
"Refanya...maafkan ayah yang selama ini tidak menyadari bahwa kamu adalah putri ayah."
"Kebencian ayah pada pengkhianatan ibumu membuat ayah terus menerus hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang mengerikan membuat ayah tak pernah bisa mempercayai siapapun dan akhirnya membutakan mata dan hati nurani ayah akan sebuah kebenaran bahwa kamu adalah putriku."
Mereka saling berpelukan lama sekali.
Mereka tak menyadari ada sepasang mata lain yang menatap kearah mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan atas semua perbuatan ayahku, tuan Kelvin...tapi Redo tau ibu Nilakandi menikahi ayah karena ingin membasmi kejahatan yang ditebarkan oleh ratu Hikaru."
"Ayah Nixam pun meninggalkan Redo untuk bertempur hingga ayah terbunuh dalam peperangan.
Pangeran Redo yang bersemayam di dalam tubuh seorang balita yang bernama Aliarafa, putra dari Aliandhara dengan Valeria terlihat berkaca-kaca pada kedua bola matanya.
"Mommy!!"
Almira langsung menoleh saat mendengar sebuah suara yang memanggilnya. Suara yang sangat dirindukannya itu, iya...suara Rafa!!"
"Rafa sayang....kemari nak, peluk mommy!!"
Almira mengembangkan kedua tangannya untuk memeluk Rafa.
"Daddy...peluk mommy juga yuk!!" rengek Rafa yang membuat Aliandhara ragu-ragu.
Akhirnya dengan terpaksa dia ikut memeluk Rafa dan ikut mencium pipi Almira saat Rafa meminta daddynya untuk mencium sang mommy.
Wajah Xavier sudah merah padam menahan rasa cemburu yang bergejolak membakar jiwanya. Bagaimana tidak, calon istri yang sangat dicintainya dipeluk dan dicium oleh laki-laki lain yang menjadi rivalnya.
"Mira...." kata Xavier menatap tajam pada Mira.
"I...iya...!!"
Akhirnya Mira melepas paksa pelukan Aliandhara yang mendekap erat tubuhnya yang berdalih atas nama Rafa yang meminta padahal dia juga mendamba pelukan hangat dan panas itu.
Dia masih merasakan degup jantungnya yang menempel erat pada dua gunung kembar itu dan juga merasakan degup jantung Almira yang sama persis dengannya saling berlomba memompa darah ke seluruh tubuh.
Xavier tak lagi melepaskan pegangan tangannya pada Almira. Dia kesal luar biasa.
"Jadi pernikahannya jika bisa dilaksanakan sekarang aja tuan, biar cepat sah!!" kata kakek Dahlan yang merasa khawatir jika Xavier sudah meniduri cucu polosnya itu.
Andainya saja kakek Dahlan tau bahwa Almira sudah dijebol berkali-kali gawangnya oleh Xavier, tentu kakek horor dan ketus ini akan bertambah murka.
Sementara mereka masih menunggu penghulu yang telah dipanggil oleh tuan Kelvin untuk menikahkan Almira dan Xavier maka jauh di rumah pantai...
Kadir melenggak lenggokan tubuhnya di jalan berbatu hendak pulang menuju rumah.
Sudah dua hari dia tidak pulang, karena mabuk cinta dengan gadis ular kobra seberang kampung.
Begitu tubuh hitam pekatnya naik ke atas pagar dan mau masuk ke dalam halaman...
Sssss...sssss...Kadir mendesis menahan sakit juga menahan marah saat dia menyentuh pagar halaman ekornya terasa panas bagai terbakar.
Ssssss....sssssss....ssssss
(anjjjrrrottt...apa yang menghalangiku untuk masuk??? ekorku panas seperti dipanggang dalam oven)
Sssssss....Sssssss
(ini pasti kerjaannya si Dahlan sontoloyo itu...hanya dia yang mempunyai dendam kesumat padaku.)
Sssssss....sssssss
(awas kamu ya Dahlan...cari perkara kamu dengan Kadir bin Sabeni.)
Kadir bukan sembarang ular kobra. Bapaknya kobra Jawa biasa, tetapi ibunya adalah ular siluman penunggu hutan sekitar gua Simbra tempat Levia ditawan dulu.
