Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 17 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Loh, Za. Kok kita ke sini?” tanya Daviana.


“Bentar, Nai. Ada yang mau gue beli,” jawab Reza yang turun dari mobil dan berlari kecil.


Tak lama dari perginya Reza, kemudian dia kembali dengan membawa kantong yang entah apa isinya.


Reza masuk ke dalam mobil dan menyodorkan roti kesukaan Daviana pada Daviana.


“Karena lo gak mau mampir untuk makan dulu, lo harus mengganjal perut dengan roti ini. Lo menjaga kesehatan orang lain, tapi lo gak bisa menjaga diri lo sendiri, Nai,” ucap Reza.


Daviana pun menerima roti itu dan tersenyum. Kemudian berkata, “Makasih ya, Za.”


“Iya, sama-sama.”


Reza mengemudikan mobilnya lagi menuju ke rumah papa Reigha.


Sementara Daviana memakan dengan lahap roti pemberian Reza karena dia memang udah lapar sejak Raymond mengajaknya makan siang, tapi Daviana sangat malas jika harus makan berdua dengan Raymond.


“Lapar banget, Nai?” tanya Reza.


“Gak banget sih, cuma lapar aja,” balas Daviana yang rasanya malu jika ketahuan nahan lapar sejak tadi.


Hingga beberapa saat kemudian, mobil telah masuk ke pekarangan rumah papa Reigha.


Daviana turun terlebih dahulu, kemudia disusul Reza yang turun juga.


“Loh, kok lo ikut turun, Za?” tanya Daviana.


“Gue mau ambil baju Andra, tadi gak sengaja jatuh,” jawab Reza.


“Oh gitu, yaudah kalau gitu makasih ya. Gue masuk duluan,” balas Daviana.


“Iya, Nai, sama-sama.”.


Reza hanya menatap punggung Daviana yang semakin menjauh darinya.


‘Semoga kamu gak menerima perjodohan itu, Nai,’ batin Reza.


Setelah terhadap kalau Daviana udah masuk rumah, Reza pun segera masuk dan menuju kamar Daviandra untuk mengambil baju. Kemudian Reza segera keluar kamar dan menghampiri mama yang tengah menemani Daviana makan siang.


“Ma, Reza pamit mau ke kantor lanjut kerja,” ucap Reza berpamitan.


“Iya, Za. Hati-hati di jalan ya, Nak,” titah mama Shafa.


“Iya, Mama.”


Reza pun segera melangkah pergi meninggalkan rumah Reigha dan menuju ke kantor.


Di rumah, Shafa yang masih menemani Daviana makan siang pun mencoba bertanya pada putrinya.


“Kak, kamu gak punya calon gitu yang mau dikenalin ke mama sama papa?” tanya Shafa.


“Gak ada, Ma. Nai gak mau mikir itu dulu,” jawab Daviana.


“Kalau suatu saat ada yang ngelamar kamu, gimana, Kak?” tanya Shafa kembali.


“Dipikirnya nanti dulu deh, Ma. Nai gak mau bahas itu,” balas Daviana.

__ADS_1


Shafa mengangguk paham dan kemudian memperhatikan anaknya yang makan dengan lahap.


“Ma, Nai udah selesai. Makasih Mama, Nai istirahat dulu ya,” ucap Daviana.


“Iya, Nak. Mama tau kamu capek,” kata Shafa yang kemudian melemparkan senyuman pada anaknya.


Daviana mendekat pada Shafa dan mengecup singkat pipi kanan mamanya. Kemudian Daviana pergi menuju ke kamar.


Sementara di kantor, tampak mobil Reza baru saja sampai. Lalu Reza melangkah keluar dan segera berganti pakaian.


Tak lama kemudian, Reza menghampiri Daviandra dan memberikan baju Daviandra.


“Andra, nih baju lo,” ucap Reza.


“Oh iya, makasih, Za,” balas Daviandra dan Reza mengangguk.


Kemudian mereka pun segera menyelesaikan pekerjaannya hingga pada sore hari mereka hendak beberes pulang.


“Za, lo bawa mobil?” tanya Daviandra.


“Iya, kayaknya kita naik mobil senidri-sendiri aja,” jawab Reza.


“Oke, gak masalah.”


Setelah itu, mereka naik mobil sendiri sendiri dan segera menuju ke rumah.


Sesampainya di rumah, Reza segera masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih, kemudian disusul oleh Daviandra.


Setelah selesai, mereka berdua bersamaan keluar dan mendapati papa Reigha yang tengah duduk di ruang tengah bersama Daviana dan Mama Shafa.


“Kenapa? Yaudah gapapa deh,” balas mama Shafa.


Reza pun mengangguk dan tersenyum, namun sesekali melirik pada Daviana yang tampak menunduk sembari membalas chat WA temannya.


“Nak, ada yang mau papa dan mama bicarakan,” ucap Reigha.


