
"Sungguh hatimu terbuat dari batu, Bonita...tidak adakah sedikit rasa kasihanmu untuk keluarga Matsuyama??? sudah kamu ambil paksa suaminya bahkan sekarang mau kamu kuasai pula dia!!"
Ck...ck...ck
"Sungguh keterlaluan kamu, Bonita!!" kata Bara Seta yang terlihat sangat kecewa pada sikap putrinya yang manja itu.
*******
Pagi itu Matsuyama sudah bersiap pulang menuju kepeternakan. Dengan diantar oleh Bara Seta, istrinya dan Bonita sampai keperbatasan dunia bawah tanah.
"Hati-hati di jalan menantuku!!" kata ibu mertuanya memeluk Matsuyama.
"Selamat jalan Matsuyama...sampaikan maafku untuk Almira ya!!" kata Bonita pada akhirnya.
Apakah Bonita menyerah pada keadaan?? tentu tidak, dia hanya berusaha menahan diri agar tetap terlihat baik di depan semua orang, padahal di dalam otaknya dia tengah merencanakan sesuatu yang bisa mengambil Matsuyama kembali.
Dengan penuh semangat Matsuyama memacu kuda putihnya untuk kembali kelembah untuk berpamitan pada ayah dan ibunya lalu mau langsung balik kepeternakan.
"Sayang...tunggu abang, abang akan datang abang sudah kangen padamu, Xander dan bayi kita!!" ucap Matsuyama terlihat sumringah dan sangat bersemangat.
Dia memacu kencang kuda putihnya menuju lembah.
"Hei...apa itu?"
"Hei...kok ada asap hitam membumbung ke udara yang berasal dari peternakan??" batin Matsuyama.
"Kok perasaanku mendadak ngga enak begini, ya?? apa telah terjadi sesuatu pada ayah dan ibu??" gumam Matsuyama semakin mempercepat laju kudanya.
Matsuyama berdiri terpaku di depan perguruan yang telah rata dengan tanah dan hanya menyisakan puing-puing hitam sisa bangunan yang terbakar.
Tak jauh dari tempat itu dia melihat ayah dan ibunya menelungkup dengan tubuh penuh dengan luka sabetan di sekujur tubuh mereka.
"Ayah...ibu....!!" teriak Matsuyama panik.
Dia membalikan tubuh ibunya yang penuh luka-luka. Tampaknya nyawa Miku ibunya sudah tidak tertolong lagi.
Lalu dia membalikan tubuh Kakegawa ayahnya.
Walaupun tengah sekarat, ayahnya sempat berkata padanya.
"A..n..a..k S..i..n..o..e!!"
"Hanya itu yang sempat diucapkan oleh ayahnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
"TIDAAAKKK..."
Teriakan Matsuyama menggema di seluruh lembah yang sunyi dan mencekam!!
"Apa maksud ayah tadi??? Anak Sinoe?? maksudnya Rini dan Rana kemari mengejarku??" gumam Matsuyama geram."
"Jika itu benar, awas kalian berdua!! hutang nyawa bayar dengan nyawa...aku akan menagihnya pada kalian berdua berikut bunganya!!" lirih Matsuyama penuh dendam.
Dengan hati yang pedih dan penuh dendam dia menguburkan kedua orang tuanya di halaman rumah mereka yang kini tinggal puing-puing belaka.
Dengan wajah dan rambut kusut, Matsuyama berdiri dari duduknya yang sekian lama terpekur menatap kayu nisan kedua orang tuanya.
Matanya masih memerah tetapi air mata sudah tak lagi keluar dari matanya.
"Ayah...ibu...kalian beristirahat yang tenang, ya!! aku akan mencari pelaku pembunuhan dan pembakaran ini!!" gumam Matsuyama lalu kembali naik kepunggung Snow dan menghentakan kuda putih itu melanjutkan perjlanannya.
Sepanjang perjalanan Matsuyama berpikir, apakah dia pulang dahulu ke peternakan atau mencari dua ekor siluman ular yang telah membunuh kedua orang tuanya itu.
Tetapi jika dia tidak pulang, dia takut istri, anak dan mertuanya akan menjadi korban pembalasan dendam kedua anak Sinoe itu juga.
