Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 122 Bolehkah Berharap Lebih


__ADS_3

"Sayang...jangan pergi...abang sangat merindukanmu..."


Tetapi Almira telah melangkah semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan kabut.


Tangan Xavier menggapai-gapai bermaksud memanggil Almira tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.


Dengan setengah gelagapan dia terbangun dari tidurnya.


"Cuma mimpi!!" katanya sedikit lega.


"Tapi mengapa mimpi itu seperti nyata sekali ya??" Xavier terduduk lemas di tepi ranjang.


*


*


"Matsuya...tunggu aku!! Almira tampak terengah-engah saat mereka melewati jalan sempit berbatu dan menanjak.


Mobil yang mereka bawa ditinggalkan di bawah. Matsuya baru dapat info dari ayahnya, kemungkinan ular besar yang mereka cari bersarang di dalam goa yang seperti mengambang tertutup oleh kabut.


Mendengar suara Almira, Matsuyama dan Rafa menghentikan langkah mereka.


"Bumil...kamu capek ya...masih sanggup berjalankah??" tanya Matsuyama


"Aku lelah Matsuya...bisakah kita beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kita??" tanya Almira.


"Tapi kita harus tiba di atas sebelum matahari terbenam, mommy!!" kata Aliarafa.


"Rafa, ngga apa-apakan kalau uncle gendong mommy Mira?" tanya Matsuyama.


"Ngga apa-apa uncle, gendong saja mommy biar kita cepat sampai di atas sebelum petang!!" kata Rafa.


"Sini aku gendong kamu Chucky, biar kita cepat sampai!!" kata Matsuyama.


"Tapi aku berat Matsuya...nanti kamu kecapean!!" kata Mira.


"Seberat apasih kamu, sini!!" lalu Matsuyama menggendong Almira ala-ala bridal.


Almira melingkarkan kedua tangannya di leher Matsuyama dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Matsuyama.


Entah mengapa setiap kali mereka berdekatan ada perasaan bahagia menyelimutinya.


Matsuyama mengangkat Almira dan mengabaikan tatapan Almira padanya.


"Ayo Rafa...Rafa masih kuat jalankan??" tanya Matsuyama.


"Rafa masih kuat uncle, jangan khawatir..." kata Rafa.


Mira mengusap kening Matsuyama yang banjir dengan keringat karena menggendongnya.


"Kamu capek?? kalau kamu capek turunkan saja aku!!" kata Almira.


"Ngga apa aku capek, asal jangan kamu yang kecapean, kasihan bayi di dalam perutmu nanti!!" katanya.


"Kamu hanya khawatir pada anakku tetapi tidak khawatir padaku!!" jawab Almira cemberut.


Akhirnya mereka sampai di atas dan Matsuyama menurunkan Almira.


"Kalau aku ngga khawatir sama kamu, untuk apa aku bela-belain menyusulmu kemari??" kata Matsuyama sambil mencubit hidung Almira.


Almira hanya mencibir mendengar perkataan Matsuyama.


Kalian jaga aku dulu aku akan berusaha melakukan sambung rasa dengan kakek Kojiro!! Kata Matsuyama lalu duduk bersila berusaha menyatukan pikirannya untuk menuju satu titik.


"Ada apa Kojiro??" tanya kakek Dahlan saat melihat Kojiro berdiri sambil memejamkan matanya.


Serafin dan Giandra yang berjalan di depan pun berhenti.


"Almira, Matsuyama dan siapa bocah kecil itu?? Rafa...cucu tuan Kelvin putra dari Aliandhara.


"Mereka ada sekitar dua kilo meter dari sini...sebaiknya kita berempat susul mereka sebelum gelap!! kata kakek Kojiro.


Lalu tanpa banyak bicara keempatnya berlari dengan cepat menuju yang dikatakan Kojiro.


"Kamu larinya bisa lebih cepatkah, Tosiro?? mana lari kenapa juga sambil memegang celanamu?" kata Kojiro.


"Celanaku mau melorot, Kojiro!!" kata kakek Dahlan.


Tak sampai sepuluh menit, keempatnya telah sampai.


"Ayah...ibu...kakek!!" Almira memeluk keempatnya satu persatu.


"Kok kalian bisa bersama? Mana Xavier suamimu??" tanya Giandra.


"Bang Xavier..." Almira tak bisa melanjutkan perkataannya.


"Mira dan bang Xavier sudah tiga bulan ini tak lagi bersama, yah!!" kata Almira menundukan kepalanya.


"Apa??" kata keempatnya kompak.


Lalu Almira menceritakan semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan.


"Kurang ajar Xavier...itulah mengapa aku tak benar-benar setuju pada hubungannya dan Almira!! Geram kakek Dahlan.

