
Dengan gerakan sangat cepat lidah Rini berubah jadi panjang dan berubah menjadi sekeras tombak lalu mencari sasaran di tubuh para korbannya.
Keempat orang yang rata-rata berilmu tinggi terus melawan dan bertahan.
Lidah bercabang dua terus menukik menghantam dan mengejar keempat lawannya kemanapun mereka pergi.
Hingga akhirnya...
AAHHHH...
Teriakan dua orang teman si pendek gemuk itu saat kedua kaki Rini menghantam keduanya dan tak lama si jangkung yang berteriak saat lidah Rini yang seperti tombak itu menusuk salah satu matanya.
Temannya yang masih selamat langsung kabur meninggalkan ketiga temannya yang cedera.
Ketiganya yang terluka terkapar di tanah. Rini berjalan kearah mereka dengan pandangan buasnya.
"Rini..."
Rana yang pada dasarnya berhati baik dan lembut berteriak mengingatkan saudaranya untuk tidak membunuh ketiganya.
Saat Rini bertarung dengan keempat mahluk siluman kera itu, Rana yang tenaganya sudah terkuras karena terkurung di dalam jaring perangkap siluman itu berkat bantuan Almira dan Revita putrinya berhasil memulihkan tenaganya.
Begitu dia sudah pulih dia bergabung bersama Almira dan anaknya untuk melihat jalannya pertarungan.
Sampai ketika dia melihat saudaranya ingin membunuh, dia langsung berteriak memperingatkan.
"Jika kamu membunuhnya, berarti kamu sama jahatnya dengan mereka!!" kata Rana.
"Mungkin ibu kita jahat, tetapi kita jangan jahat seperti ibu." Teriak Rana.
Akhirnya Almira , Xander dan Revitapun keluar menghampiri kedua saudara itu.
"Apa yang dikatakan saudaramu itu benar nona...orang tua penjahat bukan berarti kita juga harus jadi penjahatkan??" kata Almira.
Rini menatap Rana.....
"Siapa mereka Rana??" tanya Rini lagi.
"Karena gadis kecil yang cantik itulah yang menolongku melepaskan ikatan jaring yang membuatku kehilangan seluruh tenaga dan kekuatanku."
Rini merapatkan kedua tangannya dan membungkukkan badannya untuk mengucapkan terima kasih dan memberi hormat untuk menghormati Almira dan kedua anaknya.
"Terima kasih kakak karena telah menolong adikku!!" kata Rini sambil memperhatikan Almira begitupun Rana saudaranya.
"Mengapa kakak cantik dan kedua bocah imut ini bisa sampai masuk ketengah hutan??" tanya Rini sementara Rana masih sibuk memperhatikan Almira.
"Putriku tadi sewaktu kami mampir mau buang air kecil di dekat sungai mendengar teriakan dari dalam hutan lalu kami mengikutinya takut ada seseorang yang membutuhkan pertolongan kami!!" jelas Almira sambil yersenyum pada keduanya.
"Apakah kalian hanya bertiga??" tanya Rana akhirnya buka suara.
"Oalah...aku meninggalkan suami dan bayiku tadi di mobil...sebaiknya kami pamit dulu ya!!" kata Almira pada keduanya.
"Mari kami antar keluar hutan kakak!!" kata Rana. Sementara Rini diam saja menatap perubahan saudaranya itu.
"Kenapa ini anak mendadak jadi banyak bicara ya?? biasanya juga sama aku, aku tanya sendiri aku jawab sendiri juga sangking terlalu banyaknya dia diam, sekarang kok dia seperti cari-cari perhatian gitu!!" batin Rini sambil mencibir pada adiknya.
Mereka berlima berjalan menyusuri hutan.
"Adik capek?? abang gendong ya??" tawar Rana pada Xander yang terlihat sudah kepayahan.
Xander hanya mengangguk saja. Lalu dengan cepat Xander naik kepunggung Rana yang berjalan di depan sementara Rini yang berjalan di belakang bergumam.
"Mendadak Rana jadi kijil begini, sih?? ngga biasa-biasanya...jangan-jangan ni bocah suka lagi sama bininya orang!!" gerutunya pelan.
Xander sangat senang berada di punggung Rana. Dia bernyanyi riang membuat Almira dan Revita geleng kepala.
