Menikahi Susterku

Menikahi Susterku
Chapter 24 - S2 Menikahi Susterku


__ADS_3

“Makanya, Za, kalo suka itu diomongin jangan hanya di pendam, akhirnya kamu menyesalkan karena udah terlambat,” kata Bayu hingga membuat Reza kaget dan menoleh pada papinya.


“Maksud papi apa?” tanya Reza.


“Papi dan papa tau, Za, kalau kamu itu suka dan cinta sama Daviana. Perasaan sayang kamu ke Daviana itu melebihi rasa sayang kamu ke Vilia dan Almeera, iya kan?” kata Bayu.


“Papi, Daviana itu adik aku, Pi. Gak mungkin Reza cinta sama Daviana,” balas Reza gugup.


“Ya, kamu bisa menutupi perasaan kamu sama mami dan mama kamu, tapi gak akan bisa kamu tutupi perasaan kamu dari papi dan papa kamu, Za. Papa dan papi biarin kamu pergi, karena kami gak mau kamu akan semakin tersiksa melihat persiapan pernikahan Daviana nantinya,” ungkap Bayu.


“Hmm ... iya, Pi, Reza terlambat. Reza harus apa? Reza gak ikhlas kalau Daviana dimiliki pria lain,” lirih Reza.


“Kamu harus ikhlas, Za. Karena semua udah terlambat, coba aja kamu sadari perasaan kamu dari dulu. Pasti ... ini semua gak akan terjadi,” ucap Bayu.


“Kalau pernikahan ini kami gagalkan, itu akan timbul masalah besar,” lanjut ucapan Bayu.


“Iya, Pi, reza ngerti. Semoga dengan kepergian Reza ini, perasaan cinta Reza ke Daviana akan hilang dan Reza dapat penggantinya nanti,” kata Reza dan di-aamiinkan oleh Papi Bayu.


Setelah sampai bandara, mereka pun segera check-in dan tak lama kemudian mereka pun naik ke pesawat karena pesawat akan segera lepas landas menuju ke tempat di mana Reza akan memulai kehidupan barunya.


Di rumah, Daviana seharian cemberut karena sejak kepergian Reza, Daviana merasa kesepian dan itu tak lepas dari pengamatan Reigha.


“Kamu kenapa, Kak?” tanya Reigha membuat Daviana tersadar kemudian menoleh pada papanya.


“Gapapa, Pa, hanya merasa sepi aja di rumah,” jawab Daviana.


“Sepi karena Reza pergi ya?” balas Reigha kembali bertanya.


“Apaan sih, Pa ... kok tiba-tiba bahasnya ke Reza? Reza kan masih saudara sama aku, Pa,” ucap Daviana.


“Gapapa, Kak, papa kan cuma nanya. Kamu mau ke mana, Kak?” balas Reigha.


“Ini, Pa, mama ngajak Nai ke butik untuk fitting baju lamaran dan baju pengantin,” jawab Daviana.


“Oh, yaudah kalau gitu papa pergi ke kantor dulu ya,” kata Reigha.


“Iya, Pa. Hati-hati ya papaku sayang,” balas Daviana.


Dan Reigha pun melambaikan tangan lalu pergi berangkat ke kantor.


Tak lama Reigha pergi, Shafa keluar dari kamar dan mereka pun segera pergi ke butik karena Calvin dan mamanya udah mengabari kalau mereka udah perjalanan menuju ke butik.

__ADS_1


Pada sore harinya, lebih tepatnya di tempat Bayu dan Reza. Mereka udah berada di rumah peninggalan papa Harun di luar negeri dari 2 jam yang lalu dan mereka pun segera beristirahat.


****


Hari-hari berlalu tibalah acara lamaran Calvin dan Daviana berlangsung, dari kemarin kedua keluarga sangat sibuk terutama mama Shafa dan mama Monica.


Reigha sebenarnya masih belum mantap atas keputusan putrinya, ia masih menginginkan Reza yang kelak sebagai menantunya, tapi Reigha tidak bisa memaksakan kehendak putrinya.


Di dalam kamar, Daviana tak henti-hentinya mencoba menghubungi Reza, namun berapa kali pun mencoba menelpon, HP Reza tetap gak aktif. Reza sengaja mengganti nomor telponnya dan hanya Reigha dan Bayu yang mengetahui.


Terdengar suara pintu diketuk ternyata Shafa yang sedang mencari putrinya.


“Assalamu’alaikum, Sayang, mama masuk ya. Kamu kenapa? Bentar lagi acara di mulai tapi kamu kok belum siap?” tanya Shafa.


“Wa'alaikumsalam, Ma. Ini loh, Ma, dari tadi Nai coba nelpon Reza tapi kok gak diangkat-angkat ya, Ma. Sepertinya HP Reza gak aktif. Apa Reza lupa ya kalau hari ini hari pertunanganku,” lirih Daviana.