__ADS_1


"Benar-benar anak itu!!" Serafin mengepalkan tangannya sementara Giandra dan kakek Kojiro hanya bisa diam.


"Kek, Matsuyama mendapat perintah dari ayah, kemungkinan ular besar yang sedang kita cari itu kembali ke dalam kediamannya di goa batu yang tertutup kabut itu." Jelas Matsuyama.


Tanpa banyak cakap mereka terus berjalan menyibak semak belukar yang sepertinya tidak terjamah tangan manusia.


"Jika di sini tak ada tanda-tanda dilewati oleh ular itu, lalu bagaimana caranya dia bisa sampai ke goa itu, Matsuya??" tanya Almira.


Dia memang berjalan dibelakang ditemani oleh Matsuyama.


"Dia tidak berjalan, Mira...dia terbang...tak mungkinlah ular sebesar itu berjalan.melewati hutan begini bisa habis terbabat semua pepohonan di sini!!" kata Matsuyama lagi.


"Masih kuatkan kamu berjalan? atau kugendong lagi?" tanya Matsuyama saat dilihatnya Almira tampak lelah.


"Tidak usah, aku masih bisa berjalan kok!!" kata Almira sambil menyeka keringatnya.


Dia sendiripun tak tau mengapa kehamilannya ini benar-benar menguras seluruh tenaganya.


Tiba-tiba Matsuyama berjongkok di hadapannya.


"Naiklah...agar kita tidak tertinggal dari yang lainnya..." lalu tanpa menunggu persetujuan Mira dia berjongkok dan Almira yang sebenarnya memang lelah menerima tawaran Matsuyama.


Mira diam saja dan menyenderkan dagunya ke pundak Matsuyama.


"Perutmu masih sakit??" tanya Matsuyama.


Almira menggeleng pelan dan mempererat pegangan tangannya. Matsuyama menempelkan pipinya ke pipi mulus Almira. Ada rasa bahagia yang sempat hilang saat dia lama tak bersama sahabatnya itu begitu pula dengan Mira.


"Lama sekali kalian..." kata kakek Kojiro seperti tidak terlalu suka pada kedekatan Almira dan Matsuyama sekarang.


"Mira, Rafa...kalian beristirahatlah dulu nanti tengah malam kita akan naik ke goa itu!!" kata Serafin pada putrinya.


"Iya bu!!" jawab Almira lalu membawa Rafa ke bawah pohon yang lumayan rindang yang sudah dibersihkan oleh Serafin agar keduanya bisa beristirahat sejenak sementara yang lain juga duduk di sekitar situ tanpa berani menyalakan perapian takut si ular yang di tuju akan melihat keberadaan mereka.


"Banyak nyamuk mommy..." kata Rafa yang berbaring di pangkuan Almira.


Dengan segera Almira mengusapkan lotion anti nyamuk yang tadi sempat dia bawa ke bagian wajah Rafa yang terbuka.


Matsuyama mendekati keduanya dan duduk di samping Almira yang sedang menidurkan Rafa.


"Kamu masih lapar?? bisiknya dekat sekali ke telinga Almira.


Saat Almira menoleh, hidung mancung Matsuyama menyapu hidung bangir milik Almira.


"Apa kamu membawa makanan?" tanya Almira untuk nengalihkan perasaannya yang tidak biasa.


Matsuyama membuka ranselnya dan mengeluarkan air mineral dan cemilan untuk mengganjal perut ibu hamil satu itu.


"Kalau kamu mau setelah masalah ini selesai, kita pergi bersama kita cari kehidupan yang baru bersama anak ini!!" Matsuyama membelai lembut perut Almira membuat dia merasakan gerakan di perutnya.


"Bayi ini merindukan ayahnya!!" kata Matsuyama...dia pikir aku adalah ayahnya."


"Tapi ayahnya sekarang sudah bahagia bersama wanita lain, wanita cantik dan kaya raya sementara aku hanya apa? aku gadis miskin yang tak punya apa-apa..." Almira menangis dalam diamnya. Hatinya kembali terluka mengingat itu semua.


"Cup...cup...jangan menangis...aku tak suka melihat sahabatku menangis seperti ini!!"


Matsuyama merangkul Almira dan menciumi pucuk kepalanya untuk menenangkan gadis itu. Setangguh apapun Almira tapi dia juga seorang wanita, mengapa justru sahabatnya yang selalu perhatian padanya sementara laki-laki yang masih berstatus suaminya malah mengabaikannya.


"Jangan menangis ngga enak sama yang lain...kamu boneka barbieku yang tangguh!!"


Cup...


Satu kecupan di pipinya sanggup membuat Almira menghentikan isaknya yang tertahan.


Dalam gelap mereka masih saling memandang.


Cup...


Satu lagi kecupan Matsuyama mendarat di matanya yang masih terus berlinangan airmata.