Mengingat itu hati Matsuyama semakin merasa cemas.
Dipacunya lebih cepat kuda putihnya agar lekas sampai di tempat tujuan, dia tidak mau kalau sampai keluarganya ikut menjadi korban juga.
Tak lama setelah Matsuyama berlalu dari sana....
Dua sosok tubuh setengah manusia setengah ular tampak sangat kecewa saat tiba di depan perguruan Kakegawa yang telah hancur tinggal puing-puing menghitam bekas.kebakaran hebat.
"Kita selalu terlambat Rana...kamu sih jalan pelan banget persis seperti perempuan saja, terlalu gemulai dan melambai....akhirnya kita kedahuluan orang lain kan??" kata Rini kesal.
"Ya elah...kamu pikir gampang membawa badan kita meliuk-liuk di tanah??" jawab Rana tak kalah sewot.
"Lihatlah Rana...dua kayu nisan itu sepertinya makam yang masih baru!!' tunjuk Rini lalu melata mendekati kuburan yang tanahnya masih basah dan nampak gembur itu.
"Siapa yang telah mendahului kita?? berarti orang itu mempunyai dendam yang sama dengan kita!!" jawab Rana.
"Siapapun dia, aku tidak ingin selalu kalah langkah dengannya mentang-mentang kita tidak punya kaki!!" jawab Rini.
"Tapi kita kan bisa melata, Rini!! bahkan kita bisa berdiri di atas ekor kita dan bisa lebih tinggi dari mereka!!" jawab Rana.
"Lalu siapa yang telah mengubur jasad ini?? apakah bocah tengil itu sudah pulang kemari?? hebat juga dia bisa selamat dari hantaman ekormu, Rana!! entah bocah yang bernama Matsuyama itu yang memang hebat, atau hanya ekormu yang lembek seperti jelly, Rana!!" ejek Rini saudaranya.
"Coba kamu telusuri jejak keberadaan Matsuyama itu sekarang, Rana??" kata saudarinya itu.
Rana yang berwajah lebih lembut dan kalem berdiri tegak di atas ekornya sambil memejamkan kedua matanya.
Dia pergi kearah barat, Rini sudah setengah hari yang lalu...berarti dia juga yang menguburkan dua jasad ini!!" kata Rana.
"Rasakan olehmu Matsuyama, bagaimana rasanya kehilangan sosok ayah dan ibu, sosok yang bisa membimbing kita, kamu bersyukur masih bisa melihat kedua orang tuamu, sedangkan kami gara-gara ulahmu, saat kami masih bayi sudah kehilangan ibu kami dan terpaksa kami harus makan apa saja untuk bisa bertahan hidup!!" Air mata Rini menetes membasahi pipi mulusnya.
"Sudahlah Rini, jika kamu menangis begini bakal sampai malam kita di sini...secara kamu kalau sudah menangis kadang lupa waktu!!" kata Rana.
Lalu kedua orang anak Sinoe itu melata meliukan badan mereka meninggalkan tempat itu menuju kearah barat kearah Matsuyama pergi dengan kuda putihnya
__ADS_1
******
"Halo cucu kakek yang cantik!!" kata tuan Kelvin langsung menyambut dan menggendong Miranda.
"Mommy!!!" teriak tiga orang bocah menyambut kedatangan rombongan Almira.
Rafa, Xander dan Revita kompak berteriak lalu lari menyambut Almira.
"Ouhhh sayangnya mommy!!" kata Almira sambil memeluk mereka bertiga dan menciumi mereka satu persatu.
"Mommy Revita dan Xander kangen sama mommy dan ayah!!" kata kedua buah hati Almira dan Xavier itu.
"Mommy kita mau ikut kerumah pantai kakek dan ayah...." kata Revita.
"Revita...bukan mommy tidak mau mengajak kalian pulang kerumah pantai, tetapi kalau di sana tidak ada yang bisa mengurusi kalian, ayah dan kakek sibuk dengan kebun dan tambaknya, sementara mommy sibuk dengan adik Miranda!!" kata Almira mencoba menjelaskan kepada putra dan putrinya.
