
"Tuan putri dan panglima Tristan berhasil merebut dan mengambil alih istana musuh, mereka berhasil mengambil permata merah delima dan mahkota kebesaran milik Kebebitak yang menjadi simbol kepemimpinan raja kera tersebut."
"Bagus...jika kita bisa menguasai mereka, raja kera yang sombong itu tidak akan bisa berkutik lagi!!" sahut ratu Nilakandi sambil mengulum senyum cantiknya.
Sementara itu Bilygong di tempat kediamam Xavana putranya...
"Ayah, mengapa ayah gelisah terus sejak tadi?? apa ada yang mengganggu pikiran ayah??" tanya Xavana.
"Kakakmu dan istananya...ayah merasa telah terjadi sesuatu dengan kakakmu itu."
"Ayah takut karena ambisi dan kekuasaan malah membuat kakakmu kehilangan segalanya!!" jawab Bilygong.
"Apa yang ayah rasakan tentang kakak??" tanya Xavana.
"Entahlah, seperti tengah terjadi di istana kakakmu itu saat ini!!" jawab Bilygong tampak gelisah.
"Tapi ayah sendiri ngga tau itu apa!!" desis Bilygong.
"Apakah ayah ingin pulang ke istana??" tanya Xavana.
Orang tua itu menggeleng perlahan saat Xavana bertanya apakah dia ingin kembali!!
"Biarlah Kebebitak menerima takdirnya sendiri!!" kata Bilygong.
"Ayah tidak ingin kembali ke istana dan melihat kejadian apa yang telah terjadi di sana??" tanya Xavana lagi.
Bilygong lagi-lagi menggeleng.
"Tahta Kebebitak sudah direbut oleh orang lain, mahkota dan batu merah delima yang jadi simbol kerajaan telah berhasil jatuh ketangan orang lain dan parahnya Kebebitak malah sibuk menyerang kerajaan orang lain!!" desis Bilygong.
Xavana sesungguhnya tak begitu mengerti masalah kerajaan dan pemerintahan. Yang dia tahu dan telah menjadi darah daging dalama hidupnya karena ajaran dari tuan Anderson ayah angkatnya yaitu bagaimana caranya berbisnis dan kejamnya dunia bisnis serta bagaimana cara mengatasinya.
Tapi dia juga tak tega melihat ayah kandungnya terus menerus berwajah murung beberapa hari terakhir ini.
"Ayah, apapun yang ayah ingunkan jika bisa akan Xavana kabulkan!!" kata Xavana.
"Nak, maukah kamu menemani ayah pulang sebentar ke kerajaan siluman kera??" tanya Bilygong akhirnya.
Bagaimanapun tidak pedulinya tetapi dia tetap seorang ayah dan masih tetap seorang pimpinan walau keseluruhan urusan kerajaan sekarang semua sudah dikuasai oleh Kebebitak putranya.
"Baiklah ayah, kapan ayah akan berangkat kesana?" tanya Xavana lagi.
"Kalau bisa secepatnya karena perasaan ayah semakin tak enak hati, Xavana!!" jawab Bilygong.
Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, asisten rumah tangga di mansion tersebut masuk.
"Maaf tuan muda, tuan muda Xavier dan ayahnya datang!!" kata asisten tersebut.
__ADS_1
"Selamat pagi kak Xavana, paman Bilygong!!" sapa Xavier pada mereka berdua.
"Pagi!!" kata Xavana dan Bilygong bersamaan.
""Daddy mana kak, aku mau bicara sebentar!!" tanya Xavier.
"Daddy belum pulang dari luar negeri, memang kamu mau bicara apa??" tanya Xavana.
"Kak, aku dan ayah berniat mau mencari Almira...sudah tiga bulan ini dia dijemput oleh Tristan dan Redo ke istana pualam tapi sampai sekarang belum kembali bahkan belum ada kabarnya!!" kata Xavier.
"Kamu masih mengkhawatirkannya, Xavier??" tanya Xavana.
"Tentulah kak, bagaimanapun Almira adalah ibu dari dua anak kembarku!!" kata Xavier.
"Hanya itu??" kata Xavana.
"Aku...!!"
Xavier tidak bisa meneruskan perkataannya.
"Kamu masih mencintainya??" tanya Xavana.
Lama Xavier terdiam sebelum akhirnya menjawab.
"Iya, aku masih mencintainya...dan rasa cintaku tidak akan pernah hilang walau sampai kapanpun!!" jawab Xavier.
"Sebaiknya kita berempat berangkat bersama aja yuk...kita singgah dulu keistana ayahku..." ajak Xavana.