"Terima kasih untuk selalu tetap ada di dekatku, Matsuya!!" bisik Almira.


"Tidurlah sebentar istirahatkan tubuhmu...kamu sedang hamil tentu kekuatanmu berbeda dengan kami."


Lalu Matsuyama memindahkan kepala Rafa yang ada dipangkuan Almira keatas gulungan kain sebagai pengganti bantal.


Lalu dia meraih bahu Almira dan Almira pun menyenderkan kepalanya kebahu Matsuyama mencari kenyamanan di sana.


"Aku mencintaimu, Almira walau hanya sebagai sahabatku!!" bisik Matsuyama pelan ke telinga Almira.


Almira tak merespon karena dengkuran halusnya telah terdengar tanda dia telah tertidur.


Hati Matsuyama juga sakit melihat keadaan Almira seperti ini.


"Maafkan aku kak Hiro...maaf jika aku telah jatuh cinta padanya saat pertama kali aku melihatnya sewaktu mencari kak Sima dulu."


Matsuyama terus membiarkan Almira nyaman dalam rangkulan lengan kekarnya.


"Bu...sebenarnya ayah tak suka jika Matsuyama dekat-dekat dengan Almira seperti itu, betul sih mereka berteman tetapi Almira itu sudah menikah denga putra kita!!" bisik Giandra.


"Tetapi ibu juga tidak menyalahkan Almira dekat dengan Matsuyama, toh Xavier lebih dulu yang berselingkuh dan mau menikahi wanita lain, maksudnya apa?? Mau menjadikan istri kedua? Ooh no...no...jika memang begitu keadaannya ibu sebagai wanita juga keberatan, mending mereka berdua berpisah aja!!" desis Serafin.


Giandra kembali diam. Jika dia membantah ucapan ibu negara maka bisa terjadi perang dunia ketiga.

__ADS_1


"Ngga usah sinis gitu melihat mereka, sebenarnya sejak bertemu bocah tengil itu dulu aku lebih sreg jika dia yang menjadi menantuku."


"Dibalik sikap slengekannya yang masih belum dewasa dan kadang sikap kurang ajarnya tetapi aku tau dia mempunyai sifat welas asih dan amat menyayangi orang terdekatnya."


Justru orang yang tampak kurang ajar begitu yang punya cinta dan kesetiaan yang luar biasa dari pada berpura-pura baik tapi seperti anakmu itu menikam istrinya dari belakang." Sindir kakek Dahlan.


Kakek Kojiro pun sama seperti Giandra sekali ini hanya bisa bungkam karena dia tau ini semua mutlak kesalahan Xavier dan dia ikut bertanggung jawab pada kesalahan anak angkatnya itu karena sesungguhnya dia telah tau hubungan antara Xavier dan Sullivan dulu sangat dekat, untung karena sangking dekatnya Sullivan tidak mengandung anak Xavier. Bagaimanapun itu yang selalu ditekankan Kojiro jangan berbuat terlalu jauh pada wanita apalagi sampai menodainya.


******


Xavier pulang kuliah berhujan-hujanan dengan membawa seorang gadis yang sangat cantik.


"Itu siapa Xavier?" saat pertama kali Sullivan memperkenalkan diri.


"Ini Sullivan pacar Xavier, yah!!" Sullivan mengangguk sekedar memberi hormat.


Mereka sering bersama bahkan dari hanya menemani Xavier berlatih sampai diapun tertarik untuk ikut latihan juga.


"Sebenarnya sangking dekatnya mereka berpacaran, kakek Kojiro takut mereka akan berbuat melebihi kapasitasnya orang yang hanya sekedar berpacaran karena kakek Kojiro tau Sullivan dari keluarga kaya raya, sedangkan mereka hanya dari keluarga biasa saja. Kojiro tidak mau Xavier kelak tenggelam di dalam impian indah lalu terhempas saat bangun.


Kakek Kojiro juga berpesan agar Sullivan dan Xavier jangan berpacaran yang kelewat batas.


Yang kakek Kojiro tau Xavier sangat menjaga dan menyayang Sullivan. Hingga tibalah hari yang menyakitkan itu bagi Xavier dan kakek Kojiro.


Orang tua Sullivan tau putrinya berpacaran dengan orang biasa saja, mereka mendatangi kakek Kojiro dan Xavier mereka mengancam untuk memporak porandakan kehidupan Xavier jika mereka tidak putus.


Xavier sangat kecewa, Sullivan adalah cinta pertamanya dan mereka berencana untuk menikah saat mereka selesai di wisuda nanti ternyata impian mereka harus kandas di tengah jalan.


Kakek Kojiro mengantar Xavier pulang ke Indonesia kembali pada tuan Anderson agar hidupnya tidak bertambah hancur.


