
“Gimana, Mas? Ada solusi gak untuk mereka berdua?” tanya Shafa yang ingin masalah Bayu dan Anna segera selesai.
“Kalau malam ini kita ajak dua-duanya keluar, gak bisa. Soalnya malam ini Bayu harus persiapan untuk ke bandara besok pagi, tadi dia izin ke Mas. Besok siang, Bayu sibuk juga karena harus menemani Mas interview karyawan baru dan meeting juga. Tapi, kalau besok malam bisa deh. Kita ajak mereka berdua jalan besok malam, ya, Sayang,” ucap Reigha yang diperhatikan oleh Shafa.
Shafa pun mengangguk setuju dengan ucapan Reigha.
“Mas udah selesai belum pekerjaannya?” tanya Shafa.
“Emm ... kalau belum, Shafa pulang duluan, ya. Soalnya, supir Mama nunggu di bawah.” imbuh Shafa.
“Gak usah, Sayang. Supir Mama suruh pulang aja. Nanti kamu pulang bareng Mas aja,” jawab Reigha.
“Yaudah, Shafa turun ke bawah dulu bilang ke supirnya Mama, ya,” balas Shafa.
“Gak perlu, Fa. Biar Mas telpon aja. Kamu duduk di sini. Mas kangen banget sama kamu, Fa.” Reigha mengambil ponselnya dan segera menelpon Vano.
Tak lama, Reigha pun kembali duduk di sofa. Reigha pun mengulangi ucapannya, “Mas kangen banget sama istri Mas ini.”
“Dari tadi Shafa ‘kan sama Mas. Kok kangen?” tanya Shafa.
“Mas tuh pengen kamu berada di dekat mas terus. Kamu candu sih,” balas Reigha.
Shafa tersenyum seraya berkata, “Hmm ... udah bucin, ya sama Shafa.” Shafa pun memeluk Reigha yang berada di sampingnya.
Di sore harinya, semua karyawan sudah waktunya pulang, begitu juga dengan Reigha, Shafa, Bayu dan Anna. Mereka keluar bersamaan bertemu di lobby.
Kemudian, Farhan langsung membukakan pintu untuk Shafa dan Reigha.
Reigha berjalan beriringan dengan Shafa, memegang erat tangan sang istri. Bayu yang tadinya berjalan di samping Reigha pun langsung mengeluarkan suaranya, “Gha, gue balik duluan, ya. Capek!”
Bayu pun segera mempercepat langkahnya sebelum Reigha membalas ucapannya saat berpamitan. Bayu meninggalkan Anna begitu saja.
“Pak Reigha, Shafa, gua pamit pulang duluan, ya. Udah pesen taksi soalnya,” ucap Anna membuat Shafa dan Reigha saling tatap.
“Hati-hati, ya, Na!” seru Shafa yang diangguki oleh Anna.
Anna pun bergegas menuju depan kantor untuk memesan taksi online, tak lama Anna masuk ke dalam taksi dan menuju pulang ke rumah budhe.
“Mereka benar-benar gak mau ngomong satu sama lain, Mas,” ucap Shafa.
“Yaudah, nanti coba Mas ajak Bayu ngobrol di rumah, ya,” balas Reigha yang diangguki oleh Shafa.
Akhirnya, Reigha dan Shafa pun masuk ke dalam mobil. Farhan melajukan mobilnya melintasi jalan raya menuju rumah kediaman Papa Harun.
Saat di rumah, Reigha melihat mobil Bayu telah terparkir.
“Sayang, kamu langsung ke kamar duluan aja. Mas ke kamar Bayu sebentar,” ucap Reigha yang diangguki oleh Shafa.
__ADS_1
Shafa berjalan masuk duluan ke dalam rumah dan bergegas menuju ke kamar.
Sementara Reigha berjalan masuk ke kamar Bayu yang memang tak pernah dikunci.
“Bay,” panggil Reigha membuat Bayu yang tengah sibuk rebahan memainkan ponselnya pun menoleh pada Reigha.
“Ya, Gha?” respon Bayu yang langsung duduk.
“Lo ada masalah apa sama Anna?” tanya Reigha.
“Gak ada masalah apa-apa,” dusta Bayu.
“Sejak kapan lo belajar bohong sama gue, Bay. Lo udah gak percaya sama gue, ya?” imbuh Reigha bertanya kembali.
Bayu pun meletakkan ponselnya. Netranya menatap lurus. Kemudian, menghela napasnya kasar.
“Gue kurang baik apa sih sama Anna. Sampai-sampai, dia selalu menolak gue. Oke, awalnya gue emang terlalu buru-buru untuk melamar dia. Tapi, gue udah nunggu setahun ini, dia tetap aja gak mau nerima gue. Bayangkanlah, Gha. Gue sebagai laki-laki ya tentu capek untuk nunggu dia,” ucap Bayu bercerita.
“Gue udah salah mengartikan sikap Anna selama ini. Gue kira Anna juga ada hati sama gue. Tapi, ternyata nihil, perasaan gue ini bertepuk sebelah tangan, Gha,” imbuh Bayu.