"Benar sayang, tambah Xavier...nanti kasihan kalian berdua kalau di sini ada kakek, abang Rafa, aunty Alia dan abang Redo!!" kata Xavier.
"Oohh begitu ya ayah!!" kata Revita.
"Tepat sekali ucapan tuan putri kesayangan ayah!!" kata Xavier sambil menggendong Revita.
"Candel uga mau yah...!!" kata Xander sambil mengangsurkan kedua tangannya pada Xavier.
"Ohhh anak ganteng ayah juga mau digendong??" kata Xavier lalu mengangkat keduanya di pinggang kiri dan kanannya.
Sementara Rafa melengket seperti lem pada Almira.
"Ayo busui...kita langsung kemeja makan aja yuk!!" ajak Alia sambil menggandeng sahabatnya itu.
Di meja makan sudah menunggu Redo juga kakek Kojiro.
"Bi asih...tolong jagakan Miranda sebentar ya, biar mommynya makan dulu...!" kata tuan Kelvin pada bi Asih pengasuh Rafa.
"Siap tuan besar!!" kata bi Asih.
Mereka semua berkumpul di ruang makan. Sedang asyiknya mereka makan, Aliandhara datang bersama teman wanitanya.
"Halo selamat malam semua!!" kata Aliandhara.
"Semua...kenalkan ini pacarnya Aliandhara, namanya Sisilia!!" kata Aliandhara memperkenalkan wanita bertubuh mungil di sebelahnya.
Serentak semua menoleh padanya.
"Kamu ini kumat lagi gonta ganti pacar seperti gonta ganti baju aja!!" kata tuan Kelvin.
"Habis...kesayangannya Ali mommy nya Rafa sudah menikah dengan orang lain sih!!" kata Aliandhara tanpa dosa.
"Duduk sayang..." kata Aliandhara sambil menggeser kursi untuk Sisilia.
Dan sengaja Aliandhara mengambil tempat tepat di samping Almira.
Untuk sepersekian detik Almira terdiam. Saat dia sadar dia langsung memukuli lengan Aliandhara.
"Abang....!!" teriak Almira kesal.
Berbeda dengan Xavier. Saat Aliandhara mencium mantan istrinya, sontak hatinya memanas.
Ada rasa tak rela saat sang mantan disentuh dan dicium oleh pria lain walaupun status Aliandhara adalah abang Almira. (abang yang terpaksa karena keadaan๐๐).
"Sil...perkenalkan ini adikku Alia dan yang ini yang badannya bulet tapi aslinya dia cantik seperti bidadari, kami bersaudara angkat dan dia adikku juga!!" kata Aliandhara.
"Adik yang spesial di hatiku yang hingga kini kedudukannya tak terganti oleh siapapun!!" batin Aliandhara sambil tersenyum.
Dan sengsaranya Almira memang sudah tidak bisa lagi membaca dan mendengar suara hati seseorang tetapi Xavier masih memiliki kemampuan itu dan mendengar suara hati Aliandhara membuat Xavier jadi meradang kesal.
"Kalau itu siapa??" tanya Sisilia menunjuk Xavier yang sedari tadi menunduk sambil mengunyah makanannya.
"Oooh dia mantan adik iparku!!" kata Aliandhara lugas.
"Maksudmu suaminya Alia??" tanya Sisilia yang ganti membuat wajah pangeran Redo memerah.
"Bukan suami adikku Alia, tapi mantan suami adikku yang cantik yang duduk di sampingku ini..." kata Aliandhara sambil merangkul Almira yang membuat Xavier tambah melotot.
"Tapi hebat ya...walaupun sudah jadi mantan tetap saja akur!!" kata Sisilia kagum.
Kagum melihat kecantikan Almira dan kagum pada ketampanan Xavier. Karena semenjak tadi mata Sisilia selalu melirik pada Xavier yang selalu menunduk atau sibuk dengan Revita dan Xander.
"Terus kedua bocah lucu itu??" tanya Sisilia.
"Ooohh itu anak Xavier dengan adikku Almira." Jawab Aliandhara.