"Revita juga lelah??" tanya Almira pada putrinya itu.
"Ngga kok mommy, Revitakan lebih kuat dari pada Xander!!" kata Revita sambil tersenyum.
"Siapa sebenarnya kakak cantik dengan dua anak kembarnya ini?? terutama si kecil yang dipanggil Revita itu nampaknya bukan bocah sembarangan." Rini terus memperhatikan mereka hingga mereka tiba kembali di pinggiran sungai.
"Rana...Rini...kami diantar sampai di sini saja, ya!! mobil suamiku ada di atas sana!!" kata Almira sambil menatap Rana dan Rini.
"Xander ayo sini turun, kita sudah sampai...kasihan tuh bang Rana juga kecapen!!" kata Almira pafa Xander putranya.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih sudah menolong adikku ya, kak!! Mungkin sekarang kami belum bisa membalas budi tapi budi kalian akan kami balas suatu hari nanti!!" kata Rini sambil membungkuk hormat sementara mata Rana seolah tak berkedip memandang wanita cantik yang ada di depannya sampai akhirnya kaki Rana diinjak oleh Rini untuk menyadarkannya.
"Ohh...eh...iya kak terima kasih banyak juga Revita, abang berhutang nyawa padamu!!" kata Rana.
"Kami mau kembali meneruskan perjalanan kami ya...sampai jumpa!!" kata Almira juga Revita dan Xander yang melambaikan tangan pada Rana dan Rini.
Rana dan Rini terus menatap sampai ketiganya hilang di atas bukit kecil di depan mereka.
"Rana....hoi Rannaaa!!" teriak sang kakak di telinga adiknya.
"Apaan sih Rin...kamu pikir aku tuli??" jawab Rana kesal.
"Kamu memang belum tuli...tapi sudah hampir menjadi tuli, telingamu sudah hampir di tulikan oleh bisikan cinta!! ingat Rana...itu wanita cantik sudah jadi bininya orang...nyadar kau!!" seru Rini di telimga Rana.
Rana hanya meringis mendengar nasehat saudarinya itu.
Sementara di dalam mobil Matsuyama sudah gelisah. Sudah hampir tiga jam istri dan anaknya pergi tapi belum juga kembali. Mau ditelepon ponsel almira ada di dalam mobil. Mau dia tinggalkan untuk menyusul kesungai tapi Miranda sedang tidur dan tak ada yang menjaga. Tak mungkin dia meninggalkan apalagi membawa bayi mereka mblusuk-mblusuk di tengah gelapnya malam, salah-salah Miranda nanti malah sawanan jadinya.
Mau tidak mau dia harus bertahan di dalam mobil sambil menunggu dan berharap Almira dan kedua anaknya tidak meninggalkan dia karena peristiwa siang tadi.
"Daddy...." suara panggilan Xander dan Revita yang mengetuk jendela kaca sontak mengalihkan perhatiannya.
Dengan cepat Matsuyams membuka pintu mobil dan memeluk anak kembarnya. Walaupun Xander dan Revita bukan darah dagingnya sendiri, tetapi Matsuyama sangat menyayangi keduanya terlebih karena dia dulu yang menemani Almira saat hamil, saat melahirkan dan saat membesarkan Xander karena Revita sejak bayi sudah diambil oleh ratu Nilakandi.
Sampai Almira mengandung lagi buah cinta mereka dan melahirkan Miranda, tetapi kesayangan Matsuyama tidak berubah pada anak tirinya.
"Sayang...kalian dari mana saja?? untung Miranda tidak bangun dan rewel??" kata Matsuyama memeluk kedua buah hatinya.
"Kamu ngga apa-apa kan dek??" tanya Matsuyama mengalihkan tatapan matanya pada istrinya.
Almira tidak menjawab tetapi langsung masuk kedalam mobil melewati Matsuyama dan langsung mengusap pipi Miranda.
"Sabar ya daddy..." kata Revita kala melihat Almira mengacuhkan daddynya terus menerus.
"Iya sayang tidak apa-apa...daddy tau daddy sudah membuat kesalahan besar, mommy kalian tidak berniat untuk meninggalkan daddy saja daddy sudah sangat bahagia." Jawab Matsuyama tersenyum sedih.
"Kalian dari mana saja nak??" tanya Matsuyama pada Revita dan Xander.