Di sana Xavier kembali menata hatinya dan pertama dia bertemu dengan gadis bar-bar yang berbanding terbalik dengan Sullivan.


Gadis yang berani menantangnya bertarung bahkan mampu melempar balik panah yang dibidik oleh Xavier ke arah topinya.


Dia tak perlu busur untuk menembakan anak panah itu, dia hanya membuat gerakan salto di udara dan menendang anak panah itu hingga meluncur berbalik ke arah tuannya.


Dari situlah dia selalu terbayang gadis tomboy itu walaupun gadis itu tak pernah menganggapnya ada.


Dia berusaha melupakan masa lalunya dan kegagalannya bersama Sullivan. Berusaha menata hidupnya kembali bersama Almira yang perlahan mulai membuka hati untuk Xavier.


Dia mulai bisa melupakan Sullivan sampai dia dan Almira menikah dan siap untuk memiliki seorang baby saat Sullivan datang lagi dan memporak porandakan hatinya kembali.


Hingga saat orang tua Sullivan turut campur untuk mengikat Xavier dan Sullivan dalam ikatan pertunangan di situlah Xavier sadar bahwa Sullivan hanya masa lalunya dan Almiralah masa depannya.


Tetapi semua terlambat, kesabaran seorang istri ada batasnya apalagi dia berkali-kali memergoki Xavier dan Sullivan jalan mesra bergandengan tangan bahkan dia melihat Xavier tak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.


Almira seorang wanita yang berpikir jauh ke depan. Sebenarnya dia berhak melabrak keduanya karena nyata Sullivan di sini bersalah, tetapi dia berpikir lagi ngga akan ada asap jika tidak ada api, tak mungkin Sullivan masuk dalam kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung jika bukan Xavier sendiri yang memberi peluang dan kesempatan Sullivan untuk masuk.


Akhirnya setelah melewati proses berpikir yang panjang dan Xavier tidak juga berubah walaupun Almira sudah meninggalkannya menginap di rumah ayahnya maka keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Xavier selamanya dari pada seterusnya harus hidup bagai menggenggam bara api?


Dia pergi dengan membawa luka hatinya dan tentu juga membawa buah cintanya bersama Xavier.


Berusaha untuk melupakan walaupun sulit. Daripada mempertahankan cinta yang sudah tak ingin untuk dipertahankan lagi? lebih baik melepaskan cinta itu pergi dan memilih jalannya sendiri.


*****


Kakek Kojiro tersentak dari lamunannya. Saat dia mendengar Almira terisak dalam mimpinya dan berusaha ditenangkan oleh Matsuyama.


Kakek Dahlan, Serafin dan Giandrapun sangat iba tetapi mereka melihat ada Matsuyama yang selalu bisa membuat Almira tenang.


"Sayang...sayang...cup...cup ada apa?" tanya Matsuyama berbisik lembut di telinga Almira.


Melihat Almira masih terisak dalam tidurnya, maka Matsuyama mendekapnya erat dan mengecup keningnya berkali-kali untuk menenangkan gadis malang itu.


"Kasihan cucuku....mengapa hidupnya jadi begini??" kata kakek Dahlan pelan.


Akhirnya Almira tenang kembali. Mungkin pelukan dan kecupan sayang dari Matsuyamalah yang membantu menenangkannya.


Hari hampir menjelang tengah malam saat mereka melihat cahaya kemerahan dari kejauhan semakin lama semakin dekat terbang melintas di atas mereka lalu masuk di dalam kabut ke dalam goa mengapung itu.


"Dia sudah datang dan akan beristirahat, kita bersiaplah." Kata Serafin.


"Mira bangun..." bisik Matsuyama pelan.


Perlahan Almira bangun dari tidurnya.


"Apakah dia sudah datang?" tanya Almira pada Matsuyama.


"Kamu di sini saja bersama Rafa biar aku dan yang lainnya yang masuk kesana."


"Pesanku, ini hutan belantara yang terkenal angker...masukan cincin dari kak Hiro itu kedalam mulutmu, agar kamu dan Rafa tidak terlihat oleh mahluk apapun apalagi sekarang kamu sedang hamil, takut terjadi sesuatu denganmu dan bayimu.


Sekali lagi Matsuyama membelai kepala Almira dan kepala Rafa bergantian sebelum beranjak mengikuti yang lain. Pesan yang sama pun dikumandangkan oleh kakek Dahlan, Kojiro, Giandra dan Serafin untuk Rafa dan Almira.


*


*


***Bersambung...


Sanggupkah mereka masuk ke dalam mulut ular raksasa itu dan mengambil jantung ratu Hikaru dan memusnahkannya?


Jangan lupa untuk selalu mengikuti perjalanan mereka ya...

__ADS_1


__ADS_2