Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 118 - Menikahi Susterku


__ADS_3

Saat sampai di dapur nampak mbok Nah sedang menyiapkan makan malam sendiri.


“Mbok, papa dan mama kemana? Kok rumah sepi?” tanya Reigha.


“Eh, itu, Den ... tuan dan nyonya antar mbak Anna ke rumah sakit,” jawab mbok Nah seketika membuat semuanya kaget.


“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Anna kenapa, Mbok?” tanya Bayu yang kaget.


“Tadi sewaktu nyonya ke kamar mbak Anna, ternyata mbak Anna pingsan. Jadi, tuan langsung menyuruh nyonya bawa mbak Anna ke rumah sakit,” jawab mbok Nah.


“Astagfirullah, kenapa Anna, Gha?” kata Bayu mulai panik mengingat kondisi istrinya yang sedang hamil.


“Ayo kita ke rumah sakit sekarang!” seru Reigha.


“Sayang, kamu di rumah aja ya, jaga anak-anak, nanti aku kabari kalau udah sampai rumah sakit,” lanjut Reigha diangguki oleh Shafa.


“Iya, Mas, hati-hati ya,” ucap Shafa.


Setelah itu, Reigha dan Bayu segera keluar dan mengendarai mobilnya . Reigha menyopir dan menyuruh Bayu menelpon Mama Dhiya untuk menanyakan di rumah sakit mana. Setelah Bayu selesai menelpon Mama, mobil Reigha pun segera melaju menuju rumah sakit tempat Anna dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, Bayu segera berlari menuju ruang rawat Anna, setelah masuk ternyata Anna sudah sadar dan ditunggui mama Dhiya dan papa Harun.


“Assalamu’alaikum,” salam Bayu dan Reigha segera masuk ke ruang rawat. Bayu segera menghampiri istrinya yang terbaring di atas brankar.


“Sayang, maaf ya ... kamu sampai pingsan dan aku gak tau,” kata Bayu yang merasa bersalah pada Anna.


“Gapapa kok, Bang, kan Anna ditemani mama tadi,” balas Anna.


Bayu pun menoleh pada Mama dan bertanya, “Ma, Anna kenapa kok bisa pingsan?”


“Anna kecapean dan kurang nutrisi, Bay, sejak budhe meninggal ‘kan Anna makannya gak teratur, gak minum vitamin dan juga kurang istirahat,” jawab mama Dhiya menjelaskan.


“Maafkan Anna, Bang. Anna mengabaikan anak kita,” lirih Anna sedih.


“Udahlah, gapapa. Ini dijadikan pelajaran ya, Sayang. Jangan seperti ini lagi.”


Anna mengangguk. Dan Reigha membuka suaranya bertanya pada mama Dhiya.


“Ma, tapi calon anak mereka gapapa ‘kan, Ma?” tanya Reigha.


“Tadi sih kata dokter, denyut jantungnya agak lemah, Gha, tapi semoga setelah minum obat calon anak mereka kembali sehat,” jelas Mama kembali.


Dan mereka pun mengaamiinkan serempak.

__ADS_1


Tak terasa waktu udah hampir tengah malam, Reigha pun pamit pulang, sementara mama Dhiya mau nungguin Anna di rumah sakit. Jadi, Reigha pulang sama papa Harun.


Mereka pun segera keluar dari ruangan Anna dan langsung menuju ke parkiran lalu bergegas pulang.


Selama di perjalanan, papa Harun mengajak ngobrol masalah kerjaan perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan papa harun yang sekarang di pegang Bayu.


Walau dipegang Bayu, tapi papa Harun belum melepaskan 100% karena Bayu tau kalau papa Harun seorang pekerja keras dan paling gak bisa kalau hanya menganggur.


Tak terasa mereka pun sampai di rumah. Shafa yang dari tadi menunggui Reigha segera ke depan begitu mendengar suara mobil masuk ke halaman rumahnya.


“Assalamu’alaikum,” salam Reigha dan papa Harun serempak tatkala melihat Shafa yang baru saja membukakan pintu.


“Wa’alaikumussalam, Pa, Mas,” balas Shafa dan bersalaman dengan papa Harun juga Reigha.


“Loh, mama mana, Mas?” tanya Shafa.


“Mama bantu Bayu nungguin Anna, Sayang,” jawab Reigha.


“Papa langsung ke kamar ya, capek!” seru papa Harun.


“Iya, Pa, selamat istirahat ya, Pa.”


Reigha dan Shafa pun segera masuk kamar, Reigha bergegas mandi dan setelah itu mereka pun tidur.


Keesokan paginya, Reigha dan Shafa udah rapi karena setelah mengantar anak-anak ke sekolah mereka akan langsung ke bandara Untuk menjemput Anggi dan Fathir.


Di ruang makan, ternyata anak-anak sedang sarapan, “Duh, anak-anak papa nih pinter banget, sarapan sama Opa ya,” kata Reigha.