"Tadi Candel ikut mommy dan Levita macuk utan, daddy...kita nolongin oyang digantung di atas pohon!!" celoteh Xander.
"Dia tidak mati, daddy...dia cuma lemas...lagi pula sebenarnya mereka berdua itu siluman ular!!" lalu Revita menceritakan kejadiannya dari awal hingga selesai.
Dahi Matsuyama mengerenyit.
Siluman ular??? mungkinkah mereka berdua itu putra dan putrinya Sinoe yang tempo hari hampir membunuhnya?? dan gara-gara mereka jugalah Matsuyama harus berduaan di dalam goa dalam keadaan sakit bersama Bonita hingga terjadilah malam penuh petaka itu.
Terlebih lagi Matsuyama belum bisa memastikan apakah mereka berdua terlibat pembunuhan kedua orang tuanya atau tidak itu masih jadi misteri yang harus dipecahkan oleh Matsuyama.
"Sebaiknya kalian berempat tidurlah, daddy akan berjaga hingga pagi menjelang baru kita melanjutkan perjalanan lagi." kata Matsuyama kepada anak dan istrinya walaupun Almira masih mendiamkan dia.
********
"Yah...rasanya peternakan milik Matsuyama ini tidak dekat denga hutan, tetapi semalam ibu mendengar lolongan serigala di sekitar peternakan ini!!" tanya Serafin saat pagi itu mereka berdua sedang sarapan pagi.
"Iya bu, semalam ayah mendengarnya bahkan ayah sempat mengecek keluar untuk memastikan lampu di sekitar peternakan tetap berfungsi dengan baik agar hewan itu tidak berani masuk dan mengganggu ternak kita mengingat beberapa sapi dan domba ada yang baru melahirkan!!" kata Giandra.
"Heran aja sih yah...bagaimana hewan berbahaya itu bisa bebas berkeliaran di sekitar peternakan begini!!" kata Serafin.
"Sepertinya kita harus ekstra memperhatikan sekitar peternakan bu...apalagi selama Matsuyama belum kembali begini!!" kata Giandra.
"Mungkin hari ini mereka pulang kembali ke peternakan yah...senangnya bisa melihat cucu ibu lagi!!" senyum sumringah Serafin makin merekah mengingat ketiga cucunya yang akan datang hari ini.
"Ayah pergi keluar sebentar mengecek di dekat ladang jagung dan gandum ya, bu...takutnya ada pagar yang rusak di sana!!" kata Giandra.
"Iya yah....ibu akan masak besar hari ini menyambut anak, menantu dan ketiga cucu kita!!" sahut Serafin lalu membereskan bekas sarapan mereka berdua.
Sementara Serafin sibuk di dapur, Giandra berkeliling di sekitar peternakan di temani sepasang anjing peternakan Kiki dan Koko yang selalu setia menemani dari tahun ke tahun walaupun berbeda-beda majikannya.
"Kiki...Koko...coba kalian lihat kemari??" panggil Giandra pada kedua anjing itu.
"Ini cairan apa ya??? ini seperti darah tetapi kok wananya hijau dan baunya juga amis!!" kata Giandta.
GUK...GUK...
Kiki dan Koko menyalak tetapi bulu-bulu di tubuh mereka berdiri tegak seperti sedang melihat sesuatu atau bahaya yang mengancam di balik rimbunnya daun jagung dan gandum di ladang itu.
__ADS_1
Giandra juga tidak bodoh, dia tidak tau bahaya apa yang menanti di balik rimbunnya dedaunan itu.
"Kiki...Koko...kalian minggirlah kebelakang ayah..." kata Giandra pada kedua ekor anjing yang setia itu.
Giandra memusatkan tenaga dalamnya di pusar kemudian perlahan membaginya kepergelangan tangan kiri dan kanannya.
Lalu...
WUSSS...
Dua rangkum angin sederas badai menerpa ladang tersebut tanpa merusaknya.
Saat ladang jagung bergoyang tertiup angin keras, sekilas nampak satu sosok tubuh duduk berjongkok tersembunyi di antara batang jagung tersebut.
Melihat itu Kiki dan Koko menggonggong keras. Dan sepertinya mahluk yang berjongkok itu menyadari bahwa kehadirannya sudah diketahui. Dia ingin pergi tetapi dengan gerakan luar biasa cepat, Giandra sudah ada di depannya dan menahan langkahnya.