“Bicara apa, Pa?” tanya Daviana.


“Ini tentang seorang laki-laki, Nak. Apa kamu gak ada hubungan dengan seorang pun, Nak?” tanya Reigha pada Daviana.


“Gak ada Pa. Kenapa?” balas Daviana.


“Kamu ingat putra dari pak Hartawan Wijaya? Kami berniat mau menjodohkan kamu dengan dia, Nak. Keluarga pak Hartawan berencana dua hari lagi akan datang ke rumah kita ini,” ucap Reigha membuat Daviana kaget.


“Secepat itu, Pa? Emangnya gak bisa nunggu beberapa hari lagii?” balas Daviana.


“Iya, Nak. Tapi kami tidak memaksakannya, semua keputusan ada pada kamu,” kata Reigha dengan senyum kecilnya.


“Izinkan Naima berpikir dulu, Pa, Ma,” ucap Daviana dan diangguki oleh Reigha dan Shafa.


“Berikanlah jawaban yang terbaik darimu, Nak. Dan tidak membuat kamu bersedih nantinya,” kata Shafa Dan diangguki oleh Daviana.


Sementara dari balik tembok, ada seseorang yang mendengarnya dengan perasaan yang sakit namun ditahan sendiri olehnya, siapa lagi kalau bukan Reza.


Dia memang pamit pulang, tapi dia diam-diam mencari tau dan mendengarkan apa yang harusnya dia tau.


“Pa, Ma, kenapa kok bukan Andra duluan yang dijodohkan?” tanya Daviana.

__ADS_1


“Andra sedang menunggu seseorang yang di luar negeri, Nak. Gak mungkin kita jodohin lagi dengan yang lain. Kalau kamu kan emang udah jelas belum ada calonnya, gapapa kan kalau dijodohkan?” balas mama Shafa.


Daviana melirik sekilas kemudian tersenyum sembari mengangguk kecil.


Tak lama kemudian, datanglah suara cempreng yang entah dari mana asalnya.


“Assalamu’alaikum, Papa, Mama, Abang, Kakak!” teriak Vilia masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumussalam,” balas mereka serempak.


“Aduh mama ... masa Vilia capek banget, ada praktikum tadi, Ma. Vilia pengen tidur ah, Ma,” lirih Vilia yang merebahkan dirinya di pangkuan mama Shafa.


“Ganti baju dulu atau mandi dulu biar seger, nanti langsung tidur ya, Nak “ titah mama Shafa.


“Biarkan gini dulu ya, Ma, soalnya setelah mandi aku mau ke rumah mami soalnya mau belajar bareng sama kak Almeera,” balas Vilia.


“Baiklah, Nak.”


Kemudian Shafa dan Reigha serta si kembar pun mengobrol hingga tak sadar Vilia tertidur.


“Ma, tidur tuh,” ucap Daviandra menunjuk Vilia.


“Kecapean dia. Biarkan aja dulu, Ma. Atau mau langsung papa angkat ke kamarnya?” tanya Reigha.


“Biarkan dulu aja deh, Pa. Kasihan,” balas Shafa.


Mereka pun masih melanjutkan obrolannya hingga sampai terlupakan kalau Vilia ada janji dengan Almeera.


Saat ini Almeera pun udah berada di rumah papa Reigha mencari keberadaan Vilia.


“Assalamu’alaikum, Pa, Ma, Vilia—” ucapannya terhenti saat melihat Vilia tertidur di pangkuan mama Shafa.


“Lah, tidur rupanya,” lanjut Almeera.


“Makan dulu, Nak. Mau mama temenin?” tanya Shafa pada Almeera.


“Enggak deh, Ma. Almeera udah makan kok,” jawab Almeera.


“Ma, kalau gitu Almeera pulang deh. Mau ngerjain tugas duluan,” imbuh Almeera.


“Iya, nanti kalau Vilia udah bangun, mama suruh langsung ke sana ya,” balas Shafa diangguki oleh Almeera.


“Ma, kalau gitu Andra mau ke kamar ya. Istirahat,” ucap Daviandra.


“Iya, Nai juga ya, Ma. Capek soalnya,” lanjut Daviana.


“Istirahatlah, Nak. Nanti malam turun untuk makan malam yaa!” seru Shafa.


Setelah Daviandra dan Daviana pergi, Shafa pun mengusap lembut rambut Vilia, “Nak, bangun yuk ... udah sore ini, mandi ayo.”


Vilia perlahan mengerjap-erjapkan matanya dan berkata, “Hah? Mama, jam berapa ini? Aduh, pasti kak Almeera nungguin aku, Ma.”


Vilia berdiri dan mondar-mandir gak jelas.


“Mandi, kemudian langsung ke rumah mami sana, Nak. Tadi mama udah bilang ke kak Almeera kok,” balas Shafa.


Vilia kembali duduk dan mendekat pada mama Shafa, “Beneran, Ma?”

__ADS_1


__ADS_2