
Dia terkejut melihat Valeria sudah baring-baring di tempat tidurnya, hanya menggunakan lingerie saja.
"Mau apa kamu tidur di kamarku Valeria. Sana kembali ke kamarmu..."
"Memang aku salah ya honey, mencoba merebut perhatianmu kembali?" Valeria tersenyum manis. Senyuman yang dulu begitu memabukan Aliandhara.
Aliandhara terdiam. "Terserah kamulah...jika itu maumu, tidurlah kamu di sini dan aku tidur di sofa ruang tamu.
Dengan cepat dia memakai pakaiannya dan keluar dari kamarnya sendiri.
Valeria kesal, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk sementara ini. Karena dia menyadari sikap Ali yang dingin begini karena dia yang memulainya.
Menyesal? Tentu saja...dulu dia telah meninggalkan lelaki baik hati itu, menorehkan luka yang teramat dalam hanya demi cinta yang tak pasti dan akhirnya cinta yang tak pasti itu telah mencampakannya.
"Sekarang aku akan mencoba untuk membuatnya jatuh cinta lagi padaku...bagaimanapun caranya itu." Dengan yakinnya Valeria berasumsi.
Sementara itu...
Sesosok bayangan hitam berkelebat dari paviliun sebelah barat kediaman keluarga besar tuan Kelvin Antonio.
Bayangan hitam itu berhenti sejenak di atas atap mansion untuk meneliti keadaan. Setelah dirasa aman, dia melompat ke bawah tepat berada di samping jendela kamar Alia.
Seperti sudah tau akan kedatangan orang itu, Alia membuka jendela kamarnya. Dengan sigap sosok itu melompat masuk.
Dia membungkuk hormat pada Alia lalu kemudian berdiri tegak kembali.
"Kenapa kamu sendiri saja Sima? Mana Hiro saudara kembarmu itu?" Tanya Alia.
"Anak itu tidak bisa diandalkan nona...dia kebanyakan berpikir pakai perasaan."
Alia hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja mendengar penuturan Sima.
"Mungkin kalian berdua ini tertukar kelamin, Sima..." Alia mengekeh.
"Iya seperti anda yang bertukar posisi dengan kembaran anda yang anda tawan di dalam cermin itu, nona Levia."
Huh....Alia palsu alias Levia mendengus. "Si bodoh itu sama dengan Hiro, sama-sama tak bisa diandalkan."
"Kenapa juga aku bisa punya saudari kembar yang culun dan bodoh seperti Alia itu."
"Ingat...jangan sampai ayah tau kalau aku telah menawan Alia, Sima...susah payah aku membebaskan diri dari goa Simbra, aku tak ingin kembali ke sana lagi."
__ADS_1
"Ayah bilang aku punya sisi iblis...Hahaha...aku memang iblis berkedok manusia..." Levia menyeringai.
"Aku mewarisi sifat ibunda ratu Hikaru dan si bodoh Alia mewarisi sifat lemah lembut ayah."
"Makanya sejak bayi Alia di sembunyikan oleh ayah di kediaman keluarga Kelvin, tapi akhirnya aku bisa juga menemukan keberadaannya."
"Tapi saudara angkat Alia ganteng banget, Sima!!" Levia tersenyum-senyum sendiri.
"Walaupun dia seorang duda tapi dia tetap keren!! Hanya sayang bocah kecil yang bernama Rafa itu seolah tau aku bukan Alia, dia selalu menangis saat kudekati."
"Anda menyukai tuan Aliandhara, nona Levia?" Tanya Sima.
"Iya, aku suka...tapi aku juga suka dengan Xavier Anderson."
"Sayangnya mereka berdua kepincut pada seorang gadis yang sama."
"Anak dari klan naga biru itu telah merebut semua milikku termasuk membunuh ibundaku.
"Dan ayahku si tua bodoh itu diam saja saat ibundaku dibunuh dengan alasan ilmu sihir ibuku bisa merajai dunia hitam."
"Dan aku sejak kecil dikurung di goa simbra...untung aku berhasil membunuh pengawal-pengawal bodoh itu dan kabur kemari."
