak, udah ya, untuk kali ini biar pakai uang ayah saja,” pinta ayah Reynand.
Reigha pun mengangguk tanda meng-iyakan.
Setelah membantu beres-beres karena sudah sore mereka pun pamit pulang.
Si kembar dan Reza udah tertidur di mobil sedari tadi. Bayu mengemudikan mobilnya melaju menuju rumah papa Harun.
“Mas, terima kasih ya, Mas udah banyak membantu keluarga Shafa,” ucap Shafa bersandar di dada Reigha.
“Gak perlu berterimakasih, Sayang, ini udah jadi tugas Mas,” balas Reigha mengecup kening Shafa.
“Hey, mesra-mesranya bisa gak nanti aja di kamar, lo kira gue sopir,” gerutu Bayu.
“Sirik aja lo!” seru Reigha.
“Lagian lo itu kok masih bucin sih, Gha, lo udah nikah lama loh,” kata Bayu.
“Bagi gue kita nikah masih beberapa hari, jadi kalau berduaan gini rasanya dunia milik berdua,” balas Reigha.
“Hemmmm, percaya deh. Dasar bucin!” seru Bayu.
“Udahlah, nanti lo sampai rumah puas-puasin mesra-mesraan sama Anna, Eza biar tidur sama Andra aja,” ucap Reigha.
“Gak bisa, Gha, Anna hamil. Jadi gak bisa diajak mesra-mesraan,” gerutu Bayu.
“Hahahhaa, kalau gitu, derita lo deh, Bay,” kata Reigha sambil tertawa.
“Awas ya lo, Gha, kalau sampai Shafa hamil, gue sumpahin bayinya gak mau lo deketin,” celetuk Bayu tertawa puas.
“Naudhubilahimindhalik. Semoga gak terjadi,” ucap Reigha.
“Hahahah ... takut kan lo!” seru Bayu yang merasa puas mengerjain Reigha.
“Udah-udah, kalian ini seperti anak kecil. Bertengkar terus,” gerutu Shafa.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di rumah papa Harun, saat sampai si kembar digendong Reigha dan Shafa, sedangkan Reza digendong Bayu mereka semua masuk ke rumah papa Harun.
“Assalamu’alaikum ... kok sepi, pada kemana?” tanya Reigha.
“Kita tidurin anak-anak dulu, Mas, setelah itu kita cari papa dan mama,” titah Shafa.
“Gha, Eza biar tidur sini ya,” ucap Bayu.
“Iya, tidur di kamar Andra aja,” balas Reigha.
Mereka segera menidurkan anak-anak, setelah itu mereka pun mencari papa dan mama.
Saat sampai di dapur nampak mbok Nah sedang menyiapkan makan malam sendiri.
“Mbok, papa dan mama kemana? Kok rumah sepi?” tanya Reigha.
“Eh, itu, Den ... tuan dan nyonya antar mbak Anna ke rumah sakit,” jawab mbok Nah seketika membuat semuanya kaget.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Anna kenapa, Mbok?” tanya Bayu yang kaget.
__ADS_1