Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 99 Kisah Masa Lalu


__ADS_3

"Itu artinya bunda akan terbebas dari kutukan ini dan kembali kedunia bunda dan kamu karena kamu tengah mengandung, maka otomatis kutukan itu akan berpindah padamu."


"Sebenarnya ada cara untuk mematahkan kutukan itu dan mencegahmu untuk berwujud seperti ibunda tetapi ibunda yakin kamu tak akan tega melakukannya, Nila karena ibunda tau kamu berhati baik dan mulia.


'Apa itu ibunda ratu?" tanya Nilakandi. Dan Kevin Antonio yang sejak tadi hanya diam ikut memasang telinganya baik-baik.


"Tumbalkan anakmu agar kutukan terputus sampai di sini saja."


"Tumbalkan dia pada saat purnama merah menjelang nanti, purnama yang hanya terjadi setiap 25 tahun sekali itu."


Wajah Kelvin Antonio memucat. Dia memandang pada istrinya dan mengisyaratkan dengan gelengan kepalanya.


Wajah Nilakandi pun langsung berubah drastis mendengar anaknya akan dikorbankan.


"Tidak ibunda...Nila tak mungkin mengorbankan darah daging Nila sendiri walau sampai kapan pun..."


Nilakandi menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui wahai putriku Nilakandi dan menantuku Kelvin Antonio...kau dan Nila berbeda, kau manusia biasa dan Nila adalah seekor naga...mulai detik ini kalian tidak bisa hidup bersama lagi karena Nilakandi akan menjalankan takdir dan kutukannya sebagai naga biru."


"Karena begitu Nila memaksa meninggalkan tempat ini batas langkahnya hanya sampai di pintu goa dan dia otomatis akan berubah menjadi perwujudan seekor naga sedangkan kaupun tak akan mungkin tinggal selamanya di tempat inikan?"


"Sesekali kau boleh mengunjungi istrimu di sini, tetapi tidak semulus langkahmu seperti saat kau bersama dengan Nilakandi saat datang ke tempat ini, akan banyak rintangan yang akan kamu lewati...tentu bangsa-bangsa jin dan para siluman penunggu hutan ini akan membawamu dan menyesatkanmu ke dunia mereka."


Panjang lebar apa yang di sampaikan ratu Nilasari tak lagi bisa membuat Kelvin dan Nilakandi berpikir jernih.


Kedua pasangan pengantin baru itu saling berpelukan. Nilakandi tampak menangis di dada suami manusianya. Rasa sakit, rasa akan kehilangan dan rasa tak mungkin bisa bertemu dan bersama lagi, membuat kedua pasangan itu merasa seolah langit mau runtuh di hadapan mereka.


Akhirnya Nilakandi pasrah dan mengantarkan suaminya sampai keperbatasan pintu goa pualam dia menitipkan sebuah kalung berkepala naga bermata biru kepada suaminya dengan sebuah pesan tulus yang membuat keduanya kembali berlinang air mata.


"Pergilah sayangku, aku mengikhlaskanmu jika suatu hari nanti kamu menemukan wanita penggantiku, wanita manusia dari duniamu maka menikahlah tetapi kumohon jangan lupakan istrimu yang telah berubah kembali menjadi wujud seekor naga ini."


"Dan jika suatu hari nanti kamu menemukan seorang gadis yang mengenakan kalung yang sama persis sepertimu maka dialah putrimu, putri kita..."


"Aku hanya memberikan kalung seperti ini kepada keturunanku dan pada seorang laki-laki yang nantinya akan menjadi orang terpilih, semoga dia bisa mengalahkan kejahatan dan kebatilan dan mampu mematahkan kutukan yang sudah ratusan tahun membelenggu bangsaku ini."


Kelvin Antonio menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Kamu cinta pertama sekaligus cinta terakhirku, Nilakandi...aku berjanji untuk tetap sendiri dan hanya setia pada satu wanita yaitu kamu sebagai istriku."


"Selamat jalan sayang...ikuti saja terus jalan setapak di depanmu...jangan kamu menoleh ke samping kanan dan kiri terutama ke belakangmu, teruslah berjalan hingga kamu mencapai pinggiran hutan...pulanglah dan tetaplah selalu dalam ingatanmu kenangan tentang kita, begitupun aku."