“Emangnya lo udah tanya ke Anna, alasan dia gak mau sama lo?” tanya Reigha.
“Alasan Anna sih gak masuk akal, Gha. Seperti menyerah sebelum perang,” jawab Bayu memutar bola matanya malas.
Reigha pun tampak diam sebentar, keheningan tercipta diantara keduanya.
“Gak mungkin, Gha.” Bayu rasanya udah sangat malas berurusan pada cinta dan wanita.
“Kalau lo gak percaya, lihat rencana yang akan gue kasih buat lo.” Reigha pun akan melakukan suatu hal yang tentunya membuat Bayu tau kalau Anna memiliki perasaan untuknya.
Reigha membisikkan sesuatu pada Bayu. Mendengar setiap kata yang Reigha bisikkan padanya, membuat Bayu pun paham rencana apa yang harus dia jalankan.
Bayu tersenyum smirk dan menoleh pada Reigha seraya berterima kasih.
“Gue akan coba, Gha. Kalau Anna merespon apa yang gue lakukan, gue akan ngejar dia sampai dia mau nerima gue. Tapi, kalau dia masa bodo dengan yang gue lakukan, gue gak mau noleh lagi ke dia sedikit pun. Capek gue!” seru Bayu yang diangguki oleh Reigha.
Reigha pun tersenyum melihat Bayu tersenyum kembali walau tak sebebas senyum sebelumnya. Tapi, Reigha yakin, rencananya ini akan membuat Bayu kembali bersama Anna.
Setelah itu, Reigha kembali ke kamar. Saat di kamar, Reigha melihat Shafa yang baru saja selesai mandi.
“Mas, mandi gih,” ucap Shafa.
“Iya, Sayang.” Reigha bergegas membawa handuknya berjalan menuju ke dalam kamar mandi.
Sementara Shafa langsung menuju ke dapur, memasak untuk makan malam.
Setelah semua siap, Shafa memanggil Reigha dan Bayu untuk makan malam. Shafa beralih menuju ke kamar Mama Dhiya, yang ternyata Mama Dhiya sibuk menelepon temannya membahas pernikahan Reigha dan Shafa.
__ADS_1
“Ma, yuk makan dulu. Shafa udah siapin masakan. Tinggal nunggu Mama untuk makan malam bersama,” ajak Shafa.
“Lho iya, Mama sampai lupa waktu mengurus pernikahan kalian, Nak,” ucap Mama Dhiya yang kini langsung merangkul menantunya dan berjalan bersamaan menuju ruang makan.
Mereka pun makan bersama malam ini tanpa adanya Papa Harun.
Setelah selesai makan, semua pun bubar menuju kamar masing-masing. Bayu segera tidur, Mama Dhiya kembali mengurus pernikahan Reigha dan Shafa. Sementara Reigha dan Shafa pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
****
Keesokan paginya, setelah sarapan ... Shafa mempersiapkan keperluan Reigha yang hendak berangkat ke kantor. Hari ini Shafa hanya mau menemani Mama istirahat di rumah.
Bayu sudah berangkat sejak tadi ke bandara menjemput Delia.
Di perjalanan menuju ke kantor, Reigha mendapatkan telpon dari Bayu.
“Gha, tolong lo nanti bantuin gue menjalankan rencana dari lo itu, ya,” ucap Bayu.
“Aman. Gue pasti bantu lo,” balas Reigha.
Kemudian, Bayu yang sudah di bandara pun bertemu dengan Delia, “Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik dong, Bay. Lo gimana?” balas Delia tersenyum.
“Alhamdulillah baik juga.”
“Makasih lo udah kasih info kalau di kantor lo ada lowongan buat gue. Setidaknya gue bisa menghidupi adek gue,” ucap Delia yang hanya dibalas senyuman oleh Bayu.
Delia Arfani, teman Bayu semasa SMA yang membuat Anna cemburu hingga hubungan keduanya renggang.
“Bay, ini adek gue Rafa Azkara,” imbuh Delia memperkenalkan adiknya yang masih seumuran anak SMP.
Rafa menyalimi Bayu, dan keduanya pun berkenalan.
Delia dan Rafa dibawa oleh Bayu ke kontrakan yang lumayan besar untuk keduanya. Delia semakin berterima kasih pada Bayu.
“Iya. Sama-sama, Del,” ucap Bayu.
Delia pun meninggalkan Rafa di rumah sendirian. Rafa anak yang baik dan pintar, dia walau ditinggal di rumah pun pasti hanya akan memikirkan bagaimana caranya untuk dia belajar dengan tenang dan nyaman.
Sementara di kantor, Anna yang melihat ruangan Bayu kosong pun mendatangi ruangan Reigha.
“Pak, Bayu kemana, ya?” tanya Anna dengan raut wajah gusar.
“Kenapa, Na? Dia lagi jemput teman SMA-nya di bandara,” jawab Reigha jujur.
“Tapi ... kok lama, ya, Pak?” tanya Anna membuat Reigha mengulurkan tangannya mengambil ponsel yang sejak tadi diletakkan disudut meja agar lebih terdengar suara Anna.
__ADS_1