Sebagai mahluk jelmaan itulah, Kadir bisa mengerti bahasa manusia bahkan jika sudah saatnya tiba nanti, dia bisa menjelma juga menjadi seorang manusia.
Anak buah tuan Kelvin datang dengan seorang penghulu.
Almira hanya memakai kebaya sederhana dan Xavier memakai baju putih dan hitam.
Sejak tadi Aliandhara memeluk putranya. Hancur sudah harapannya untuk bersama dengan Almira.
Sementara Xavier tersenyum bahagia tetapi sebaliknya Almira semakin menunduk, saat wajah Aliandhara selalu memandangnya.
"Sah??? kata penghulu!!"
"Sah...kata mereka yang hadir.
"Alhamdulillah..." kata mereka semua.
"Mira, sekarang Xavier telah resmi menjadi suamimu, dan Xavier...Almira sekarang sudah resmi menjadi istrimu!! sayangi dia dan jaga dia dengan baik!! kakek, ayah, ayah Giandra dan ibu Serafin juga kakek Kojiro menyerahkan Almira untuk kamu lindungi."
"Kalian semua tak usah khawatir, Xavier akan menjaga dan melindungi istri Xavier dari apapun dan siapapun!!"
__ADS_1
"Ayah...Almira akan ikut balik bersama kakek ke rumah pantai, tetapi ayah tak usah khawatir, Almira akan sering menjenguk ayah di mansion."
Tuan Kelvin memeluk putrinya dengan erat.
"Jaga putriku dengan baik, Xavier...jangan sia-siakan dia!!" kata tuan Kelvin saat memeluk Xavier juga.
"Ayah tak usah khawatir, Xavier akan selalu melindungi Almira bahkan dengan taruhan nyawa sekalipun.
Sepanjang perjalanan menuju rumah pantai semua orang terdiam kelelahan. Sudah hampir sore acara baru selesai.
Xavier yang sedang membawa mobil sesekali melirik pada Almira yang sudah resmi sekarang menjadi istrinya.
Di kursi tengah ibu dan ayahnya tengah tertidur sementara di belakangnya kakek Kojiro dan kakek Dahlan sudah tidur mendengkur kelelahan.
Senyum tak pernah hilang dari wajah Xavier. Gadis yang dulu sangat dicintainya dan sempat cukup lama terpisah karena menduga mereka adalah saudara kandung ternyata kini dapat dia miliki seutuhnya.
Mobil sudah memasuki pekarangan.
"Ayo...ayo bangun semua, kita sudah sampai!!" kata Xavier.
Mereka semua turun dari mobil. Baru saja kakek Dahlan menjejakan kakinya ke tanah tiba-tiba ada sesuatu yang menggigit kakinya.
"Hai...anak jaha*nam...mengapa kamu menggigit kakiku?? kamu sudah gila atau kamu katarak kah sehingga mau cari perkara denganku??" geram kakek Dahlan.
"Kadir...kamu dari mana saja?? sudah berhari-hari kamu tidak pulang. Mama pikir kamu sudah berakhir di penggorengan!!" kata Almira berusaha melerai keributan antara Kadir dan kakek Dahlan.
Ssssss....sssss
Kadir tampak murka sambil mengadu pada Xavier dan Almira.
"Bukan, Kadir...yang membuat pagar gaib di sekitar halaman bukan hanya tenaga dalam kakek Dahlan saja, tetapi penggabungan tenaga dalam kami semua."
"Kamukan tau anak buah ratu Hikaru selalu mencari celah untuk bisa masuk kemari, makanya kami melindungi rumah ini selama kami pergi." Kata Almira dengan lemah lembut membuat Kadir yang sekarang sudah bertambah dewasa sedikit mengendur amarahnya.
Sssss...ssssss
"Ya mana kami tau??? kan kamu yang sudah beberapa hari tidak pulang, jadi kami tak bisa mengajakmu ikut serta!!" kata Xavier.
"Dasar anak jaha*nam..." rutuk kakek Dahlan. Lalu orang tua itu masuk ke dalam rumah.
"Abang mau Mira buatkan minum??" kata Almira pada Xavier yang sudah resmi jadi suaminya.
"Ngga usah sayang...abang hanya ingin cepat mandi lalu ngobrol denganmu di dalam kamar!!" katanya sambil tersenyum nakal.