Sekali lagi kedua insan berlainan alam dan dunia itu saling berpelukan dengan erat. Akhirnya Kelvin berbalik berjalan meninggalkan istri dan calon bayi yang dikandung oleh Nilakandi, berpisah untuk waktu yang tak dapat ditentukan bisa atau pun tidak untuk bertemu lagi.


Dia bukan lagi berjalan tetapi berlari dan terus berlari dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi pucatnya. Tak lagi dihiraukannya suara-suara di samping kanan dan kirinya apalagi dibelakangnya. Dia ingat pesan istrinya sebelum dia pergi tadi.


"Selamat jalan dan selamat berpisah sayang...waktu pertemuan kita yang singkat tak akan menyurutkan rasa cintaku padamu.


"Semoga suatu hari nanti takdir akan menyatukan kita kembali, semoga pemuda yang kelak diramalkan mampu memusnahkan kutukan ini akan segera datang."


"Bukan hanya untuk kita tapi untuk putri kita kelak yang pasti juga akan kena imbas dari perbuatan kita."


Nilakandi yang kini bergelar sebagai ratu Nilakandi atau Seiryu si naga biru, hidup dalam kesepian dan kehampaan menggantikan ibundanya ratu Nilasari yang sudah kembali pulang kedunianya setelah puluhan tahun terkurung dalam goa pualam itu.


Kini ratu Nilakandilah yang harus memenuhi takdirnya menjadi naga biru penunggu di goa itu.


Harus hidup jauh dari suaminya tercinta, seorang diri, hamil dan kesepian.


Sering di malam-malam tertentu terdengar suara lolongan jauh dari dari dalam hutan dan terdengar menyeramkan sampai ke pemukiman penduduk yang tak jauh letaknya dari pinggir hutan itu.


Konon itu adalah suara tangisan kesepian dan kerinduan Nilakandi pada suami dan keluarganya.


Tidak hanya di situ saja penderitaan Nilakandi dia harus menjaga bayinya dari serangan ratu Hikaru yang menginginkan permata naga yang ada di dalam perut naga biru.


Hingga pada suatu hari Nilakandi harus rela menitipkan bayi yang dikandungnya pada rahim seorang wanita yang baru saja ditinggalkan oleh bayi mereka, yaitu Giandra dan Serafin

__ADS_1


Pertempuran besar yang membuatnya tak leluasa bertarung dan dia juga sangat mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Bayi perempuan yang telah Nilakandi dan Kelvin Antonio rencanakan untuk menamainys Refanya, diganti oleh pasangan Giandra dan Serafin menjadi Shahnaz Almira, tetapi akhirnya takdir juga mengatakan lain, baru sebulan usia Almira dia yang dititipkan pada Xavier Giovanno harus berpisah dengan orang tua mereka karena perbuatan orang yang sama, ratu Hikaru.


Pada bab 4 sudah di kisahkan bahwa tuan Kelvin pernah melihat kalung yang dikenakan Almira sama dengan kalung miliknya juga kalung yang dikenakan Xavier.


Tuan Kelvin teringat pada seseorang yang belasan tahun lalu sangat berarti dalam hidupnya dan membuatnya tak mau lagi untuk bersama dengan wanita lain karena begitu dalamnya cinta dan sayang tuan Kelvin pada si naga biru ratu Nilakandi.


*


*


Kakek Kojiro mengakhiri ceritanya. Almira terisak dalam pelukan Xavier.


"Ayah, akankah Xavier dan Almira akan terpisah juga??? kami saling mencintai, ayah...ibu...Xavier bertekad untuk mematahkan kutukan itu agar Almira tidak lagi diambil dari sisi Xavier."


"Kek, apa yang kakek maksud Kelvin ayah dari Aliandhara??" tanya Almira masih terisak.


"Benar Mira, tuan Kelvin Antonio adalah ayah kandungmu, dia rela tak menikah sepanjang hidupnya demi cinta dan janjinya pada ibumu.