"Terus ngga ingin rujuk lagi??" tanya Sisilia kepo...karena entah mengapa awal dia melihat Xavier tadi, dia begitu terpesona pada pria dewasa itu. Tetapi karena Xavier sibuk dengan Xander dan Revita jadi Sisilia tak berani menyapa hanya sekedar memandang.
Dia pikir tadi Almira adalah istri Xavier karena keduanya masih tampak mesra.
Karena sedikit kesal akhirnya Xavier menjawab pertanyaan Sisilia.
"Kami berdua mungkin akan rujuk suatu hari nanti jika Almira sudah menjadi janda lagi karena ada anak-anak yang mengikat di antara kami!!" kata Xavier buka suara.
"Abang....!!" kata Almira melototkan matanya sementara Xavier cuek saja tak ambil pusing.
"Sudah...sudah....di meja makan kok ribut soal janda dan duda....kalian ngga malu sama ayah dan ayahnya Xavier??" tegur tuan Kelvin sehingga mereka akhirnya makan malam dengan tenang.
********
Matsuyama terus memacu kudanya kearah barat dengan berbagai macam perasaan.
__ADS_1
Sebenarnya dia lelah dengan semua permasalahan yang menimpanya akhir-akhir ini. Dan yang terburuk adalah pernikahan keduanya dengan Bonita dan kematian kedua orang tuanya.
"Apa yang harus aku katakan pada Almira tentang pernikahanku ini?? haruskah aku berterus terang atau aku diam saja menunggu momen yang tepat baru aku jelaskan semuanya??"
"Aku tidak tega menyakiti hatinya...dulu Xavier yang mengkhianatinya...masa sekarang aku juga mau ikut menjadi seorang pengkhianat?? bodoh...bodoh....seandainya demam tinggi itu tidak menyerangku, tentu semua ini tidak akan terjadi!!" Matsuyama memacu kudanya sambil termenung.
Akhirnya dia dan Snow memasuki daerah perkampungan yang pernah dia lewati dulu.
"Sebaiknya aku beristirahat dulu, aku mau mencari kedai makan untuk mengisi perutku karena sejak kemarin aku takut untuk makan di tempat kediaman Bonita, takut ada sesuatu lagi yang akan dimasukan kedalam piring makanku atau gelas minumku!!" desah Matsuyama.
Matsuyama memakai caping lebar untuk menutupi wajahnya agar tidak menimbulkan masalah baru.
Dia duduk di pojok agar tidak terganggu oleh siapapun.
Makananpun sudah terhidang dan Matsuyama cepat memakannya. Sambil makan dia mendengar orang-orang di dekatnya bercerita.
"Di kampung sebelah terjadi pembantaian besar-besaran setelah sebelumnya perguruan di kaki lembah gunung Fuji milik Kakegawa dibantai habis!!" kata salah satu dari mereka.
"Menurut kabar yang beredar pembunuhan itu di lakukan oleh sepasang ular berkepala dan berbadan manusia."
"Tetapi ada juga yang mengatakan itu ulah para siluman kera dan siluman kelelawar...aku tidak tau mana yang benar karena kupikir mereka semua sama-sama jahat."
"Siluman Kera dan siluman kelelawar??" batin Matsuyama dan otaknya mulai bekerja mengingat-ingat sesuatu.
"Luka di tubuh ayah dan ibu memang seperti cakaran atau benda tajam berbentuk kuku...sedangkan Rini dan Rana tidak mempumyai kuku."
"Saat aku terkena kibasan ekornya, luka lebam yang aku dapatkan bukan berupa cakaran kuku." Pikir Matsuyama.
"Atau sebenarnya yang membunuh kedua orang tuaku itu bukan sepasang ular berbadan dan berkepala manusia itu, melainkan mahluk lain?? berarti yang telah membunuh ayah dan ibuku memiliki kesaktian yang sangat tinggi karena ayah dan ibuku bukan orang sembarangan ataukah mereka berdua telah dikeroyok atau dibokong dari belakang??"
Semua perkiraan bermain di otak Matsuyama saat ini.
"Aku harus segera pulang, aku mengkhawatirkan istri, anak dan mertuaku."
