
Reigha dan Bayu membawa istri mereka masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Saat Bayu dan Anna udah masuk ke dalam kamar, Reigha mendekat pada Shafa dan berkata, “Sayang, Mas pengen makan.”
“Hah? Makan lagi, Mas?”
“Iya, tapi pengennya ikan bakar pedas manis,” jawab Reigha.
“Yaudah, Shafa masakin dulu ya,” balas Shafa yang hendak menuju dapur tapi ditahan oleh Reigha.
“Nggak, Sayang. Mas maunya beli aja.”
Setelah Reigha memesan menu yang diinginkan, segera mengajak Shafa ke ruang kaluarga untuk menunggu ojol datang.
Beberapa menit kemudian, Mbok Nah datang membawa kantong plastik yang berisi makanan pesanan Reigha.
“Den, tadi ada ojol datang antar ini,” ucap Mbok Nah.
“Oh iya, Mbok. Sini biar Shafa yang siapin buat Mas Reigha,” balas Shafa yang mengambil alih kantong tersebut dan berjalan menuju dapur diikuti oleh Mbok Nah.
“Den Reigha ngidam lagi, Non?” tanya Mbok Nah.
“Iya, Mbok. Padahal tadi udah makan, sekarang udah lapar lagi dan pengen ini,” jawab Shafa seraya memindahkan ikan bakar ke atas piring.
“Kalau gitu, Shafa antar ini ke Mas Reigha dulu ya, Mbok,” lanjut Shafa.
“Baik, Non.”
Shafa pun membawa ikan bakar pedas manis ke ruang keluarga, Reigha segera menyantapnya.
Setelah selesai makan, Shafa membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya. Sesampainya di ruang keluarga, Reigha udah tertidur.
“Mas, ayo bangun, tidur di kamar yuk!” seru Shafa.
Reigha pun dengan rasa kantuknya berjalan menuju kamar langsung merebahkan diri di kasur. Shafa pun menyusul Reigha berbaring di samping Reigha.
****
Lima bulan kemudian, Reigha tampak sibuk dengan kerjaannya sambil duduk di atas sofa. Hari ini, Reigha udah memanggil tukang untuk merenovasi kamar bayi kembarnya dan menambahi pintu penghubung agar Shafa bisa segera ke kamar bayi ketika mendengar anaknya menangis nantinya.
Kandungan Anna sudah masuk tujuh bulan, bukan hanya Reigha saja yang menyelimuti perhatian dan kasih sayang pada istrinya, Bayu pun melakukan hal yang sama, dia selalu menjaga Anna.
Sejak kepergian Papa dan Mama ke luar negeri, Reigha dan Bayu selalu bergantian menjaga dua ibu hamil, salah satu di kantor satunya lagi di rumah.
Tepat hari ini yang di rumah adalah Reigha dan dia sejak tadi masih berkutik dengan pekerjaannya.
“Pak!” panggil salah satu tukang membuat Reigha segera menuju kamar bayi meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
“Ada apa?” tanya Reigha.
“Untuk design ini, apa menurut bapak harus diubah?” balas tulang yang merenovasi kamar bayi bertanya pada Reigha.
Saat Reigha memperhatikan desain kamar, tiba-tiba Shafa memanggil dengan suara yang seperti kesakitan.
__ADS_1
Segera Reigha ke kamar dan melihat Shafa yang udah berkeringat serta air ketuban sudah pecah.
“Mas, sakit banget ini,” rintih Shafa.
Reigha yang panik langsung membopong istrinya menuju keluar rumah untuk segera ke mobil.
“Mbok, Mbok Nah ... tolong tas Shafa yang untuk lahiran!” teriak Reigha.
Anna yg mendengar teriakan Reigha segera keluar dari kamar, “Kak, Shafa kenapa?”
“Na, tolong bilang ke Vano untuk siapkan mobil, saya mau ngantar Shafa ke rumah sakit,” ucap Reigha panik hingga tak mendengar pertanyaan dari Anna.
Anna segera berjalan keluar untuk memberitahu Vano, Anna tak bisa berlari dengan perutnya yang menjendul itu.
Reigha keluar dari rumah dengan keadaan masih membopong Shafa, juga Mbok Nah yang udah di belakang Reigha membawakan tas yang diminta oleh Reigha tadi.
Melihat mobil yang udah terparkir sempurna di depan rumah, Mbok Nah segera menaruh tas di kursi depan. Sedangkan Shafa dan Reigha di kursi belakang.
Sebelum berangkat, Reigha memanggil Anna, “Na, tolong segera telpon keluarga Shafa, bilang aja untuk langsung ke rumah sakit Persada Bunda dan jangan lupa telpon Mama dan Papa juga telpon Bayu, ya. Makasih, Na.”
Tanpa menunggu jawaban dari Anna, Reigha segera meminta Vano melajukan mobilnya.
Selama di perjalanan, Shafa terus saja merintih kesakitan. Reigha tetap memberikan semangat dengan kata-kata cintanya itu.