Siang itu setelah meminta beberapa orang kepercayaan kakaknya untuk mengurus rumah pantai, Xavana dan ayahnya Bilygong, Xavier dan kakek Kojiro pergi bersama memulai perjalanan mereka dengan motor agar dapat melewati jalan setapak sekalipun.
Mereka tiba di perbatasan pintu goa yang membatasi antara dunia gaib dengan dunia manisia.
Bilygong berjalan di depan diikuti Xavana lalu kakek Kojiro dan Xavier yang berjalan paling belakang.
"Mengapa jalan menuju keperkampungan kok sunyi sekali ya?? tak ada satu penduduk pun yang nampak beraktifitas??" batin Bilygong heran campur khawatir.
Sesampainya mereka kedekat gerbang istana tampak banyak pembaharuan di sana sini...
Rupanya para penduduk berbondong-bondong datang ke istana untuk melaksanakan pesta makan besar di sana.
Aneh...semasa dia masih menjadi raja dulu memang sering dia mengadakan perjamuan makan untuk rakyatnya, tapi semenjak Kebebitak yang naik tahta semua berubah...rakyat terasa semakin jauh dari rajanya, Kebebitak hanya tergila-gila pada kekuasaan, harta, tahta dan wanita, tak ada lagi dia memikirkan cara agar rakyatnya sejahtera, tetapi ini?? jelas ini bukan pekerjaan Kebebitak, lalu siapa??
Pertanyaan itu yang muncul di benak Bilygong semenjak tadi saat menginjakan kaki di perkampungan.
Rakyat mengadakan syukuran di sana.
"Eh ada tuanku Bilygong??" kata salah seorang prajurit.
__ADS_1
"Ada apa ini?? siapa yang tengah mengadakan pesta, pengawal??" tanya Bilygong pada prajurit pintu gerbang.
Lalu prajurit itu menceritakan bahwa ada dua pasang muda mudi dari kerajaan pualam berhasil mengambil mahkota dan batu merah delima yang disimpan oleh Kebebitak sebelum pergi berperang.
Melihat betapa antusiasnya rakyat, Bilygong sudah mengambil keputusan bahwa rakyatnya bahagia.
Tak ada pancaran ketakutan dan kekhawatiran dari wajah mereka layaknya negeri yang sudah dijajah, malah terlihat sebaliknya.
"Bolehkah aku menemui siapa muda mudi yang hebat itu??" tanya Bilygong.
"Tentu yang mulia, mereka ada di pendopo bersama para sesepuh sedang membicarakan masalah kemajuan negeri kita." Kata pengawal itu.
Bilygong dan lainnya masuk kedalam.
Sudah lama sejak dirinya tak lagi berkuasa dia tak melihat lagi keceriaan rakyatnya seperti hari ini, biasanya wajah-wajah mereka tegang dan tidak nyaman sekarang semua berbeda.
"Itu dua muda mudi hebat yang dalam beberapa hari ini mampu mengubah keadaan negeri kita, tuanku!!" kata prajurit yang mengantarkan mereka berempat.
"Almira...!" desis Xavier, Xavana dan kakek Kojiro.
"Tristan...!!" gumam Bilygong.
Dia memang tak mengenal Almira tetapi dia sangat mengenal Tristan.
"Paman Bilygong!!" teriak Tristan lalu lari menyambut Bilygong dan memeluknya.
Sedangkan ketiganya hanya memandang pada Almira terlebih dua saudara angkat Xavier dan Xavana.
"Anakku!!" kata Bilygong memeluk Tristan erat.
Dulu semasa menjadi remaja tanggung saat Tristan dididik untuk menjadi seorang pembunuh bayaran oleh ayah angkatnya, Tristan pernah mengalami luka tembak yang menyerempet tengkorak kepalanya.
Di saat dia mati-matian berjuang melawan rasa sakit dan berjuang untuk bisa tetap hidup, Bilygong yang baru saja turun tahta dan sedang berjalan-jalan dengan kudanya melihat banyak ceceran darah menuju ke goa perbatasan milik bangsa kera.
Bilygong yang berhati lembut dan welas asih segera menemukan sosok Tristan yang terkapar bersimbah darah dengan luka tembak di beberapa bagian tubuhnya terutama di belakang tengkorak kepalanya.
Bocah mafia itu tergeletak pingsan tak jauh dari mulut goa, tetapi karena dia bukan sepenuhnya manusia maka dia belum mati dan masih berusaha bertahan hidup.
*
*
****Bersambung....
Maaf sekarang jadi jarang up date novel yang ini sibuk sama novel satunya.
Terima kasih banyak para reader yang masih mau mampir dan membaca..
__ADS_1