Almira tak lagi menjawab. Dia membantu ibunya berberes dan setelah membersihkan badan, mereka makan malam dengan makanan yang dibawa dari rumah tuan Kelvin tadi sore.
"Bang Xavier tadi sehabis mandi langsung tertidur yah!!" kata Almira.
"Suasana sekeliling rumah ini tambah hari tambah mencekam saja!!" kata kakek Kojiro.
"Kamu benar Kojiro!!" kata kakek Dahlan.
"Rasanya aku ingin memusnahkan semua para pengganggu itu, berani-beraninya mereka membuat bulu kukukku merinding!!" kata kakek Dahlan.
"Apa kek?? bulu kukuk?? bulu apa itu??" tanya Serafin, bingung.
"Bulu kuduk kali kek, kok bulu kukuk!!" jawab Giandra sambil menahan tawanya melihat wajah si kakek sudah cemberut karena di tertawakan.
Setelah selesai, Giandra dan kakek Kojiro serta kakek Dahlan mengobrol di teras sementara Almira dan ibunya membereskan meja makan dan mencuci perabot yang kotor.
"Mira, jangan lupa mengecek semua pintu dan jendela terutama pintu dan jendela dapur ya!!" kata ibunya.
Serafin menyusul yang lainnya ngobrol di teras sementara Almira masih mengecek pintu dan jendela di belakang dan memastikan lampu belakang menyala karena di belakang rumah pantai adalah hutan dan semak belukar.
Tiba-tiba sebuah tangan yang kekar dan besar membekap mulutnya dari belakang, sehingga Mira tidak dapat berteriak. Hampir saja Almira membanting sosok yang membungkam mulutnya itu tetapi tidak jadi saat sebuah kecupan lembut di bahunya mendarat bertubi-tubi.
"Abang..." bisik Almira kesal pada suami jahilnya itu.
Ssstttt...
"Abang sengaja ngga ikut makan malam dan pura-pura tidur nanti kalau ngga berbohong begitu mereka semua pasti akan mengganggu bulan madu kita di kamar."
"Ya diajak ngobrol lah, main kartu lah, nonton bola lah!!" bisik Xavier ke telinga istrinya membuat Almira merasa geli.
Setelah selesai mengunci pintu, Xavier dengan tidak sabar menarik Almira masuk ke dalam kamar mereka dan menguncinya dari dalam.
Almira baru sadar jika suaminya itu sejak tadi hanya pakai kaos oblong dan sarung saja.
"Tumben pakai sarung bang, biasanya ngga suka pakai sarung, kata abang gerah kalau pakai sarung!!" ucap Almira sambil duduk bersandar di tempat tidur di samping suaminya."
Wajahnya tiba-tiba memerah panas dan jengah saat dari dalam sarung sesuatu berdiri tegak di dalam sana.
"Abang tidak pakai CD ya...sampai otongnya berdiri tegak sempurna seperti itu!!" kata Almira jengah tetapi melirik juga.
"Sebenarnya berdiri dari tadi, yang...habis kamunya lama banget jadi tadi dia sempat tertidur lagi, eh pas kamu dekat jadi bangun lagi deh!!" kata Xavier.
__ADS_1
"Bang, Mira boleh nanya?" kata Almira.
"Boleh...apa saja asal kamu jangan meminta untuk dipeluk lagi oleh mantan terindahmu itu!!" jawab Xavier ketus.
"Maksud abang tuan muda Aliandhara?" tanya Mira lagi.
Xavier tidak menjawab hanya mendengus saja.
Almira hanya tertawa kecil melihat suaminya sekarang menjadi posesif dan cemburuan.
"Bang, kenapa sih si otong itu harus berdiri tegak dulu baru bisa masuk? memangnya kalau dalam.posisi bengkok ngga bisa ya bang??" tanya Almira dengan polosnya.
Huuffttt...
Xavier berusaha menahan tawanya mendengar perkataan istri polosnya itu.
"Kalau ngga berdiri bagaimana si otong bisa masuk menerobos ke dalam liang milikmu? dan juga kalau bengkok, nanti punyamu jadi miring juga, mau punyamu jadi miring??" tanya Xavier.
Dengan cepat Almira menggelengkan kepalanya.
Xavier membuka sarung dan kaos oblongnya!! Almira mengerenyit melihat pusaka itu berdiri dengan gagahnya.
"Abang mau apa??" tanya Almira gugup.
