
Perasaan Aliandhara menghangat melihat putranya yang selama ini selalu murung, jadi ceria kembali...begitu juga dengan tuan Kelvin dan lainnya, tapi tidak dengan Valeria.
"Kenapa gadis ingusan itu harus muncul lagi sih di dalam hidup Aliandhara?" Valeria mendengus.
Dia maju mendekati Almira yang sedang memeluk Rafa tanpa sempat dicegah oleh Aliandhara.
Tanpa diduga tangannya menarik rambut panjang Almira sampai kepala Almira tertarik kebelakang.
"Lepaskan putraku dari pelukanmu gadis ja*lang!! Aku tak rela tangan dan bibir kotormu menyentuh putraku." Cengkeraman Valeria menarik semakin kuat.
"Cari mati..." Desis Alia dan kakek Dahlan bersamaan.
Melihat orang yang dikasihinya tersakiti, Rafa berteriak sambil mencakar tangan ibu kandungnya sendiri.
"Egi...ini mommy Afa!!" Mata Rafa menatap beringas kepada Valeria.
Valeria lebih memilih tangannya terluka dicakar oleh Rafa ketimbang dia harus melepaskan jambakannya pada rambut Almira.
Aliandhara dan tuan Kelvin menatap penuh kemarahan pada Valeria.
Sementara Almira hanya menyeringai tanpa berusaha melepaskan rambutnya. Tiba-tiba...
"Aduhhhh...." Valeria melepaskan cengkeramannya pada rambut Almira ketika telapak tangannya seperti ditusuk ribuan jarum. Telapak tangannya juga seperti terbakar.
"Rasakannn" Desis Almira menyeringai.
"Gadis sialan!!" Teriak Valeria sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
'Aku sudah bilang jangan cari gara-gara dengannya, tapi kamu tak mendengarkanku sekarang rasakan sendiri akibatnya..." Bentak Aliandhara.
"Kok kamu malah bela gadis itu sih honey...tanganku melepuh nih...aku seperti memegang bara api." Valeria meniup-niup telapak tangannya sambil mengadu pada Aliandhara.
Almira lalu berbalik menghadap Valeria sambil menggendong Rafa.
Ckckck...
"Kasihan kau Valeria...bahkan putramu sendiri melukaimu, dia lebih memilihku daripada ibu kandungnya sendiri!!" Seringai dingin tampak bermain di wajah cantik Almira.
__ADS_1
"Sialan kau gadis kampung...dasar gadis rendah...pantas saja kau seperti orang yang tak berpendidikan, walaupun kau kuliah di fakultas kedokteran tapi tetap saja kau nampak kampungan."
"Tuan Kelvin dan tuan muda Aliandhara yang terhormat, tampaknya ibu kandung Rafa yang telah mencampakan bayinya dulu kini telah kembali, tampaknya dia sudah siap untuk mengasuh anaknya kembali."
"Tuan salah jika menelpon saya, seharusnya dia yang harus mengurus anaknya bukan gadis kampung rendahan dan tak berpendidikan seperti saya."
Aku tiba-tiba memindahkan gendongan Rafa pada Valeria tanpa sempat dia menolaknya."
"Ngga au...ngga au...mommy afa..." Rafa yang tadinya sudah tenang dan diam jadi meronta dan menangis kembali digendong oleh Valeria.
"Gadis kampung...cepat diamkan putraku, kau membuatnya menangis!!" Valeria kelagapan karena Rafa terus meronta-ronta.
"Ayo kita pulang kek, tugas Mira sudah selesai tinggal giliran ibu kandung durhaka itu saja yang harus menyelesaikan tugasnya." Telunjukku tepat menunjuk dan langsung mengenai jidat Valeria.
Rafa semakin meronta dan menangis pilu dalam dekapan Valeria.
Sebenarnya Almira sangat tak tega melihat anak asuhnya menangis meronta-ronta seperti itu, tapi dia terlanjur jengkel pada Valeria.
"Valeria....berikan Rafa pada Almira sebelum cucu saya pingsan karena kebanyakan menangis...dan kau Ali, bawa perempuan ini keluar dari rumah ini, kenapa kamu mengajak dia tadi kemari!! Sudah tidak bisa apa-apa, kehadirannya di sini hanya membuat resah dan rusuh saja." Tuan Kelvin mengambil paksa Rafa dari tangan Valeria.