“Mungkin Reza lagi sibuk, Sayang. Atau ... Reza lagi di pesawat perjalanan ke sini,” balas Shafa.


“Emm ... mungkin ya, Ma, kok Nai gak kepikiran sih. Yaudah, Ma ... Nai siap-siap ya, Ma,” ucap Daviana dengan semangat.


“Yaudah kalau gitu, mama keluar ya, Nak,” kata Shafa.


Shafa pun tersenyum kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar putrinya.


Setelah menutup pintu, Shafa melihat Reigha sedang duduk sambil memainkan HP-nya.


“Mas, kamu kok malah duduk-duduk aja, ayo siap-siap. Itu tamu-tamunya bentar lagi datang loh, Mas,” ucap Shafa.


“Iya, Sayang. Aku udah mandi kok, tinggal ganti baju aja. Kak Nai udah siap?” tanya Reigha.


“Belum, Pa, dari tadi manyun aja karena nelpon Reza gak bisa-bisa. Reza kira-kira ingat gak ya, Pa ... kalau hari ini saudarinya tunangan,” balas Shafa.


“Tapi Reza gak datang hari ini, Sayang. Semalam Reza telpon ke Bayu untuk minta tolong disampaikan maafnya ke kita dan ke Kak Nai kalau dia gak bisa pulang,” ungkap Reigha.


“Oh, cuma nelpon ke Bayu. Dan ... gak nelpon kita. Baru juga berapa minggu, udah lupa sama kita ya, Pa,” lirih Shafa.


“Sayang, tolong kamu ngertiin Reza ya, jangan ngomong seperti itu. Kalau dengar Bayu dan Anna gak enak loh,” kata Reigha.


“Emangnya Reza kenapa, Mas?” tanya Shafa.


“Ayo kita ke kamar biar mas jelaskan,” balas Reigha segera menggandeng istrinya. Lalu mereka bersamaan menuju ke kamar.

__ADS_1


Setelah masuk kamar dan mengunci pintunya, Reigha kembali membuka suara.


“Tolong jaga rahasia ini ya, Sayang, jangan sampai ada yang tau termasuk Kak Nai,” ucap Reigha.


“Ada apa sih, Mas, kok serius banget?” tanya Shafa yang mendekat pada suaminya.


“Sebenarnya reza pindah keluar negeri karena dia menghindari putri kita, Sayang. Reza jatuh cinta sama kak Nai kita, tapi dia terlambat menyadari perasaannya,” jawab Reigha.


“Astagfirullah, Mas, kasian banget Reza. Kenapa dia gak jujur aja sama kita, Mas, aku pasti akan senang kalau Reza yang akan jadi menantu kita,” balas Shafa.


“Semua udah terjadi, Sayang. Gak perlu disesali, yang penting kita sebagai orang tua mendo’akan kebahagian anak-anak kita. Reza ‘kan juga anak kita,” kata Reigha.


“Tapi, rasanya aku gak tega, Mas, Reza jauh-jauh ke luar negeri tinggal sendiri pasti sekarang ini hatinya sangat hancur. Mas, besok setelah acara selesai aku mau ke tempat Reza, boleh ya?” tanya Shafa.


“Boleh, Sayang. Sekarang hapus air mata kamu, kita keluar, jangan sampai anak-anak menyadari kalau kamu habis menangis,” balas Reigha.


“Iya, Mas.” Shafa memeluk Reigha. Setelahnya, Shafa pun mencuci muka dan menambah riasannya sedikit kemudian mereka pun keluar bersamaan.


Setelah Shafa dan Reigha keluar, ternyata tamu-tamu udah pada datang.


“Fa, kamu kemana aja sih .... aku cari-cari kamu loh dari tadi,” ucap Anna.


“Eh, Na ... maaf tadi habis dari kamar mandi. Na, maafin aku ya,” lirih Shafa yang berhambur memeluk Anna.


“Hei, kamu kenapa?” tanya Anna mengernyit bingung.


Reigha yang paham dengan perasaan istrinya pun segera mendekat kemudian merangkul Shafa.


“Sayang, nanti aja ya ... ayo kita temui tamu-tamu dulu,” ucap Reigha.


“Na, tolong kamu lihat Nai ya,” lanjut ucapan Reigha.


“Iya, Kak,” balas Anna yang bingung melihat Shafa yang tampak sedih.


‘Kamu kenapa sih, Fa, harusnya hari ini kan kamu bahagia karena putri kamu sebentar lagi akan menikah,’ batin Anna menatap punggung Shafa yang berjalan menjauh darinya.


Anna pun segera masuk ke kamar Daviana.


Tok ... Tok ... Tok ...


“Nak, kamu udah siap? Ehh ... MasyaaAllah, kamu cantik banget. Mami sampai pangling loh,” ucap Anna.

__ADS_1


__ADS_2