"Mau ngebor...dari tadi semakin kamu bicara vulgar, semakin badan abang panas dingin!!" jawab Xavier yang tak bisa lagi mengendalikan nafsunya.
Dengan cepat dia menyambar bibir ranum istrinya dan tak henti tangannya bermain di kedua melon milik Almira.
Sementara itu...
Aliandhara duduk termenung di balkon kamarnyanya.
"Pasti kalian sedang bercinta sekarang ini!! seandainya saat itu aku tidak plin plan tentu Almira kini bukan menjadi istri Xavier, tetapi menjadi istriku, ibu dari Rafa dan anak-anakku kelak!!" bisiknya sambil bergumam.
"Dasar aku manusia paling bodoh yang pernah hidup di muka bumi ini, aku menumbuhkan rasa cinta di hatinya untuk ku tetapi aku pula yang menghempaskan angan dan harapannya dengan menorehkan luka yang dalam di hatinya." gumam Aliandhara sambil menatap kejauhan.
"Seandainya kamu tau Mira, hingga detik ini aku masih tetap mencintaimu walaupun semuanya sudah terlambat."
"Apalagi tadi siang saat aku melihat Xavier memasukan cincin ke dalam jari manismu dan mengucapkan janjinya, separuh jiwaku rasanya sudah hilang dan pergi...aku sudah kehilanganmu, Almiraku!!"
"Apalagi tadi aku mendengar bahwa kamu adalah anak kandung ayah...makin tipislah semua harapanku!!" tak terasa ada buliran bening mengalir dari kedua kelopak mata Aliandhara.
"Daddy!!"
Sebuah suara di belakangnya mengejutkan lamunannya tentang Almira.
"Hei...mengapa anak daddy belum tidur??? ini sudah malam lho...besok Rafa kan juga harus pergi kesekolah??" ucap Aliandhara sambil mengelus kepala putranya yang kini duduk di pangkuannya.
"Apa daddy memikirkan mommy?" tanyanya tiba-tiba!!
"Mengapa mommy bersama dengan om itu?? mengapa mommy tidak bersama daddy??" Aliarafa tampak menuntut banyak jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Karena kebahagiaan mommy adalah om yang tadi, dan bukan dengan daddy!!" jawab Aliandhara sambil tersenyum gamang.
"Tapi apakah mommy akan sering-sering kemari menjenguk kita, daddy?" tanya bocah lucu itu.
"Semoga saja mommy tak akan lupa pada janjinya untuk sering menengok kita di sini, Rafa!!" Aliandhara tersenyum untuk menenangkan putranya.
"Ya, sudah...kita bobo yuk!! besok daddy juga akan ada jadwal meeting dengan klien, jadi pagi-pagi sekali daddy dan kakek harus berangkat ke perusahaan." kata Aliandhara.
"Daddy...sebenarnya ada yang ingin Rafa sampaikan ke daddy, tapi..."
Ucapan Aliarafa menggantung saat dia melihat ada sekelebatan bayangan di balik pintu dan dia tau bahwa Levia tengah menguping pembicaraan mereka.
"Dasar tukang nguping yang menjengkelkan!!" sungut pangeran Redo dengan kesal.
Dia tadi sebenarnya berniat untuk menyampaikan kebenaran tentang Alia palsu itu, tetapi seolah tau Levia malah ikut menguping pembicaraan mereka.
Aliarafa tidak ingin daddy yang sangat dicintainya itu celaka. Karena bisa dipastikan jika dia membocorkan semuanya berarti hidup daddy dan kakeknya di dalam bahaya.
Terpaksa dengan gemas dia membatalkan keinginannya itu dan bersabar untuk menunggu waktu yang tepat.
"Dasar bocah naga sialan!!" umpat Levia kesal.
Semenjak Sima tertangkap dan dibawa pulang kembali kelembah oleh Matsuyama, Levia tidak mempunyai teman lagi.
Dia harus bertindak lebih hati-hati sekarang sambil menunggu purnama merah yang bisa mengembalikan seluruh kekuatan ratu Hikaru ibundanya.
Dia tidak mau terlalu banyak bertingkah dulu di dalam kandang macan seperti ini.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Hai para readers jangan lewatkan selalu kelanjutan kisah Almira, Xavier dan Aliandhara ya🙏🙏😊😊