"Tapi yah, Aliandhara masih ingin di sini?" Kata Aliandhara.
Akhirnya Aliandhara mengalah, dengan kesal dia menarik Valeria keluar dari sana meninggalkan mereka semua.
"Awhhh..."
Valeria meringis saat tangannya dihempaskan dengan kasar oleh Aliandhara.
"Masuk...aku akan mengantarmu kembali ke apartemen." Aliandhara mendorong paksa Valeria masuk ke dalam mobil dan melajukannya kembali ke apartemen.
"Kok kamu marah padaku sih Honey? Aku kan hanya...diam Valeria!! Aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu." Aliandhara membentak Valeria dengan gusar.
"Honey...hanya karena gadis kampung yang rendahan itu kamu tega membentakku?" Valeria menatap tajam pada Aliandhara.
"Diam Valeria, jika kamu masih banyak bicara juga akan aku turunkan kamu di sini, silakan kamu pulang ke apartemen naik taxi."
Dengan cemberut Valeria akhirnya diam, dia takut juga kalau Aliandhara marah lalu benar-benar menurunkannya di tengah jalan begini.
__ADS_1
"Maaf Mira, sebaiknya malam ini kamu dan kakekmu menginap di sini saja biarkan Rafa tenang dulu!!" Tuan Kelvin menatap Almira.
"Baiklah Tuan, ayo sayang...bobo sama mommy!!" Aku menggendong Rafa kembali menuju kamarnya.
Kamar Rafa bersebelahan dengan kamar Alia. Malam itu aku tidur di kamar Rafa. Memeluk bocah kecil itu. Mendekati pukul 3 dini hari aku terbangun karena merasa seperti ada yang memanggil-manggil namaku.
Suaranya seperti memohon pertolonganku. Suaranya seperti datang dari suatu tempat yang jauh.
"Mira...Mira...tolongin aku??? Aku ngga bisa keluar dari tempat ini!! Aku takut Mira!!"
Aku duduk di tepi pembaringan sambil menetralkan mata dan juga telingaku.
"Aku seperti mendengar suara sorang wanita memanggil-manggil namaku, tapi dari arah mana ya? Jangan-jangan tante kunti dan para tetangganya ya?? Hi....." Aku bergidik sendiri.
"Tapi aku seperti kenal suara itu, suaranya seperti suara Alia...tapi ngapain juga Alia minta tolong, coba!!" Almira terus berpikir sambil menatap ke sekeliling untuk menajamkan pendengaran dan penglihatannya.
Sementara itu...
Aku tau Almira suatu hari pasti akan menolongku keluar dari dalam cermin celaka ini!!" Ternyata tadi yang di dengar Almira bukanlah mimpi. Itu memang suara Alia alias Lunela yang dikurung oleh Levia di dalam cermin.
Dia bisa melihat orang yang ada di luar, tapi orang di luar tak bisa melihat keberadaannya di dalam penjara cermin itu.
Dia tau Almira ada di mansion ayahnya, makanya tadi dia berteriak sekuat tenaga tapi keburu Levia tau dan mengancam untuk menghancurkan cermin di kamarnya supaya Alia asli tak bisa lagi kembali ke dunia selamanya.
Almira masih melamun saat dia merasa kalung kepala naga biru di lehernya bersinar terang.
Sudah lama kalung itu tidak mengeluarkan cahaya biru dari kedua bola matanya. Kalung itu bersinar untuk memberi tanda akan adanya bahaya di sekitarnya atau orang yang dekat dengannya terancam bahaya.
Tapi hanya sesaat lalu cahaya itu meredup dan hilang kembali.
"Pertanda apa ini? Mengapa kalung yang kukenakan ini bersinar lagi?" Bisik hati Almira.
"Sebaiknya besok aku ceritakan saja pada kakek, mungkin kakek bisa membantu memecahkan masalah bersinarnya kalung ini...asal orang tua itu jangan bilang saja kalau mau memecahkan masalah ya dibanting saja." Berpikir sampai kesitu Almira jadi meradang lagi ingat sama kakek Dahlan.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Ayo dong...jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca, like, komen, vote, favorit dan rate nya๐๐ ditunggu๐๐