Dengan segera Matsuyama menyelesaikan makannya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Kita akan pulang Snow...kamu akan mempunyai banyak teman di peternakan dan tidak akan kesepian lagi.
Snow memang kuda milik perguruan ayahnya yang dipinjam Matsuyama untuk pergi mencari keberadaan Hiro san Sima guna meminta penawar racun kala biru untuk ibunya.
Tetapi ternyata takdir berkata lain, jangankan obat penawar yang dia dapatkan malah kematian kedua orang tuanya yang dia dapatkan.
Dikejar-kejar para siluman....ada yang ingin membunuhnya, ada juga yang ingin menjadikan dia sebagai suami.
Kuda putih itu seolah tau kegundahan tuannya, dia melajukan larinya seperti angin agar bisa segera sampai di peternakan.
Menjelang sore, dia sudah sampai di perbatasan kampung terakhir untuk sampai ke peternakannya.
Matsuyama semakin bersemangat untuk pulang. Dia rindu keluarganya, rindu kasur yang hangat dan belaian istrinya, Almira.
Tiba-tiba ingatannya melintas tentang Bonita.
Bagaimana seandainya akibat kejadian di malam jaha*nam itu akhirnya Bonita mengandung benihnya??" apa yang harus dia lakukan??"
Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam kepalanya.
Hingga tak terasa dia sudah tiba di depan peternakan miliknya.
Dilihatnya ibu mertuanya, Serafin sedang menyapu dan ayahnya Giandra tidak nampak di halaman mungkin sibuk di padang rumput bersama hewan ternak mereka.
"Ibu!!!" teriak Matsuyama.
Serafin langsung membuang sapunya kesembarang arah mendengar suara Matsuyama.
"Matsuya....sudah tiga bulan lebih kamu tidak pulang, bagaimana keadaanmu??" tanya Serafin sambil memeluk erat tubuh Matsuyama.
"Aku baik bu...ibu dan ayah sendiri bagaimana??" kata Matsuyama sambil matanya celingukan mencari anak dan istrinya.
"Ayah dan ibu kabarnya baik!!" jawab Serafin.
"Lalu kemana anak dan istriku, bu?? kok sepi?? mereka pada kemana??" tanya Matsuyama.
"Almira dan Xander sedang menengok ayahnya karena kakek Dahlan sekarang sudah meninggal, Matsuya!!" kata Serafin sedih.
Matsuyama terhenyak di tempatnya?? meninggal?? Kakek Dahlan meninggal??" katanya hampir tak percaya.
Dulu awal pertemuannya dengan kakek Dahlan, mereka sering ribut dan bertengkar. Ditambah lagi saat itu sifat Matsuyama yang penakut semakin membuat kakek Dahlan sering mengejeknya!!
"Bagaimana kamu bisa menjaga Almira, kalau menjaga dirinu saja kamu tidak bisa??" kata kakek Dahlan tersenyum mengejek membuat hati Matsuyama panas dan membakar tekadnya untuk menjadi pemberani.
Lagi-lagi dia tersenyum mengingat saat-saat itu, walaupun si kakek sangat jutek sama seperti cucunya Almira, tetapi si kakek mempunyai hati yang baik walaupun mereka berdua kerap bertengkar mulut.
Tetapi pada akhirnya mereka kembali berbaikan.
"Lalu Almira dan Xander dijemput oleh helikopter ayah Kelvinkah??'" kata Matsuyama.
"Tidak...mereka dijemput oleh Xavier dengan mobilnya...dan sekarang kamu mesti bahagia karena kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah!!" kata Serafin lagi.
"Oohh yaa??? Laki-laki atau perempuan anaknya Matsuyama bu??" tanta Matsiyana sumringah.
"Bayimu perempuan, dia sangat cantik Matsuyama??" kata Serafin lagi.
Sebenarnya Matsuyama sangat kecewa mengetahui jika Almira berangkat dengan Xavier. Di hatinya yang terdalam masih menyimpan perasaan cemburu pada mantan terindah istrinya itu.
*
*
__ADS_1
****Bersambung....
Selamat membaca ya guys...semoga ngga bosan-bosan membaca karya recehku ini๐๐๐๐