Hingga sesampainya di rumah sakit, Shafa langsung di bawa ke ruang bersalin karena air ketuban sudah pecah.
Dokter Amanda kaget saat melihat Shafa. Dokter segera memeriksa dan ternyata udah bukaan delapan.
“Dokter, bolehkah saya di temani suami saya?” pinta Shafa.
Dokter pun mengiyakan dan perawat segera memanggil Reigha. Yang dipanggil pun segera berdiri di samping sang istri.
“Pak, tolong bantu beri semangat Bu Shafa ya dan juga terus berdoa,” ucap Dokter Amanda dan diangguki Reigha.
Kontraksi udah semakin cepat datangnya, Shafa terus menggenggam tangan Reigha.
“Dokter, apa masih lama?” tanya Shafa lirih sambil menahan rasa sakitnya.
“Sebentar saya periksa lagi,” balas Dokter Amanda mendekat pada Shafa.
“Sabar ya, Bu, Masih tetap pembukaan delapan,” lanjut Dokter Amanda memberitahu.
Kurang lebih tiga puluh menit berlalu, Dokter Amanda kembali mendekat dan memeriksa ternyata udah pembukaan lengkap.
“Udah lengkap ya, Bu, kalau kontraksi langsung mengejan saja,” ucap Dokter Amanda yang hanya diangguki oleh Shafa.
Saat kontraksi datang Shafa langsung mengejan.
“Atur napas se-relaks mungkin, ya, Bu. Kontraksi berikutnya langsung mengejan!” seru Dokter Amanda.
Shafa sudah berada di posisi siap mengeluarkan bayi pertamanya dengan Reigha yang setia dan tak beranjak dari sisi istrinya.
__ADS_1
“Sayang, yang kuat ya!” seru Reigha yang sebenarnya gak tega melihat istrinya.
Semua tim medis udah berada di tempatnya atas perintah dokter.
Shafa udah di posisi senyaman mungkin di atas brankar melahirkan.
Shafa melebarkan kedua kakinya yang di tekuk sehingga Shafa bisa berpegang pada kedua kakinya nanti.
“Emmphhhh.” Shafa mulai mengejan. Dia mengatupkan bibirnya saat kembali mengejan.
Kucuran keringat sudah membasahi wajah dan leher Shafa.
“Oke bagus, Bu, sepuluh hitungan lagi yuk!” Dokter kembali menyeru.
Dan Shafa pun kembali mengejan berpegangan pada kedua kakinya yang dilipat dan dilebarkan agar mempermudah dokter memantau jalan lahirnya.
Dokter Amanda pun mengenakan sarung tangan medis itu juga mencoba melebarkan jalan lahir bayi dengan membukanya pelan menggunakan dua jari.
Reigha kembali menyeka keringat istrinya dan mengucapkan untaian kata cinta.
“Ayo, Sayang, kamu harus kuat. Kamu bisa, Sayang,” bisik Reigha memberi semangat tepat di samping telinga Shafa.
“Shhh ... sakit, Mas,” lirih Shafa.
Pada waktu yang udah berjalan sekian menit, namun kepala bayinya belum terlihat juga.
Reigha tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu meredakan sakit yang dialami Shafa. Reigha hanya memberikan semangat dan do'a yang terus terusan dirapalkannya agar kedua buah hati dan istrinya selamat.
Shafa mengerahkan sekuat tenaganya dan Shafa mulai mengejan kembali.
“Eeeemmmmpphhh, Akkkhhh!” Shafa mulai mengejan dan berteriak.
Tertahan saat merasakan daerah intinya kini terbuka lebar menampakkan ujung kepala anaknya.
Tim medis terus memberikan semangat begitu juga Reigha membuat Shafa kembali bangkit mengeluarkan tenaganya.
“Iya, bagus, Bu. Ayo segera, dorong lagi, kepalanya sudah terlihat. Ya ... ya, seperti itu bagus. Dorong lagi, Bu!” seru Dokter.
Jemari Shafa pun beralih mencengkeram lengan bawah Reigha yang terulur di depannya. Dan Shafa tak sengaja mencakar tangan Reigha yang langsung terkoyak.
“Stop dulu ya, Bu, atur napas dulu,” pinta dokter Amanda.
Lalu dokter Amanda pun memeriksa lilitan tali pusar yang memutar.i leher bayi saat kepala bayi itu udah menyembul keluar.
Shafa mengatur napas dalam-dalam.
“Anak kita udah keluar, Sayang, kamu kuat ya, sekali lagi,” bisik Reigha sambil mengecup kening Shafa.
Shafa pun mengangguk dan segera memeluk lengan reigha yang terulur di depannya. Shafa istirahat sambil mengatur napasnya dan menunggu kontraksi kembali datang.
“Oke, Bu, silahkan dorong pelan-pelan dan tetap rileks, ya!” seru Dokter Amanda.
__ADS_1