Almira tak pernah menangis kecuali saat dia masih kecil, tetapi menghadapi masalah ini membuat Almira menjadi terpukul dan terus menerus terisak dalam dekapan Xavier.


Baru saja dia bertemu dengan kedua orang tuanya lalu dia mendengar lagi bahwa dia punya orang tua kandung lagi dan yang lebih mengagetkan tuan Kelvin yang dia tau adalah ayah dari Aliandhara ternyata adalah ayah kandungnya.


Sementara Serafin dan Giandra juga tidak bisa berkata apapun lagi karena setelah Serafin tau bahwa bayi mereka meninggal tak lama dia hamil kembali tetapi malam sebelum kehamilannya dia bermimpi di datangi seekor naga yang sangat besar berwarna biru dengan mahkota di kepalanya.


***Flashback again***


"Sudahlah Sera...ikhlaskanlah kepergian bayi kita, mungkin dia tak mau hidup menderita bersama kita..." bujuk Giandra pada Serafin istrinya yang terus menerus meratapi kematian putri mereka.


"Kita berdoa saja pada yang kuasa semoga kita cepat diberi momongan lagi!!" kata Giandra dengan sabarnya menghadapi sikap istrinya


Karena terlalu lelah menangis, malam itu Serafin tidur dipelukan suaminya, Giandra lalu menggendong istrinya masuk ke dalam kamar. Malam itu entah mengapa Giandra melihat Serafin terlihat sangat...sangat cantik dan menggairahkan.


Terdengar suara Giandra yang bermain tunggal melenguh panjang saat dia melakukan pelepasan di dalam tubuh istrinya.


Akhirnya mereka berdua tertidur dan bermimpi secara bersamaan.


Naga besar yang mengaku bernama Nilakandi itu meniupkan segumpal darah kedalam rahim Serafin.


"Serafin...Giandra...bayi ini adalah anakku...kutitipkan dia di dalam rahim istrimu, jagalah dia seperti kalian menjaga anak kandung kalian sendiri...pakaikan kalung kepala naga ini setelah dia lahir nanti...sebab tak lama kalian berdua juga akan mendapatkan titipan seorang anak lelaki pakaikan juga kalung itu ke lehernya karena dia merupakan orang terpilih kelak saat dia dewasa nanti.


Serafin dan Giandra terbangun bersamaan dan saling mengingat mimpi itu.


Lalu besok pagi keajaibanpun terjadi. Serafin muntah-muntah seperti seorang wanita yang sedang mengidam.


Padahal secara logika dia baru saja melahirkan dan kehilangan putri mereka, tetapi di dalam setengah bulan ini dia bisa hamil kembali.


***Flashback of***


"Mau tidak mau kita harus menikahkan Almira dan Xavier!!" kata kakek Kojiro.


"Supaya mereka tidak berlarut-larut berbuat dosa dan maksiat."


"Toh Almira sudah mengetahui siapa ayah kandungnya yang sebenarnya."


Xavier dan Almira saling berpelukam erat saat orang-orang terdekat mereka walaupun awalnya menentang hubungan mereka berdua akhirnya mereka memberikan restu juga.


Kekhawatiran mereka adalah kutukan turun temurun yang terjadi pada nenek dan ibunda dari Almira akan menimpanya juga. Itu sebabnya mereka melarang keras bahkan juga berbohong demi kebaikan Almira sendiri.


Malamnya setelah makan malam mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Xavier tampak gelisah berbaring di samping kakek Dahlan dan ayah angkatnya Kojiro.


Pikirannya tak pernah lepas dari Almira. Dia selalu merindukan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


Dengkuran kakek Dahlan dan kakek Kojiro saling bersahutan sementara kamar orang tuanya juga nampak sepi.

__ADS_1


Dengan mengendap-endap seperti maling Xavier menuju kamar Almira.


Ceklek...


Seperti mendapat angin segar dia membuka pintu kamar Almira yang tidak terkunci.


Dilihatnya gadis cantik itu telah tertidur nyenyak, mungkin kelelahan karena beberapa jam tadi siang dia telah melayani Xavier.