"Tapi kita mesti berhati-hati nona, gadis dari klan naga biru itu sepertinya mulai curiga pada anda."
"Ditambah lagi dia punya banyak pelindung...si tua Dahlan alias Satoshi saudara sepupu Kojiro guru dari Xavier...Xavier sendiri juga kobra hitam bermata biru jelmaan dari pecahan batu dari kalung kepala naga yang selalu melingkar di lehernya yang sekaligus melindunginya dari serangan ilmu hitam."
"Tapi aku tak akan menyerah, ayah dan ibunya sudah terbunuh saat pertarungan terakhirnya dengan ibunda ratu...walaupun aku tak pernah mendapat dukungan dari ayahku sendiri, tapi kita sudah membangun perguruan di goa Simbra, kelak aku akan meneruskan perjuangan ibunda ratu untuk menguasai dunia.
Kamu teruslah mengawasi gadis bar-bar itu, Sima dan berhati-hatilah dengan gurumu sendiri dan orang-orang lembah Soshen."
"Jangan sampai gurumu tau bahwa kamulah yang telah mencuri kitab ilmu silat perguruan lembah Soshen."
"Berita apa yang sudah kamu bawa, Sima? Aku harap berita baik yang ku dengar."
"Aku telah menemukan tempat kediaman Almira dan kakeknya...sebenarnya aku sudah memasukan bubuk obat perangsang dosis tinggi ke dalam minumannya, tapi gadis itu memang luar biasa...walaupun harus bersusah payah dia berhasil menetralkan ramuan itu."
"Padahal ramuan itu sudah kuracik menjadi obat perangsang yang dosisnya bisa sepuluh kali lipat efeknya dari obat perangsang biasa."
"Dan si ganteng Xavier yang membantu menetralkannya kan?" Aku heran, aku sudah berusaha membuat Xavier cemburu pada Aliandhara...tapi tetap saja perasaannya keukeh pada Almira."
"Teruslah anda mengadu domba dua lekaki tampan itu nona, jadi kita bisa mendapatkan banyak keuntungan tanpa harus lelah-lelah turun tangan sendiri."
__ADS_1
"Pintar kamu Sima...tidak percuma aku mempunyai orang kepercayaan yang cantik, pintar, dan berilmu tinggi sepertimu."
Sima Yamaguchi tersenyum saja mendengar perkataan Alia palsu alias Levia.
Sementara di dalam cermin di dalam kamar Alia...Alia yang asli teramat murka mendengarkan cerita mereka berdua.
"Dasar tak tau berterima kasih, aku telah menolongmu yang telah datang mengemis mohon pertolongan padaku."
"Menyesalnya aku menolong saudara kembarku yang licik bagai ular berbisa itu."
"Ya Allah...tolonglah hambamu ini...bagaimana caranya aku bisa keluar dari penjara cermin ini?" Alia asli hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
"Semoga Allah selalu melindungi keluarga angkatku, aku menyayangi mereka semua...mereka yang sudah baik merawatku sedari kecil."
"Bang Aliandhara dan ayah yang menyayangiku seperti adik dan anak kandungnya sendiri."
"Aku sendiri seakan tak percaya jika aku hanya seorang anak pungut di rumah ini, karena limpahan kasih sayang dari orang-orang terdekatku."
"Sampai kemudian anak sialan itu datang dan membuat semuanya jadi rumit."
*
*
"Kenapa kamu melamun Mira?" Kakek ikut duduk dibangku kayu di teras rumah sambil membawa teko isi teh dan gorengan pisang."
"Ihh kakek, Mira jadi ngga enak liat kakek bersusah payah menggoreng pisang dan membuat teh!!"
"Kalau ngga enak kasih Kadir sana..." Kata kakek Dahlan.
"Kenapa ngga tunggu Mira aja untuk goreng pisangnya, kek?"
"Nunggu kamu? Sampai lebaran monyet juga ngga akan kamu goreng itu pisang."
Hehehe..."Iya kek, tau aja kakek kalau Mira lagi malas!!"
"Kenapa kamu melamun Mira? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanya kakek lagi.
***Bersambung...
Tinggalkan jejak!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya jangan lupa ya!! Terima kasih🙏🙏
__ADS_1