Saat Giandra membalikan sosok yang seperti sedang terluka itu, Giandra kaget saat mengetahui bahwa sosok itu yang sering berkeliaran di luar pagar peternakan tetapi jarena tidak mengganggu maka Giandramembiarkannya.
"Kau....!!" kata Giandra
"Bukankah kau yang sering berkeliaran di luar pagar peternakan ini kan?? dan kalau tidak salah kamu temannya Almira dan Matsuyama kan??" tanya Giandra pada sosok itu.
"Berarti darah berwarna kehijauan di dekat pagar tadi adalah darahmu??" tanya Giandra.
"Iya...namaku Yula, aku temannya Almira...sebelum Almira pergi dua bulan lalu, dia minta tolong kepadaku untuk ikut menjaga peternakannya sebelum dia dan suaminya kembali."
"Lalu mengapa kamu bisa terluka dan siapa yang melukaimu??" tanya Giandra.
Dilihatnya Yula hendak berdiri tetapi terduduk kembali karena bagian perutnya ada dua tusukan yang masih mengalir darah kenyal kehijauan.
"Kamu terluka Yula, sebaiknya paman membawamu pulang kepeternakan dan mengobati luka di perutmu itu.
"Tapi paman, aku tidak mau merepotkan siapapun...biarlah aku saja di sini sendirian sambil menyembuhkan lukaku sendiri!!" Jawab Yula.
"Ayolah Yula...kamu teman putri dan menantuku, berarti temanku juga." Jawab Giandra.
"Tapi aku bukan manusia, paman!!" jawab Yula lirih.
"Paman ngga peduli sekarang ayo kita pulang!!" tanpa menunggu persetujuan Yula lagi, Giandra membopong tubuh Yula yang terluka dan membawanya kerumah peternakan.
Serafin yang sibuk memasak tampak terkejut saat melihat Giandra masuk dengan membopong seseorang.
"Siapa dia yah?? lho, bukannya dia yang suka mondar mandir di luar halaman peternakan kalau malam hari sampai Kiki dan Koko pun sudah bosan untuk menggonggongnya?? dia kenapa yah??" tanya Serafin.
"Dia terluka, di perutnya ada dua robekan cukup dalam dan terus mengucurkan darah, ayah takutkan lukanya itu beracun."
"Di mana ayah temukan dia??" tanya Serafin lagi.
"Bersembunyi di antara rimbunnya ladang jagung, meringkuk sambil menahan sakit karena luka di perutmya.
"Siapa namamu, nak??" tanya Serafin.
"Namaku Yula, bi!!" kata Yula.
"Coba bibi lihat dulu luka di perutmu itu...apakah serigala yang mengaung semalam itu kamu??" kata Serafin mengalihkan perhatian Yula agar dia tidak terfokus pada sakit di perutnya.
"Bukan bi, itu musuh bangsanya Yula...mereka melihat Yula mondar mandir di depan peternakan sendirian."
"Awalnya para siluman serigala itu ingin merangsak masuk untuk mengambil ternak di dalam kandang, tapi Yula demi sebuah janji pada Mira untuk menjaga peternakan beserta paman dan bibi, Yula menghadang mereka."
"Akhirnya Yula kalah dan lari kearah belakang peternakan dekat ladang jagung, yang paman tadi lihat ada darah Yula di situ."
"Mereka mencari Yula dan berusaha untuk masuk tetapi karena peternakan ini sudah diberi pagar gaib oleh paman, Matsuyama dan bibi, maka mereka tidak bisa masuk seperti Yula karena Yula spesial." Kata Yula yang membuat Serafin dan Giandra tertawa.
"Mereka mengaum memanggil teman-temannya tetapi paman Giandra dan bibi Serafin keburu keluar jadi menggagalkan niat mereka."
"Luka di perutmu ini beracun, Yula...tapi jangan khawatir bibi masih sanggup untuk menyembuhkannya." Kata Serafin yang memang menguasai ilmu pengobatan dan racun.
*
*
****Bersambung....
Apa penyerangan di peternakan ada hubungannya dengan ketua dan sang wakil ketua??
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya reader, like, komen, vote, favorit dan ratenyaπππππ