“Iya dong, Papa, habisnya papa dan mama lama keluar kamarnya. Nai keburu lapar,” balas Daviana.


“Iya, Sayang, maafin papa dan mama ya,” ucap Shafa lembut pada putrinya.


Mereka pun segera duduk dan segera sarapan. Usai sarapan, mereka pun segera berangkat mengantar anak-anak sekolah lalu langsung ke bandara untuk menjemput Anggi dan suaminya.


Setelah si kembar dan Reza turun dan memastikan kalau mereka udah masuk kelas, barulah Reigha melajukan mobilnya menuju ke bandara.


Saat masuk ke bandara ternyata Anggi dan suaminya udah menunggu di luar jadi tanpa parkir mereka pun segera menaikkan barang bawaan Anggi kemudian segera keluar dari bandara.


Di dalam mobil, Shafa dan Anggi pun ngobrol begitu juga Reigha dan Fathir juga ngobrol masalah kerjaan. Sampai tak terasa, mereka udah sampai di kedai ayah Reynand.


“MasyaaAllah ... kedai ayah jadi bagus banget? Ini pasti kerjaan bang Reigha ‘kan?” tebak Anggi dan diangguki oleh Shafa.


“Hmm ... Anggi mah udah hafal kalau yang beginian. Makasih ya, Bang, abang perhatian banget sama orang tua kami,” kata Anggi.

__ADS_1


“Orang tua kamu ya orang tua abang juga, Gi. Ayo turun, ayah dan ibu udah nungguin tuh,” ucap Reigha.


Dan mereka pun segera turun. Anggi segera memeluk ayah Reynand dan ibu Khalisa dan disusul oleh Fathir suami anggi yang mencium punggung tangan kedua mertuanya.


Belum selesai mereka kangen-kangenannya, ternyata tamu undangan dari panti asuhan dan para tetangga udah datang. Jadi, mereka pun menjeda dulu acara kangen-kangenannya itu.


Acara syukuran berlangsung dengan lancar, Reigha dan Shafa membantu sampai tak terasa waktunya menjemput anak-anak.


“Mas, ayo kita jemput anak-anak dulu, perasaanku tiba-tiba gak enak,” kata Shafa.


“Baiklah, kita pamit sama Ayah dan Ibu dulu,” balas Reigha.


Dan mereka pun segera pamit sedang Anggi dan suaminya masih tinggal di kedai untuk membantu ayah dam juga ibu.


Mobil Reigha segera melaju menuju ke sekolah anak-anak. Saat udah dekat, tampak Reza di paksa masuk ke mobil sedangkan tangan satunya ditarik si kembar agar tidak masuk ke mobil itu.


Reigha segera mempercepat mobilnya dan berhenti di depan mobil yang akan membawa Reza. Reigha dan Shafa bergegas turun dan mendekati Reza.


Reza yang mengetahui kedatangan Reigha dan Shafa pun segera meminta pertolongan.


“Pa, papa, tolong Eza, Pa!” teriak Reza.


“Heh, lepaskan! Mau dibawa kemana anakku? Dan kalian siapa?” tanya Reigha menatapi satu per satu orang-orang tersebut.


“Anak kamu? Bukannya itu anaknya Bayu?” balas pria itu.


“Dia adalah anakku. Dan itu yang kembar adalah saudaranya jadi mereka bertiga adalah anakku. Dan apa kamu tuli, tadi dia manggilku apa?”


“Papa, iya dia manggil papa tadi,” sambar salah satu pria yang bersiap menerima Reza di dalam mobil.


“Jadi kamu masih tanya dia siapa? Lagian kamu di suruh siapa? Katakan atau kamu aku laporkan ke polisi?” kata Reigha.


“Maaf, maafkan kami, Pak. Kami hanya disuruh menculik anaknya pak Bayu, dan menurut yang difoto dia beneran target anaknya yang harus kami culik,” ucap pria tersebut.


“Tapi kamu sendiri dengarkan dia manggilku apa? Sayang, coba kamu panggil siapa aku, dan siapa wanita ini,” ujar Reigha lembut pada Reza.


“Om, ini adalah papa aku, dan itu adalah mama aku,” ucap Reza membuat pria itu merasa bersalah.


“Baiklah, kalau begitu saya minta maaf. Karena mau menculik anak bapak,” kata pria tersebut yang melangkah hendak pergi.


“Tunggu! Kalian ini disuruh siapa?” tanya Reigha.


“Maaf, Pak, kalau itu saya gak bisa, saya udah dikasih uang tutup mulut,” jawab salah satu pria itu.

__ADS_1


“Hmm ... kalau uang ini untuk kamu gimana?” balas Reigha memberikan segepok uang merah seratus ribuan.


“Baik, baiklah, Pak. Saya akan kasih tau, sebenarnya saya disuruh oleh...”


__ADS_2