Xavier duduk di tepi ranjang Almira setelah sebelumnya mengunci terlebih dahulu pintu kamar itu.


Dipandangnya wajah cantik calon istrinya yang leher dan dadanya dipenuhi oleh tanda kepemilikan yang diberikan olehnya tadi siang.


Xavier lalu ikut berbaring di samping Almira. Secara tak terduga gadis itu berbalik dan menggelungkan tangan dan pahanya seperti memeluk guling ke tubuh Xavier.


"Aduh sayang...abang tadi mampir kesini mau numpang bobo...kalau begini caranya malah pengen bercocok tanam lagi menabur benih!!" bisik Xavier ke telinga Mira.


"Sepi...dia benar-benar tertidur...!! " batin Xavier.


"Apa aku masukan diam-diam saja ya??? kalau dia bangun malah ribut lagi mengeluh sakit melulu!!" Xavier tersenyum smirk.


Dia merasa dedek bongsornya di bawah sana bertambah bongsor. Perlahan dia menelentangkan Almira, setelah melucuti bagian bawah gadis itu tanpa tunggu aba-aba satu dua dan tiga si dedek bongsor langsung nyosor main tancapkan diri.


Almira tampak mengerenyit sesaat tapi setelah itu dia kembali tertidur.


Lewat tengah malam, Xavier yang bermain seni tunggal mengakhiri permainannya. Setelah membersihkan bagian inti Almira diapun juga membersihkan diri lalu setelah mengecup kening Almira, dia keluar kamar dan menutupnya perlahan lalu berbaring di samping ayah dan kakeknya seolah tanpa dosa dan ikut tertidur hingga pagi.


"Aduhhhn tadi malam aku kok mimpi begituan sama bang Xavier ya??? gumam Almira lalu perlahan duduk di tempat tidur.


Saat dia akan bangun untuk mandi berdirinya tiba-tiba limbung. Dia mengerenyit menahan nyeri di sekitar area sensitifnya.


"Aduh...kok masih sakit sih?? padahal kan sudah dari kemarin siang!!" desis Almira lalu berpegangan pada jendela.


Seluruh tulang-tulang di tubuhnya terasa mau lepas dari persendiannya. Mau tak mau dia terpaksa menyeret langkah kakinya ke kamar mandi.


Di luar dia berselisihan dengan Xavier yang baru selesai mandi.


Melihat kekasihnya yang kusut masai dengan rambut hitamnya yang acak-acakan dan jalan terseok-seok seperti diseret membuat Xavier geli ada kasihan juga ada.


"Selamat pagi ibu dari calon anak-anakku?" sapanya pada Almira.


"Tau ah bang...badan Almira pegel semua nih...mana di selang*kangan rasanya ngilu dan perih lagi...heran padahal kita berhubungan siang kemarin tapi bangun tadi pagi kok malah sakit??" katanya sambil cemberut dengan mimik muka kesal bercampur jengkel.


Xavier hanya tersenyum menanggapinya, jika dia jujur pada perbuatannya semalam yang selama 3 jam mengobrak abrik isi lubang jerami itu bisa-bisa pagi ini terjadi perang dunia ke 3 di seluruh isi rumah.


"Abang kok malah senyum-senyum sendiri sih? abang pikir Mira lucu sampai di senyumin begitu? Almira kesakitan tau!!"


"Cuma semalam tuh Almira mimpi bang, dan mimpinya seperti benar-benar nyata!!" katanya.


"Mimpi apa sayang??" Xavier menghentikan langkahnya untuk mengambil pakaian di dalam kamar Almira sekaligus mau ganti di sana maksudnya.


"Anu bang..." kata Mira ragu-ragu!!


"Apa sayang!! anumu kenapa? bengkak lagi?" tanya Xavier dengan wajah serius...


"Apa perlu abang periksa Mira?? apa masih bengkak??" tanya Xavier benar-benar khawatir karena semalam sangking keenakan bergoyang dia sampai lupa diri dan lupa waktu.


*


*


***Bersambung....


Ternyata sudah menemukan titik terang, mengapa Xavier dan Almira diakukan sebagai saudara...


Ikuti terus kelanjutan kisah mereka ya...baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2